
Hmm, ada tidak ya? Aku tidak terlalu fokus memperhatikan. Tapi, sepertinya kecil. Kalau tidak salah pun, ia pernah bercerita bahwa ketika ia menyusui Nahda, ia menggunakan produk tiruan agar anak bayi bisa ASI pada ibunya yang memiliki ujung kecil.
Akan aku lihat lagi nanti, karena takut salah lihat. Aku bukanlah laki-laki yang aktif memainkan dada istri. Hanya sekilas saja, seperti syarat begitu.
Kadang, Aca sendiri yang membimbing tanganku untuk menyentuh bagian itu. Ya karena aku begini, entah desain apa Yang Kuasa ciptakan untuk seorang Ghifar ini.
"Kalau kecil, masih bisa diselamatkan kek Winda gini. Canda dulu sampai tak ada betul, akunya rajin pas Canda hamil Chandra," celetuk bang Givan tanpa malu.
"Ya tak lagi hamil pun, kau sih rutin," sindir papah dengan menepuk pangkuan bang Givan.
"Memang." Bang Givan tergelak puas.
"Aku balik dulu ya, Mah, Pah?" Aku bangkit dari dudukku.
"Iya-iya, tadi Aca subuh-subuh udah jalan-jalan sendirian sambil belanja sayuran keknya. Papah pulang dari masjid, Aca baru keluar rumah sama Ra. Papah tanya, katanya Nahdanya belum bangun." Papah memberikan cerita sekitar.
Ya pagi pun, aku mendapatkan pesan dari Aca tentang dirinya yang izin untuk keluar berjalan-jalan dan sekalian membeli stok sayur. Tapi pesannya aku baca siang, karena aku telat bangun pagi tadi.
"Ya, Pah." Aku melipir keluar rumah.
Hal pertama yang aku lihat, adalah Kaf berjalan dengan Zio dan Hadi. Mereka baru pulang sekolah bersama.
Aku tidak memanggilnya, membiarkan anakku berjalan di depanku. Aku ingin tahu bagaimana etikanya masuk ke rumah, dengan ibu sambung baru untuknya.
Sayangnya, ia malah duduk di teras dan melepaskan sepatunya. Jadi, ia melihatku yang tengah berjalan ke rumah.
Dasar, Ghifar kecil. Ia langsung tersenyum manis, melihatku berjalan ke arahnya.
"Papa udah pulang?" sapanya ramah.
Bertambah besar besar, rupanya hampir samapersis sepertiku. Malah, ia lebih mirip dengan Adi Riyana. Jika salah satu mataku kan, persis dengan mamah Dinda. Jika Kaf, tidak. Ia benar-benar seperti pribumi sini, seperti papah Adi.
"Udah dong. Baru pulang malah." Aku duduk di samping anakku.
"Gimana keadaan tante Novi?"
Kaf adalah anak yang pro. Jika Kal tidak memberontak, maka ia pun tidak akan berani pada Novi.
"Kek mama kemarin tuh, kurang istirahat. Sekarang udah mendingan, karena udah cukup istirahatnya. Tapi besok-besok, ya harus banyak istirahat, makan sehat." Aku menjelaskan hal yang mudah Kaf pahami saja.
"Ohh…." Anak itu manggut-manggut.
"Yuk masuk," ajakku kemudian.
Bau khasnya sambal petai, begitu menyeruak saat aku membuka pintu utama.
__ADS_1
"Assalamualaikum…. Ma…." Kaf mendahuluiku.
"Wa'alaikum salam." Suara Aca lamat-lamat terdengar.
"Aku ada PR pelajaran tema, ingatin aku nanti. Aku mau bersih-bersih dulu, Ma." Kaf berseru dengan menaiki tangga.
"Ya, baju mainnya udah di atas kasur Kaf." Aca pun berseru di sini.
"Ya." Kaf sudah berada di lantai dua.
Kaf pun masih tidur bersama kami. Tapi, pakaian dan perlengkapan sekolahnya ada di kamarnya. Mentalnya belum berani untuk menempati kamarnya sendiri.
"Masak apa, Ma?" tanyaku dengan memasuki dapur.
"Ish! Kaget." Aca memutar tubuhnya dengan mengusap-usap dadanya.
Wow, aku jadi ingin. Ingin dadanya, bukan masakannya. Apalagi pembahasan tentang ujung kecil dan besar tadi, membuatku semakin ingin melihatnya.
