
"Aku menyebutkan nge…." Istriku langsung menutupi mulutku.
"Gatal. Aku tau, kalau aku gatal." Ia melanjutkannya dengan begitu ringan.
"Hmm, masa gatal? Masa istri disebut gatal ke suami sendiri?" Aku mengayunkan dengan tertib pada guncangan ini.
"Memang aku gatal kok, aku kacanduan yang ada sama Papa." Istriku memujiku yang berada di atasnya.
"Ah, masa?" Aku makin bersemangat untuk memutarnya.
Kal, Kaf, maafkan papa yang sudah lebih dulu memilihkan ibu sambung untuk kalian tanpa persetujuan. Tapi papa yakin, kali ini papa tidak salah memilih lagi.
"Hmmm…." Ia bangun dan tubuhnya ditahan oleh kedua sikunya.
Ia mengajakku berkecap rasa, menikmati sapuan yang paling memabukan. Gemericik air terjun buatan ini, menyamarkan keciprakan yang aku ciptakan dalam aduan cinta kami.
"Buang dalam ya, Pa?" Sorotnya memandangku penuh harap.
Aku hanya tersenyum lebar. Aku paham, ia mencarikan penghakiman dari kehamilannya. Ia ingin, dirinya mengambil cara cepat untuk mendapatkan restu.
Biar aku yang mengontrol sendiri, agar tidak terjadi penyemburan di dalam. Karena aku belum menghendakinya. Masih ada cara lain dan masih bisa menunggu, untuk mendapatkan restu.
Banyak hal yang aku pikirkan, hingga aku bisa keluar setelah hampir dua jam. Sudah pasti, Nahda kalap mencari mamanya. Sampai budhe May melakukan panggilan video, yang sengaja tidak diangkat oleh Aca. Ia tidak mau ketahuan.
Rokok yang di jarinya, secepat mungkin ia nikmati. Ia mengatakan, bahwa sejak semalam ia belum merokok kembali. Ingin melarang pun sulit, karena ia sudah benar-benar kecanduan nikotin dalam rokok. Setidaknya aku paham, bahwa merokok itu bukan kriminal.
"Yuk?" Aku mengajaknya kembali, yang baru selesai membenahi tempat tidurku.
"Tanggung, tunggu di depan aja." Aca mengambil kembali rokoknya yang tinggal seperempat.
Cukup aman, saat aku keluar rumah. Aku pun, pura-pura menyapu teras rumah sembari menunggu Aca siap dari rokoknya. Tidak ada tetangga yang bertanya, meski rumah ini bersentuhan tembok.
Sesampainya di rumah budhe May pun, ia tidak bertanya dari mana kami. Setelah aku datang, ia malah meminta untuk anaknya kembali pergi mengantarkan makan siang untuk pakdhe Arif.
__ADS_1
Alasan tidak sekalian, keluar dari mulut istriku. Tapi, ia tetap pergi mengantarkan makan siang tersebut.
"Gimana tadi di peternakan, Far?" tanya budhe, dengan membereskan mainan anak-anak yang begitu berantakan di teras rumah.
Aku membantu beliau, untuk membereskan mainan. "Baunya aku tak tahan, Budhe." Aku jujur di sini.
"Iya sih, Budhe juga gak tahan baunya. Tapi sadar, makan tuh penghasilan dari sana. Ya mau tak mau, tetap diurus juga pakaian dan kebutuhan pakdhe kamu yang kadang masih bau peternakan meski udah direndam pewangi." Budhe menumpuk mainan tersebut, di dekatku.
"Papa, jajan," rengekan Nahda, yang datang padaku.
"Jajan apa?" Aku menyambutnya, aku yakin budhe May memperhatikan interaksi kami.
Aku ditarik oleh Nahda, ke sebuah warung yang tidak jauh dari rumah. Dari jauh pun, budhe May sampai menengok dan memperhatikan interaksi kami. Ia mungkin berpikir, bahwa Nahda sudah begitu lengket denganku.
Perjuangan-perjuangan seperti ini, sudah terjadi lamanya lima hari. Namun, pakdhe Arif tidak menanyakan kembali tentang restu kami. Apa harus kami mengulangi untuk bertanya, apakah beliau merestui kami.
