Istri Sambung

Istri Sambung
IS205. Tamu usil


__ADS_3

"Aduh, bau s*** kilat nih."


Itu suara bang Givan.


Pastilah bau, kami belum membersihkan diri. Tisu yang berisi benih-benihku pun belum dibuang, bahkan keringat kami belum kering.


"Kek bau abis begituan ya, Mas?"


Ada Canda juga. Aduh, pasti ia melaporkan pada mamah dan papah. Aku tetap memilih untuk duduk di ruang berm ini, kasur lipat ini pun belum kubenahi kembali.


"Ya memang." Itu adalah sahutan dari bang Givan.


Apa aku ke depan saja, untuk menemui mereka?


"Ada apa?" Istriku bahkan tidak mengenakan pakaian dalam lengkap. Rambutnya pun masih terurai, ia belum berhijab kembali.


"Mobil siapa itu?"


Kak Aca disudutkan di sana, aku pun tak menemukan tempat untuk bersembunyi. Apa aku pura-pura tidur saja? Agar ketika bang Givan atau Canda melihat ke arah ruangan ini, ia tidak memberiku pertanyaan.


Oke, baiklah. Marilah menjadi pengecut saja, karena aku tidak pandai berbohong. Ditambah lagi, berbohong pada Canda. Mulutku pasti langsung jujur, pada perempuan lugu dan polos itu. Canda dan kak Aca, adalah gudang kejujuranku.


Aku merebahkan tubuhku menghadap tembok. Kemejaku pun, asal dikenakan saja tanpa kerapihan. Aku sudah amat panik tadi, sampai-sampai tidak sempat mengancing semua kancing kemeja kami.


"Eh, Papa. Kok ada di sini, Sayang?" Rasanya aku ingin menyobek mulut istri orang ini. Sayangnya, dia adalah mantan yang membuatku sampai terkena DE.


"Gaya kau mobil ditutupi. Pasang pagar dong, biar safety." Itu adalah suara bang Givan.


"Far, kau tak berdaya kah?" Canda menarik lenganku. Membuatku kini dalam posisi menghadap plafon ruangan ini.


"Apa?" Aku memasang wajah ketus.


Aku takut ditertawakan di sini.


"Memang bisa bangun, Far?" Pertanyaan macam apa itu yang keluar dari mulut Canda.


"Kau pikir bagaimana, Cendol?" Itu adalah seruan suaminya.


"Ya lihat dong." Ia menoleh ke arah suaminya, kemudian memandang wajahku kembali. Alisnya naik turun, ia sudah seperti perempuan cabul.


"Memang aku kurang buat kau, Canda?" Bang Givan berjalan ke arah kami.

__ADS_1


Haduh, malah berkumpul di tempat yang belum kering ini.


"Tak juga sih. Tapi kan aku taunya setengah tiang aja, full version aku belum lihat."


Jawaban macam apa itu, Ya Allah? Rasanya aku ingin menangis saja.


Segala kak Aca masuk ke dalam kamar mandi, membuatku kini terdesak oleh bang Givan dan Canda. Ia tidak menolongku, yang tidak bisa berbohong ini.


"Kuhamili lagi ya kau, Canda!" ancam bang Givan dengan mata yang melotot lepas.


Canda malah tertawa lepas, kemudian bangkit dari duduknya. Ia berjalan ke arah rak makanya, lalu membuka satu persatu space penyimpanannya.


Ia memindahkan barang dari kantong plastik besar yang tadi dibawakan oleh bang Givan itu ke dalam lemari penyimpanan makanan. Banyak makanan, bahkan susu formula dan buah juga. Belum lagi peralatan mandi, juga snacks yang tidak pedas. Sepertinya mereka baru pulang dari swalayan.


"Sejak kapan kau zina?" Bang Givan melirikku sekilas, kemudian ia memperhatikan aktivitas istrinya lagi.


"Apa sih, Bang?!" Aku masih dalam posisi rebahan.


"Awas hamil."


Hanya itu, lalu ia bergerak untuk membantu istrinya. Masalahnya satu, aku takut mereka mengadu pada mamah dan papah. Semoga saja bang Givan bisa menasehati istrinya, untuk tidak ember pada mamah dan papah.


