
"Bagus yang merah, nyala kena warna kulit kau."
Kak Aca langsung menoleh ke bahu kirinya, di mana aku muncul dari sana. Kak Aca maju satu langkah, begitu tahu bahwa posisi kami begitu dekat.
"Aku bayarin ya? Sok pilih satu lagi." Ini adalah kawasan jejeran rak gaun malam.
"Ish! Aku cuma lihat-lihat lah!" ketus kak Aca dengan menaruh kembali baju yang begitu menerawang tersebut.
Aku jadi ingat Novi, yang suka sekali mencoba memikatku dengan gaun malam yang menerawang dan seksi. Sayangnya, aku tidak terpengaruh. Ketika aku ingin, bahkan tengah memakai daster saja aku begitu lahap memakannya.
"Ambil dua tak apa. Kumpul-kumpul buat seserahan pernikahan kita kan?" Aku menaik turunkan alisku.
"Ck…. Jejak cerai, bikin aku ragu. Aku cari suami aja tuh ya, Far. Aku pilih dia yang tak punya mantan, yang tak pernah pacaran." Kak Aca bergeser di sebelah kanannya. Ini masih area dress malam, hanya saja sebelah sini menggunakan kain sutra. Sedangkan yang tadi dipilih kak Aca seperti jaring yang begitu menerawang.
"Mutualan dulu lah."
Eh, malah ia tertawa lepas.
"Ya, Kak?" Aku meminta persetujuan, untuk kita bisa mengenal lebih dekat dalam timbal balik yang positif.
Kak Aca mengangguk. "Aku lahiran normal ya, Far. Bisa dipahami aja. Aku bilang minusku di awal dulu, biar tak ada drama komplain longgar setelah fix."
Dikira ini sedang transaksi pembelian barang second.
"Ada hymenoplasty, Kak. Tenang aja." Aku memamerkan senyumku.
Ia melirikku agak lain. Kenapa nih?
"Kalau begitu, cari lagi aja yang perawan. Hymenoplasty apalah itu, aku tak minat. Tak mau terima apa adanya ya udah, aku cari yang mau aja." Ia marah.
Bukan maksudku seperti itu. Bila memang egonya ingin dirinya menjadi lebih menang seperti Kin, ya aku bisa membiayainya. Jika tidak ingin ya tapi apa juga, aku tidak pernah memintanya untuk sesempurna itu.
__ADS_1
"Maksudku, kalau kau mau ya aku bisa biayai. Tak mau, ya aku tak nuntut juga. Dua kali aku nemenin Kin bersalin, aku cukup paham pengorbanan seorang wanita. Tak ada bandingannya, apalagi hanya tentang rasa aja. Menurutku, yang penting dengan siapa dan minat yang berbuah berkah." Karena kalau nafs*, bisa dengan siapa saja. Namun, hanya dengan istri yang membawa berkah.
"Sih bilangnya begitu?" Tidak terasa, kita bergeser sampai ke tempat baju anak-anak.
Ke mana anak-anak itu? Mereka tengah berada di ruang bermain yang cukup besar. Ini adalah mall di pusat kota, lebih besar dari swalayan yang biasa kami datangi. Konsep tempat bermainnya seperti playground, dengan orang tua bisa menitipkan anak-anak mereka semasa mereka sibuk membeli barang.
Nahda dan Kaf pun, tidak keberatan untuk aku tinggalkan beberapa menit. Karena aku penasaran dengan arah langkah kak Aca, yang tiba-tiba hilang di jejeran rak pakaian.
"Aku siap modalin untuk kau, Kak. Novi yang udah mantan pun, masih aku kasih jatah sampai dia dapat kerjaan." Aku memikirkan biaya hidupnya seorang diri itu.
Apalagi mamah tidak menariknya kembali untuk tinggal di rumahnya. Mamah menganggap Novi tetap keponakan, hanya saja sudah tidak terlihat dekat.
"Sesukses itu kah usaha kau?" Kak Aca memberikan baju anak-anak padaku, aku diminta untuk membawa sedangkan ia lanjut memilih.
"Alhamdulillah, berkembang pesat. Travel terutama, berasa sekali lagi di atas awan." Travelku menjadi penguasa di pariwisata di Pulau Dewata Bali.
Tentu saja ini dalam novel ya. Tolong jangan cari langsung di Balinya, karena pasti kenyataannya itu bukan aku.