"Masak sambal petai nih, ada ayam goreng, ada lalab juga."
Lalab ya? Aku kurang suka sayuran mentah. Tapi ya sudahlah, itu perlu dicoba. Aku akan belajar makan dedaunan yang ada di halaman, seperti bang Givan. Mungkin, selera makan Aca sama dengan bang Givan.
"Suka lalab, Ma?" tanyaku dengan memeluknya dari belakang.
Tanganku mulai usil. Aku mengusap dadanya pelan.
Ternyata sama seleranya.
"Mama, bukain."
Ohh, kaget aku. Aku sampai tersentak dan kalap menyembunyikan tanganku dari sana.
"Papa udah datang?" tanya Nahda dengan memamerkan giginya.
"Udah, Cantik." Aku melepaskan ibunya, kemudian mencubit pelan dagunya.
"Lagi main di mana?" tanyaku kembali dengan berjongkok.
"Di belakang, sama bu Tami."
Oh, iya. Aku lupa menyampaikan, bahwa pengasuh sudah datang dan tengah beristirahat di rumah mamah.
"Nih, udah dibuka kuenya. Jangan panas-panasan, Dek. Hitam kek Papa nanti." Aca mengusap keringat Nahda.
"Biar sehat, Ma." Nahda berlari ke arah belakang kembali.
__ADS_1
"Mama aja mau sama yang hitam begini." Aku menarik kursi makan yang berada dekatku.
Meja makanku, menyatu dengan dapur model meja bar seperti itu. Meja makannya kecil, tapi cukup untuk kami. Namun, tetap saja kami lebih nikmat makan di atas karpet. Di ruangan yang menghubungkan antara ruang tamu dan tangga.
"Iyalah, manis." Ia terkekeh sendiri.
"Ma…." Aku mengeluarkan buku nikah dari saku jaketku.
"Hm?" Ia tengah uprek dengan peralatan dapur.
"Buku nikah udah jadi loh. Kita udah resmi tanpa sidang langsung loh." Aku menaikturunkan alisku.
"Iyakah?" Senyumnya begitu merekah dan bahagia.
"Iya dong, nih." Aku mengulurkan dua buku yang masing-masing berwarna hijau dan merah.
"Wah, senangnya." Aca mengambil dengan semangat buku nikah ini.
"Senangnya, senangnya kalau pagi, kalau pagi. Sekolah, sekolah di taman kanak-kanak. Di mana, di mana, di TK…." Aku malah mendengarkan suara anak-anak bernyanyi.
Nahda dan Ra belum usia sekolah, aku tidak akan menyekolahkannya. Aku tidak ingin mereka cepat bosan.
"Aku mau pamer di sosmed nantinya."
Aku terkekeh geli melihat Aca yang begitu excited seperti itu.
"Nanti foto, aku waktu itu udah bilang ke Ghava." Aku akan menunaikan keinginan sederhana istriku atas pernikahan kami.
"Oke, Papa. Aku tak malu kok foto dengan perut besar." Aca menguap perut besarnya.
"Tak malu dihujat hamil duluan?" Aku menyangga dagu, dengan memperhatikannya yang kembali dengan rutinitasnya.
"Tak lah, aku kan tak hamil duluan. Aku cuma gatal aja sama duda anak dua." Ia memberi kedipan genitnya.
"Enak ya sama duda?" Aku sengaja mengisenginya.
"Tak juga, kadang gemas juga. Udah duda aja mahal betul." Ia memanyunkan bibirnya dengan melirik sinis.
Aku terkekeh geli, dengan mengusap wajahku. Ada-ada saja perempuanku ini.
"Aku mandi, terus rapi-rapi dulu ya? Aku ke kantor, ambil kerjaan. Terus, mau ke Ghava lagi minta dia nyiapin buat foto kita ya?" Aku beranjak menuju ke kamar.
Satu persatu, kebahagiaan dan kelengkapan hidup menyertai kami. Semoga kebahagiaan dan kelengkapan keluarga ini akan abadi dan sampai ke Jannah-Nya.
Aku tidak ingin ada orang ketiga masuk, aku tidak ingin ada masa lalu masuk kembali. Aku tidak ingin hidup dalam bayang-bayang masa lalu, atau kisah cinta yang tidak berakhir bahagia. Aku ingin fokus pada keluargaku, istri dan anakku.
__ADS_1
...****************...