
"Kau nganterin kami ke bandara ini, ternyata ada maunya ya?"
Sudah berjalan dua bulan, aku masih belum bisa memastikan hubunganku juga. Aku rutin mengirimkan uang untuk kebutuhan Aca dan Nahda, hanya saja kami tidak pernah bertukar kabar.
"Tolonglah, Bang. Cuma kasih nomor aku ke Aca aja, terus mintalah nomor telepon dia." Aku terus merengek sepanjang perjalanan, agar bang Givan mau membantuku.
Sedangkan Canda, ia hanya diam sambil mengantuk. Ia tidak mengatakan apapun, mungkin ia takut dimarahi suaminya. Seperti yang pernah ia katakan, ketika kami mengobrol di bawah pohon mangga, sebulan yang lalu.
"Orang tuanya itu punya nomor kau. Kalau dia benar-benar niat mau hubungi kau, pasti dia udah lakuin itu dari lama. Hubungi kau itu mudah untuk dia, tapi dia tak lakukan. Berarti, jawabannya apa coba?" ujarnya dengan menepuk bahu kiriku.
Benar.
Apa Aca sudah tidak mau bersamaku lagi? Ia tersudut oleh keadaan? Atau, ini memang pilihannya?
"Mungkin aja ada hal lain, Bang. Kita tak tau kondisi sebenarnya yang di sana." Aku mencoba berpositif thinking.
"Iya sih. Kadang, tak maunya perempuan itu mau. Terserahnya perempuan itu harus dipaksa."
Aku pun tahu tentang konsep itu. Wanita memang sulit dimengerti.
"Bisa jadi, dia pengen kau perjuangkan," timpal di ratu drama ini.
"Tapi aku dilarang mamah ke sana, Kakak Ipar." Ada suaminya, aku harus menyebut Canda dengan sopan.
"Biasanya, larangan mamah itu ada sesuatunya. Mamah tau keadaan yang tak kau ketahui. Menurut aku sih begitu."
Aku pun berpikir demikian. Tapi, mamah enggan membuka ceritanya. Mamah seperti tidak ingin aku tahu, atau memang mamah ingin aku tidak mengemis cinta keponakannya. Banyak kemungkinan yang tidak bisa aku pecahkan.
Aku tak bisa melawan mamah, dia surgaku. Aku pun, tidak sampai hati untuk melawan beliau.
"Ya udah sih, Mas. Baiknya kita pastikan sendiri. Tak ada salahnya juga, untuk minta kontak kak Aca dan kasih nomor Ghifar ke dia." Akhirnya ia membujuk suaminya juga.
__ADS_1
"Mama, Yah." Ra mulai merengek lagi. Ia tahu, jika nama ini asuhnya adalah Aca.
"Iya, Nak. Sabar ya?" Bang Givan memperhatikan anaknya dengan penuh perhatian.
"Ya udah, Far. Nanti aku coba cari tau."
Alhamdulillah.
"Ditunggu kabar baiknya, Bang." Aku tersenyum senang.
Aku mengantar mereka, sampai pesawat mereka lepas landas. Kemudian, aku kembali dalam perjalanan ke kantor. Aku tidak langsung pulang ke rumah, karena aku memiliki pekerjaan di kantor.
Saat baru memasuki lobby kantor, aku melihat Novi sedang berbicara dengan seseorang di sudut ruangan. Seorang laki-laki, yang berpenampilan formal. Baguslah, jika ia sudah memiliki laki-laki lain. Itu poin plus, agar ia tidak merecoki aku terus.
Karena jujur saja, aku merasa terganggu dengan Novi yang sering menumpang padaku. Ketika aku belum selesai bekerja pun, ia sampai menungguku selesai. Tak jarang juga, kami pulang bersama ke rumah mamah.
Hubungan mereka sudah kembali membaik, nasehat dan petuah dari papah pun tiada habisnya ketimbang mamah. Karena Novi adalah keponakan dari papah, mungkin hak papah lebih kuat di sini. Beberapa kali izin untuk meninggalkan provinsi kami pun, sering diungkapkannya. Sayangnya, mamah dan papah tidak pernah merealisasikan hal itu. Mereka tidak mengizinkan Novi hilang dari jangkauan matanya.
