Istri Sambung

Istri Sambung
IS212. Tentang restu


__ADS_3

"Bantu support sedikit aja, Mah. Aku ada rencana ke Cirebon, untuk bertamu ke pakdhe." Aku langsung berterus terang tentang niatku dan kak Aca yang ingin pergi ke Cirebon.


"Biar apa? Yang ada kau nanti sakit hati, Far." Wajah seram mamah langsung terlihat.


"Setidaknya kan, aku pernah berjuang gitu. Aku datang ke sana, minta baik-baik, kalau memang hasilnya masih tetap sama, ya aku jadikan itu pelajaran." Tidak juga, aku akan tetap mempertahankan kak Aca menjadi istri rahasiaku kalau memang kejadiannya seperti itu.


"Ck…. Kalau di awal udah tak dapat restu tuh, ya udah aja. Berjuang untuk restu itu sulit, Far. Mamah pernah maksa soal restu, hasilnya malah jadi janda di usia muda. Kalau memang di awalnya tak direstui tuh, ya udah aja tuh, jangan maksa. Banyak kok perempuan lain, yang orang tuanya merestui." Mamah menatapku tajam, dengan menggigit sebuah tomat buah dengan giginya.


Ternyata mamah memiliki trauma dengan restu. Pantas saja, ia tidak mensupportku.


"Coba biarkan dia berjuang sedikit, Dek." Papah menunjukkan ujung kukunya.


Mamah memperhatikan suaminya tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan papah yang tersenyum lebar pada istrinya yang tengah galak ini.


"Kita juga kan tak direstui kan? Tapi begitu bahagia sampai sekarang kan?" Papah mencolek dagu istrinya, kemudian menggenggam punggung tangan istrinya.


"Ya makanya ujiannya bertubi-tubi. Ada aja, tak ada habisnya." Mamah menggigit kembali tomat buahnya.


"Ujian rumah tangga itu tak ada habisnya sampai kita mati lah, Mah. Aku nikah dengan restu sana sini pun, ada aja ujiannya. Pasangan kita udah mati nanti pun, tinggal ujian dan cara bertahan hidup sendiri di dunia ini tanpa kekasih hati. Terutama akan rindu pada seseorang yang udah tiada. Beuh, sakit tak ada obat." Canda mengatakan seperti itu, karena ia begitu mencintai mantan suaminya yang telah tiada itu. Aku yakin, ia pun merasakan rindu yang tidak pernah tersampaikan pada bang Lendra.


"Bukan karena tak ada restu ya, Dek?" tanya papah dengan memperhatikan menantunya yang mulai bersantap itu.

__ADS_1


Canda mengangguk, kemudian mengunyah makanannya cepat. Ia sempat minum terlebih dahulu, sampai akhirnya mulai berbicara kembali.


"Restu memang diperlukan, apalagi kalau pihak perempuan karena butuh wali kan? Tapi bisa lah diusahakan, apalagi kalau orang tua tau kalau anak perempuannya begitu cinta ke laki-laki yang tak direstui mereka." Canda kadang-kadang seolah dewasa.


"Jadi ingat Giska sama Zuhdi," imbuh papah kemudian.


"Nah, kurang lebih begitu kan, Mah? Pakdhe Arif butuh keyakinan akan kesungguhan Ghifar. Kek papah dulu kan, perlu bukti dari kesungguhan Zuhdi."


Kadang-kadang memang oke juga ini pemikiran Canda. Entah karena sudah diberi wejangan oleh suaminya.


"Mau berapa lama berjuang? Janji lepaskan, kalau memang sulit didapatkan? Mamah tak mau, kalau anak Mamah sampai begitu mengemis cinta. Anak-anak Mamah punya harga diri, punya wibawa. Mamah tak ikhlas, kalau kau disepelekan sama wali nikah calon pendamping hidup kau. Dengan kau janjikan pernikahan enam bulan lagi itu kan, pikir Mamah sih kau ini sudah terlihat bersungguh-sungguh. Ada tujuan kan gitu, dari kedekatan kau dan Aca. Tapi nyatanya kan, pakdhe kau di sana tak mau ada hubungan atau pernikahan antara kau dan Aca. Coba gimana kalau anaknya dilamar laki-laki yang ngajak tunangan dulu, terus pas ditanya kapan lamar, jawabnya lihat nanti aja karena uang belum kumpul. Lah, apa tak merugi tuh sebagai orang tua? Bukannya bersyukur kan pakdhe kau, karena ada laki-laki baik yang niat untuk menikahi anaknya? Kau yang ditolak mentah-mentah kek gitu, Mamah yang sakit hati di sini. Udah aja lah gitu, daripada sakit hari sama kakak sendiri makin berlanjut. Kau segala gayanya pengen minta restu langsung." Mamah menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Jangan sampai Mamah tau, kalau sampai kau dapat perlakuan tak enak dari pakdhe kau pas di sana. Karena Mamah bakal benar-benar sakit hati sama kakak sendiri, karena anak Mamah dia sepelekan." Mamah sampai memukul-mukul meja beberapa kali dengan telapak tangannya.