Belum lagi deterjen, pewangi, cairan pembersih kloset, pengharum ruangan dan obat untuk mengepel lantai.


"Sering kah mereka belanjakan?" tanyaku kemudian.


Kak Aca mengangguk. "Selalu keknya. Bahkan, pas tinggal sama ibu sih komplit betul. Cabai, bawang merah dan putih, jahe, lengkuas dan bumbu dapur lainnya. Belum sayur mayur dan buah-buahan komplit. Memang untuk jatah ibu Ummu, tapi jumlahnya banyak betul. Kek sengaja dilebihkan, karena tinggal bareng aku juga gitu."


Baru tahu aku, ternyata Canda dan bang Givan mau repot untuk orang-orang terdekatnya. Karena ke mamah itu, setahuku dalam bentuk uang transferan saja. Dalam bentuk sembako begini, biasanya aku yang memenuhinya.


"Terus gimana ini kalau mereka sampaikan ke mamah?" Aku mulai panik dengan menggaruk kepalaku.


"Ya akui ajalah, kan memang doyan kan?"


Sangat tidak etis, jika baru sebulan sudah ketahuan. Mana kan, waktu untuk meninggalkannya hanya sebulan dari masa mamah mengatakannya. Berarti sudah waktunya, aku harus pura-pura memiliki jarak dengannya.


"Tak berani ngaku aku, mamah kan galak. Yang sekiranya jangan sampai ketahuan, sampai kita dapat restu tuh. Jadi kek, pura-puranya belum bisa move on gitu. Kalau ditanya, ngaku udah tak ada hubungan. Tapi kita pun kek penuh harap gitu, sambil ngiba kasihan dari mereka biar dapat restu."


Eh, tiba-tiba wajahku diraup olehnya.


"Rencananya begitu tuh, kenapa udah sebulan tak ada pergerakan? Masih aja begitu-begitu terus, masa harus aku duluan yang bergerak?" Begini ya rupa kesalnya.

__ADS_1


Aku cengengesan, lalu mencium pipinya.


Hmmmm…. Dari pipi turun ke jalan buntu rupanya.


"Sekali lagi yuk? Terus aku pulang." Aku menarik tangannya, dengan senyum yang selalu dibilang paling manis oleh Canda.


"Masa ngajak tuh begitu? Yang romantis dong." Ia melirikku, kemudian wajahnya berpaling ke arah lain.


"Memang bagaimana sih romantis itu? Coba ajarkan." Ia saja main terjang, gayanya minta yang romantis.


Ia terkekeh, kemudian langsung memeluk dadaku.


"Cuci dulu sama!" Ia melepaskan pelukannya.


"Nanti sekalian aja." Aku sudah hampir mengajaknya berbaring.


"Tak ah, cuci dulu aja! Aku paling jijik, rasa-rasanya baru cabut dari punya aku itu. Rasa punya akunya, jadi berasa di mulut."


Terus terang sekali, everybody.


"Tapi doyan pas suruh nelen tuh, kan sama aja baru cabut." Malahan seringnya benihku hidup di tenggorokannya.


"Ya mau tak mau, daripada marah. Aku pernah soalnya dimarahi, karena tak mau dan tak suka rasanya."


Wow, memiliki pengalaman juga rupanya.


"Ya udah deh, cuci dulu." Aku mengalah di sini, daripada nanti lama berjalannya.


Siapa sangka, ternyata bang Givan ada di teras rumah mamah dan sedang duduk bersama papah, ketika aku baru sampai di rumah. Pasti ada kebocoran gas kejadian tadi di sini, aku sudah deg-degan tidak karuan saat turun dari mobil.


"Dari mana kau, Far?"


Ahh, dimulai. Harus bagaimana aku sekarang? Karena ada dua kemungkinan. Papah bertanya, untuk mencari kejujuranku. Yang kedua, papah benar-benar tidak tahu.


Saat aku melirik ke kakakku itu, ia malah cengar-cengir saja. Aku jadi ragu untuk menjawabnya, baiknya aku berbohong atau langsung jujur saja?


Namun, jika aku jujur berbohong. Pasti bang Givan tertawa lepas, lalu papah curiga dan minta keterangan darinya.


"Hmm, itu. Aku dari…..


...****************...

__ADS_1


__ADS_2