
"Sering, tiap hari. Kadang kalau tak sempat hubungi ya, bawa ciki-cikian minimarket. Keju slices gitu, sama minuman susu fermentasi atau UHT gitu tak pernah tinggal."
Bang Givan sudah bisa memanusiakan istrinya.
"Baik-baik ya, Canda?" Aku akan mematikan sambungan telepon ini.
"Oke, kau pun baik-baik ya sama Novi?"
Aku masih berusaha untuk ini.
"Ya, Canda. Udah dulu ya? Assalamualaikum." Aku langsung mematikan panggilan telepon ini, setelah Canda menjawab salamku.
Sedikit tenang, mendengar Canda mengatakan tentang bagaimana suaminya. Spam chat, adalah hal yang tidak pernah dilakukan bang Givan dulu. Ia anti menghubungi orang tersebut, secara terus menerus. Karena pada keluarga pun, ia anti seperti ini.
Semoga Canda dan bang Givan bahagia selalu. Sungguh, harapanku besar pada bang Givan. Semoga, ia bisa menjaga Canda sampai akhir hayat.
~
"Bang…. Nando tuh beneran mau nikah ya, Bang?" tanya Novi tiba-tiba, saat aku tengah memanaskan mesin mobilku.
"Ya, katanya sih." Aku pun tidak tahu pasti, aku hanya tahu dari Ghava.
"Ada undangan di bawah pintu. Minggu depan nikah." Novi menunjukkan secarik surat padaku.
Apa ia cemburu?
"Ya udah, tak apa. Kalau panas, tak usah datang. Biasa aja, ya datang." Ini adalah ucapanku pada bang Givan, saat ia menanyakan tentang rujuknya Canda dan bang Lendra. Eh, tidak tahunya ia malah yang rujuk dengan Canda.
Hebohnya malam setelah pemakaman bang Lendra saat itu. Karena bang Givan sibuk memberi perintah pada Kin, untuk mencucikan kemeja putihnya dan menyetrikanya. Belum lagi, Kin diminta untuk membeli obat semprot untuk sakit giginya.
Kemejanya, sudah ia persiapkan. Ia sudah membelinya baru, untuk persediaan rujuk. Namun, belum dicuci dan disetrika. Sedangkan, dirinya adalah orang yang cerewet.
"Aku tak panas juga kali. Tapi heran aja, kok cepet ya dia nikah? Padahal dia bilang ke papah tuh, paling bisanya tahun depan." Novi seperti tengah mengingat sesuatu.
"Ya karena, mahar kau lebih tinggi kali. Sedangkan yang dipersunting sekarang, mungkin minta umum aja." Ini yang paling masuk akal menurutku.
Novi hanya mengedikan bahunya, dengan wajah yang masih berpikir keras. Bahkan, sampai ia mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"Yuk? Berangkat ke dokter." Aku berjalan ke arah pintu kemudi. Lalu mematikan mesin kendaraanku, karena melihat Novi belum siap.
Acara menghias diri, cukup lama untuk Novi. Kadang, aku sampai mengantuk dulu.
Sayangnya, semangat pagi ini luntur seketika. Saat sampai di tempat dokter yang menanganiku, ternyata dokternya berhalangan hadir karena mengalami kecelakaan tunggal kemarin sore. Kabar ini pun, aku terima ketika sudah mengambil nomor antrian.
Zonk lagi. Aku akan lebih lama mendapat pengobatan yang tepat. Lebih baik aku cari alternatif juga, tabib contohnya.
"Aku turunin kau di depan rumah mamah aja ya? Aku mau langsung berangkat kerja. Siang nanti aku mau nanya papah tentang tabib." Ini adalah hari Sabtu, aku pulang bisa lebih cepat.
Novi mengangguk, dengan aku yang langsung bergegas menuju kantorku.
Pekerjaan yang seperti biasa, aku mengerjakan tugas untuk hari Senin. Bahkan, Ria sudah menumpuk tugasku untuk hari Selasa. Aku mengklaimnya, CEO yang anti keteteran. Kinerjanya, lebih bagus dari Novi. Tapi untuk ketegasan, Novi lebih tegas dari Ria. Jika ada keputusan yang sulit ia kehendaki, Ria akan melemparnya padaku. Dengan rengekannya, "Bang, aku tak berani." Seperti itulah biasanya.
Namun, saat memarkirkan kendaraanku. Aku melihat keributan di depan rumah Ghavi. Aku bergegas menuju tempat kejadian, untuk memastikan keadaan di sana.
Perempuan yang pernah aku temui bersama Ghavi beberapa bulan silam, kini tengah memeluk erat lutut laki-laki tegap yang tidak aku kenali. Sedangkan Ghavi, ia terlihat bingung dengan mengacak-acak rambutnya sendiri.
Ada apa ini?
"Bang, maafin aku? Aku mohon, jangan ceraikan aku," mohon perempuan tersebut, bukan lain adalah Fatma.
Tidak kalah tampannya laki-laki tersebut, tapi nyatanya terjerat dalam pelukan perempuan seperti Fatma. Aku tidak mengerti lagi konsep kehidupan perempuan seperti Fatma.
