
"Hati-hati ya, Nov? Telpon aja kalau butuh bantuan." Aku memindahkan tas terakhirnya ke dalam rumah Giska ini.
"Iya, Bang. Makasih ya?" Tubuhnya condong ke arahku.
Aku kurang cepat menghindar, hingga bibir nakal itu hinggap di pipiku. Novi memberikan ciuman singkat untukku.
"Sama-sama." Aku mundur satu langkah. "Aku pamit ya?" Lebih baik aku segera kabur.
"Iya." Novi memamerkan yang selalu terlihat indah di wajahnya yang begitu cantik.
Pindahan yang tidak umum, pukul setengah sembilan malam. Aku berjalan kembali ke mobil, yang melewati beberapa rumah. Rumah Giska tidak memiliki akses mobil, hanya ada akses motor.
Aku berniat kembali ke rumah mamah, dengan kendaraan yang melaju perlahan. Dari lampu sorot kendaraanku, aku bisa melihat seorang wanita yang menggandeng dua balita. Namun, bukan balita itu yang menjadi fokusku. Melainkan pinggul besar itu yang melambai padaku.
Entah dari mana kak Aca membawa Nahda dan Ra itu. Roknya sampai bergoyang-goyang, mengikuti gerakan pinggulnya yang bergerak karena berjalan.
Duh, begitu saja aku langsung minat.
Aku membawa kendaraanku berjalan pelan, kemudian membuka jendela mobil sebelah kiri. "Ayo diantar balik." Aku membawa mobilku sepelan berjalan kaki.
Kak Aca menoleh ke arahku. "Boleh. Berhenti di depan." Mungkin ia pun lelah berjalan.
Kak Aca belum memiliki kendaraan. Ia ke mana-mana berjalan kaki, dengan menggandeng dua bocah tersebut.
Kak Aca mengunjal dua bocah tersebut ke pintu tengah. Kemudian ia duduk di kursi paling kiri di bangku tengah tersebut.
"Papa…." Ra menepuk-nepuk pipiku.
"Dari mana sih anak Papa ini? Malam-malam kok keluyuran?" Aku mengusap pipinya, kepalanya muncul di tengah-tengah kursi depan.
"Aku anak Papa." Nahda mencoba menarik baju Ra.
Hufttt, pertempuran langsung terjadi.
"Iya, iya. Semuanya anak Papa."
Hingga dua gadis kecil tersebut, kini berpindah ke bangku depan. Tepatnya di sampingku.
"Anteng coba! Jalannya tak enak." Kepala kak Aca muncul dari sela kursi kemudi ini.
Haduh, kenapa saat aku menoleh aku langsung bisa melihat dadanya yang padat itu? Meski berlapis kaos, tapi begitu indah.
Tidak begitu besar seperti Kin. Tidak terlihat begitu kencang seperti Novi juga, tapi rasanya aku langsung ingin menikmati pabrik ASI-nya.
"Dari mana, Kak?" Aku mengalihkan perhatian fokusku.
__ADS_1
"Dari minimarket. Anak-anak minta keju sama beberapa makanan yang tak ada di warung."
Keju?
Aku jadi teringat Canda yang doyan keju dan perdebatan kami tentang Canda yang suka menelan. Ia mengakui pernah menelan keju dalam bentuk cair, hanya untuk variasi hubungan saja.
"Suka keju juga ya, Kak?" Pertanyaanku dijawab dengan anggukan saja.
"Suka nelan juga dong?" Aku meliriknya dengan tersenyum mesum.
Duh, khayalanku sudah ke mana-mana.
"Nelan apa?" Kak Aca masih di posisinya, dengan membantu memegangi Ra yang tak mau diam.
"Benih." Aku mencoba tidak memperjelas dan mengatakan selirih mungkin.
Namun, perutku malah mendapat cubitan. Aku tergelak renyah, dengan mengusap-usap bekas tempat yang ia cubit itu.
"Nakal betul pertanyaannya!" ketusnya dengan mundur di bangkunya kembali.
Aku ingin tahu saja, karena aku suka perempuan yang doyan dengan rasa calon anak-anakku. Mungkin mereka akan sampai ke rahim juga, meski perjalanannya cukup jauh. Benih-benih akan melewati kerongkongan, lambung, lalu ke usus yang katanya amat panjang itu.
"Suka tak memang rasanya?" Aku menoleh ke belakang sekilas.
Intinya dia mau, meski tidak sering. Aku pun tidak sering juga, sebulan sekali pun tidak tentu.
