
...Crazy up...
"Nov, kita tak ada masalah kan? Merawat daerah sensitif, bukan karena biar bau kau persis kek Kin. Maksud hati sih, biar kau terawat. Biar kau ini, lebih baik karena udah punya suami. Entah sih agama kau, pribadi kau, atau tubuh kau sendiri. Jangan bawa-bawa Kin terus. Karena kalau dibandingkan melulu, kau tak ada apa-apanya Nov. Tapi aku coba pahami, aku coba mengerti. Bahwa setiap orang itu beda-beda, mereka tak sama, mereka punya sisi buruk dan sisi baik masing-masing. Manusia bukan setan, yang selalu salah dengan sifat jeleknya. Tapi, manusia juga bukan malaikat. Yang selalu memiliki sisi positif dan baik." mungkin mulutku sedikit kasar.
"Niat baikku disalah artikan terus. Heran sendiri aku sama kau." aku meluruskan pandanganku pada objek yang ada di hadapanku.
"Maaf."
Jika terus-terusan seperti ini. Aku merasa Novi akan berubah menjadi Canda.
"Tak perlu maaf, Nov. Niat baikku jangan disalah artikan melulu."
Aku ragu dengan diriku sendiri. Jika seperti ini terus, kapan aku bisa mencintai Novi?
Ketika diminta untuk melakukan stimulasi, ia berdalih itu hal yang menjijikkan. Tapi, ia mau aku ikhtiar. Di mana dokternya pun, akan meminta pasangan sahku untuk melakukan stimulasi padaku, jika kasus penyakitnya seperti ini.
Saat aku mencoba menyenangkan hatinya, dengan membeli perawatan wajahnya dan area sensitifnya. Ia malah berpikir, bahwa aku ingin dirinya seperti Kin.
Ya memang, ide itu terlintas dari kebiasaan Kin. Tapi aku tidak akan memaksanya, untuk menggunakan perawatan wajah yang Kin pakai. Aku hanya mencoba membuatnya senang dengan cara yang aku lakukan pada Kin dulu. Karena aku berpikir, bahwa semua perempuan pasti senang jika dibelikan perawatan wajah dan area sensitif.
Untuk masalah ini, aku anggap rampung saja. Karena untuk ikhtiarku, aku berniat membawa Novi. Agar ia diberitahu sendiri oleh dokter, untuk melakukan stimulasi. Untuk masalah perawatan wajah ini, aku anggap ini hanya salah paham saja.
Biar esok aku harus mengamatinya, tentang bagaimana ia mengurus sarapan kami dan anak-anak kami. Bukan aku berniat menilainya, atau menuntutnya menjadi yang aku mau. Aku pikir, itu cukup sederhana saja. Pasti juga, itu dilakukan setiap wanita.
Beberapa jam berlalu, aku singgah di swalayan khusus segala macam kosmetik dan perawatan wanita. Aku membiarkan Novi masuk dan memilih. Dengan aku, yang memilih kebutuhan habis pakai untukku juga dan anak-anak.
Cukup indah senyumnya, ketika menenteng belanjaan itu. Umumnya wanita saja, aku pikir itu bisa menjadi booster untuknya untuk memulai aktivitas esok.
Malam harinya, aku izin untuk menemui bang Givan pada Novi. Novi pun, aku minta untuk menidurkan anak-anak. Hanya berkumpul di atas kasur, dengan mengusap-usap punggung Kaf, menurutku bukan hal yang sulit. Jika Kal, ia hanya perlu mendapat posisi nyamannya saja.
__ADS_1
"Far, Far…. Sini dulu." mantan pacar yang menjadi kakak ipar itu melambangkan tangannya padaku, yang baru muncul dari pintu besi samping halaman ini.
"Kenapa, Cendol?" aku melangkah menghampirinya, yang duduk di teras rumah Key malam ini.
"Sini duduk." Canda menepuk tempat di sebelahnya.
"Apa?" aku celingukan.
Aku tidak enak pada bang Givan. Kalau ia sering sekali cemburu tidak jelas padaku. Yang dimarahi sih, ya tetap istrinya. Tapi Canda juga terkadang memasang sekali, agar suaminya cemburu padaku.
"Suami kau mana?" aku ragu-ragu untuk duduk di sampingnya.
"Tuh." Canda menunjuk rumah minimalis yang berada di seberang.
Bang Givan ada di bangunan milik Chandra itu. Terlihat dari jendela rumah yang belum ditutupi oleh tirai.
"Lagi diajarin sholat jenazah."
Mengerikan sekali.
"Masa iya ngajarin sholat jenazah?" aku duduk di sampingnya, tetapi aku memberi jarak agar tidak terlalu dekat.
Canda menoleh ke arahku, "Ya memang. Tadi sore diajarkan memandikan jenazah, dzikir yang buat meluruskan jenazah yang udah terlanjur kaku. Sekarang lagi belajar ngafani, terus sholat jenazah."
