
"Ya Allah, Bang. Abang tak apa?" Novi menepuk-nepuk pipiku.
Aku sempat menggulingkan tubuhku ke samping kiri, sebelum benar-benar tidak sadarkan diri. Yang aku ingat tadi, adalah wajah panik Novi dengan membenahi pakaiannya. Karena, darah berceceran di tempat yang dilewati dengan wajahku.
~
Aku merasakan kepalaku amat sakit, dengan pandangan yang sedikit kabur.
"Apa yang dirasa, Bang? Mumpung dokternya belum jauh. Dia baru keluar tadi, abis meriksa Abang." aku mendapat usapan di dahiku.
Aku menggeleng samar, "Pusing betul. Tapi udah aja, aku butuh istirahat aja keknya." aku memejamkan mataku kembali.
"Pecah pembuluh darah di hidung." aku merasakan usapan di pelipisku.
Aku tahu kondisi ini.
"Maaf ya, Nov? Aku tak bisa lanjutin malam ini. Mataku kunang-kunangan, kepala juga sakit kali." aku memilih miring ke sebelah kanan, dengan bantal yang sedang.
Tidak begitu tinggi, juga tidak begitu rendah.
"Ya tak apa, tapi minum dulu obatnya." Novi mengusap lenganku.
"Mana?"
Aku bangun, dengan dibantu oleh Novi. Empat buah tablet dan kapsul berpindah ke tanganku, dengan Novi yang mengambilkan juga air mineral kemasan gelas. Dengan cepat, aku menelan obat tersebut dan tertidur kembali.
Rasanya, aku ingin mengembalikan waktu saat pertama kali liburan di Bali bersama Canda. Di mana, aku bisa menjadi laki-laki yang bisa mengancam wanita. Di mana, aku masih normal dan malah memberi pelecehan sedikit pada Canda.
Mulai dari hari itu, aku tahu bahwa Canda adalah perempuan riang yang cengeng. Perempuan yang suka menangis, meski karena hal kecil saja.
Canda…. Jika waktu membalikkan keadaan. Aku ingin melecehkan kau lebih dulu saja, agar kau menuntut pernikahan denganku, bukan dengan kakakku. Ditambah lagi, mungkin jika aku menikah dengan kau lebih dahulu. Sepertinya, aku tidak akan pernah mengalami kondisi ini. Sepertinya, aku tidak akan menjadi laki-laki pecundang yang seperti ini. Karena jelas, kau tak akan mendapatkan perlakuan buruk, yang membuatku trauma karena melihat kau mendapat kekerasan seksual dari kakakku sendiri.
Sayangnya, waktu membuatmu bahagia sekarang. Dengan aku, yang terus menjadi pecundang karena keadaan traumaku.
Terkadang, aku mempertanyakan diriku sendiri pada Yang Kuasa. Kenapa Engkau tega, membuatku mengalami hal ini?
Apa aku pantas menerima keadaanku yang sekarang ini? Tapi apa dosaku, sampai Engkau menurunkan cobaan yang tidak ada sembuhnya ini?
__ADS_1
Apa di balik ini semua, Engkau ingin aku jauh dari zina besar?
Apa dengan keadaanku ini, Engkau yakin aku akan tetap menjadi laki-laki baik?
Tapi, apakah baik juga? Jika aku tidak memberi nafkah batin untuk istriku, karena keadaanku ini?
Apa aku tidak berdosa dengan keadaanku ini, dengan istriku yang terus menginginkan nafkah batin dariku?
Aku tidak mengerti hikmah di balik ini semua.
Ditambah lagi, pawangku Engkau ambil lebih dahulu. Obatku sudah tiada, aku tidak memiliki obat lain yang bisa menyembuhkanku selain Kinasya.
Aku tidak yakin aku bisa sembuh, dengan rumah tangga dengan perempuan baru yang tidak paham cara untuk membuatku sembuh. Apa aku harus berobat, sebagai jalan ikhtiarku?
Tapi aku pasti dirundung malu. Apa yang mereka katakan dalam hati mereka, jika tahu laki-laki muda memiliki kelainan seperti ini?
Meski mulut mereka berbicara ramah, tapi dalam batinnya mereka terheran-heran dengan keadaanku. Yang mungkin juga, mereka menertawakan nasibku yang harus menjauh dari sosok wanita.
Aku harus bagaimana, Ya Allah?
Memaksakan kondisiku setiap saat seperti ini, aku khawatir anak-anakku menjadi yatim piatu. Melepaskan Novi, tentu akan menyakiti hatinya. Karena merasa dipermainkan, belum lagi orang tua yang bertanya-tanya kenapa aku menceraikan Novi. Belum lagi, keadaanku tentang aku yang tidak normal ini, pasti tersebar jika Novi menjadi jandaku.
