
"Lagian Ghifar mau kabur ke mana sih, Ca? Orang tuanya di sini, rumahnya di sini. Dia mau kabur ke mana? Mau lepas tanggung jawab juga gimana? Anak orang aja, dia urus kan gitu. Apalagi anak kandu dia, meski tak punya akta kelahiran."
Aku mencari sumber suara, hingga menemukan papah yang berjalan ke arah kami. Cani bergerak cepat, senyumnya begitu lebar dengan ia mencoba lari agar tidak ditangkap kakeknya itu.
"Ih, ada Cani. Aduh, bisa-bisa Kakek dititipin Adek lagi nih sama Papa." Papah pura-pura terkejut ketika melihat Cani.
Ia tertawa renyah, dengan berpegangan pada leherku. Cani lari ke arahku, kemudian ia bergelayut di sana.
"Kek…. Dih…."
Aku geli sendiri, mendengar Cani mencoba menyebutkan nama kakeknya itu. Adi dia kata, pasti ada yang mengajarinya.
"Bang Adi dong," timpal suara yang begitu kukenal.
Mamahku.
"Bang Dih…."
Kami tertawa bersama, mendengar Cani langsung mencontohnya perkataan yang neneknya ajarkan itu.
"Kek Bang Dih."
Ada-ada saja Cani ini, kami terus tergelak dengan celotehan yang keluar dari mulutnya. Canda kecil untuk begitu teduh, gemas sekali pada bocah ini.
"Berarti pas sama Canda itu tuh, pas kau di Cirebon ya? Yang katanya, kau pindah nempatin perumahan itu." Kak Aca menepuk pundakku.
Ternyata ia masih ingin melanjutkan pembahasan kami.
"Iya betul. Kenal di angkot, lanjut jadi sering ketemu terus dia ngajak liburan ke Bali." Ini singkatnya tentang awal pendekatanku dengan Canda.
"Apa kata Givan, kalau nama anaknya itu rencana nama anak kau sama Canda?" Kak Aca terlihat tidak canggung menanyakan tentang Canda di depan orang tuaku.
Mamah dan papah tengah bermain bersama Cani. Sesekali, mereka menunjuk beberapa cucunya yang tengah bermain itu.
"Tak tau. Apa ya, Mah?" Aku mencolek mamahku.
__ADS_1
Mamah menoleh sekilas. "Biar Ghifar tak terus berharap punya anak sama Canda, buat mewujudkan nama Cani." Ternyata mamah menyimak pembicaraan kami.
"Memang kau masih pengen punya anak sama Canda?" Kak Aca mengusap keringat di pelipisku.
Aduh, aku yang malu sendiri. Kak Aca tidak memiliki malu, untuk menyentuhku di depan orang tuaku. Kami tidak berpacaran, tapi aku menjanjikan pernikahan paling lama enam bulan lagi.
"Tak juga, sama Canda biasanya setengah tiang. Pas sama Kin itu, komunikasi sama Kin kurang. Kin mungkin udah gejala sindrom itu, tapi aku tak sadar. Aku selalu nuntut dia untuk bisa ngertiin aku, jadinya kan timbulnya aku yang cari tempat ngobrol nyaman di luar. Sama Canda kan, dia connect obrolan apa aja meski kalau pakai otak agak tak bisa. Tapi yang penting nyambung, humornya pas gitu. Jadilah aku khilaf ke dia, tapi memang tak sampai zina besar. Awal pas pacaran sih, dia ini pasrah aja. Tapi pas itu, dibujuknya setengah mati." Aku mencoba transparan, agar kak Aca tidak kaget nanti.
"Papah kira itu kau sama-sama mau. Rupanya kau bujuk juga itu, Far?" tambah papah dengan terkekeh geli.
"Tak mau dia. Ya mungkin karena di situ dia bersuami, jadi ada pikiran ke suaminya," terangku kemudian.
"Sulit betul asmara kau," ledek mamah dengan memukul lenganku.
"Iiiiii, Nek. Papa ngis." Cani yang berada di tengah-tengah kami langsung mengusap-usap tempat yang mamah pukul tadi.
Sayang juga rupanya ia padaku?
"Adek nangis tak kalau dipukul Nenek?" Aku menciumi pipinya yang mulus itu.
"Nek idit, auw…." Cani menggigit ujung jarinya sendiri.
~
Sudah jalan satu bulan, aku menemui kak Aca hanya di Minggu pagi saja. Aku swkalian mengajaknya pergi ke car free day, bersama rombongan anak-anak.
