
Hampir terjadi, jika saja pintu tidak terbuka mendadak. Wajahnya sudah begitu dekat dengan wajahku, suaranya seirama dengan gerakannya menghipnotisku yang sadar sudah beristri.
"Papa…." Suara keras dan lepas itu memasuki ruanganku dengan berlarinya seorang anak kecil yang masuk.
Aku mendorong tubuh Farida, yang mengunciku sampai mentok di meja kerjaku. Kemudian, aku langsung bergegas menyambut Ra yang masuk seorang diri tanpa pendamping.
"Sama siapa, Ra?" Aku langsung menutup pintu ruanganku, agar Ra tidak keluar lagi.
Gagang pintunya cukup tinggi, aku yakin ada seseorang yang membukakan pintu ruanganku agar Ra bisa masuk. Tetapi, orang itu tidak ikut masuk dengan Ra.
"Yayah." Ia malah celingukan.
"Yayah Ra mana?" Ra malah seperti orang bingung.
"Ya tak tau, Papa nanya karena Ra datang sendirian." Aku menggandeng tangan Ra, mengajaknya untuk duduk di sofa panjang.
"Pasti kabur, Ra dibuang." Ra langsung murung dan sedih.
Ia sudah semakin besar, tutur katanya sudah semakin jelas saja. Belum lagi tubuhnya yang tumbuh sempurna dan berukuran besar, maksudku ya seperti tinggi besar begitu. Ra terlihat lebih tinggi dan lebih besar dari anak-anak sebayanya.
Suara pintu dibuka, dengan bang Givan yang masuk dengan membawa beberapa map. Di meja masih menumpuk, tapi ia sudah menyetorkan map lain.
Sorot matanya mengarah pada Farida yang masih berdiri di dekat meja kerjaku. Kemudian, ia melemparkan pandangannya padaku.
"Ke mana ya Keith sama Ria?" Bang Givan langsung duduk di sebelahku.
__ADS_1
"Di penginapan mamah ada tak?" Aku teringat kamar tinggal yang Keith bicarakan kemarin.
"Tak ada, aku dari sana tadi. Sekalipun Ria bilangnya, tenang aja bang, Keith tak akan maksa. Tapi tetap aja, aku kurang percaya. Keith udah ahli, Ria terbuai ya habis juga."
Oh, dia juga tahu tentang Keith yang cukup dekat dengan Ria itu?
"Kenapa tak kau nikahkan aja?" tanyaku kemudian.
Ia menoleh dan terdiam sejenak. "Tidak dengan duda, Far. Aku ngerasa, itu tak cukup adil untuk harga selaput dara pada Ria. Maksud aku, ya perjaka sama perawan begitu. Di luar jejak pengalaman dan asmaranya, yang penting belum menikah gitu." Bang Givan berbicara cukup lirih.
Baru saja tidak diperhatikan sebentar, Ra sudah menarik kursi kerjaku dan mendorongnya seolah gerobak es krim.
"Kalau udah jodohnya, ya gimana coba? Mereka belum zina besar aja udah untung itu, Bang. Namanya juga hasrat, pasti turun meski cuma rasa tertarik aja." Aku berpendapat, bahwa Keith pun tertarik dengan adik ipar bang Givan itu.
"Kek kau sekarang ya?" Ia terkekeh kecil.
Apa maksudnya? Apa Aca akan menculik mereka?
"Apa dia bakal nekat?" Aku menantikan jawaban bang Givan.
