
"Aduh, Far." Papah geleng-geleng kepala.
"Saran terbaik, udah cepat nikahi aja. Jangan nunggu enam bulan lah, nanti kebanyakan zina. Cium-cium cumbu itu, udah masuk berzina itu. Jangan sampai kan digrebek kek Papah sama mamah dulu, kan malu sekeluarga. Kalau udah sah, kan bebas aja mau buat merah-merah seleher penuh juga," lanjut beliau kemudian.
Aku teringat akan beberapa tanda yang aku berikan di leher kak Aca, untungnya ia berhijab rapat. Jika tidak, bisa berabe.
"Nanti apa kata tetangga, apa kata Novi kalau aku nikah lebih dulu. Pasti kan mereka berpikir, cerai ini gara-gara aku yang main perempuan lain." Aku mengungkapkan kegelisahanku.
"Kalau kau tak mau orang berpikiran begitu, ya udah sirikan aja dulu. Cuma keluarga inti, RT dan RW yang tau." Papah selalu menyarankan nikah siri. Mentang-mentang dirinya pernah nikah siri, hingga menghasilkan aku dalam pernikahan sirinya.
"Tak mau aku, Pah. Repot nanti urus resminya, sidang dulu lah, bolak-balik pengadilan agama udah kek cerai aja." Aku teringat prosesi peresmian pernikahan Ghava.
"Ya udah resmi, jangan sampai enam bulan. Tiga bulan lagi paling lama gitu, pendekatannya sekalian menuju pelaminan aja."
Namun, aku teringat ucapan mamah yang menanyakan apa tujuan menikah. Aku belum memiliki tujuan itu. Masa aku menikah kembali, karena tidak ingin selalu berzina, karena alasan anak lagi. Nanti bisa gagal lagi.
"Nanti aku pikirkan lagi, kemungkinan paling lamanya enam bulan. Aku masih bingung, aku masih dilema sendiri, hati aku belum mantap," putusku cepat.
"Ya udah kalau kek gitu. Berarti jangan sering-sering ketemu Aca ya? Seminggu sekali aja, itu pun jangan ngamer. Kalau kau sayang itu, kau tak mungkin tega nanti di akhirat Aca ditusuk dari intinya sampai tembus ubun-ubun. Kalau kau cinta, kau pasti tak tega dia dapat hukuman itu di akhirat." Teungku haji yang benar-benar sudah insaf.
Aku memikirkan ucapan beliau, sampai beliau masuk ke dalam rumah dan meninggalkan aku di teras seorang diri. Aku masih buntu, masih mumet dan belum menemukan kepastian yang tepat.
Aku menikah karena ingin apa? Aku menikah bertujuan untuk apa?
Drttt….
Aku merasakan ponselku yang di dalam saku mengeluarkan notifikasi getar. Aku memilih untuk melangkah ke dalam rumah dulu dan mengunci pintunya, aku pun masuk ke kamar mandi sebelum naik ke ranjangku dan Kin yang penuh kenangan nikmat.
Dari aku sembuh DE, sampai menikah dan memiliki dua anak, ranjang ini menjadi saksi bisunya.
Ada pesan masuk dari kak Aca. Isi pesannya membuatku melongo saja.
[Aku masih pengen. Bisa kapan lagi?]
__ADS_1
Aku sudah merasa seperti g*g*lo kalau seperti ini. Bisa-bisanya ia langsung ingin lagi, padahal kita baru saja selesai dari kamar hotel.
Mungkin ini sifat aslinya, mesum dan berminat tinggi. Agresifnya ada masanya, tidak selalu agresif dan tidak selalu pasif juga. Kak Aca bisa mengimbangi permainanku, tanpa mengomandoi seperti Kin. Permainan tetap dalam kuasaku.
[Pengen apa?] Tentu aku hanya berpura-pura bodoh saja.
Ceklis langsung berubah menjadi biru, tandanya kak Aca menunggu balasanku sejak tadi. Kami berada di dalam satu rumah, kak Aca di lantai bawah dan aku di lantai atas.
[Bikin kesel aja! Aku tak suka kau begitu!] Tanda seru sudah menghiasi chattingannya. Pertanda ia tengah marah di sana, ia mulai ngambek.
Benar tidak aku memilih perempuan yang tukang ngambek begini?
[Begituan???] Aku masih mencoba memancingnya untuk mengatakan lebih jelas.
[Iya!!!] Tanda serunya tak kalah banyak.
Gayanya dia tadi mengaku bahwa dirinya tengah haid. Sudah diganjal, malah ketagihan.
