
Brian pamit untuk pulang, namun Sandra tak mengucapkan sepatah kata pun bahkan memandang ibunya pun tak mau, Sandra hatinya masih terluka setelah mengetahui kenyataan ibunya tak mau berjuang untuk dirinya agar bisa sembuh sebelum dirinya dinyatakan meninggal.
Sama halnya dengan ibunya yang tak mengatakan sepatah kata pun, hanya memandang wajah putrinya yang sekarang membencinya.
Brian mengusap pundak Sandra dan kemudian membawanya pergi. Selama di perjalanan Sandra tak ingin bicara bahkan Brian beberapa kali mencoba mengajak berbincang namun tak ada tanggapan dari Sandra.
Perjalanan yang cukup jauh membuat Brian lelah mengendarai mobil dan memilih untuk istirahat dan melanjutkan perjalanannya esok hari.
"Sayang malam ini kita nginap disini dulu, aku lelah seharian di perjalanan, dan juga kasian si kembar, kamu gak papa kan," tanya Brian dan Sandra pun mengangguk dan mengikuti Brian memesan kamar untuk istirahat.
Setelah sampai kamar Brian langsung merebahkan diri di ranjang untuk istirahat sejenak. Sandra tiba-tiba menghambur ke pelukan Brian mencari kenyamanan di sana.
"Mas, Jangan tinggalkan aku, sekarang hanya mas satu-satunya orang yang aku punya."
Brian mengusap kepala Sandra dan mengecupnya. "Aku takkan pernah meninggalkanmu, sampai kapanpun. percayalah padaku aku akan selalu menjadi tongkatmu saat kamu rapuh, dan akan selalu menghapus air matamu saat membasahi pipi."
Sandra meletakkan tangan Brian di atas perut Sandra "berjanjilah demi anak kita."
Brian pun mengusap perut Sandra "Aku berjanji."
Sandra pun tersenyum kecil, sesaat melupakan masa lalu dan mencari kenyamanan bersama Brian.
Sandra pun tertidur di pelukan Brian dengan begitu nyenyak. Sesaat ponsel Brian berdering dan itu panggilan dari salah satu kepercayaan Brian.
"Bos, saya sudah menemukan sedikit titik terang keberadaannya, tapi saya belum bisa memastikannya."
"Aku percayakan semuanya padamu, lakukan dengan bersih dan jangan menimbulkan kecurigaan. Aku ingin tahu seberapa jauh dia bisa lolos dariku."
"Baik bos, saya jamin semua aman." Brian pun mematikan ponselnya dan mengambil sebatang rokok. Dengan santai Brian menikmati setiap hisapan rokok dan sesekali memandang wajah Sandra yang terlelap dalam tidurnya.
'Apa yang akan terjadi, kalau sampai Sandra tau, jika laki-laki yang membesarkannya adalah musuhku, musuh yang sudah membunuh orang tuaku. Apakah dia akan membenciku saat dia tau aku akan membunuh laki-laki itu dengan tanganku sendiri.'
__ADS_1
"Mas belum tidur?" tanya Sandra yang terbangun dari tidurnya dan ingin buang air kecil.
"Belum sayang. kenapa kamu bangun?" tanya Brian.
"Aku mau ke toilet, pengen buang air kecil, gak bisa di tahan." Sandra pun bergegas ke toilet meninggalkan Brian.
Setelah keluar dari toilet, Brian menarik tubuh Sandra dan menjatuhkan tubuhnya di pangkuan Brian.
"Apa-apaan sih mas, kalau aku jatuh bagaimana?"
Tak Ada jawaban dari Brian namun segera menyerang bibir Sandra cukup lama.
"Bolehkah aku minta, aku tak bisa tidur sebelum mendapatkan jatahku," ucap Brian menggoda.
"Bukannya mas capek, lebih baik istirahat saja biar besok tenaganya pulih." Sandra mencoba menolak.
