Istri Sambung

Istri Sambung
IS301. Buku nikah


__ADS_3

"Iya, keknya aku harus fokus di usaha itu. Ya meski aku tau, aku bukan ahli warisnya. Tapi, semoga pak wa berbaik hati dan izinkan aku ngolah usaha itu." Sesekali Novi memandangku.


"Pasti boleh, Nov. Yang penting, kau tanya misal ada kekeliruan di usaha kau. Biar, nanti tak oleng misal atas kuasa kau." Mengolah usaha yang sedang di atas-atasnya adalah hal yang tidak mudah. Sulit untuk mempertahankan posisi tersebut, ketimbang harus meniti dari awal.


Ia mengangguk mantap. "Iya, Bang. Aku bakal lebih terbuka lagi. Untuk masalah laki-laki, aku bener-bener belum ingin. Aku takut dimanfaatkan lagi."


Aku khawatir ia malah trauma dengan laki-laki, kemudian ia malah menyukai sesama jenis. Amit-amit, jangan sampai kejadian seperti itu.


"Minta papah carikan, misal memang udah mantap ingin berumah tangga lagi. Yang terpenting, Nov. Jangan sama duda lagi, karena aku rasa kau belum siap untuk urus anak orang. Jangankan anak suami dan istri lamanya, anak sendiri aja itu buat kita stress loh kalau mental kita belum siap. Persiapkan diri aja dulu gitu, jangan dipaksa untuk siap hanya karena usia. Janda tua kek tante Shasha aja masih laku loh, kau harus jadikan itu contoh misal mikirnya nikah karena malu dengan umur." Ya mungkin tante Shasha itu menikah kembali saat usianya sudah lima puluh tahunan.


Alasan yang aku tahu sih, karena ia hidup seorang diri. Haikal sudah merantau kembali bersama istrinya di luar kota. Bahkan, tante Shasha sekarang ke mana-mana selalu ditemani Rauzha yang merupakan anak tirinya. Ya usia Rauzha, satu tahun di atasku sepertinya. Ia pun belum menikah, jadi ia bisa bersama-sama dengan ibu tirinya ketika berada di rumah. Belum lagi Aniq, adik Rauzha yang seusia Kal itu. Ia pasti bisa menjadi teman mengobrol tante Shasha di rumah.


"Iya, Bang. Aku sadar, niat awalku menikah udah salah. Harusnya, aku tak bilang nikah untuk jadi janda. Kan jadinya kejadian beneran." Novi memijat alis matanya.


Sepertinya, ia sudah mengantuk.


"Nih, minum. Istirahat, Nov. Biar cepat pulih." Sebenarnya, aku pun ingin tidur juga.


Aku menoleh ke belakang. Ah, masih ada sofa panjang. Jadi aku tidak perlu berdesakan dengan bang Givan yang dengkurannya sedikit mengganggu tersebut.


"Bang bantuin." Novi mengulurkan tangannya.


Aku langsung menempatkan tangannya di tengkukku. Kemudian, aku langsung membantunya untuk merebahkan tubuhnya.


"Makasih ya, Bang?" ucapnya kemudian.


"Sama-sama. Cepat sehat ya? Hidup harus terus dijalani." Aku memberinya senyum, sebelum aku berbalik badan dan berjalan menuju sofa panjang.

__ADS_1


Aku akan beristirahat, sebelum pagiku diganggu oleh ayahnya Ra lagi. Aku sudah berfirasat jika aku akan diganggu olehnya kembali, karena ia tidak memiliki teman selain aku di sini.


Untungnya, Novi diperbolehkan pulang dengan cek kesehatan secara berkala. Jam sembilan pagi ini, kami sudah berkendara kembali ke rumah. Sesuai rencana bang Givan, Novi akan dititipkan ke mamah sampai ia sembuh.


Namun, tak disangka. Saat aku membawa masuk selimut dan bantal semalam ke dalam rumah orang tuaku. Aku mendapat kejutan yang membuatku tersenyum lebar, buku nikahku dan Aca sudah tergeletak di atas meja ruang tamu. Dengan pak RT yang duduk di depan papah, sembari mengobrol dan menikmati kopi.


"Coba dicek dulu, Bang. Barangkali, ada nama yang salah atau gimana." Pak RT menunjukkan buku nikah tersebut.