"Maafin aku, Bang." Fatma masih memeluk lutut laki-laki yang sepertinya suaminya tersebut.
"Bukan aku tak maafkan, tapi aku langsung talak kau hari ini juga. Kita bukan suami istri lagi, Fatma. Secepatnya, aku proses perceraian kita." Laki-laki tersebut mengibaskan satu kakinya, membuat pelukan Fatma para lututnya tersebut menjadi terlepas.
Nah, kan? Sudah begini, bagaimana ceritanya?
Laki-laki tersebut langsung pergi. Ternyata, mobil sejuta umat yang terparkir asal di jalan tersebut milik laki-laki ini. Entah siapa namanya, aku tidak tahu.
Fatma memandang Ghavi, seolah meminta bantuan agar ia dibantu untuk berdiri. Sedangkan di belakang Ghavi, ada mamah yang menonton kejadian ini dengan senyum miring.
Kenapa, aku merasa bahwa mamahku menjadi dalang dari kejadian ini? Karena tidak mungkin, Fatma tiba-tiba datang. Kemarin-kemarin, ia tidak pernah datang. Aneh juga, karena suami Fatma bisa ada di sini. Pasti ada yang memberitahukan padanya, bahwa istrinya tengah menemui seseorang.
"Bang…," lirih Fatma dengan masih memandang Ghavi.
__ADS_1
"Aku punya istri, Fat."
Aku tidak mengerti dengan ucapan Ghavi.
"Maksud Abang gimana?" Fatma bangkit dari simpuhnya.
Beberapa crew dari Riyana Studio, terlihat kembali ke bangunan tempat mereka bekerja. Menyisakan kami, para keluarga inti saja. Ghava, papah, mangge Yusuf, mamah, aku dan juga Novi di samping mamah.
"Kau tau alasan aku nikahin kau dulu, Fat." Ghavi terlihat datar saja.
"Maksud kau gimana, Bang? Kau minta aku datang, untuk dikenalkan dengan anak-anak kau. Kau bilang, istri kau udah tandatangani surat persetujuan poligami. Kau bilang, bakal buat cerita kita rapi dengan Safi'i yang tak pernah tau tentang hubungan kita. Nyatanya apa? Bahkan, Safi'i tau di awal kedatangan aku di sini."
Oh, apa ada yang bermain siasat di sini?
"Aku tak tau, kenapa kau ke sini dan Safi'i ada di sini. Aku bahkan baru bangun tidur, karena aku baru bisa tidur subuh tadi," aku Ghavi dengan mengedikan bahunya.
Pantas saja, ia hanya mengenakan celana kolor dan singlet saja. Ternyata, ia baru bangun tidur. Aku jamin, pasti Ghavi tengah amat kebingungan di sini.
"Maksudnya gimana, Bang?" Fatma mengusap air matanya getir, dengan berjalan mendekat ke arah Ghavi.
"Aku udah bilang, istriku tak pernah mau dipoligami. Itu udah jelas untuk kita, masanya aku ceritakan tentang hal itu. Aku malah kaget, kau berani muncul di sini. Tentang surat persetujuan itu aja, aku turun talak kifayah ke istri aku. Aku tak mau memperkeruh keadaan, cuma karena syahwat aku aja."
Cukup frontal dan menyakitkan. Padahal jelas, Fatma sebagai tempat syahwat Ghavi saja. Jika aku yang menjadi Fatma, aku akan menampar Ghavi.
Eh, tapi tadi Ghavi mengatakan tentang apa alasannya Ghavi menikahi Fatma. Berarti, dari awal Fatma sudah tahu bahwa Ghavi ingin memuaskan ego syahwatnya saja.
Ya mungkin, Ghavi jenis manusia yang seperti bang Givan. Bang Givan suka permainan yang kasar, aku teringat dari cerita Fira waktu aku di Bali kemarin. Bang Givan pun mengatakan sendiri, bahwa ia kasar pada Fira dan Ai.
Tapi, bedanya bang Givan tidak berani kasar ke istrinya sekarang. Malahan, ia mengatakan bahwa ia tidak suka lagi adegan kasar sejak dengan Canda. Entah karena kasihan, atau menyesuaikan trauma yang Canda miliki, tapi nyatanya membuat perubahan pada bang Givan.
Bedanya Ghavi, ia tidak bisa menyalurkan pada Tika, entah karena apa alasannya. Sedangkan, bersama perempuan lain ia bebas menyalurkan. Bukannya ia menyesuaikan seperti bang Givan, tapi ia tetap mengumbar syahwatnya.
Seperti Ghavi ini, harus sharing dengan bos tambang saja. Pasti bang Givan memiliki kata-kata mutiara, juga alasan yang masuk akal untuk menasihati Ghavi. Jika aku yang menasehati, pasti Ghavi akan mengungkit kesalahanku dulu. Aku segan untuk menasehati, karena orang yang dinasehati malah seperti itu.
"Kau punya ongkos pulang?"
Aku memutar leherku, untuk melihat pertanyaan dari…
__ADS_1
...****************...
Gak berasa ya, semua konflik mau selesai 🙃