Membuat keadaan menjadi lebih baik, aku tidak memiliki cara untuk mengawalinya. Aku ingin memberi ibu sambung untuk anak-anakku, tetapi aku sendiri tidak bisa membuatnya menjadi seorang istri yang sempurna. Aku ingin anak-anakku ada yang membimbing dan mengawasi, tetapi aku sendiri tidak bisa memanusiakan Novi layaknya istri yang sesungguhnya. Novi istriku, bukan baby sitter atau pembantuku. Tapi, aku tidak mampu membuatnya layaknya seorang istri untukku sendiri.
Saat hal ini terkuak, aku akan bersembunyi dari rasa malu ini di mana? Saat permasalahan rumah tanggaku didengar orang tuaku, bagaimana caranya aku menjelaskan dan menyembunyikan rasa maluku?
Bagaimana lagi, jika Novi malah merendahkanku dan membuatku semakin segan padanya? Lebih-lebih, bagaimana jika mulut manisnya malah memakiku dengan keadaanku?
Aku harus pergi dan bersembunyi di mana? Saat semua pihak mengetahui kondisiku yang tidak normal seperti ini.
Akankah, aku bisa sembuh dengan sendirinya setelah hari ini? Atau, justru lebih buruk dengan kondisi hari ini?
Jalan pikiranku buntu dan frustasi karena memikirkan keadaanku sendiri.
"Udah lebih baik, Bang?" Novi menyambut pagiku, dengan tersenyum lebar.
Aku menggeliatkan tubuhku, dengan mengangguk samar. Kesan pertama saat aku membuka mata adalah horor. Karena seprai ini, begitu menyeramkan dengan noda darah dari hidungku.
__ADS_1
Membuatku, teringat kembali malam yang membuatku di ambang kehilangan kesadaranku itu. Aku benar-benar tidak ingin mengingatkannya, karena aku begitu dikaitkan dengan harga diriku sendiri.
"Aku udah pesan makanan. Bangun, Bang. Sarapan dulu, terus diminum obatnya. Abang harus banyak istirahat, biar pulang ke rumah Abang udah pulih. Biar orang tua atau anak-anak, tak tau kalau Abang sakit di sini." Novi membawakan senampan makanan.
Dalam ucapannya, Novi seolah berusaha menyembunyikan keadaanku dari orang rumah. Apa ia benar-benar bermaksud baik? Atau ia tidak ingin orang-orang tahu bahwa dirinya masih perawan, karena kondisi suaminya yang seperti ini?
"Boleh minta tolong ambilkan obat kumur dan gelas? Buat buang sisa obat kumurnya." aku bersandar di kepala ranjang.
Aku tidak biasa makan atau minum, dengan keadaan bau air liur basi seperti ini. Mungkin ini sedikit jorok, tapi ini kenyataannya.
"Bisa. Tunggu sebentar ya?" Novi tersenyum, dengan berjalan ke ruangan lain.
Rambutnya basah, apa ia terpancing semalam?
Ya ampun, berdosanya aku membuatnya setengah berjunub seperti itu.
Tidak lama kemudian, aku sudah kembali menenggak obat tablet dan kapsul. Aku kini bersandar pada kepala ranjang, dengan mengagumi keindahan Novi yang duduk berhadapan denganku.
"Apa mendingan, Bang? Gimana hidungnya?" tanyanya, dengan menggenggam tanganku.
"Lemas. Sakit di daerah ini." aku menunjuk tengah-tengah alisku.
"Apa perlu aku kompres? Dokter nyaranin hal itu." Novi memainkan jemariku, yang semalam sempat menggosok daerah sensitifnya.
"Tak perlu, aku tak nyaman ada benda di dahiku." aku membiarkannya memainkan jemariku.
Mungkin hal kecil seperti ini, bisa menyenangkan harinya. Jika suka dengan seseorang. Dekat seperti ini, dengan genggaman kecil membuat hatinya sedikit senang.
"Cepet sembuh ya? Terus kita pulang. Aku bingung Abang sakit, dengan ada di kota orang kek gini. Aku panik tak jelas, Bang. Aku tak tau, harus lari dan minta tolong ke mana." Novi masih menghangatkan tanganku.
"Pasti, Nov. Maaf ya, untuk malam tadi? Maaf ya, tak bisa memperlakukan kau layaknya istri? Maaf ya, aku tak bisa kasih kau nafkah batin?" aku berbalik menggenggam tangannya.
Kemudian, aku merunduk dengan dahi bertumpu di genggaman tangan kami.
Aku akan mengerti, jika Novi tidak memberiku maaf sekalipun. Aku pantas, tidak mendapat maaf darinya. Karena aku begitu dzalim, tidak memberinya nafkah batin.
...****************...
__ADS_1
Dimaafkan tak sama Novi 🤔