Sejujurnya, aku memang sengaja menjaga diriku sendiri untuk tidak berzina lagi. Aku tak mau kami berdua kesusahan di akhirat nanti.
Namun, kali ini ia menghampiriku di rumah mamah. Lantaran, aku tidak menyusulnya untuk pergi ke car free day Minggu kelima ini. Aku tengah masuk angin, setelah subuh tadi punggungku habis dikerik oleh papah.
"Pengen beli apa memangnya? Uangnya aja ya?" Karena biasanya aku selalu membelikannya barang, di pedagang yang berada di car free day.
Macam-macam jenis pedagang, tapi aku sering memberikannya itu kerudung.
"Pengen cium."
__ADS_1
Loh?
Ya ampun, ternyata ia rindu ciuman kecil yang kurebut di sela waktunya yang sibuk dengan anak-anak.
Aku terkekeh, kemudian mengusap-usap punggungnya. Karet tali wadah dadanya, teraba dari tanganku yang berada di punggungnya.
"Nanti ketahuan mamah, tak enak hati aku." Aku beralasan nyata, apalagi kami berada di ruang keluarga.
"Berapa lama lagi sih harus nikah? Aku udah pengen tuh."
Kak Aca mengusap-usap pahanya sendiri.
Beginikah definisi gatal?
Aku terbahak-bahak lepas, dengan memeluk bantal sofa ini. Ada ya perempuan seperti ini?
"Nanti coba, sabar. Nikmati aja dulu." Aku merangkulnya mesra.
Kak Aca menepuk pahaku cukup keras. "Apa yang harus aku nikmati? Uang kau? Aku bisa belanja-belanja sendiri. Aku perlu hal lain."
Sebenarnya, benarkah begitu penting kebutuhan biologis untuk beberapa wanita yang memiliki hormon tinggi seperti kak Aca? Tujuannya menikah, untuk bisa melakukan hal yang halal tersebut semaunya. Memang, menghindari zina. Tapi, resiko rumah tangga bahkan hanya paham memenuhi kebutuhan batin saja.
Aku pun harus memikirkan masa depan anak-anak. Kebutuhan keluarga kami, kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan, pakaian, hunian, kenyamanan, perhatian, ilmu, aku pun dituntut untuk bisa menuntut agama keluarga kecilku.
Aku ingin menanyakan sesuatu, yang mamah tanyakan padaku. Tetapi, belum bisa kujawab.
"Apa sih tujuan menikah?" tanyaku dengan memperhatikan wajah cemberutnya dari samping.
Kak Aca melirikku, lalu ia lebih meninggikan kembali bibirnya. Bisa tidak ia menjawab tentang hal ini, karena aku tak bisa menjawabnya.
"Menikah itu, karena ingin hidup bersama orang terkasih. Mungkin kesannya aku gatal, aku paham ini. Tapi, aku pengen kita sering bertemu, ngobrol, komunikasi. Sedangkan laki-laki, mereka anteng dengan kita para perempuan ketika berada di atas ranjang aja. Sampai sini paham kan?"
Aku tidak begitu, aku memilliki banyak waktu untuk berbincang bersama istriku. Tidak hanya ketika di ranjang saja. Tapi memang sih, suami istri mesra ketika di ranjang saja.
"Aku pengen laki-laki aku anteng, dekat, ngobrol, komunikasi dan mesra ke aku, ya mungkin dengan cara aku gatal ini," lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Untuk keuangan, ekonomi. Menurut aku, itu adalah bentuk kerjasama aja. Aku dulu ada suami, aku mau kerja bantu dia. Karena sadar, cicilan rumah itu separuh gajinya sendiri. Tapi dia tak mau kubantu, dia mau aku doain segala usahanya cari nafkah. Menurut dia, itu adalah bentuk kerjasama juga. Dia yang bekerja, dengan aku yang berdoa untuknya. Terus anak, yang sering jadi patokan pernikahan. Menurut aku, punya anak atau tidak dari pernikahan ini, itu bukan tujuan pernikahan. Bisa kok yang tak nikah punya anak, banyak kok yang hamil di luar nikah. Kalau mau punya anak aja, ya udah berzina aja, tak usah nikah. Hakikatnya, kita penuhi ekonomi, kasih sayang dan perhatian, didikan dan ajaran agama itu, karena kita ingin menua bersama dan berbahagia di akhirat nanti. Kita menikah, untuk mendekatkan surga nanti," ungkap kak Aca dengan tersenyum manis.
...****************...