Istri Sambung

Istri Sambung
IS245. Pergi untuk kembali


__ADS_3

"Masih belum ada hasil, yang ada aku disuruh pulang." Wajahnya langsung terlihat murung.


"Siapa yang nyuruh pulang? Kok pulang sih?" Aku suaminya, ia hakku. Harusnya, tidak ada yang berhak menyuruhnya untuk pulang.


"Ayah. Kata mak cek, ayah mau minta kau pulang. Ra biar diambil Givan lagi katanya, Cani udah besar, udah bisa main sendiri. Mak cek pun udah bilang Givan masalah ini." Suaranya lirih, tapi bisa kudengar.


"Ya tak bisa ya! Masa pulang?! Orang di sini punya suami, masa mau ninggalin suaminya gitu aja?" Aku panik di sini.


Dengan bang Givan sudah diminta untuk mengambil Ra, berarti perintah itu udah matang.


"Rumah tangga kita juga gimana coba?!" Aku mendengus kesal, dengan duduk di bangku panjang ini.


"Yaaa, mau tak mau harus LDR."


Ini gila!


"Aku tak mau kalau LDR!" Aku tak pernah sukses menjalani hubungan LDR.


Ia menoleh cepat. "Terus gimana? Mau pisah?" Ia ngegas di sini.


"Ya LDR aja tak mau aku, apalagi pisah. Udah tuh, di sini aja. Tinggal kasih alasan apa atau apa gitu." Aku baru ingat, bahwa kami menikah siri tanpa wali. Semua orang tak ada yang tahu, bahwa Aca sudah hakku.


"Tak bisa lah. Nanti mak cek tak balik-balik, kalau aku tak pulang-pulang. Ada yang mau dibicarakan di sana kan, terus mak cek balik kalau pembicaraan antara aku dan mereka udah selesai." Pandangan Aca fokus pada anak-anak.


"Terus Mama pun ikut balik kan?"


Ia malah mengedikan bahunya. Ia ragu, atau memang benar-benar tidak tahu.


"Tuh kan? Malas betul aku kalau udah begini." Aku membuang wajahku ke arah lain.

__ADS_1


"Besok aku ambil penerbangan."


Ia sudah memutuskan rupanya. Lalu, bagaimana pernikahan kita nanti? Bagaimana aku di sini?


"Ma…." Aku mengguncangkan bahunya. "Jangan tega-tega kali loh. Aku gimana di sini? Anak-anak gimana?" Alasan anak-anak, aku rasa itu kurang tepat. Karena semua orang tahu, bahwa aku mampu mengurus mereka dengan baik. Apalagi, dibuktikan dengan aku mengurung diri dan fokus untuk menjadi bapak rumah tangga. Mungkin aku masih di posisi yang sama, jika saham tidak dimainkan.


"Anak-anak kan ada Papa kan? Kalau bingung handle, aku titipkan ke pengasuh anak-anak Canda. Kal bisa ikut Key, Kaf bisa ikut Zio atau Chandra."


Sudah kuduga.


"Aku tak mau, Ma. Udahlah! Jangan pulang ke sana!" Aku menarik-narik tangannya.


"Sebentar, aku luruskan permasalahan di sana. Barangkali bisa diusahakan juga, untuk pernikahan kita. Kalau aku tak pulang, aku tak bakal tau cerita sebenarnya. Aku pun tak bakal tau, tentang alasan terbesar ayah sampai enggan nikah-nikahin aku." Ia duduk di sampingku.


"Tetap pulang ke aku kan? Tak bakal tinggal lama di sana kan?" Maksudku, dia pergi untuk kembali lagi.


Dari ucapannya, aku ragu ia akan pulang kembali.


"Kalau akhirnya Mama dikawinkan sama pemuda di sana gimana coba?!" Aku meliriknya sinis.


"Ya aku nolak dong! Masa gitu aja nanya?" Ia membalas lirikan sinisku.


"Atau, diusahakan pulang lagi bareng mamah sama papah nanti?" Rombongan begitu maksudku.


"Lihat nanti aja, Pa. Aku pun tak tau alasannya, aku pun ingin tau secara langsung. Biar paham gitu loh. Bagaimana hasilnya kan, apa kata keputusan nanti."