Tidak terasa, kendaraanku sudah berada di rumah kak Aca. Mereka langsung turun, tanpa aku membantu mereka untuk turun. Hari sudah malam, aku takut salah paham untuk warga sekitar. Karena warga sini diam-diam memata-mataiku.
Aku langsung berbelok ke rumah mamah. Aku malas membuka garasi rumahku dan kembali mengunci pintu, lalu berjalan ke rumah mamah. Biar saja mobilku di rumah mamah dulu, besok pun aku harus membenahi rumahku dulu.
Aku ingin merubah letak ranjang dan beberapa furniture di rumah, agar seperti berada di suasana dan tempat baru. Padahal tempat lama, dengan status baruku.
Duda anak dua. Entah bagaimana dunia luar berpendapat tentang statusku ini.
Sialnya, aku tidak menyadari bahwa pusakaku bereaksi. Tahu-tahu, celana ini terasa sesak dengan barang yang mengeras di dalamnya. Ini terlalu mencolok, aku harus cepat bersembunyi di dalam kamar sebelum dilihat orang lain.
Aku yakin, aku tidak akan bisa tidur cepat malam ini. Rasanya aku ingin solo karir saja, bisa tidak ya?
Aku langsung mencari-cari film dewasa dalam salah satu website. Tidak enaknya menjadi laki-laki yang begini, kadang keras tanpa diatur.
Drttt….
[Besok minta antar ke ekspedisi pengiriman barang. Aku mau retur barang beli online.] Pesan ini muncul di bar notifikasiku.
Itu dari kak Aca. Si Semmmmoxxxx yang tadi kuantar pulang.
__ADS_1
Namun, aku malah membuka pesan dalam aplikasi chat tersebut. Kemudian, menyambungkan panggilan video padanya.
Langsung diterima, dengan kehebohan anak-anak dan penampilan kak Aca yang sudah tidak berkerudung. Sontak saja, aku langsung mematikannya kembali.
Ah, aku ingin mencoba hal yang membuatnya penasaran.
Aku langsung mengirimkan foto resleting celanaku yang begitu menggembung. Kemudian, aku mengirimkan pada kak Aca.
Ceklis itu berubah menjadi biru. Namun, kak Aca tidak membalasnya. Aku jadi teringat ucapannya tempo hari. Jika ia tidak merespon, tandanya ia hanya bergurau. Jika ia merespon bahkan melakukan panggilan video tandanya dia serius ingin melihat intiku.
Jadi, ia hanya iseng saja ya? Aku yang berniat iseng, tapi malah aku sendiri yang kena ghosting.
Aku langsung kecewa, tapi aku mengalihkan perhatianku pada film dewasa ini. Aku ingin segera menuntaskan, lalu tertidur.
Aku mulai mencari gel keramat milikku. Expired-nya masih jauh, ini aman aku gunakan. Aku sudah melepaskan celana jeans yang menyiksa ini, kemudian aku bersembunyi di dalam selimut. Headset pun sudah terpasang kembali, aku akan memulai solo karir ini.
Semoga usahaku sukses, lalu aku bisa tidur nyenyak malam ini.
Sayangnya, malah datang panggilan video dari seseorang. Padahal, aku sudah mulai serius menonton film kembali.
"Ya, hallo." Aku mengeratkan headsetku di telingaku.
"Far, lagi apa?"
Kak Aca?
Aku kira tadi Ra atau Nahda yang menelepon.
"Lagi tiduran, kenapa memang?" Aku memperhatikan layar ponsel yang terlihat begitu jelas wajah kak Aca.
"Aku video call nih."
Memangnya kenapa? Aku pun tahu ia melakukan panggilan video.
"Terus?" Bukan aku judes, hanya saja aku baru ingin melakukan solo karir.
"Aku mau lihat, coba arahkan. Tadi anak-anak masih ngemil. Sekarang baru pada merem mereka, Far. Makanya tadi baru liat pesannya aja dulu, tak bisa langsung VC soalnya." Ia berbicara dengan nada suara yang ditekan lirih.
Oh, paham-paham. Jika ia tidak merespon, tandanya ia hanya bergurau. Jika ia merespon bahkan melakukan panggilan video tandanya dia serius ingin melihat intiku.
Wow, aku yang malah gugup sekarang.
Bagaimana ini? Ada seorang wanita yang ingin melihat intiku lewat panggilan video ini. Sebaiknya aku memperlihatkan tidak?
...****************...
__ADS_1