Apalagi jika dipuji besar nan panjang, gagah dan perkasa. Sudah aku pasti langsung lumer, minta apa saja aku beri. Hanya pujian, tanpa mampu merusak kulkas dua pintu. Seperti itulah hati laki-laki.
[Wow, enak banget.]
Aku tertawa sendiri membaca balasannya. Aku teringat konten-konten yang mengatakan 'wow, murah banget'. Pasti kurang lebih seperti itu nada ucapan kak Aca, ketika berbicara langsung dan mengatakan hal itu.
[Nanya serius aku.] Balasku kemudian.
[Enak, penuh. Jadi bagian tersulit pun terkena juga.]
Aku langsung cengar-cengir membaca balasannya. Hanya seperti itu, tapi mampu membuat hatiku berbunga-bunga.
[Tak boleh sering-sering, namanya berzina. Masa setiap ketemu mau begituan. Kalau hamil gimana? Apa mau minum levonorgestrel terus?] Sejujurnya aku khawatir itu mengurangi kesuburannya, jika terlalu sering mengkonsumsi pil KB darurat tersebut.
[Tapi sekarang aku masih pengen.]
__ADS_1
Aduh, kesempatan sekali. Di mana lagi coba, perempuan yang minta sendiri seperti ini? Inginku ambil tawaran ini, tapi aku khawatir papah yang tak terkontrol saat aku ketahuan mesum dengan Kin bisa kambuh lagi. Aku tak mau terjadi hal yang buruk, karena papah biasanya langsung ambruk. Meski tidak memiliki penyakit jantung, tapi tensi darahnya biasanya langsung naik.
[Istirahat, udah malam. Nanti lagi ya?] Bukan aku tak mampu memenuhinya, hanya saja aku berusaha keras untuk tidak melakukannya lagi.
Masa satu waktu, aku sudah mau berzina dua kali?
[Kambuh ya DE-nya?] Kak Aca sepertinya meminta agar aku memberikan alasanku.
[Tak tau juga, tapi agak capek aja. Tadi lumayan lama soalnya.] Sebenarnya tidak juga, bahkan aku bisa bertahan lebih lama lagi dari waktu yang tadi.
[Olahraga dong, biar tak gampang capek. Kan belum lama juga, masa udah capek-capek aja?]
Loh? Apa keluarga dari mamah berminat tinggi semua? Aku pernah tahu sendiri, tentang mamahku yang berminat tinggi. Lalu, kak Aca pun begini.
Tapi sepertinya pas juga, dengan aku yang memerlukan waktu lama untuk bisa keluar. Pasti ia bisa mengimbangiku dan juga meminimalisir lecet-lecet yang pasti ada.
[Oke, nanti aku mulai olahraga lagi. Aku istirahat dulu ya? Aku tidur duluan ya?]" Aku beralasan ini, agar kami tidak jadi berzina lagi.
Percaya atau tidak, tapi aku sedang berusaha menahan diriku agar tidak terpancing dan mengetuk kamarnya. Aku tak mau berzina di rumah orang tuaku sendiri.
"Oke deh. I love you, mimpi indah ya?]
Gigiku sampai kering, karena membaca pesan terakhir ini. I love you katanya. Baru tahu aku, jika ada perempuan yang ditiduri lebih dulu tapi malah mengatakan I love you. Biasanya kan, pasti ia marah-marah dan tidak mau meresponku lagi karena aku mesum. Tapi ini kebalikannya.
Sepertinya, aku akan mempertahankannya. Kak Aca memiliki nilai plus, untuk aku yang sulit bereaksi seperti ini. Keminatannya tinggi seperti Kin, meski tidak begitu aktif seperti Kin. Kadar kak Aca sangat pas, seperti perempuan yang aku impikan dalam mimpi.
Namun, jika harus aku menikahinya lebih cepat. Bagaimana dengan pendapat orang lain dan Novi?
Aku pun masih belum benar-benar merasa mencintainya. Jujur saja, kak Aca menarik dan aku merasa kehilangan ketika ia tidak meresponku. Apa itu bertanda, bahwa aku mencintai kak Aca? Jadi cinta itu, teorinya dan rasanya mirip apa?
Jika pada Canda, itu namanya bukan cinta. Lalu, seperti apa pemikiran tentang cinta, kasih dan sayang? Jika memang tidak ada teorinya, tetapi bisa dirasakan? Kira-kira, rasanya bagaimana?
...****************...
__ADS_1