"Yah, bulan depan walikan pernikahan aku ya?" Aku dan Aca pun, sudah sering membahas tentang cara untuk mendapatkan restu dengan segera. Ia sebenarnya sudah tidak begitu peduli, tapi aku tetap tidak mendapatkan restu dengan cara baik-baik.
"Nanti sih, Ca! Nikah-nikah aja sih?!" Pakdhe Arif tidak memalingkan pandangannya sejenak dari dokumen di tangannya. Mungkin itu adalah hal penting, yang mungkin saja rekap keuangan dari usaha miliknya.
Dengan keputusan seperti itu, kami mengerti bahwa restu belum kami kantongi juga. Sudah hatinya tidak baik-baik saja, ditambah lagi ia datang bulan. Lengkap sudah, ia kini menjadi gampang marah.
Hingga sepanjang perjalanan pulang ke Aceh pun, aku yang selalu meladeni Nahda. Aku mengambil alih Nahda, ketika ibunya mulai membentak-bentak Nahda lagi.
Sifat keras kepalanya, sulit dihindari. Ia pun emosional juga, ketika tengah datang bulan seperti ini. Namun, ia tidak berani membentakku. Ia malah diam, ketika emosinya sudah merundung sempurna karenaku.
"Mama tuh tak sayang aku." Nahda mewek-mewek kembali, karena ia tidak mau anteng saat duduk di pesawat dan ibunya memarahinya.
"Sayang kok, sini sama Papa aja." Aku mengajaknya untuk melihat awan yang berada di samping jendela pesawat.
"Nanti kita tinggal aja Mamanya, Pa." Nahda melirik sinis pada ibunya.
Aku segera mengalihkan perhatiannya, agar tidak diamuk oleh kak Aca kembali. Aku kasihan, jika melihat anak dimarahi terus oleh ibunya.
__ADS_1
Hingga hari sudah berganti malam, kami baru sampai di rumah mamah. Tanpa banyak pertanyaan, kami diminta untuk beristirahat karena hari sudah malam.
Satu kebingunganku di sini, ada Novi di rumah ini yang tidur di kamar Canda dulu. Kamar yang paling dekat dengan tangga, di lantai dua ini.
"Bang, lagi capek tak?" tanyanya, saat aku baru keluar dari kamar luas anak-anakku.
Aku mengangguk, dengan menutup pintu kamar anak-anak kembali. Aku ingin beristirahat lebih cepat, karena badan terasa lelah duduk berjam-jam dalam perjalanan.
"Oh, ya udah deh besok aja." Novi kembali masuk ke kamarnya.
Pakaiannya seksi.
Entah apa yang ia pikirkan, ketika melihat mantan suaminya ini satu atap dengannya. Lalu, ia malah berpakaian kurang pantas.
Hingga ketukan pintu aku dapatkan, sesaat sebelum aku benar-benar terlelap. Siapa lagi ini? Aku sudah ingin beristirahat.
"Bang…. Aku tak bisa tidur. Aku benar-benar harus sampaikan ini segera, biar aku bisa sedikit tenang." Itu adalah suara Novi, yang sepertinya berada di depan pintu kamarku.
"Ya, Nov." Aku kembali turun dari ranjang.
Hal penting apa sih, sampai waktu pembicaraannya sampai tidak bisa ditunda? Tubuhku benar-benar sudah pegal-pegal, ingin segera beristirahat saja.
"Gimana, Nov?" Gaun malam itu, terlihat cukup menerawang. Hingga kenop tutup panci yang berada pada dadanya, tercetak jelas di sana.
Apa ia dalam misi mengganggu keimanan mantan suaminya?
"Bang…." Novi terlihat ragu-ragu, dengan menggigit ujung jarinya.
Kenapa lagi ini perempuan?
"Hmm? Apa? Aku udah pengen istirahat, Nov." Aduh, aku lupa untuk memakai kembali kaosku. Kini, aku hanya bertel*njang dada saja, dengan menggunakan celana training panjang yang memiliki kolor di bagian tengahnya.
"Boleh tak, kalau aku minta…." Bahasa tubuhnya terlihat seperti tengah menggoda. Ia menggigit ujung jarinya sendiri, dengan melumuri bibirnya dengan lidahnya.
__ADS_1
"Minta apa?" Aku masih berdiri di depan pintu kamar untuk meladeninya.
...****************...