Istri Sambung

Istri Sambung
IS247. Mengikuti alur


__ADS_3

Mamah menghela napasnya. "Aca bilang, dia udah nikah sama kau. Tapi, dia tak bisa nunjukin bukti apapun. Ya jelas tak ada yang percayalah, dia cuma asal ngomong aja gitu."


Bukti-buktinya ada padaku, berikut dengan selembar surat juga. Jelas Aca tidak memiliki bukti, karena rekaman video pernikahan kami disimpan olehku dengan kamera digital yang menjadi penghuni setia brangkasku di rumah.


"Terus gimana lagi?" Aku masih ingin mendengar ceritanya.


"Ya banyak lagi, Far. Pakdhe kau udah tak mempermasalahkan kau, tapi sekarang tinggal anaknya. Sulit memang, kalau orang tua belum mengizinkan anaknya menikah. Ada aja alasannya. Dari Aca suruh mandiri dulu lah, suruh berhasil dengan usahanya dulu lah. Dia tak mau ngerti, kalau perempuan itu bisa punya rasa minat di ranjang juga. Dikasih tau kalau anaknya udah ngelakuin zina, dia malah-malah lebih tak percaya. Dia bilang, dia tau anaknya dan bagaimana anaknya. Hal itu tak mungkin dilakukan Aca katanya. Ya udahlah, mau gimana lagi? Mamah maju untuk lamarkan, udah. Tapi di sana, pengennya anaknya mandiri dulu. Sekarang Aca disuruh handle toko turun temurun dari Mamah dulu itu, toko serba tiga puluh lima ribu. Aca suruh mampu beli mobil dan aset lainnya, dari keringatnya sendiri."


Apa maksudnya kami dipisahkan secara tidak langsung?


"Tapi, Mah…." Aku mengacak-acak rambutku frustasi.


"Nomor telepon Aca udah ganti, dia tak hafal nomor kau juga. Mamah dilarang kasih ke dia, Mamah pun sekarang tak punya nomor teleponnya. Benar-benar dibuat lost kontak."


Aku ingin menangis meraung saja mendengar penuturan mamah. Kenapa para orang tua tega-tega sekali pada anaknya yang saling mencinta? Tahu begini, aku berusaha menghamilinya sejak awal saja. Benar-benar tidak bisa diminta maklum atau pengertiannya, padahal kami sudah sama-sama dewasa dan mampu menjalani rumah tangga.


"Aku susulin ke sana ya, Mah?" Masalahnya pun, aku tidak tahu di mana toko tiga lima turun temurun itu berada. Memang ada di Kota Cirebon, tapi di mananya? Aku tidak tahu tempatnya, aku tidak tahu letaknya. Masa harus kudatangi semua toko satu persatu?


"Udah coba, Far. Kau ini punya harga diri, orang tua Aca tak berkenan anaknya dimuliakan. Mereka tak butuh itu, mereka tak butuh kau. Udah aja biarin, kau cuma perlu waktu dan membiasakan diri."


Napasku seperti tercekat di leher. Andaikan aku bisa membuat mamah luluh dengan ucapanku seperti Aca, pasti akan kulakukan. Tidak ada yang mampu aku lakukan, selain beranjak dari sofa dan menuju ke kamarku dan menyembunyikan wajahku di bawah bantal.


Menangis dalam kesendirian dan dal diam, sudah paling pas untuk menumpahkan kekesalan dan kekecewaan ini. Entah pada siapa, aku harus menuntaskan amarahku. Tidak bisa menolong dan tidak ada yang mampu membantuku sekarang.


Apa kekuranganku, sampai orang tua wanitaku melarang anaknya bersamaku?


Ingin anaknya mandiri dan berhasil, itu adalah alasan klasik menurutku. Toh, aku mampu memuliakan anak mereka. Tapi, mereka lebih memilih agar anaknya memuliakan dirinya sendiri.


Ingin aku katakan saja, bagaimana cara anak mereka menggodaku. Sayangnya, itu malah membuka aib istriku sendiri.


Sosial media, istriku itu tidak memilikinya. Aku pun heran, kenapa ada manusia modern yang tidak memiliki sosial media? Padahal, anak SD zaman sekarang sudah mengusahakan dirinya untuk memiliki akun sosial media.


Hanya email, yang ia punya. Apa aku harus mengirimkan istriku email sebanyak mungkin? Atau, aku membiarkan saja ia di luar sana tanpa talak dariku? Namun, sudah pasti aku yang berdosa di sini. Aku suaminya, aku menanggung dosa-dosanya dan segala perbuatan salahnya yang belum aku benahi.

__ADS_1


Tapi, di sisi lain aku ingin memberi mertuaku itu pelajaran. Apa aku harus mengikuti alur mereka? Secara tidak langsung, aku harus mengorbankan istriku di sini?


Aku membiarkan mereka bertindak sebagaimana mereka menyetir anak sulungnya itu. Lalu, jika saatnya tiba aku mencuri anak sulungnya sesuai kehendakku. Anaknya masih istriku, kami belum bercerai dan kami masih terikat hubungan secara agama.