Aku khawatir ia benar-benar tak kembali ke sini. Menikah siri, ternyata ada deritanya juga ditinggal istri pulang ke orang tuanya. Biasa dalam cerita-cerita, menikah siri, malah suaminya kabur dan tak kembali.


"Nanti malam sekenyangnya, kita begadang sampai pagi pun tak apa."

__ADS_1


Percuma saja, jika besok-besok aku tidak mendapatkannya secara rutin lagi.


"Mama kira aku nikahin ini karena se*s aja kah? Aku, bukan Mama. Yang tak bisa nahan syahwatnya, terus minta ambil siri aja biar halal." Aku memandangnya dengan perasaan campur aduk.


"Dua kali saat kita melakukannya sebelum sah. Apa ada ceritanya aku maksa? Kau yang maksa waktu itu. Aku laki-laki normal, kucing dihidangkan daging? Siapa nolak? Ikan asin dan tikus aja doyan, apalagi daging yang jelas lebih enaknya. Sekarang mau pergi, diiming-imingi sampai pagi. Tak sama sekali pun, tak apa. Se*s itu kewajiban kita sekarang, di samping karena sama-sama butuh. Tapi, itu bukan hal utama buat aku. Bukan itu yang aku incar, meski nyatanya aku memang membutuhkan. Aku ini udah ngerasa cocok, jadikan kau teman hidup, teman curhat dan teman terbaik di segala teman musiman. Sedangkan kan, laki-laki dan perempuan ini tak bisa berteman normal. Kau mampu manage traumaku, alihkan pikiran aku, perhatian aku, sembuhkan hati aku karena perceraian kemarin, nerima masa lalu aku dan mempertahankan dan memperjuangkan kita. Aku cuma ingin tetap kau di sini, di pandangan mata aku. Kalau memang pada akhirnya tak bisa sama-sama lagi, ya udah jangan pulang. Di sini aja, biar tetap ada di jangkauan mata aku. Aku tak bakal ngusik, aku tak bakal nuntut hubungan badan di saat kita udah jadi orang lain. Kita masing-masing, tapi tetap ada di jangkauan mata." Aku tidak pandai mengungkapkan isi hatiku, harusnya ia paham dari sorot mataku.


"Aku bukan Canda."


Maksudnya apa ia menyayangkan hal itu?


"Ya memang! Apa dengan kau berpikir bahwa kau bukan Canda, terus kedudukan kau di hati aku ini lebih rendah dari Canda? Apa mulai mempertanyakan hati aku di sini? Bukannya kau lebih paham, mana yang kenangan dan mana masa depan? Apa sakit hati juga, karena Canda ada di sejarah hidup aku?" Aku memandangnya yang tertunduk lesu. "Kalau aku mampu, aku pun tak pernah ingin punya cerita dengan kakak ipar sendiri. Buat apa aku mewarnai hidup, dengan kecanggungan hidup berdampingan dengan mantan pacar yang jadi kakak ipar? Kau kan lebih paham, takdir tak pernah aku rangkai sendiri. Dengan resiko besar menikah diam-diam ini aku ambil, apa masih berpikir bahwa kau tak penting di hati aku?"


Ia menggeleng samar. "Aku tak berpikir sejauh itu. Aku yakin Papa tak main-main sama aku."


Aku paham, ia hanya memberikan kalimat penenang agar dirinya terlihat baik-baik saja.


Aku paham, wanita lebih ingin mendengar serangkai kata. Mereka muak dengan bukti tanpa kata. Aku mengerti hal itu.


"Kau cintaku, kau sayangku, kau kasihku, kau istriku, ibu anak-anakku, kau takdirku dan kau pun masa depanku." Mungkin tidak romantis, tapi ini mendesak.


Ia langsung menoleh ke arahku. "Aku tau, Pa."


Aku tahu, aku tahu. Kau tahu, tapi kau ingin mendengarnya. Rasanya ingin membogem perempuanku ini, sayangnya istriku sendiri.


"Oke, pergi untuk kembali ya? Aku izinkan pergi, tapi datang dengan rombongan mamah dan papah juga ya?" Aku menatap netranya.


Ada keragu-raguan di sana. Ia seperti tidak yakin, bahwa ia akan pulang padaku lagi.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2