
"Masih ada waktu, jangan ngelamun begitu lah."
Kami berada di pasar malam desa setempat. Kami berdua duduk di kursi plastik, memperhatikan Nahda yang terus dibawa berputar oleh kereta api odong-odong. Istriku sudah melamun saja, karena obrolan tadi tidak mendapatkan hasil apapun.
"Nanti tidur di rumah nenek ya? Nanti video call ya?" Tangannya berada di atas lututku.
"Eh, ini aja kita lagi ngobrol dan lagi bareng. Bisanya minta nanti video call? Kurang kah ngobrolnya? Apa nanti mau VCS itu?" Aku menyodorkan jamur crispy padanya.
Ia tertawa malu. "Aku nampak murahan betul ya di mata Papa? Aku nampak matre dan mengemis betul kah?" Ia sudah mulai menikmati cemilan ini.
"Nampak kek mamah." Aku terkekeh dengan melihat sekeliling.
Untungnya ia tinggi berpostur Aura Kasih, jika pendek dan padat pasti serasa menggauli ibu sendiri.
Aku mendapat tepukan di lenganku. "Serius nanya aku." Tangannya yang masih berada di lenganku malah mengusap-usap lenganku.
Aku menoleh dan fokus pada wajahnya sejenak. "Iya kek mamah, persis. Kau tak tau kali ya, kalau mamah itu suka nyosor aja ke suaminya. Ya memang halal, tak masalah juga. Tapi ya, sikapnya memang kek gitu ke suami. Masalah keuangan juga, mamah ngusai betul. Tak matre juga, karena larinya uang tersebut itu jelas. Aku bahkan berpikir, apa kau ini anak mamah hasil di luar nikah, terus diurus pakdhe dan dibesarkan pakdhe. Tapi keknya tak mungkin, soalnya bang Givan pun taunya ya kau anak pakdhe."
Ia malah tertawa geli.
"Sampai-sampai su'udhzon ke ibu sendiri." Ia merangkulku dan mengusap-usap bahuku.
"Ya, karena kalau ngelamun pikiran makin ke mana-mana." Aku memberikan jamur crispy ini padanya, kemudian aku bangkit dari dudukku. "Mau angkat Nahda dulu." Aku melihat odong-odong putar yang Nahda naiki sudah berhenti.
Anak perempuan itu sudah menunjuk wahana permainan anak-anak yang lain. Aku pun menarik ibunya Nahda untuk berpindah tempat, ke tempat bermain yang Nahda inginkan.
Nakalnya Ra, ya ke makanan. Semua dibeli, entah habis atau tidak. Jika Nahda, ya nakal ke mainan. Ia ingin mencoba semuanya, meski sudah terlihat kelelahan.
"Pa, punya aku tuh enak tak sih?"
Setelah kami mojok di dekat mandi bola, istriku malah menanyakan tentang hal sensitif itu. Aku teringat marahnya ia, ketika aku menyarankan operasi keperawanan jika ia ingin.
"Enak, makanya doyan." Aku tidak berniat mendeskripsikannya secara detail, meski kami berada di sudut yang sepi dari keramaian.
"Jujur, Pa. Lihat aku dulu." Aca memutar rahangku agar wajahku menghadap padanya.
Aku tersenyum lebar ketika memandangnya. Ya ampun, kami sudah seperti sepasang kekasih yang tengah kasmaran.
"Enak, Ma. Hidup tuh." Aku mengiyakan jariku seolah tengah mencengkeram sesuatu, ia pasti mengerti maksudku.
__ADS_1
"Serius?" Matanya dipaksa melebar.
Aku mengangguk. "Duarius deh." Aku menunjukkan dua jariku.
Aku mengerti, jika memang ia tidak begitu erat lagi. Yang penting kan hidup dan bersamanya aku melakukannya.
"Aku suka senam-senam gini kalau lagi tak mager." Ia menunjukkan sebuah video dalam galerinya.
Aku memberinya jempol dua. "Bagus. Nanti lihat sikon ya? Kalau kehandle, nanti daftar senam kegel begitu." Kin pun melakukannya sendiri di rumah, karena ia ya lebih suka melakukan apapun di rumah.
"Aku malas pergi. Kalau anak-anak tak minta main pun, aku tak akan ke mana-mana."
Wow, berani sekali ia bergelayut di lenganku. Meski kamu berada di sudut yang sepi, tapi kami berada di keramaian.
