
"Siapa memang?" Bang Givan bertanya cepat.
"Manggenya Ceysa. Masakan tak sesuai, buang, delivery sih tetap. Kek Ceysanya, makan rewel betul." Canda geleng-geleng kepala.
Ya, pasti begitu menyiksa kesabaran mengahadapi anak yang sulit makan. Waktu Kaf berusia dua tahun, ia kembali makan MPASI, karena gigi gerahamnya tumbuh secara bersamaan. Membuatnya tidak mau mengunyah sama sekali, sampai usia tiga tahun setengah. Barulah setelah itu, ia mau makan nasi lagi dengan bujuk rayu rupa-rupa nasi yang dibentuk dengan cetakan oleh Kin.
"Iya loh, Far. Udah seminggu, itu anak gadis tak makan nasi. Capek loh bolak-balik ke ahli gizi, dari dia udah sama aku. Takutnya tuh tiba-tiba drop, karena makanannya cairan terus. Susu lagi, susu lagi, kan tubuh butuh karbohidrat, lemak dan semacamnya. Berat badan sampai kalah sama Ra. Lebih-lebih, kadang pikiran jelek aku takut dia kek manggenya gitu. Amit-amit kan? Masih kecil, cantik, cerdas pula."
Aku tak menyangka, ternyata seorang Ananda Givan bisa khawatir pada anak sambungnya juga. Memang tubuh Ceysa itu terlihat kurus, tapi tingginya melebihi anak-anak seusianya. Rere saja, hanya sebahunya. Aruna anak Ghavi saja, hanya setinggi telinganya.
Anaknya tidak begitu aktif, tapi jika dilihat dari tumbuh kembang ya memang normal. Sudah bisa merespon, mengobrol, berbicara lancar, mengadu, meminta. Intinya, umum seperti anak usia TK saja.
Jika ia tengah diam, terlihat seperti orang yang tengah pusing. Ia diam, tapi sorot mata dan raut wajahnya terlihat tengah memikirkan sesuatu. Sering-seringnya, aku malah menyangka Ceysa kebelet BAB atau BAB di celana. Karena ekspresinya mirip seperti anak yang BAB di celana, padahal tidak.
Kalau dibilang mengurung diri, rasanya tidak juga. Ia sering berbaur dalam keceriaan saudaranya, apalagi jika Hadi datang senyumnya selalu mengembang. Ceysa dan Hadi seperti memiliki feel sejak dini.
Sepertinya, memang karakter anaknya seperti itu. Tapi aku yang orang terdekatnya saja, kadang tidak mengerti ekspresi dan cara pikirnya.
Matanya bang Lendra yang turun ke Ceysa itu, kadang hanya diam dengan memperhatikanku. Ketika aku bertanya ada apa, ia hanya menggeleng. Namun, sorot matanya begitu mengintimidasi tanpa keterangan setelahnya. Jika sudah begitu, aku memilih kabur saja karena takut selalu diperhatikan oleh tatapan yang mengunci itu.
__ADS_1
Jika orang zaman dulu, pasti berpikir anak itu ada khodamnya dan pendampingnya. Tapi untuk kami yang memang berpikir dengan rasional, ya kami tidak pernah membawa anak itu ke orang pintar atau semacamnya. Kamu tidak terpikir akan hal itu, kami hanya selalu berpikir bahwa Ceysa adalah anak cerdas yang kami semua belum mengerti cara membimbing dan mengarahkannya.
Ia pun cukup dekat dengan adiknya Zuhdi, Ardi namanya. Tapi bang Givan selalu galak, jika Ceysa tengah diajak mengobrol dengan Ardi. Karena Ardi adalah mantannya Canda, mana wajahnya bisa menyainginya juga. Mungkin ia khawatir tereliminasi, jika Ardi dekat dengan anak-anaknya.
"Tapi, dulu waktu ada Kin. Setiap main, dia mau makan kok. Keknya, masakan kau entah Bu Muna kurang menarik di matanya. Entah juga rasanya kan?" Ini fakta yang aku ketahui.
Namun, ketika tengah main. Ceysa selalu saja dijemput paksa oleh Ra, ibu Ummu, atau salah satu pengasuh anak-anak Canda. Ini posisinya Canda sedang dalam keadaan tidak bisa menjaga Ceysa, entah dia tertidur atau bagaimana. Mungkin mereka takut Kin berbuat jahat pada Ceysa.
