Istri Sambung

Istri Sambung
IS96. Ditahan bang Givan


__ADS_3

"Tau tak? Kalau tante Cantik tadi nangis loh. Bawa-bawa nama Papa juga." Setelah membisikkan hal itu, Chandra cengengesan dan melangkah ke arah lain.


Aku mengklaim, anak Canda yang satu ini tukang menguping dan ember.


"Udah selesai kah anak-anak ini, Bang?" Aku memperhatikan bang Givan yang tengah memberi Ceysa pertanyaan.


Ia melirik ke arahku, "Udah. Kenapa memang?"


"Main dulu lah, Far. Masih jam delapan ini loh!" ujar Canda yang menarik perhatian kami.


"Iya, jam sembilan barulah suruh pada tidur," tambah bang Givan kemudian.


"Udah biasa tidur jam segini anak-anak tuh, Bang." Aku melambaikan tangannya pada Kal, agar mendekat padaku.


"Kau di sini dulu, Far. Biar Novi sama anak-anak yang pulang."


Aku memandang lepas pada bang Givan. Aku merasa, ini ada hubungannya dengan aduan Chandra tadi. Sepertinya, aku akan mendapat teguran.


"Aku antar aja ya, Bang? Nanti aku ke sini lagi." Aku sudah menggandeng tangan Kal, yang sudah berada di dekatku.


"Udah di sini aja dulu!" Aku tidak bisa membantah suara tegas bang Givan itu.


Berakhir, aku memperhatikan Novi berjalan menjauh dengan menggandeng tangan kedua anakku. Aku sepertinya akan diintimidasi, oleh abangku yang terlihat sangat ini.


Tak lama, motor matic keluaran pertama itu muncul dengan anak seusia Kaf yang cengengesan. Hanya anak-anakku yang terlihat alim. Para keponakanku terlihat petakilan dan susah diatur.


"Eunceysa cantik, ini jajanan buat Ceysa." Hadi mengeluarkan makanan pertama itu untuk Ceysa.


"Makasih ya?" Ceysa menerimanya dengan tersenyum sekilas.


Ceysa terlihat kurus, tetapi badannya begitu tinggi. Seperti ayah biologisnya mungkin, karena ia tidak mirip sedikitpun dengan Canda. Wajah Ceysa terlihat galak, tetapi aslinya ia baik dan seperlunya bertutur kata.


"Van, di rumah mamah itu ada siapa? Yang alisnya tebal itu loh, perempuan bawa anak." Zuhdi duduk di teras dengan membobol kantong plastik yang ia bawa.


"Ya itu pujaannya Mas Givan." Canda melirik suaminya.


Bang Givan malah terkekeh, "Kau baru pulang sih ya? Jadi tak tau. Dia lama kok di sini, udah sekitar tiga atau empat bulan. Pas beberapa hari sebelum Ghifar nikah itu lah. Perasaan kau datang kan, pas Ghifar nikah?" Bang Givan mencomot gorengan yang berukuran sekepal tangan bayi itu.

__ADS_1


"Ya pernah liat sepintas, aku kira tak menetap di situ. Memang siapa dia?" Zuhdi pun mencicipi gorengan tersebut.


Zuhdi adalah adik ipar kami, ia menikah dengan Giska yang berstatus adik kandung kami. Tapi ia adalah teman bang Givan, usianya sama dengan bang Givan.


"Mantan pacarnya Mas Givan." Canda sudah manyun saja. Kentara sekali cemburunya Canda.


"Mana ada! Itu anaknya kakaknya mamah yang di Cirebon, namanya Anasya. Janda cerai mati, anaknya satu. Dia itu ikut packing produksinya Canda, tapi di sana, di rumah Ahya. Pagi berangkat, sore pulang. Ya abis isya lah paling telat, karena ikut pembukuan juga gitu. Kan kau tau sendiri, Canda tak bisa apa-apa. Punya usaha ya, cuma berani keluar modal aja. Sisanya, ya orang lain yang gerak." Bang Givan melirik istrinya.


"Aku kan yang jadi modelnya, Mas." Canda memukul pelan lengan suaminya.


"Ya bukan real picture. Keterangan midi, dipakai kau jadi semata kaki." Aku tergelak bersama para laki-laki di sini.


Bisa-bisanya, bang Givan meledak istrinya sendiri.


"Eh, boleh aku buat rumah di area belakang sini?" Zuhdi menunjuk samping kiri rumah bang Givan. Di mana, letak tempat tersebut terdapat dua bangunan milik Ceysa dan Jasmine.


"Boleh, aksesnya cuma satu. Jadi, nanti keluar masuk dari pagar Ceysa. Nanti dibongkar aja tembok beton yang ini. Tapi mepet betul sama ladang loh, harus pagar beton lebih tinggi biar binatang tak bisa masuk."


