Istri Sambung

Istri Sambung
Bertemu keluarga Sabrina


__ADS_3

Brian dengan telaten menyuapi Sandra bubur dan tanpa lelah menjaga Sandra seharian.


Brian tak mengizinkan Yolan untuk menjenguk mamanya, agar Sandra bisa istirahat dan cepat pulih.


"Mas kapan aku bisa pulang, kasian mas harus jagain aku terus, mas juga harus istirahat," ucap Sandra yang merasa kasihan dengan Brian yang belum ada istirahat.


"Gak usah kuatir, aku akan semua yang belum pernah mas lakukan padamu." ucap Brian sambil menyisir rambut Sandra.


"Maksud mas?" Sandra yang masih bingung dengan ucapan Brian.


"Sudahlah, jangan pernah larang aku melakukan sesuatu yang memang seharusnya di lakukan sebagai seorang suami."


"Setelah keluar dari rumah sakit, aku akan membawamu ke suatu tempat, yang mungkin bisa mengurangi beban fikiran yang kamu rasakan, aku akan melakukan apapun untuk kebahagiaank mu dan tak akan ku ulangi kesalahan yang pernah aku lakukan dulu."


Ucapan Brian membuat Sandra tersentuh,


"Apakah mas Brian benar-benar mencintaiku atau hanya permainan belaka, aku benar-benar tak bisa melihat celahnya, tenang Sandra kamu harus tetap semangat mencari kebenarannya,"gumam Sandra dalam hati.


*


*


*


Beberapa hari setelah pulang dari rumah sakit dan keadaan Sandra mulai membaik, Sandra mulai mendesak Brian untuk segera membawanya ke tempat yang Brian janjikan.


"Mas, ayolah aku benar-benar penasaran dengan perkataan mas waktu itu."


"Apa kau yakin sudah siap dengan kejutannya, Aku kuatir kamu belum siap, makanya aku belum membawamu kesana."


"Aku sudah sehat mas, aku baik-baik saja kita pergi ya," bujuk Sandra.

__ADS_1


"Baiklah, kita akan bermalam disana beberapa hari, Tapi kita tidak bisa bawa Yolan, hanya kita berdua yang pergi. Sekarang siap-siap sana mas mau menyelesaikan pekerjaan mas dahulu."


"Baiklah, aku akan menyiapkan baju kita." Sandra yang senang langsung mencium pipi Brian lalu pergi sedangkan Brian tersenyum dan kembali fokus pada laptopnya.


Saat Sandra sedang menyiapkan baju, Weni datang menghampiri.


"San mau pergi kemana?"


"Aku mau Pergi ke suatu tempat selama beberapa hari, aku titip Yolan ya untuk beberapa hari."


"Iya tenang saja, itu kan sudah pekerjaanku, gimana kandungan mu apa baik-baik saja untuk dibawa berpergian."


"Jangan kuatir kandunganku baik-baik saja, aku yakin tak akan ada masalah."


"Aku sedikit kuatir dengan mu Sandra entah mungkin hanya perasaan ku saja atau memang akan terjadi sesuatu." Sandra dan Weni pun berpelukan seperti akan ada perpisahan.


Tak lama kemudian Brian datang ke kamar menanyakan persiapan nya.


"iya mas, semuanya sudah selesai tinggal nunggu berangkatnya."


"Mas juga sudah selesai, ayo segera berangkat mumpung masih belum terlalu siang."


Akhirnya, Brian dan Sandra pun pergi dimana tempat yang belum Sandra ketahui, Hanya satu yang ada di benak Sandra yaitu masih dipenuhi rasa penasaran.


Ternyata perjalanan memakan waktu yang lumayan lama, berangkat jam 10 pagi dan akhirnya sampai pukul 8 malam.


Sebuah rumah, yang berdiri dengan dua lantai dan nuansa warna putih, namun terlihat ada beberapa mobil sedang terparkir dan pintu rumah yang terbuka terlihat dari pinggir jalan sebelum pintu gerbang di buka mempersilakan mereka masuk.


"Mas ini rumah siapa?" tanya Sandra.


"Kamu akan tahu nanti, yang penting sekarang kamu siapkan diri, jangan kuatir aku akan selalu di sampingmu." Sandra hanya mengangguk karena dirinya sudah siap dengan kejutan yang iya terima sekarang ataupun nanti.

