Istri Sambung

Istri Sambung
IS208. Mencari saran


__ADS_3

"Aku sih tak masalah, Bang. Aku anggap anak-anak saudara aku, ya anak aku juga. Cuma memang kan, anak-anak Ghava dan Ghavi agak jauh karena orang tua merekanya yang kurang berbaur. Cuma nanti aku tanyakan ke Acanya, karena dia sebelumnya memang pernah ada bilang mau fokus gitu. Tapi mana tau berubah pikiran, Bang. Soalnya lagi ada masalah juga aku sama Aca, kami dilarang mamah sama pakdhe Arif. Jadi belum ada pembahasan kedepannya, yang penting kita bisa sama-sama dengan restu dulu gitu." Saat aku bercerita, alisnya malah menyatu.


"Terus, mau kau hamili dulu? Kek ceritanya papah sama mamah? Duh, Far! Jangan aneh-aneh deh, firasat Abang bakal heboh nih kalau kau benar-benar mau ambil niat begitu."


Tak begitu juga sih, aku malah tidak ingin kak Aca hamil saat kondisi pernikahan kami masih siri. Aku tak ingin membuat kasus dihamili lebih dulu, agar dapat restu dari pakdhe. Sebenarnya, mamah tidak terlalu melarang. Namun, karena pengaruh dari pakdhe Arif ini. Ya mungkin mamah merasa tidak enak hati, atau bagaimana.


Aku menggeleng. "Tak, Bang. Tak ada rencana dihamili lebih dulu, aku tak mau repot lagi nantinya. Maksudnya, repot karena mengandung dengan keadaan yang belum kondusif gitu. Bukan aku menolak titipan atau rezeki."


"Ohh, syukurlah. Yang penting ada gerakannya, kalau memang mau ada perubahan kedepannya. Maksudnya, ya ngerogo hati gitu. Sering telpon, atau kunjungi ke sana biar sopan. Memang begitu pakdhe Arif tuh, dulu mau sama aku aja kan dilarang. Memang tak mau dia, kalau anaknya nikah sama saudara sendiri tuh. Kita kan, bukan kerabat jauh juga. Hubungan kekeluargaan kita masih dekat." Bang Givan pergi dan kembali dengan seteko air putih.


Benar juga. Tapi, aku tidak berani berbicara dalam telepon. Harus bagaimana aku mengawalinya? Aku pasti canggung sekali. Bagaimana kalau aku langsung ke sana dan menemui orang tua kak Aca saja? Tapi bagaimana juga caranya meminta restu? Aku tidak berpengalaman soal hal ini.


"Iya juga sih, Bang. Kita masih sepupuan sama kak Aca." Ini karena pakdhe Arif dan mamah adalah adik kakak.


"Mamahnya dulu dibilang, kau curhat apa gimana. Kasih lihat kegigihan kau, jangan malah ngumpet-ngumpet. Kalau lagi bareng nih, mesra-mesraan biar mamah lihat kalau kau sama Aca ini sama cintanya."


Masalahnya aku takut, aku takut mamah mengamuk dan lebih-lebih membatasi kami.


"Masalahnya aku udah dilarang sama mamah, Bang. Bulan ini nih, aku harus udah gak punya hubungan apapun sama kak Aca. Tapi gimana ya? Orang sebelumnya pun kami memang tak punya hubungan gitu, kami tak pacaran. Cuma memang sebelumnya, ada janji menikahi setelah enam bulan pendekatan." Ini adalah janjiku sebelum pernikahan siri itu terjadi.


"Tarik orang terdekatnya mamah, untuk berpihak ke kau. Si papah itu lah, gimana pun kekehnya mamah, dia pasti bakal pikirkan ucapan imamnya."


Masalahnya pun, papah pernah melarang. Aku tidak tahu, papah mendukung hubunganku dengan kak Aca atau tidak. Tapi, beliau pernah menahanku untuk tidak menemui kak Aca. Kalau tidak salah, beliau saat di ruang tamu dan kak Aca ada di kamar depan.


"Takut aku, Bang." Aku bukan pemberani.

__ADS_1


"Takut-takut terus ya gimana mau dapat restu? Gentle dong, jangan cuma berani ne*anj*ngi aja."


Ia tidak tahu saja, tidak ditelan*angi pun. Kak Aca lebih dulu melepas satu persatu penutup tubuhnya sendiri. Mungkin saat bersamanya, kak Aca belum memiliki rasa mengerti akan hormonnya itu. Tapi sekarang, ia sudah pro dan butuh akan sensasi itu.