Aku hanya menyimak, karena aku tidak tahu ingin menimbrungi apa.


Zuhdi mengangguk, "Nanti aku bilang mamah papah, Giska maunya dekat orang tua. Aku minta dia hamil lagi, malah ditodong buat rumah." Gelak tawa langsung berbaur.


Kami tidak mungkin sukses di usia muda, tanpa support finansial dari mereka. Karena prosesnya akan panjang, sehingga kesuksesan mungkin digapai di usia empat puluh tahunan. Ini umumnya, perhitungan bila berjuang sendiri dari awal.


Makanya, mereka yang muda sudah kaya itu. Biasanya kaya, karena warisan. Ya seperti itulah, pengamatan yang aku tahu.


"Pulang, Di! Yuk? Fandi tak diajak, kasian barangkali sedih." Zuhdi berjalan mendekati anaknya yang sudah lari-larian dengan anak-anak yang lain.


"Udah setengah sembilan nih. Udah mainnya! Masuk rumah masing-masing, bersih-bersih, terus tidur!" Bang Givan menggiring anak-anak yang masih berlarian itu.


Seperti ini ya jika banyak anak? Tapi, dua anak pun sudah membuatku kebingungan setengah mati.


"Di dalam aja, Far. Aku tinggal dulu, mau ke kamar mandi." Canda membuka pintu rumahnya lebih lebar, sedangkan ia langsung masuk ke dalam.


Ada apa ya kira-kira? Tapi tadi siang tidak ada obrolan. Jangan-jangan benar, ini tentang Novi yang mengadu. Aku tidak mengerti lagi dengan Novi, kenapa ia suka sekali mengumbar aib suaminya? Apa ia ingin memperlakukan aku? Tapi secara tidak langsung pun, ia akan merasa malu juga.


"Sini, Far!" Bang Givan merangkulku untuk masuk.

__ADS_1


Ada apa ya ini?


"Kenapa, Bang?" tanyaku, dengan menghempaskan alas dudukku di sofa ruang tamu ini.


"Ra di mana, Bang?" Canda muncul dengan nampan yang berisi dua gelas kopi.


"Ikut ke rumah Ceysa. Biar nanti diantar Shauwi." Bang Givan mengambil satu gelas kopi dari nampan yang Canda bawa.


"Belum ngantuk kah Ra? Malam-malam masih diizinkan main aja." Canda duduk di sebelah suaminya, yang duduk di sofa yang cukup untuk duduk tiga orang.


"Mana pernah dia tidur jam setengah sembilan gini." Bang Givan menyandingkan satu gelas kopi di hadapanku.


"Kek tamu aja, Bang." Aku memandang kopi milikku.


"Biar tak ngantuk." Ia tersenyum lalu tertawa kecil.


"Ada apa sih, Bang?" Aku mulai bertambah curiga.


"Ada kau, yang keknya butuh teman cerita. Orang tuh, Far. Sesekali meledak pun tak apa, marah gitu, jangan dipendam sendiri terus kau diam aja begitu. Marah diam kek gitu tuh, cepat mati loh." Suaranya terdengar serius tapi tidak menegangkan.


Aku harus berucap apa?


"Menurut aku, ada masalah yang harus diolah sendiri dan ada juga yang perlu pendapat orang lain. Selagi aku bisa mengurusnya sendiri, ya aku paling cuma nanya saran-saran aja." Aku mencoba santai di sini.


"Tak apa, Far. Tinggal bilang aja. Daripada Novi tertekan karena kau, nanti bisa mati lagi dia," timpal Canda dengan sorot teduhnya.


Ternyata Novi ya?


"Memang Novi ada bilang apa? Aku tak merasa ada masalah serius." Karena menurutku, permasalahanku dan Novi ini hanya sebatas cemburu buta saja.


"Kalau tak serius, keknya tak sampai pindah ke rumah mamah deh." Canda mengerutkan keningnya.


Bang Givan menoleh ke arah istrinya, "Kau betul, Canda. Keknya yang nampak di mata itu kecil, tapi titik permasalahannya itu besar. Nah, itu apa? Dari sepenggal cerita Novi, aku paham sedikit ini ada sangkut pautnya tentang Canda. Aku yang jadi suaminya ini, agak tersinggung loh. Karena, percikannya dari Canda."


Aku menegang di sini. Aku tak mungkin jujur dan berterus terang tentang hal itu.


"Memang Novi ada bilang apa, Mas? Aku tak tau." Canda menyentuh lengan suaminya.

__ADS_1


...****************...


Kenapa ada Canda dan Givan terus? Karena Ghifar belum 'benar-benar' selesai dengan Canda. Nanti kalau udah clear, Canda dan Givan tak ganggu scene lagi kok..😁


__ADS_2