"Tak, dia bisa seketika tak peduli. Dulu, aku di luar perjanjian kami. Maksud aku, awalnya cuma untuk o*** plus fingering. Setelah berjalan kan, aku malah bujuk lagi untuk se*s. Padahal, dia setuju. Tapi setelahnya, dia diamin aku kek tak kenal gitu. Dengan sikapnya kek gitu, aku merasa bersalah. Makanya, sampai aku minta ke mamah untuk tunangan dulu sama Aca. Biar setelah kita lulus SMA nanti, bisa menikah gitu. Sampai beberapa tahun, ketemu lebaran dan baru ngomong lagi di club malam. Dia mabuk, aku mabuk. Di situ, dia keluarkan semua kekesalannya sama aku. Aku pun sama, aku kecewa karena niat baik aku tak diterima ayahnya gitu. Kalau aku udah menikah dari awal kan, tak ada ceritanya aku jadi laki-laki sesat begini. Dengan sikapnya kek gitu, kuat lama tak ajak komunikasi bahkan diajak komunikasi pun bungkam. Berarti, orangnya ini benar-benar tega. Dalam artian, sekali kau buat masalah gitu. Ya mungkin dia langsung tak peduli sama kau, sama anak kau, diajak komunikasi juga diam seribu bahasa. Pahami karakternya, karakter kek dia tak bisa untuk main-main. Ya aku paham, istri manapun tak boleh dipermainkan. Tapi, sadis lah gitu tingkat ketegaannya. Kalau berimbas sama kau, itu masih mending. Tapi kalau udah ke anak-anak, mereka tak akan paham. Kasian anak-anak kau, yang udah bergantung sama dia. Lagian, rasanya perempuan cuma begitu aja kok. Kasarnya, bosan-bosan betul sama ekspresi istri. Kita bisa buat mereka membelakangi kita, jadi kita kan makin liar cuma dengan suaranya yang heboh itu. Enak atau taknya kita kan, nampak betulnya dari ekspresi wajahnya. Kalah dari suara, itu bukan seratus persen tepat. Suara perempuan kesakitan sama mau kl*mask itu hampir mirip."
Nasehat yang cukup bermutu. Padahal, aku pun tahu rasanya se*s dan perempuan ya seperti itu saja. Tapi, entah kenapa malah aku semakin menggebu.
Tadi saja aku diam tanpa perlawanan. Jika Ra telat masuk, mungkin sekarang kami tengah membuka pakaian kami satu persatu.
__ADS_1
"Hindari aja." Bang Givan menepuk bahuku, lalu ia mendekati anaknya.
Bagaimana menghindarinya? Apa dengan memutus kerja sama kita? Tapi pasti akan berimbas pada perusahaanku. Aku tak boleh mencampurkan urusan pribadi, dengan urusan pekerjaan.
Aku yakin Farida orang yang nekat. Padahal ia tahu, bahwa aku beristri dan dengan istriku aku cukup harmonis. Namun, ia tetap maju dan mengambil langkah lain.
Aku harus memberi makan egoku dengan Aca. Egoku terpuaskan dengan Aca, mungkin aku tak melirik perempuan lain. Aku tidak tahu juga sebenarnya, karena ketertarikanku pada Farida bukan karena Aca yang bermasalah.
Yang terpenting, aku harus cepat membuatnya pulang.
"Bawa beberapa dokumen ini, Far. Biar aku kerjakan yang di sini. Aku disuruh buang Ra sama Canda, tak terima aku, kesal aku sama dia. Biar aku sama Ra di sini beberapa jam, biar Canda kelabakan nyariin suaminya dulu."
Heh?
Ingin miris, tapi aku malah terkekeh. Pantas saja, Ra tadi bertanya apa ayahnya membuangnya. Rupanya, sedang ada drama keluarga di sana.
"Kesal aja itu, Pak. Tak mungkin bu Canda mau buang anaknya sendiri," timpal Farida dengan terkekeh geli.
"Ya, memang. Aku tau, itu reflek kesalnya aja. Tapi aku yang jadi ayah dari anaknya kan tak terima, mulutnya enteng betul mau buang anak katanya." Bang Givan mendorong kursiku dan menempatkannya di tempatnya semula.
"Udah paling betul Ra diasuh aku, Bang." Aku berjalan ke arah meja kerjaku, untuk mengambil dokumen yang bang Givan tunjuk.
"Iya betul, Far. Sama anak asuhnya, sama anak tirinya aja tuh, Canda tak begitu. Ini loh, anak kandungnya yang buat dia harus disesar, ribut aja kerjaannya kalau bareng satu atap. Ra juga sih, tau biyungnya begitu tuh, kek sengaja cari ngamuknya. Tadi Canda sampai nangis, cuma kesalnya aku mulutnya bilang suruh aku buang Ra ke tempat sampah. Aku tak tega lihat dia nangis kesakitan, tapi aku pun kesal sama mulutnya yang berani nyuruh aku buang anak sendiri. Udah aku sih tak mau pulang, sebelum Canda nyariin aku dan nyuruh aku nemenin dia tidur."
Menggelikan, ketika mendengar cerita seperti ini. Tapi, ketika kita sendiri yang berada di posisi itu. Sudah pasti emosi kita terkuras habis-habisan.
__ADS_1
...****************...