
"Ya? Bang Ken ya?"
Aku mendengar suara Novi membuka pintu rumah.
"Suami kau mana?" Suara ngebass dokter spesialis itu terdengar ke telingaku.
"Di ruang laundry. Masuk aja, Bang."
Mengganggu pagiku saja, padahal aku tengah bermesraan dengan Novi. Aku ingin mengambil jatahku, setelah seminggu libur karena Novi datang bulan. Semalam ia belum bersuci, baru subuh tadi aku melihat rambutnya yang basah dan ia sholat Subuh.
Hari ini adalah seminggu yang lalu, saat aku mengantarkan oleh-oleh dari liburanku ke Medan. Di situ aku diledek papah dan saudara laki-laki yang lain, karena di bawah telingaku terdapat tanda cinta dari Novi.
Ah sudahlah, lupakan rasa malu diledek itu.
"Far…."
"Hmm." Aku langsung menoleh ke arah pintu penghubung menuju ke laundry room ini.
Aku pura-pura sibuk mengucek baju, sebelum akhirnya aku masukkan ke dalam mesin cuci.
"Alat-alat dokter punya Kin mana semua? Abang mau cek, mana tau ada yang Abang perluin." Sosok yang kini menjadi tertampan di sini pun, tengah bersedekap tangan dan bersandar pada kusen pintu.
Tidak sedikitpun ia mirip Kin.
"Di ruangan dokumen, Bang." Aku mengelap tanganku dengan handuk kecil, kemudian keluar dari laundry room ini.
"Kau tak kerja, Far?" Aku mendengar suara bang Ken dari belakang tubuhku.
Ia mengikuti langkah kakiku.
"Nanti, jam delapan." Sekarang masih pukul enam pagi.
"Istri kau tak buatkan sarapan? Biasanya, jam segini waktu sama Kin kan lagi pada sarapan."
"Udah, Bang. Tadi setengah enam pun, Novi antar makanan untuk anak-anak." Aku sudah sampai di depan ruangan dokumen dan ruang kerjaku.
Blagh…..
Kenanganku seperti mengiris hatiku. Apa Kin juga rindu mengurusku dan melayaniku? Apa Kin pun teriris, karena melihatku merindukannya sedemikian sakitnya?
"Di rak kaca itu alat-alat dokternya. Kin sering beli, meskipun tak kerja. Lebih mengirit, karena kita sekeluarga tak pernah ke dokter." Aku mencoba mencairkan kekakuan di hatiku.
"Aku pun sekarang merangkap jadi dokter keluarga. Ahya malah minta lahiran sama aku." Bang Ken geleng-geleng kepala. "Dikira abangnya dokter kandungan. Udah dibilang, Abang dokter bedah. Kek nol betul pemahamannya, tak apa katanya. Maksa aja tak apa, nanti didedel perutnya baru tau rasa."
Aku malah tertawa kecil. Ahya, sahabat kecilku memang seperti itu orangnya. Main tak apa saja, ia yakin dengan pemahamannya sendiri.
"Ambil aja, Bang. Aku tak pakai juga." Aku membuka kode rak kaca ini.
Wangi antiseptik seperti di rumah sakit, menguat dari rak kaca ini. Entah apa yang Kin pakaikan, pada alat-alat ini. Baunya khas sekali seperti rumah sakit.
"Rak steril ini juga, boleh?"
Aku mengangguk mengiyakan. Lagipula, aku tidak akan menggunakan rak itu.
"Ya udah nanti siang aku bawa semua ya?"
"Ya, Bang. Bawa aja." Aku yakin, peralatan ini ada harganya. Maka dari itu, bang Ken lebih memilih mengambil alih milik Kin saja.
Setelah itu, ia permisi pulang.
__ADS_1
Jujur saja, aku tidak suka melihat bang Ken menatap Novi. Novi memang orang lain untuknya, tapi Novi bersuami. Harusnya, bang Ken bisa menjaga pandangannya.
Seperti menatap mangsanya.
Aku tahu, Novi menarik dan begitu cantik. Tapi kan aku dan bang Ken kan statusnya anak untuk mamah, kami bersaudara dan bang Ken bagaikan ipar untuk Novi. Tidak pantas rasanya, jika menatap iparnya sendiri seperti itu.
"Nov, siang nanti keknya bang Ken bawa orang buat ambil rak kaca sama isinya. Kau pakai pakaian yang betul, jangan dress mini begini. Tadi mata bang Ken kurang sopan loh, aku tak suka liatnya."
Sepertinya, memang dari pakaian yang Novi kenakan. Seperti biasa, dress Korea yang pas di badannya. Hanya saja di bagian bawah itu mekar, seperti payung. Mengerikannya lagi, dress itu hanya mampu menutupi pahanya saja.
"Ya, Bang. Maaf. Soalnya, biasanya keluarga aja yang datang berkunjung. Makanya, aku langsung buka pintu." Novi menunduk dengan memperhatikan dress-nya.
"Kau cantik betul loh, Nov! Kau harus jaga diri."
Aku teringat Canda yang tidak berpakaian terbuka saja, bang Givan merenggutnya meski tahu Canda adalah pacarku. Apalagi, Novi yang begitu seksi dan menarik ini.
Makin ke sini, Novi memang semakin terlihat menarik di mataku. Tidak biasa saja, seperti awal ia menjadi istriku.
"Iya nanti aku tak ganti baju lagi, lepas aku antar anak-anak sekolah." Karena jika keluar mengantar anak, Novi mengenakan baju panjang, sopan dan berhijab.
Aku mengusap-usap pipinya.
Namun, Novi menghela nafasnya dan memalingkan pandangannya.