"Masa iya aku harus pekerjakan koki juga?" Bang Givan sudah mengambil alih sepiring pasta di meja bar ini.
"Ya tak apa sih, Mas. Kan aku butuh makanan lezat setiap saat." Canda memberiku sepiring pasta dan saus bolognese di atasnya.
Mulut kakakku memang seperti ini, tapi yang lebih anehnya, Canda yang diomong kasar itu malah tertawa geli.
"Awas loh, Far. Anak-anak kau pun sama juga, mereka udah pada cosplay jadi vegetarian. Makan pakai timun, terus dicocol mayones aja. Daun kemangi, daun mangga muda, macam-macam sayuran lalab lainnya udah dicoba cocol pakai mayones. Herannya lagi, mereka doyan." Canda menukarkan tawa geli padaku.
Aduh, bisa-bisanya semua anak-anak dibuat doyan makan lalaban?
"Ceysa doyan juga ya itu?" Aku pernah melihat Ceysa makan timun mentah, sembari bermain balok susun bersama Chandra.
__ADS_1
"Iya, doyan juga. Daun selada, kol juga. Rata sih, suka sayuran mentah semua. Zio juga suka, bahkan makanan kesukaannya orek tempe kering. Udah tuh, lahap dia makan."
Bagaimana caranya membuat anak-anak itu tidak pemilih makanan? Daging ayam, daging sapi, daging ikan, telur, kadang berputar di situ-situ saja menu makanan anak-anakku. Sayuran memang doyan, tapi dimasak sop, harus ada dagingnya juga. Setidaknya lah, kaki ayam atau kepala ayam. Capcay mereka doyan, tapi dilengkapi suwiran ayam dan juga bakso yang diiris tipis juga. Makanan sederhana untuk mereka, ya telur ceplok dan nugget goreng. Tetap makanan enak bukan?
"Eh, Nadya tak ada kabar beritanya kah Bang?" Aku sudah menyantap hidangan ini di meja makan bersama bang Givan.
Sedangkan Canda, ia pergi mengantarkan pasta untuk mamah dan papah.
Ia menggeleng, dengan menggulung pasta menggunakan garpu. "Setau aku sih, balik dia sama suami. Pernah sekali lewat di beranda, dia post foto lagi di tempat makan gitu. Tapi memang aku tak pernah kepo, udah tau ya udah."
Sejak mantan istri sirinya itu ditalak, Nadya sudah tidak ada kabar lagi. Padahal, anaknya ada di sini. Bayi itu sudah bersama Canda dan bu Ummu, sejak bayi itu masih merah. Cek ceritanya, dalam novel Canda Pagi Dinanti.
"Far…. Kalau misal nanti kau sama Aca jadi nikah, apa kau tak keberatan kalau Ra tetap diasuhnya?"
Semua anak-anak Canda pun siap kuasuh, Bang. Sayangnya, aku tidak bisa menjawab seperti itu.
"Terserah dia sih, tapi pernah bilang tuh katanya Ra mau dibalikin sama kau lagi. Dia mau fokus urus anak-anak kita aja. Kalau dia jadi sama aku kan, anaknya otomatis nambah dua." Nyatanya, kak Aca memang sudah sah milikku. Ia pun sudah mulai turun tangan membantu mamah mengurus Kal dan Kaf, tapi tidak menimbulkan kecurigaan mamah dan papah. Terlihat hanya sekedar membantu saja begitu.
"Tapi Ra udah jinak sama Aca, pola asuhnya pun bagus. Ra bisa mandiri sama dia, tak selalu merengek masa sama aku tuh. Apa-apa yayah, nangis lagi, mewek lagi. Ngaji, sholat pun, bagus gitu. Pembentukan akhlak dan kepribadiannya juga, nampak sopan dan paham santun pada orang tua tuh. Kalau cari pengasuh lagi, pasti Ra bakal menyesuaikan diri lagi gitu. Tapi misal iya jadi istri kau gitu, kita tak akan pernah anggap dia pengasuh. Tapi tolong bantu asuh Ra gitu, kek kau waktu dulu dipegang sama tante Zuhra. Masanya kau dewasa, kau pun pulang sendiri ke orang tua kau. Nah, gimana pendapat kau kalau maunya aku sama Canda itu kek gitu?"
__ADS_1
...****************...