Yap, aku harus memiliki harga diri dan wibawa. Aku tidak harus terlihat menangis dan mengemis pada mereka, biarkan takdir yang membolak-balikan keadaan. Saat nomornya sudah kumiliki, akan aku jemput istriku di tempat yang sudah kami janjikan. Lalu, aku akan membawa kabur anaknya tanpa izin darinya lagi. Setelah itu, biarkan aku menghamilinya sampai melahirkan anak-anakku. Akan aku kunci anak sulungnya itu, dengan banyak keturunan dariku.


Aku tidak boleh cengeng, aku harus memiliki pemikiran dan jalan terbaik untuk kedepannya.


Bangkit dari tempat tidur, lalu membasuh wajahku, adalah hal termudah untuk menguatkan keputusanku sendiri saat ini. Biarkan di awal, alur mereka yang akan menang. Tapi kelak nanti aku bertindak, aku tidak akan memikirkan dua kali tindakanku.


Aku bersikap biasa saja pada orang tuaku. Aku mengerti, mereka sudah berusaha untuk menikahkan aku dengan keponakannya.


"Papa, Mama mana?" Anak asuh istriku, yang berada dalam gendongan ayah kandungnya itu terlihat begitu memilukan.


Wajahnya merah, dengan air hidung yang mengganggu napasnya. Ra sudah banyak mengamuk, mencari ibu asuhnya sepertinya.


"Mama ketinggalan di pesawat, Nak. Nanti Papa cari ya? Sabar ya? Adek Ra jangan ngamuk aja." Aku mengusap air mata anak itu yang kembali mengalir.


Lihatlah, Ca. Anak orang saja, begitu merasa kehilangan sosok seperti kau. Apalagi aku, yang sudah satu bantal dan satu selimut bersama.


"Sialan ini si Aca, berhenti jadi ibu asuh Ra tanpa pemberitahuan dulu. Aku kan keteteran, tak bisa buru-buru cari penggantinya. Mana anaknya udah sreg betul lagi sama dia, bisa-bisa sakit kalau Ra terus nangis nyariin begini." Bang Givan ngedumel saja dengan memukul spidometer motornya.


Entah berapa kali ia memutari kampung, untuk menenangkan anaknya itu.


"Ikut Papa kah? Ambil dokumen di kantor." Aku mengusap air hidung anak mantan kekasihku ini.


Penampilan Ra buruk sekali. Ia seperti habis dianiaya oleh orang tuanya.


Ra mengangguk, ia masih bermanja di bahuku.


"Aku bawa ke kantor, Bang. Aku mau ambil berkas, tak kerja aku hari ini." Karena sejak Subuh tadi, aku sudah dalam perjalanan ke bandara untuk menjemput mamah dan papah.


Bang Givan mengangguk. "Sampai agak sorean tak apa, Far. Aku mau nyuruh-nyuruh orang dulu, terus mau cek laporan. Kalau bisa ya jangan dikembalikan dulu, sebelum aku susulin. Karena Canda tau sendiri, Cani aja sering dititip-titipkan."

__ADS_1


Oh, jadi Ra bersama ayahnya? Lalu, Canda fokus pada Cani saja seperti itu?


"Ya, Bang." Aku tidak keberatan, aku sering dititipkan anak-anak dalam waktu yang lama. Asalkan anaknya tidak mengamuk saja, aku pasti bisa menjaga mereka dan mengenyangkan perut mereka.


Bang Givan melaju dengan motor berbodi besar, yang mirip dengan motorku. Masih satu perusahaan tempat pembuatan motor tersebut, hanya beda tipe.


"Adek mau ayam geprek tak?" Aku berjalan menuju ke mobil.


"Kulit ayam, Papa."


Setidaknya, mereka harus banyak makan. Karena energi mereka terkuras karena amukan dan tangisan yang heboh itu.


"Pakai nasi ya?" Aku akan membelinya di luar.


Ra mengangguk. "Kasih saos."


"Oke siap." Aku mendudukkan Ra di sebelah kursi kemudi. Kemudian aku menutup pintunya dan memutari mobil dari depan.


"Papa, minta uang." Kedua anakku berlarian ke arahku, dengan seragam madrasah mereka yang dominan berwarna hijau.


Mereka baru pulang dari sekolah lepas Dzuhur, yang hanya belajar satu jam saja.


Tidak ada receh, aku memberikan mereka uang lima puluh ribu. "Kembaliannya kasih ke nenek ya?" Mereka langsung mengangguk dengan wajah gembira.


Anak-anakku sudah bisa bermain sendiri.


"Papa mau beli chicken, kalian mau bagian apa?" Aku sudah membuka pintu mobilku kembali.


"Sayap, Pa." Itu permintaan Kaf.


"Aku chicken geprek saus tomat, Pa." Kal sudah mulai berani makan makanan yang sedikit pedas.


"Iya, gih masuk. Ganti bajunya dulu, terus jajan." Aku langsung duduk di kursi kemudi.

__ADS_1


Perlahan, mobilku bergerak meninggalkan halaman rumah. Dengan didampingi anak kecil berhidung merah tersebut.


...****************...


__ADS_2