Novi cukup berbeda ketika masih ada Aca di sini dan setelah Aca pergi. Ia seperti memancing permasalahan, jika ada Aca di sini. Ia seperti sengaja ingin membuat Aca cemburu padanya. Ia seperti ingin merusak hubunganku dengan Aca.
Perjuangan dimulai, dengan Ria yang selalu senantiasa membantuku. Pekerjaannya begitu cepat, ia sampai membantuku menyimak pekerjaan padahal sudah ada Dewi yang membantu menghandle. Ria tidak bisa diam, jika masih jam kerja dan pekerjaannya sudah selesai. Ia akan membabat habis pekerjaan orang-orang di sekitarnya.
"Eh, kau pacaran sama duda ya?" Aku mencoba memecahkan kejenuhan dengan obrolan unfaedah.
Aku mendengar ini dari Riyana Studio, di sana berbagai macam gosip berkumpul. Termasuk, kabar yang satu ini.
"Tak, pernah dekat aja. Ingat tak sama temennya bang Givan, yang pernah lamar aku. Dia kan udah cerai lagi tuh sama istri barunya yang guru itu, terus ya memang setelah itu ada dekat aja." Ria tidak pernah memungkiri dalam mengakui kebenaran pada dirinya.
"Kau suka sama dia?" tanyaku kemudian.
"Sedikit tertarik, tapi tak boleh sama bang Givan kalau sama duda tuh. Katanya, nanti aku ngerepotin duda beranak itu. Yang namanya istri, udah jelas pasti ngerepotin semua. Tapi bang Givan tak mau aku dapat duda tuh, dekat aja tak boleh. Sama mantan aku yang kurir, tak boleh balik juga. Padahal hubungan kami masih baik dan akrab. Harus yang berbobot, tapi tidak gemuk katanya. Harus yang berbibit, tapi bukan dosa katanya. Dari cara penyampaiannya, keknya harus yang kaya dan berhasil dalam usaha. Tapi banyak relasi bisnis, tak ada dari mereka yang nanya kontak pribadi aku."
__ADS_1
Aku tertawa lepas mendengarnya. Bertambah menggelikan, karena ekspresi Ria yang berubah menjadi murung.
"Abang aja kah?" Aku menaik turunkan asliku beberapa kali dengan tersenyum lebar.
Ria langsung memonyongkan bibirnya. "Abang kan duda."
Aku bahkan beristri, Ria.
"Duda ya?" Aku malah bertanya pada Ria.
"Duda encer, udah keseringan dikeluarkan."
Eh, dia mengerti pembahasan seperti ini.
Aku tertawa lepas, kemudian aku melemparkan sekepal tisu ke arah Ria. "Udah gede ya kau?"
"Ya paham sedikit sih, ilmu basic. Biar kalau iman jebol, ya tak bodoh-bodoh betul lah."
Aku yakin, ilmu tersebut didapatkan dari bang Givan. Si paling bebas dalam pergaulan. Aku berzina dua kali sebelum menikah dengan Aca, sholat taubatku berulang kali karena terus terpikirkan ganjaran di akhirat nanti.
Sudah terjadi juga. Bagaimana lagi, nyatanya imanku kalah dengan wanita sebasah dirinya.
Ah, sial. Aku jadi ingin, karena membayangkan kamar Oyo bersama dirinya itu. Sudah dua bulan juga, naluri laki-lakiku tak terpenuhi. Ingin rasanya meminta baik-baik pada istriku.
Mengirimkannya uang, dengan keterangan pun sudah aku lakukan berulang. Tidak ada respon sedikitpun darinya. Kan bisa saja, kami bertukar nomor telepon di keterangan transfer tersebut.
Ah, iya. Aku belum pernah melakukannya. Aku akan mengirimkannya uang, dengan keterangan nomor teleponku.
Ide itu muncul begitu saja. Aku segera melaksanakannya, sebelum aku lalai melakukannya. Transfer berhasil dengan keterangan nomor teleponku dan kuminta ia menghubungiku.
Dalam email pun, aku melakukan hal yang serupa. Aku spam email padanya, yang berisikan untuk menghubungiku saja.
__ADS_1
Namun, notifikasi dari aplikasi mobile banking milikku muncul. Nilai transfer yang aku kirimkan, masuk ke rekeningku dengan jumlah yang sama. Pengirimnya, ya nomor rekening Aca. Tapi, aku dibuat melongo dengan keterangan transfer tersebut.
...****************...