"Takut dimarahi dan lebih-lebih dilarang." Nanti kalau terjadi seperti ini, pasti begitu sulit untuk menemui istri sendiri.


"Resiko lah, Far. Yang penting ada ikhtiarnya dulu gitu, kau tak pasrah dengan keadaan. Kalau kau tak gigih, restu pun gimana didapatnya? Apa mau proses jalur penggrebekan kampung? Atau, nikah di depan WH?"


Aku menggeleng berulang. Aku tidak mau, karena itu pasti akan memalukan sekali. Lebih-lebih, orang tuaku terpandang di sini. Bisa-bisa, orang tuaku sering diolok-olok lagi.


"Cobalah ngomong ke papah dulu, mumpung moodnya lagi bagus. Deketin aja dulu, ngobrol yang lain dulu. Mamah pun lagi ada Canda, lagi ada temennya, pasti tak abang-abang terus." Bang Givan sudah selesai makan, ia berjalan ke arah wastafel cuci piring dan ia tengah sibuk di sana.


Apa harus sekarang ya? Tapi benar juga sih, mumpung mamah tengah ada temannya. Karena jika mamah sendirian, papah sudah akan dikurung di kamar saja.


"Tak deh, biar dia di sini sama mamah. Jam setengah dua nanti aku keluar, soalnya ada barang baru yang dikirim. Bukan kayu kek biasanya begitu, tapi katanya kualitasnya sama kuatnya. Kalau misalkan bagus kan, bisa langganan pakai kayu itu. Kalau jelek kan, berarti orderan ini yang pertama dan terakhir." Ia sudah mematikan keran air.


"Abang mau tidur dulu, buat sangu begadang nanti malam." Ia pergi dari area dapur ini.


Aku menyegerakan acara memakanku, kemudian aku segera mencuci piring kotornya. Ketika aku melewati ruang keluarga. Bang Givan sudah berada di pangkuan istrinya, sedangkan Canda tengah mengobrol dengan mamah dengan ponsel sebagai fokus mereka.


Sepertinya, papah masih berada di teras rumah. Aku melewati mereka begitu saja, dengan langsung menuju ke teras untuk menemani papah.


Apa yang beliau lakukan malam-malam begini? Hal yang mencurigakan, ketika papah aktif menyendiri dan bermain ponsel.


"Bilqis-Bilqis yang lain ya, Pah?" sindirku dengan duduk di samping beliau.

__ADS_1


Papah menunjukkan layar ponselnya. "Tagihan pupuk, panjang betul nominalnya." Beliau geleng-geleng dan setelahnya menggaruk kepalanya.


"Berapa, Pah? Nanti aku bantu cover." Aku melongok ke layar ponsel beliau.


"Seratus lima puluh dua juta."


"Wah, ya kena limit." Aku terkekeh malu. "Nanti besok Papah aku ajak ke Bank aja ya? Pembayaran lewat Bank aja, aku tak punya kartu ATM orang kaya begitu. Limit pengambilan aku, sekitar tiga puluh lima jutaan." Karena ada juga limitnya yang sampai bisa seratus juta.


Papah hanya mengangguk, kemudian menaruh ponselnya. Kegiatan selanjutnya, yaitu menyeruput tehnya. Aku ragu-ragu mengutarakan, karena bingung untuk mengawalinya.


Ada tidak ya laki-laki secemen aku di luar sana?


"Tidur lah, besok kerja kan?" Itu perintah dari papah. Aku ingin mengobrol, tapi malah diberi perintah.


"Eummm, aku mau ada ngomong, Pah." Tanpa basa-basi, mungkin ini sangat mencurigakan.


"Iya, nanti diganti uang pupuknya. Tapi cover dulu, biar pupuk biar bisa terus dikirim dari pihak sananya."


Loh? Kok bisanya malah membahas pupuk?


"Tak diganti juga tak bakal aku tagih ke akhirat, Pah. Aku udah dibiayai sampai besar gini, anak-anak aku diurus sampai sekarang. Masa sama orang tua, aku hitung-hitungan uang? Kemarin waktu Papah ada kasus Bilqis aja, aku tak pernah kasih hutang, sekalipun Papah bilangnya hutang." Aku menjeda kalimatku sejenak. "Aku mau minta bantuan, tentang aku dan kak Aca ini. Gimana baiknya kita? Karena menghilangkan rasa dan membiasakan diri tanpa orang yang sudah biasa itu susah, Pah," lanjutku kemudian.


Papah langsung menoleh dengan mengerutkan dahinya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2