
Sudah satu bulan lamanya aku seperti orang gila. Berpuluh email aku kirimkan, tak kunjung mendapat balasan dari istriku. Aku bertanya-tanya tentang hubungan rumah tangga kami, bagaimana kelanjutan rumah tangga rahasia ini?
"Pah, aku izin ke Cirebon ya?" Aku menghampiri papah yang duduk di teras ruko besannya. Beliau tengah memperhatikan dan menjaga para anak perempuan yang bermain engklek di depan teras ruko sore hari ini.
Sepertinya, para pengasuhnya sedang sibuk membersihkan diri dan menunaikan ibadah sholat Ashar.
"Papah kira, perjuangan kau udah selesai." Papah menoleh sekilas padaku. Pandangannya begitu fokus pada putri Canda yang paling kecil, yang tengah berusaha menekuk satu kakinya dan melompat dengan satu kaki. Ada sedikit kehangatan di sini. Karena Key dengan sabar membantu Cani bisa melewati beberapa kolom engklek tersebut.
"Dek…. Cani…. Kak Key lagi mainan, Adeknya sini sama Kakek coba." Papah menepuk tempat di sebelahnya.
Anak-anak menunggu waktu mengaji pukul lima sore, sekarang baru pukul setengah lima sore. Mereka menikmati waktu luang mereka, untuk bermain sejenak. Kal pun ada di sini, sedangkan Kaf ada di halaman rumah mamah bersama Chandra dan Zio.
Anak-anak tersebut memperhatikan kakeknya. Sedangkan Cani, ia hanya menoleh sekilas saja. "Ti, Kek." Anak kecil itu bisa menjawab.
Dress kecilnya yang berlengan panjang, dengan dipadukan hijab instan itu. Cani terlihat seperti boneka Islami.
"Boleh ya, Pah?" Aku menyenggol lengan beliau.
"Kau mau apa?" Papah hanya fokus memerhatikan anak-anak saja. Mungkin ada was-was dalam hatinya, jika anak yang paling kecil itu terjatuh. Padahal, sudah biasa saja menurutku jika anak-anak terjatuh. Selagi terlihat aman dan tidak membahayakan.
"Aku mau tau kabar mereka, Pah."
"Tanyalah ke ibunya Aca. Mereka pasti masih satu rumah sama Aca. Beda waktu mamah kau dulu, kelayapan terus, makanya sampai Papah kunjungi." Aku pun tahu, jika kelayapan mamah ini dalam misi mencari pundi-pundi rupiah.
"Aku minta nomornya, Pah."
Papah langsung memberikan ponselnya, tanpa menyalakannya dulu atau menunjukkan langsung nomor telepon ibunya Aca.
"Siapa nama di kontaknya, Pah." Wallpaper ponsel papah, bahkan menggunakan foto Cani. Rupanya, cucu ini spesial untuknya.
"May adik ipar kalau tak salah. Tak tau masih aktif tak."
Aku langsung menyalin kontak dengan nama tersebut yang sudah aku temukan. Sayangnya, kontak tersebut tidak memiliki aplikasi chatting. Alhasil, kini aku membeli pulsa dengan aplikasi mobile banking dulu. Aku memiliki kuota, tidak dengan pulsa. Mungkin banyak juga di luar sana yang sepertiku.
"Telponnya di sini aja, Papah pun mau dengar."
Aku mengangguk, dengan memberikan ponselnya kembali pada papah. Bersyukur lagi, karena nomor ponsel itu tersambung.
"Speaker, Far."
__ADS_1
"Ya, Pah." Aku menyentuh ikon pengeras suara.
"Hallo, assalamualaikum." Aku langsung berbicara begitu telepon diterima di seberang sana.
Aku membeli pulsa yang seratus ribu, semoga pulsa ini cukup untuk perbincangan kami.
"Wa'alaikum salam, ini siapa ya?" Suara anak kecil yang menerima. Tapi aku yakin, itu bukan suara Nahda.
"Ada mamahnya, Nak? Ini Pak Cek Adi." Papah yang menimpali.
"Ada, sebentar ya, Pak Cek?" Suara panggilan bercampur dengan suara angin yang tidak jelas.
"Siapa dia, Pah?" tanyaku lirih.
"Adiknya Aca keknya, si Ranty."
Aku bahkan tidak akrab dan tidak kenal dengan adik iparku. Anak tersebut begitu sulit didekati dan diajak berdialog.
"Ohh…." Aku hanya manggut-manggut saja.
"Ya, hallo. Assalamualaikum." Nah, ini baru suara ibu mertuaku.
Papah langsung menginstruksikan agar aku berbicara.
"Loh, ini bukan suara Bang Adi kayanya." Ipar yang hafal suara kakak iparnya ternyata.
"Aku Ghifar, Budhe." Jujur, aku takut menyebutkan namaku. Aku khawatir, panggilan telepon langsung diputus sepihak.
"Oh, iya-iya. Gimana, Far?" Alhamdulillah, suaranya masih ramah.
"Gimana kabarnya, Budhe?" Aku berbasa-basi dahulu.