"Dari sama Novi sih, cuma kan memang semakin melejit. Mungkin karena menyenangkan hati anak yatim." Mulut kak Aca langsung monyong, ketika aku mengatakan hal demikian.
Sekarang pun, Nahda sudah terlihat sedikit gempal. Aku sering sekali memberikan susu formula untuk Nahda, dengan merek yang sama seperti Kal dan Kaf. Satu bulan itu, sekitar dua kilogram untuk masing-masing dari mereka. Yang ukuran satu kilo, biasanya untuk dua minggu.
Belum lagi jajanan dan uangnya juga, sering aku beri langsung pada Nahda. Pastinya, Nahda akan memberikan uang pemberianku pada ibunya.
Tidak hanya Nahda saja sih, macamnya anak Ahya. Anak Giska, Ghavi atau Ghava, bahkan anak-anak Canda sekalipun aku bagi rata. Aku senang saja ekspresi girang anak-anak, saat mendapat jajanan ataupun uang jajan dariku.
"Itu tuh, udah semua buat anak-anak. Keknya sekitar delapan ratus ribuan tuh, Far. Aku mau beli bajuku dulu ya?" Kak Aca meninggalkanku dengan beberapa stel pakaian anak-anak.
Pikirku, sekalian membayar. Aku kini mengikuti kak Aca, yang tengah memilih blazer wanita.
"Dulu maharnya berapa, Kak? Kalau sama aku, minta berapa?" Banyak hal yang kami bicarakan, sampai akhirnya aku penasaran dengan pernikahannya dulu.
__ADS_1
"Aku…. Dua ratus delapan puluh ribu, sesuai tanggal. Tanggal dua puluh delapan waktu dulu nikah itu, bulan delapan juga."
Apa aku tidak salah dengar?
"Papanya Nahda, dari keluarga biasa kah?"
Aku diajarkan untuk membayar mahal, untuk menikahi seorang perempuan. Dari maharnya, uang kotor, isi kamar dan seserahannya, cukup bernilai besar. Karena aku juga, kebetulan sekali dari kalangan menengah atas.
"Iya, pensiunan PNS ayahnya papanya Nahda. Papanya Nahda sarjana pendidikan juga, tapi memang belum PNS. Sebelum nikah itu jadi guru honorer, aku kenal pun di tempat SMP aku ngajar dulu. Tak ada pacar-pacaran, dia bilang suka, terus aku bilang keadaan aku, terus fix menikah. Barulah setelah nikah, dia jadi SPG departement store, sambil nyambi jadi ojek online." Pasti keadaan yang dimaksud adalah hilangnya mahkotanya.
"Terus dia nerima keadaan kau yang udah tak virgin itu?" Aku bertanya dengan suara lirih.
Ia melirikku sekilas. Mungkin ia lupa, jika salah satu temannya pernah mengatakan keadaannya itu saat di tempat angkringan.
"Tak nerima keknya, dia ada hilang tiga hari pas aku kasih tau itu. Tapi dia main langsung datang ke rumah, buat bilang niat baiknya untuk nikahin. Awalnya pun tak boleh sama ayah, karena masalah ekonominya. Tapi setelah dia tunjukkan kesungguhannya, ayah kasih restu tuh."
Super sekali laki-laki ini, mana jejaknya tidak pernah berpacaran lagi. Pasti, ia dalam golongan manusia yang hidup benar-benar lurus tanpa ujian wanita.
Eh, aku tiba-tiba teringat dengan ucapannya yang mengatakan bahwa traumanya mungkin sama dengan Canda. Hanya saja, ceritanya berbeda. Aku curiga, pasti mahkotanya direnggut oleh pacarnya yang berjanji akan menikahinya.
"Kenapa bisa putus sama pacarnya yang ambil keperawanan kau, Kak?"
Mungkin memang terdengar kurang sopan. Tapi harusnya keningnya tidak perlu berkerut seperti nenek-nenek jompo, lalu alisnya tak perlu menyatu dan matanya tidak boleh menyipit juga.
Itu terlalu berlebihan, untuk mengekspresikan sebuah kekagetan.
"Memang aku ada bilang ya, kalau pacar aku yang ambil keperawananku?
Loh? Aku jadi bingung sendiri.
...****************...
__ADS_1