Istri Sambung

Istri Sambung
IS133. Meja makan berwawasan


__ADS_3

"Jangan dibuka! Ada aku." Suara itu cukup lepas terdengar.


"Eh! Sialan kau!" Mamah mundur satu langkah, kemudian menutup kembali pintu kamar Tika.


"Ada apa, Dek?" tanya papah kemudian.


"Lagi anu," jawab mamah dengan malu-malu.


Detik selanjutnya, kami terlalu lepas di depan pintu kamar ini. Baru juga lepas maghrib, sudah ada atraksi saja.


"Apa hukumnya ini, Bang?" tanya mamah, ketika kami kembali ke meja makan.


"Talak satu secara lisan, sejak ditalak itu kan istri langsung masa iddah tuh. Selama masa iddah, si suami bisa kembali merujuk istrinya sebelum masa iddah habis. Dengan cara pengucapan, aku kembali pada engkau. Atau, intinya ucapan yang menyatakan bahwa suaminya kembali ke istri. Terus yang kedua, melakukan hubungan badan di dalam masa iddah itu. Kalau sampai habis masa iddah, maka wajibnya akad kembali, Dek. Coba koreksi, barangkali salah." Setelah mengatakan itu, papah menyantap kembali makanannya.


"Aku tambahkan ya, biar jelasnya," ujar abi Haris, yang diangguki kami semua.


"Ada rukunnya, untuk rujuk kembali tanpa harus akad. Yang pertama, istri sudah dicampuri. Kedua, talak Raj’i atau talak satu dan dua. Yang ketiga, dalam masa iddah. Kan abis keluar kata talak ini, langsung masuk masa iddah, kecuali perempuan haid dan hamil. Terus, melafalkan lafaz rujuk bagi suami. Yang terakhir, adanya saksi. Jadi nih mereka setelah hubungan itu, ya harusnya si Ghavi ngucap rujuk di depan saksi. Karena kan, rukun yang lain udah masuk semua nih. Tapi, tidak boleh ada paksaan," tambah abi Haris.


Aku mengerti, aku mengerti. Ini ilmu nih, menambah wawasan kita.


"Tapi kalau masa iddah habis, harus akad ya, Bi?" tanya bang Ken.


Abi Haris mengangguk. "Ya, harus akad. Rujuk yang kek cara di atas pun, hanya berlaku untuk talak satu dan dua. Kalau talak tiga, ada ayat yang artinya kek gini. Jika dia mentalak istrinya, talak tiga. Maka tidak halal baginya setelah itu, sampai si istri ini menikah dengan lelaki yang lain. Qur'an surat Al-Baqarah, ayat dua ratus tiga puluh. Kalau tak salah ingat, ya begitu hukumnya. Jadi si istri ini, harus menikah dengan laki-laki lain dulu." Tidak diragukan jika memang lulusan pesantren.


Aku teringat Canda, yang memiliki banyak pemahaman tentang pandangan Islam.


"Tapi misal si perempuan ini nikah sama laki-laki lain, hanya untuk memenuhi syarat, agar bisa menikah kembali dengan suami yang menalak tiga dirinya. Itu gimana, Bang?" ujar mamah, membuat perhatian kini tertuju ke arah beliau.


"Rekayasa ya masuknya?" ucap abi Haris, yang membuat kamu semua mengangguk.


"Jika ada rekayasa maka pernikahan semacam ini disebut sebagai, nikah tahlil. Lelaki kedua yang menikahi sang wanita, karena rekayasa, disebut muhallil. Suami pertama disebut, muhallal lahu. Hukum nikah tahlil adalah haram, dan pernikahannya dianggap batal. Begitu, Dek," terang abi Haris menerangkan.


"Dek…. Jangan berpikir buat minta cerai." Papah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan wajahnya.


Kami semua tergelak.


"Tak lah, Bang." Mamah membuyarkan telapak tangan suaminya yang menyatu tersebut.

__ADS_1


"Mah…."


Sepertinya suara Ghavi, tapi terdengar lamat-lamat.


"Di dapur, lagi makan," seru mamah, yang tengah menikmati makanannya lagi.


Tak lama muncul Ghavi, keringatnya cukup menjelaskan keadaannya.


"Dilap, pakai kaos. Bisa kan?" Papah mencontohkannya.


Aku tertawa geli. "Biar orang tau semua ya, Vi?" ejekku padanya.