"Ya, sebentar." Aku bergegas menaruh bantal dan selimut ini di sofa ruang keluarga.


Dengan penuh semangat, aku membuka lembar demi lembar buku nikah tersebut. Menyenangkan sekali, kini pernikahanku dan Aca sudah resmi secara negara. Kelak anakku lahir, ia akan memiliki akta kelahiran dengan nashab ikut denganku.


"Alhamdulillah." Aku mengucap syukur, atas resminya pernikahan yang penuh perjuangan ini.


"Udah ketar-ketir ini Ghifar, Pak. Istrinya mau memasuki tujuh bulan soalnya. Udah sebentar lagi lahiran, takut tak bisa punya akta anaknya," ujar papah dengan terkekeh.


"Udah beres ya, Bang Ghifar? Betul tak itu namanya?" tanya beliau kemudian.


Aku mengangguk. Aku sudah memeriksa dua buku tersebut. "Udah betul, Pak. Terima kasih." Aku tersenyum ramah.


"Sama-sama, Bang Ghifar. Mari, Bang. Mari, Teungku Haji." Pak RT langsung berpamitan.


"Mari, mari…." Papah mengantar pak RT ke depan rumah.


Aku berpindah tempat ke ruang keluarga, di mana mamah, bang Givan dan Novi tengah mengobrol. Aku menghempaskan tubuhku di sebelah mamah, kemudian aku langsung menyodorkan buku nikah milikku.


"Senang kau?! Orang tua lagi yang harus tindak." Mamah meraup wajahku yang bergelayut di lengannya.

__ADS_1


Aku tertawa lepas, kemudian mencium pipi kiri mamah. "Makasih, Mamahku sayang."


"Papah kau itu," sahut mamah dengan menjauhkan wajahku dari lengannya.


"Makasih, Papah." Aku membuat isyarat saranghaeyo dengan jariku pada papah yang baru memasuki ruang keluarga.


"Pengasuh udah datang tuh, ajak ke sana. Udah sampai dari jam tujuh, Papah suruh istirahat dulu tadi." Papah duduk di dekat bang Givan.


"Pah, carikan buat Cani." Bang Givan bermanja-manja di lengan papah sepertiku pada mamah tadi.


"Kau nih! Istri kau buat apa?!" Papah menjewer pelan telinga bang Givan.


Ia terkekeh geli, kemudian menegakkan punggungnya. "Mau bulan madu, melebarkan sayap lagi. Aku punya rencana buka usaha di Jepara, nanti mau bawa Canda. Toh, Cani pun udah besar. Udah wajarnya lepas ASI, sisa ASI-nya buat ayahnya."


Kami semua tergelak lepas, tidak luput dengan Novi juga.


"Ingat Ghava dulu jadinya. Tiap kali Adib mau ASI, dicicipi sama abunya dulu. Geli sendiri liatnya, di depan keluarga pun berani-beraninya." Papah menarik cerita yang membuatku merengek pada Kin dulu. Aku ingin seperti Ghava juga, hanya saja Kin tidak mengindahkannya. Ia tidak ingin sama sekali, jika aku merusuh dengan ASI untuk Kal.


"Itu sih karena ujungnya Windanya kecil. Ghava pun sampai siapin gelas kosong, buat lepehan ASI yang ada di mulutnya. Kan tak boleh sampai tertelan itu, Bang. Nanti katanya sih, Ghava terhitung jadi anaknya Winda kalau suami minum ASI istrinya tuh," terang mamah yang berbicara tentang kebenaran di masa itu.


Aku pun tahu kondisi Winda yang tidak memiliki ujung pada dadanya, bayinya begitu kewalahan untuk mendapatkan ASI dari ibunya. Beberapa alat sudah digunakan, tapi tidak begitu efisien. Hingga ide gila Ghava muncul, lalu membuat Adib menjadi mau untuk menyusu pada Winda. Hal itu terus berulang, hingga Adib berusia satu tahun sepertinya. Pemandangan Ghava yang sering nemplok di dada istrinya pun, sering terlihat di mataku. Karena beginilah kami dengan keluarga, serasa tidak punya malu.


"Aca ada ujungnya tak, Far?" Papah bertanya dengan tertawa mengejek.


Hmm, ada tidak ya? Aku tidak terlalu fokus memperhatikan. Tapi, sepertinya…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2