"Udah kebaca. Ayo, mau di mana?"
Aku tertawa puas, karena Novi langsung mengerti kode rahasiaku.
"Kunci pintu depan. Ayo kita ke laundry room."
Novi mengangguk, kemudian langsung berjalan untuk menutup pintu.
Aku cukup bersyukur, karena kini aku bisa mengatur Black Mamba dengan cukup baik. Ia bekerja, ketika aku tengah berminat.
Syaratnya satu, yaitu aku harus dalam keadaan good mood. Jika ditambah dengan rasa cemburu, malah aku terasa begitu menggebu-gebu.
Meski kini pasanganku bukan lagi Kin, tapi ia cukup memuaskanku setara dengan Kin. Tersalurkan lebih baik, kadang lebih dari baik.
"Boleh minta di sini?" Aku menyentuh lipstiknya yang sedikit lebih dari garis bibirnya.
Novi langsung mendelik tajam ke belakang, tepatnya di mana posisiku sekarang. Aku mendorong full, membuatnya terkejut dengan mulutnya yang terbuka dan matanya yang membulat.
Aku tersenyum senang. Aku melanjutkan kenakalanku, hingga berakhir mengalir sejuk di tenggorokannya.
Bagaimana rasanya?
Geli tiada tara. Seperti naik bianglala, lebih dari itu rasanya.
"Makasih ya, Sayang?" Aku menyekanya.
"Mual, pertama kalinya aku merasakan." Ia lunglai dalam pelukanku.
Aku tertawa puas. "Sesekali kali aja, tapi kalau masa subur tetap di dalam kok." Aku memberi kecupan manis di dahinya.
"Boleh tak aku libur masak? Aku pengen istirahat." Novi terlihat menyedihkan.
Aku mengangguk. "Boleh kok, nanti sore kita beli lauk. Buat anak-anak dan mamah juga." Sesekali boleh saja.
"Yuk junub? Terus aku mau nganterin anak-anak sekolah."
__ADS_1
Aku melihatnya terlalu lemah untuk itu. Aku memiliki sedikit inisiatif, yang mungkin akan meringankannya.
"Nanti aku yang antar Kal. Antar Kaf pun, biar nanti sekalian aku berangkat kerja. Kau yang jemput Kaf aja ya? Jam sepuluh nanti, kek biasanya." Aku membantunya menutupi tubuhnya.
"Ya, Bang. Makasih ya?"
"Oke, terima kasih kembali." Aku hanya mengenakan celanaku saja.
Beberapa saat kemudian, aku sudah mengenakan sepatu kerjaku. Satu pesan aku titipkan kembali pada Novi.
"Nov, pakai pakaian yang sopan. Pakai kerudung jangan lupa!" Seruku menggema.
"Ya, Bang," sahutan Novi berada dari lantai atas.
Tadi dia sudah mencium tanganku, sebelum akhirnya aku memakai sepatu.
Setelahnya, aku langsung bergegas untuk mengantar Kaf ke taman kanak-kanak dulu. Barulah, aku memutar setir mobilku untuk mengarah di mana perusahaanku berada.
Bekerja cukup was-was, karena pikiranku di rumah saja. Aku jadi ingin cepat jam istirahat saja, lalu aku pulang ke rumah. Tak apa, jika akhirnya aku tetap membeli makanan. Karena Novi tidak memasak hari ini.
Aku pulang, karena rasa khawatirku akan tatapan bang Ken pada Novi. Aku khawatir kejadian yang menimpaku Canda dulu, dialami juga oleh Novi.
Meski Novi sudah tidak perawan lagi, tapi ia milikku. Pasti pun, ia memiliki trauma juga jika mengalami hal buruk itu.
Jika dulu Canda bisa menghubungiku lewat telepon, meski aku sudah telat untuk datang. Tapi ia ada caranya untuk meminta pertolongan. Jika Novi bagaimana? Ia tidak memiliki ponsel sendiri.
Lebih baik aku ijin saja, meski jam istirahat masih satu jam lagi.
"Wi…. Aku izin ya? Orang rumah telpon, tolong gantikan dulu," ucapku pada Dewi, yang memiliki ruangan sendiri di depan ruanganku.
Dewi mengalihkan perhatiannya dari layar monitor. "Oke, Bli." Dewi menutup mulutnya. "Oke, Pak." Dewi mempersilahkan aku untuk pergi.
Jika pada Ria, jelas dia tidak bisa mentolerir sedikitpun. Padahal aku yang menggajinya, tapi disiplinnya tidak mengenal di mana posisinya.
Dari jauh, pintu rumahku terbuka lebar. Dua daun pintu tersebut, diganjal di bagian bawahnya agar tidak tertutup terkena angin.
Aku langsung turun dari mobil putihku, yang aku parkirkan di depan rumahku. Sepertinya, bang Ken berada di dalam. Karena hanya ada satu pasang sandal orang asing, yang bukan milikku atau milik keluargaku.
Ia tidak mungkin mengangkat rak kaca itu seorang diri, barang itu cukup berat. Harus minimal empat orang, untuk mengangkatnya.
"Novia…." Aku menyerukan namanya.
Namun, tidak ada jawaban sama sekali.
Pikiran burukku berceceran, dengan prasangka yang semakin membuat hatiku terenyuh.
Rumah begitu sepi, meski ada sandal bang Ken di teras rumah. Pintu pun terbuka lebar, tapi seolah tidak ada kehidupan di sini.
Prang….
Aku mencari sumber suara kaca yang pecah itu.
Ada apa ini?
"Nov! Novi! Kau gila!"
Aku bergegas, ketika mendengar suara kepanikan itu.
...****************...
__ADS_1