Apa sudah di usia mereka, untuk mengajarkan hal ini?
"Semua anak kau?" aku memandangnya dari samping.
Ia mengangguk samar, "Ra juga ikutan. Aku abis nyapu-nyapu rumah anak-anak, capek, jadi cari angin di sini."
__ADS_1
Aku hanya mengangguk. Aku bingung akan membahas apa. Karena aku pun mengerti, bahwa tujuanku ke rumah bang Givan ini harus dijeda sebentar. Karena bang Givan tengah mengajari anak-anaknya.
"Maaf ya, Far? Tapi mohon jangan tersinggung. Aku nyampaikan juga sebenarnya tak enak hati, tapi kau harus tau gimana anak kau. Aku pun yakin, mungkin kau tak akan percaya. Karena aku pun, awalnya kaget betul tau ini." ungkapnya tiba-tiba, dengan menoleh padaku sekilas.
"Apa itu?" aku merasa dalam ucapannya, mengandung arti yang cukup buruk untukku.
"Ini tentang Kal. Bukan dia jajan banyak, bukan juga dia nakal. Kal pandai, juga bisa nangkap hafalan dengan cepat. Tapi…. Dia panjang tangan."
Aku merasa Canda tidak berbohong, tapi aku tidak yakin dengan ucapannya.
"Kal tak kekurangan apapun, Canda." aku yakin, anakku tak mungkin mencuri.
"Mungkin karena berebut makanan kali ya? Kau ajarkan aja, kalau anak-anak udah dapat bagian masing-masing. Dia pasti ngerti kok." terkadang anak yang tidak mengerti, agar berseru bahwa temannya mencuri ketika meminta makanan miliknya tanpa izin.
Aku pernah melihat sendiri kesalahpahaman ini antara cucu-cucu Adi's Bird. Mereka diajarkan apa itu pengertian mencuri, tapi kadang mereka tidak paham berbagi, sehingga membuat saudaranya mengambil makanan miliknya tanpa izin. Entahlah, masalahnya apa. Tapi sering sekali seperti ini, antara cucu-cucu Adi's Bird.
"Ini tentang uang. Ya memang tak seberapa, tapi kalau dibiarkan terus, takutnya sifatnya tambah matang. Aku juga minta maaf, sampai buat Kal nangis karena ngasih penjabaran yang mungkin menakutkan buat dia. Tapi anak-anak tak bakal paham, kalau mereka tak dijelaskan sebab dan akibatnya berbuat salah." dari wajahnya terlihat sekali raut tidak enak hati.
"Kau serius, Canda? Kau yakin itu anak aku si Kal?" aku masih tidak percaya dan beranggapan bahwa Canda salah mengira saja.
"Aku serius, Far. Kalau mas Givan tak perlihatkan bukti juga, mungkin aku tak akan nembusin ke kau. Aku aja tak percaya, Far. Aku ngerasa marah sama diri aku sendiri, karena anak-anak kita ada yang bertindak kek gitu." ia menoleh padaku sekilas, kemudian ia tertunduk kembali.
"Anak-anak aku, mereka paham uang itu cuma nominal sepuluh ribu. Itu pun dalam jumlah pecahan dua ribu, yang harus mereka bagi-bagi tiap harinya. Ada dompet aku geletak di sembarang tempat di rumah. Mungkin mereka hanya memindahkan ke tempat yang aman, kek di atas meja, di rak TV, atau mereka lempar ke kasur aku. Mereka minta uang juga, mereka tak berani ambil uang sendiri di dompet aku. Paling, mereka tak sabar minta uang itu. Mereka ambilkan dompet aku, terus kasih ke aku, biar aku bisa kasih mereka uang. Aku itu udah kek menjelang lebaran tiap bulan itu, karena selalu nukerin uang pecahan dua ribu. Aku bersyukur juga, ayah mereka galak-galak. Aku pun, bukan bermaksud pelit dengan ngasih mereka dua ribu terus. Tapi kami takut ke hal yang begini ini, mereka seolah gatal tengok uang. Padahal mereka tak paham, uang itu gunanya untuk apa dan dipakai beli apa. Kecuali jajanan, mereka butuh uang, karena mau jajan jajanan yang mereka mau."
Aku teringat akan kebiasaanku dulu dan Kin, karena memberi anak-anak kami jajanan yang cukup banyak dan membebaskan mereka ketika berbelanja di minimarket. Apa ini adalah akibat, dari kebiasaan kami dulu?
Membuat Kal tumbuh, menjadi anak yang memiliki ambisi besar untuk mendapatkan uang. Yang nantinya ia jajankan dengan makanan yang menarik di mata mereka. Ya lapar mata, bukan karena keinginan perutnya sendiri.
"Memang ceritanya gimana?" aku memperhatikan Canda dengan seksama.
__ADS_1
...****************...