Ghavi cengengesan, kemudian ia melepaskan kaosnya. Kaos berwarna putih itu, digunakannya sebagai handuk yang meresap seluruh keringat di wajah, leher dan tubuhnya. Sebelum akhirnya, kaos tersebut tersampir di bahunya.


Ghavi duduk di sebelahku, kemudian ia menceritakan niatnya yang ingin merujuk Tika. Namun, Tika menolaknya. Hingga hasilnya, ia malah memaksa Tika sampai Tika berteriak.


"Kau kapan sih masuknya?" tanyaku, karena sejak tadi duduk di ruang keluarga tidak melihat masuknya Ghavi ke dalam rumah.


"Ya udah selesai, Bang." Ghavi melanjutkan meneguk air putih yang ia kucurkan sendiri dari teko.


Abi Haris terkekeh. "Maksud Ghifar, kau kapan masuk ke rumah. Bukan masukin Tika," tukas abi Haris membuat tawa bersahutan. "Tau udah selesai, makanya kau turun," lanjut beliau kemudian.


"Ya biar nanti malam mamah ngobrolin ke Tikanya. Kalau dibujuk sama kau, ternyata tak mempan," putus mamah yang kini tengah membereskan perlengkapan makan.


Kami sudah selesai makan.


"Kau nginap di rumah umi sana, Ken!" pinta abi Haris terdengar tidak terbantahkan.


"Besok ajalah, mau sama Mamah dulu." Bang Ken melepaskan kemejanya.


"Mamah ada suaminya, Ken." Yang mengatakannya adalah suami mamah sendiri.


Bang Ken melirik kesal ke arah papah. "Tak minta dikeloni juga, Pah. Pengen cerita-cerita sama Mamah."


Di usianya tiga puluh delapan tahun, bang Ken terlihat masih seusiaku. Kulit kendur atau massa otot turun pun, tidak terlihat sama sekali. Cukup menawan, menjadi duda beranak. Tapi terlihat seperti bujang, karena anaknya dipegang mantan istrinya.


"Tak di kamar!" Papah bangkit dari kursi, kemudian berjalan ke arah wastafel cuci tangan.

__ADS_1


"Takut betul istrinya tergoda. Heran deh Gue." Bang Ken menaruh kemejanya di bahunya.


"Iyalah, kan udah enam puluh tahun. Telinga aja udah jauh, kan khawatir pasti ada," tukas mamah dengan melirik suaminya.


Jika papah enam puluh tahun, mamah berusia lima puluh enam tahun. Sudah setua itu orang tuaku. Semoga, mereka sehat selalu. Makin tua, makin berkah.


"Abi di rumah kau ya, Far? Masih ada hak Kinasya di sana kan? Tak keberatan kan kalau Abi nginep di rumah anak sendiri?"


Kenapa abi Haris berbicara seperti itu?


"Tak lah, Bi. Ayo ke rumah." Aku langsung mengajak beliau.


Novi pulang dari mengurus anak-anak, biasanya setelah waktu Isya. Biar nanti aku bisikan saja, jika abi Haris menginap di rumah. Semoga juga, Novi tidak salah makna.


"Ayo. Penerbangan Abi jam sembilan pagi, anterin ya nanti?" Abi Haris sudah bangkit dan berjalan mendahului.


"Ya, Bi." Aku segera menyusul.


Kami duduk di teras rumahku. Dari sini, terlihat anak-anak yang pulang dari masjid dan digiring oleh Novi. Terlihat juga, kak Aca yang menggandeng dua anak kecil.


Ra ternyata jinak juga dengan kak Aca.


"Kenapa kau buru-buru nikah lagi?"


Kan? Aku sudah berfirasat, bahwa aku akan diberi banyak pertanyaan.


"Kenapa tak nikmati masa duda kau dulu? Masalah perempuan kan, kau pasti lebih bebas," cerca beliau terdengar tidak sabar menunggu jawabanku.


Nyatanya, duda bukannya strong. Malah stress tak tertolong.


"Karena anak-anak juga, alasan utamaku, Bi. Kalau bukan karena mereka, mungkin nanti-nanti aja nikahnya." Aku teringat akan insiden Kaf mendapat luka di kakinya, aku juga teringat akan anak-anak yang menungguku pulang bekerja di teras rumah sampai waktu Maghrib.


"Kenapa dengan anak-anak kau?" Pasti abi Haris berpikir, bahwa ada mamah yang menjaga anak-anakku.


Memang benar ada mamah yang selalu ada. Tapi, selamanya aku tak mungkin merepotkan beliau terus.


"Aku…..

__ADS_1


...****************...


__ADS_2