"Jangan bikin gemes dong, bingung alasannya nanti." Apalagi dadanya begitu menempel di lenganku.
"Biarin, biar ada yang lihat. Terus bilang ke ayah tuh. Biar ayah tau, kalau anaknya udah nemplok aja begini." Ia semakin erat memeluk lenganku.
"Harus pakai cara apalagi ya, Ma?" Apa aku harus membawakan sebongkah emas, agar diterima dengan baik?
"Udahlah, pura-pura nyerah aja. Yang penting kan, kita masih jadi suami istri. Aku udah males kalau udah debat dan nangis, tapi tak didengar tuh. Masa bodo restu deh, tak bisa resmi juga tak apa." Ia bersedekap tangan, dari ucapannya ia terlihat sekali begitu marah.
"Aku dihamili aja sih, Pa?" Ia melihatku penuh harap.
Aku menggeleng cepat. "Pasti, tapi tak sekarang. Kasihan, anaknya nanti sulit punya dokumennya."
"Hmmm…. Padahal itu jalan terbaiknya." Ia mengusap-usap kepalanya.
Ia sudah mantap benar-benar berhijab sekarang.
"Ayo diajak pulang Nahdanya, kita beli makanan dulu setelah ini."
Kami membeli banyak makanan. Termasuk pakaian Nahda yang ternyata sudah pada kecil. Pakaian lamanya tentunya, karena ia lama tidak pulang.
Aku kembali ke rumah pakdhe Arif, meski barang-barang milikku sudah dipindahkan ke rumah orang tua mamahku. Rasanya tidak sopan, karena aku membawa anak dan cucunya pergi ke pasar malam.
Sayangnya, pakdhe Arif sudah terlelap pukul setengah sembilan malam ini. Bahkan, dengkurannya sampai terdengar ke ruang tamu.
"Bersih-bersih, Ca. Kelonin Nahdanya." Bunda May berjalan ke arahku. Ia menukar posisi kak Aca duduk tadi.
__ADS_1
"Ghifarnya sih, Bun?" Istriku sudah menggendongku.
"Oh, ya udah aku balik aja dulu." Aku bangkit dari kursiku.
Tetapi, bunda May menahan tanganku untuk pergi. "Budhe mau ngomong dulu, Far." ucapnya cukup lirih.
Wah, mau ngomong apalagi ini ya?
"Ya udah, aku keloni Nahda dulu, Bun." Nahda langsung loncat ke gendongan ibunya.
"Papa dadah." Nahda berdadah ria padaku.
Cucu kalian saja, sudah begitu fasih menyebutku papah. Kenapa masih tega melarang saja?
"Far…. Mantan istrimu dulu, Banjarmasinnya di mana?" tanya budhe langsung.
Kinasya ya maksudnya?
"Keturunan sana aja, Budhe. Dari kecil sampai besar sih di Cirebon kok."
Tapi aneh ya? Beliau bisa tahu bahwa Kinasya keturunan Banjarmasin.
"Budhe pun asal Banjarmasin, di Martapura Kalimantan Selatan."
Fakta apalagi ini? Dua istriku berasal dari kota yang sama?
"Kin itu di Desa Tiwingan Baru, kalau tak salah ingat. Kakek nenek, dari sana gitu. Abi haris pun, ya asal sana." Ini pun kalau aku tidak salah ingat. Karena, aku pun hanya sekali berkunjung ke sana. Usaha mereka sama, perkebunan kopi juga seperti papahku.
"Oh, beda kecamatan aja tuh. Budhe di Cindai Alus Kecamatan Martapura. Kalau Tiwingan Baru itu, kecamatannya Aranio."
Aku manggut-manggut saja, karena yang aku tahu hanya Bener Meriah dan Kota Dingin Takengon. Dari kecil sampai besar dan beranak pinak, ya aku di sana saja, di Kenawat Redelong saja tidak berpindah-pindah. Meski pernah hidup di Bali pun, ya tetap tempat ternyaman ya di kampung halamanku sendiri.
"Jadi kamu ada berapa anak, Far?
Oh, wawancara dimulai ternyata.
"Aku ada dua anak, Budhe. Perempuan sembilan tahun, Kal nama panggilannya. Terus laki-laki mau delapan tahun, Kaf namanya. Dua-duanya, dari Kin semua itu, Budhe." Aku memberikan informasi komplit.
"Wafat ya Kin tuh? Sakit apa memang, Far? Bener ya karena kamu sering pukul?"
__ADS_1
...****************...