"Eh, eh. Novi diantar siapa tuh?" Papah menyikut lenganku, ia bangkit dan memperhatikan motor yang berhenti di depan pagar rumahnya.
Fokusku bayar sejenak.
"Alhamdulillah, baik. Kabar kamu dan orang tua kamu di sana gimana?"
Kenapa tidak dari kemarin saja aku menelpon ibunya yang ramah ini. Sudah keburu gila, aku baru menelponnya.
__ADS_1
"Baik juga, Budhe. Kabar Aca dan Nahda gimana, Budhe?" Ini yang ingin aku ketahui.
"Mereka baik-baik aja, Far. Cuma Aca lagi masuk angin sedikit, kelelahan, karena pulang pergi ke toko naik motor terus."
Padahal aku rutin mengirimkan jatah kebutuhan Aca dan Nahda, lewat rekening Aca yang biasa digunakan untuk transaksi transfer uang. Mungkin, itu adalah tuntutan orang tuanya. Ia memiliki uang, tapi ia tetap melakukan pekerjaan yang diperintahkan orang tuanya.
"Apa Aca udah berobat, Budhe?" Setahuku, Aca ini jarang sakit. Daya tahan tubuhnya kuat, ia pun tidak gampang terkena flu jika di lingkungannya banyak yang terkena flu.
"Belum, gak mau berobat Aca ini. Udah dikerik, lagi istirahat juga dia di sini. Tak ke toko hari ini, dia tidur aja, bangun buat makan dan sholat aja. Nahda ya diurus sama Budhe. Kadang Budhe mikirin pas Aca di Aceh sama Nahda juga. Siapa yang urus Nahda, kalau Aca lagi gak enak badan begini."
Huh, beliau tidak tahu saja jika ibuku seperti dirinya.
"Ada mamah yang selalu standby, Budhe. Waktu awal Aca kerja di packing usaha Canda, Nahda di rumah sama mamah. Nahda kan dulu siang terus bangunnya, jadi masih tidur tuh ditinggal di rumah sama mamah." Saat itu, aku belum terlalu memperhatikan Aca. Jika anaknya, ya setiap hari aku melontarkan pertanyaan meski malu-malu dijawab oleh Nahda.
"Iya, Aca juga cerita. Tapi tetap aja, ada khawatirnya."
Itu pasti. Mamah saja, rutin ke rumah Giska meski letaknya dekat. Karena anak-anak Giska jarang sekali main ke rumah mamah. Hadi lebih sering main di rumah Ceysa. Sedangkan Fandi, di rumah dengan kesibukan Giska. Zuhdi menyadari bahwa dirinya belum mampu membayar ART, alhasil Giska selalu sibuk di rumah.
Kediaman Giska, satu halaman dengan Ceysa dan Jasmine. Rumahnya paling ujung, dari jejeran rumah kami, tepatnya di sebelah kiri rumah bang Givan.
Anak perempuan, selalu mendapat perhatian lebih dari orang tuanya. Seperti halnya Giska dan Icut. Sayangnya, Icut jauh di mata. Membuat mamah harus sering menelpon dan menanyakan keadaannya.
"Gejalanya gimana, Budhe? Tolak angin udah juga kah?" Aku paham, Aca bukan cucu Fir'aun. Sakit, adalah hal normal untuk manusia. Kecuali raja Fir'aun, yang tidak pernah sakit.
"Cuma bilang tak enak badan, kepala puyeng dan mual. Mual sih, karena kepalanya berputar terus. Jadi kan, timbulnya mual-mual kaya naik komedi putar. Gak demam dan gak pilek juga. Kalau ada demam, Budhe pun ada khawatirnya."
Entah pada orang dewasa atau anak-anak, demam adalah penyakit ringan yang mengkhawatirkan. Karena bisa saja merenggut nyawa seseorang, jika tidak diketahui pasti penyebab demamnya. Yang paling sering membunuh dalam diam adalah demam berdarah.
Eh, tapi terlintas di pikiranku hal yang tidak mungkin. Yap, apa mungkin Aca mengandung? Atau, hanya harapanku saja?
"Coba diperiksakan aja, Budhe. Takutnya mag atau apa, khawatirnya tiba-tiba parah aja." Seperti pada mamah, mag kambuh di saat situasi stress. Aku yakin, Aca pun memiliki beban pikiran yang membuatnya stress di sana.
"Iya, Far. Nanti Budhe suruh dia berobat. Soalnya, anaknya ini anti obat dan berobat. Sakit itu suruh sembuh sendiri, susah minum obatnya."
Oh, pantaslah. Aku sejak kecil sudah terbiasa obat-obatan, apalagi saat terkena infeksi paru-paru. Aku minum obat, sampai sekitar delapan bulan.
"Ya udah, Budhe. Aku cuma mau nanya kabar aja. Disimpan nomor telepon aku ini, Budhe. Mana tau butuh untuk ngabarin aku." Aku mengakhiri sesi ini. Karena aku sudah tahu kabar mereka.
"Iya, Far. Ya udah, Budhe matikan ya? Assalamualaikum."
__ADS_1
"Wa'alaikum salam." Panggilan telepon langsung terputus begitu aku menjawab salamnya.
...****************...