"Aku ingin malam ini, mau atau gak aku akan tetap memintanya." Brian kembali mendaratkan ciumannya dan tangannya mengusap bagian sensitif milik sandra dari balik baju.
Brian merebahkan tubuh Sandra dan Brian berada di atas tubuh Sandra, dengan lembut Brin menciumi tubuh Sandra yang tak lagi di tutupi kain. Ciuman Brian berhenti di bagian Perut Sandra yang terlihat sedikit menonjol, dengan lembut Brian menciumnya membuat Sandra menggelintang geli, ciuman Brian pun kembali ke atas dan berhenti di area perbukitan kembar.
Permainan Brian membuat, Sandra hanya menggeleng kepala, menerima serangan dari Brian yang terlalu pandai mempermainkannya.
Waktu begitu cepat berlalu, adegan ranjang pun usai. Brian memeluk tubuh Sandra yang hanya tertutup selimut, membuat keduanya terlelap dalam tidur yang panjang.
*
*
*
Keesokan harinya, mereka melanjutkan perjalanan pulang. Sandra sudah sangat merindukan Yolan ingin rasanya segera bertemu dengannya.
__ADS_1
Sesampainya di mansion, kedatangan Sandra di sambut Yolan dan Weni yang sudah menunggu dirinya.
"Mama...." panggil Yolan, dan Sandra langsung memeluk Yolan untuk melepaskan kerinduannya pada gadis mungil.
"Mama sangat merindukan kamu sayang. Apa kamu rindu juga dengan mama?" tanya balik Sandra.
"Rindu sekali mama." jawab Yolan.
'Mulai sekarang aku akan menjadi ibu penggantimu Yolan. aku janji akan menjaga dan merawat mu seperti anakku sendiri. Hanya itu yang bisa aku lakukan untuk mengucapkan terima kasih pada Sabrina' gumam Sandra.
"Apa kabar Wen, kamu baik-baik saja kan?" tanya Sandra.
"Seharusnya aku yang bertanya, selama di perjalanan kamu baik-baik saja kan?" tanya balik Weni.
"Aku baik-baik saja. Jangan cemaskan aku, malah aku punya kabar bahagia yang ingin aku bagikan padamu. Tapi tidak sekarang, tunggu ada waktu santai nanti.
Setelah Brian dan Sandra melakukan perjalanan. Brian memerintahkan untuk membawa kembali ke Mansion dan memindahkan semua barang-barang Sandra ke Mansion.
Brian meraih pinggang Sandra. " Mulai sekarang kamu akan tinggal di sini untuk merawat Yolan dan membesarkan si kembar, Semua sudah di siapkan di sini, kamu tinggal menikmatinya." ucap Brian Lalu membawa Sandra masuk.
Ucapan Brian benar jika semua sudah di siapkan, barang-barang miliknya pun sudah tertata rapi di tempatnya.
Namun saat mencari kenyamanan di kamar yang baru, tiba-tiba Brian kembali berbisik yang membuat Sandra membulatkan matanya.
"Mulai sekarang akan tinggal disini dan jangan pernah pergi kemana- mana tanpa seizin ku. Aku lakukan ini agar si kembar bisa tumbuh dengan baik tanpa ada yang menggangu."
"Maksud mas, aku gak boleh kemana-mana, kalau gak sama mas gitu?" tanya balik Sandra dan Brian pun mengangguk.
"Ya sudah kamu bersihkan diri sana, aku mau keruang kerja dulu ada yang harus mas selesaikan, jangan lupa dandan yang cantik, dan siapkan senyuman yang paling manis buat ku." goda Brian.
"Iya mas, Sandra akan turuti semua permintaan mas." Sandra pun pergi meninggalkan Brian.
__ADS_1
Brian bergegas menghubungi orang kepercayaan lagi, untuk meminta informasi yang akurat tentang keberadaan laki-laki itu.
To Be Continued ☺️☺️☺️