__ADS_1


Brian membukakan pintu buat Sandra dan mengulurkan tangannya, dengan segera Sandra menyambut uluran tangan Brian dan mengikuti Brian berjalan mengarah pada pintu yang terbuka itu.


Terdengar suara canda tawa menggema di seluruh ruangan namun seketika terhenti saat melihat Brian berdiri di depan mereka.


Tepuk tangan yang dilakukan Brian dengan berirama seperti genderang yang dipukul. Seketika semua terdiam dan menoleh kearah dimana Brian berdiri.


"Wah sepertinya ada pesta besar disini, ada acara apa sampai semua keluarga berkumpul disini, atau jangan-jangan sedang merayakan kematian Sabrina?" Ucap Brian dihadapan keluarga besar Bramono sedangkan Sandra menunggu di depan pintu di minta Brian agar tidak masuk dahulu.


"A-apa maksudmu nak, kami sangat terpukul dengan meninggalnya Sabrina. Tapi kami tak bisa larut dalam kesedihan terlalu lama karena Sabrina tak mungkin bisa kembali, hanya ibu mertuamu yang tak bisa melupakan kepergian Sabrina lihatlah sekarang dia kurus kering dan selalu menangis mengingat Sabrina." ucap Bramono ayah kandung Sabrina.


"Sudahlah nak, yang lalu biarlah berlalu, biarkan nak Sabrina tenang di sana." ucap salah satu paman Sabrina yang tengah ikut pesta.


"Bagus." Brian bertepuk tangan lagi dan mengeluarkan tatapan kebencian, "Seperti ini rupanya wujud asli serigala berbulu domba. Demi uang kalian rela menyerahkan Sabrina dan menipuku. Kalian menyerahkan gadis yang tidak suci kepadaku. Untuk saat itu aku masih diam karena aku masih menghargai Pernikahan, namun ternyata kalian memanfaatkan Sabrina untuk menguras hartaku, kalian pikir dengan kematian Sabrina hidup kalian akan aman. tidak itu tidak akan terjadi sebelum aku membuat perhitungan dengan kalian semua, aku belum puas." Ucap Brian sekaligus ancaman membuat keluarga besar tersebut terdiam.


Tatapan Brian teralihkan pada seorang wanita yang kurus kering duduk disudut sofa sendirian tak menghiraukan yang lain tengah berpesta, Bahakan kehadiran Brian pun tak dilihatnya. Brian melangkahkan kakinya menghampiri wanita itu.


"Ibu.." panggil Brian pada ibu mertuanya, saat itu juga Bu Wulan terperanjat dan langsung menoleh ke arah Brian. Wulan pun langsung langsung berdiri memeluk Brian.


"Nak Brian." ucap ibu Wulan disertai tangisnya, merasa rindu.


"Iya Bu, ini aku Brian suami Sabrina, kenapa ibu jadi begini, jika Sabrina tahu Sabrina pasti akan sedih." Brian menghapus air mata ibu mertuanya dan membimbingnya untuk duduk kembali.


"Nak, kenapa Sabrina pergi begitu cepat, ibu belum siap kehilangan anak-anak ibu." ucap Wulan yang terus menggenggam tangan Brian.


"Ibu, sudahlah jangan menangis lagi, ibu tak boleh sedih Sedangkan yang lain tertawa dengan kematian Sabrina."


"Nak, maafkan kesalahan Sabrina selama ini, yang tidak bisa menjadi seorang istri yang baik buatmu," tutur Wulan yang ikut merasa bersalah kejadian masa lalu.


"Sudahlah Bu, Sekarang ibu jangan menangis lagi, ibu aku membawakan seseorang yang bisa mengobati luka ibu untuk selamanya."


Brian memangil Sabrina untuk masuk ke dalam. Suara high heels terdengar beradu dengan lantai di setiap langkah dan saat itu juga Sandra muncul di hadapan keluarga besar Bramono. Semua orang tercengang karena kaget saat melihat wanita yang berjalan masuk ke dalam rumah dan semua terpaku syok melihat apa yang ada di depan matanya.

__ADS_1


To be continued ☺️☺️☺️


__ADS_2