"Mamah kau aja sampai begitu, Far. Gimana nanti kau di sana, pas denger langsung penolakan pakdhe kau?" Papah menepuk pundakku.


Aku mengedikan bahuku. Aku tidak tahu, bagaimana jika aku mendapatkan penolakan langsung dari mertuaku? Rasanya, aku ingin memberitahunya saja bahwa aku sudah menikahi anaknya secara siri.


"Rasakan dulu, Far. Tantangan hidup." Canda menaikan tangannya seolah memamerkan bicepsnya, padahal tidak ada otot lengannya.


"Ingat ucapan Mamah, Far. Lepaskan kalau sulit didapat."


Aku tidak mengangguk ataupun menggeleng. Aku tak mau meninggalkan istriku, meski akhirnya pakdhe tetap enggan memberi restunya. Aku ingin tetap mengarungi bahtera rumah tanggaku dengan kak Aca, meski tanpa restu orang tua.

__ADS_1


Aku tahu, mamah tidak benar-benar tidak merestuiku. Jikalau, pakdhe Arif tidak memberikan penolakan langsung. Mamah hanya tidak mau, niat baikku diinjak-injak begitu saja.


Mungkin mamah bisa memaklumiku yang tetap mempertahankan kak Aca, meski setelah pulang dari Cirebon aku tidak mendapat restu juga. Semoga, aku bisa mengungkapkan pernikahan kami ini dengan baik-baik. Agar tidak menimbulkan kekagetan, apalagi untuk orang tuaku yang sudah menua ini.


"Kalau Papah sih bakal milih hamili aja udah. Nasab siapa entah siapa, salah siapa yang tak mau bagi restunya. Macam tak paham aja pakdhe kau itu, kek mana laki-laki kalau udah jatuh cinta dan menggebu-gebu." Papah terlihat kesal, tapi lanjut memakan sarapannya.


"Orang tuh, mulutnya! Masa ajarin yang jelek? Ngomong begitu di depan anak-anak lagi." Mamah memandang dua cucunya yang berada di samping Canda itu.


"Kalau perempuan, udah cinta, mereka kan main ambisi kan? Cara dan step halal or haram pasti dilakukan semua. Kalau laki-laki, cinta, ya udah itu campur sama n**** mereka. Baik-baik tak diterima, ya udah jalur pemaksaan." Papah berbicara cukup pelan, mungkin agar tidak didengar cucu-cucunya lagi.


"Tapi ya salah, Pah. Mana tau, Allah itu ngasih petunjuk lewat terhalang restu, atau ketahuan selingkuh di awal, biar tak lanjut ke pelaminan. Karena yang kita sangkakan baik untuk kita itu, belum tentu baik juga menurut Allah."


Benarkah? Lalu bagaimana dengan konsep perjalanan cintaku?


"Tuh, Bang." Mamah mengusap lengan kiri suaminya. "Makanya dari awal aku pernah bilang sama Abang, jangan dilanjutkan kalau tanpa restu. Abang maksa ngejar-ngejar aku." Mungkin mamah menarik pengalamannya dengan suaminya dulu.


"Tak bisa loh, Dek. Masa ia harus hidup sendiri-sendiri, setelah udah mulai bergantung satu sama lain. Kalau memang pada akhirnya ya bukan jodoh, ya tak bakal menikah. Udah aja pakai pikiran begitu. Jangan pikirkan kalau tanpa restu, pasangan selingkuh, itu cara Allah nunjukin bahwa itu bukan yang terbaik bagi kita. Udah, Far! Usaha dulu minta restu, tak dapat juga, kita cari cara selanjutnya." Papah memberiku semangat dengan senyum lebarnya.


Yang benar yang mana ya? Aku jadi memikirkan ucapan Canda.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2