Istri Sambung

Istri Sambung
IS217. Rencana ke Cirebon


__ADS_3

"...... Tugas kau, buat ayah kau percaya bahwa Ghifar anak baik-baik." Seperti atasan yang memberi perintah pada bawahannya. "Kau cinta kan sama Ghifar?" lanjutnya yang diangguki kak Aca.


"Kau sayang sama Ghifar? Kau pengen dia jadi suami kau? Kau pengen hidup sama Ghifar kan?"


Kak Aca pun mengangguk berulang kali.


"Ya udah, usahakan dia."


Baru tahu aku, ternyata sampai anak laki-lakinya pun setara dengan anak perempuannya. Wanitaku diminta untuk mengusahakanku, bukan aku yang diminta untuk mengusahakannya.


"Tenang, Mak Cek. Pasang rahim pun, aku siap untuk Ghifar."


Rasanya aku ingin bersembunyi di bawah bantal saja. Karena mamah langsung menoleh tajam padaku.


Dari awal pun sudah aku katakan, aku akan membuatnya hamil ketika kami sudah menikah resmi saja. Karena apa? Karena aku akan dituduh sebagai laki-laki yang tidak berakhlak, keluargaku pun malu, belum lagi gunjing orang yang tidak tahu cerita aslinya. Ditambah dengan, proses akte kelahiran yang bisa saja dibuat rumit. Aku tidak mau seperti itu, aku tidak ingin sampai terjadi kejadian seperti itu. Bisa tidak tamat-tamat nanti novel ini.


"Mak Cek bakal tahan dia biar tak ketemu sama kau selamanya, kalau kau berucap kek gitu, Ca. Tinggikan harga diri kau, meski ke laki-laki yang kau cintai. Jangan umbar rahim kau, hanya demi hidup sama laki-laki kau. Khawatirnya, hal buruk datang sebelum kalian sah. Amit-amit, Mak Cek juga tak ingin. Tapi, takutnya seperti itu."


Mantap, mantap. Kami langsung diancam untuk tidak bisa bertemu lagi. Jika sudah seperti ini, aku harus lebih rapi.


"Ya, kan? Itu sih gimana bujuk rayu laki-lakinya, Mak Cek. Aku kan bilang, aku siap. Bukan berarti aku langsung telan**** depan dia, tapi kan itu atas mau sama mau. Kehendak hamil atau tidaknya kan, itu urusan Yang Kuasa." Bisa saja si my wife ini membela dirinya.


"Awas aja! Mak Cek tandai kau!" Mamah mengancam kak Aca juga. Tapi, ia malah tertawa lepas.


"Kapan aku diizinkan ke Cirebon sama Ghifar, Mak Cek?"


Spill ya, jika ada perempuan yang lebih berani dan sesantai ini pada ibu mertuanya. Selain Canda tentunya.


"Sabtu, tak apa. Kalau kerjaan Ghifar agak kosong aja, terus sana ke Cirebon. Di sana kan, Ghifar bisa tinggal di rumah pakdhe Afan, atau ke rumah abinya."


Semoga nanti kak Aca tidak dalam keadaan haid. Kan bisa puas aku membolak-balikkan dirinya seperti tempe goreng.


"Berapa lama Ghifar dibolehkan di sana, Mak Cek? Kan, perlu waktu untuk meyakinkan juga gitu." Pandainya istriku.

__ADS_1


"Seminggu mungkin, atau lebih cepat bisa juga lebih lama. Tapi, jangan lebih dari sebulan ya?" Mamah menoleh ke arahku.


Aku tidak merespon, berpura-pura fokus pada ponsel saja.


"Mamah tau kau pura-pura main HP!"


Aku langsung nyengir kuda saja. "Iya, Mah."


"Oke, aku ke Canda dulu ya, Mak Cek?" Kak Aca bangkit dari duduknya.


Mamah mengangguk. "Suruh Key sama pengasuhnya ke sini, bantuin Mak Cek jaga anak-anak."


Mamah sudah tidak selincah dulu dalam bergerak. Aku paham, mamah membutuhkan seseorang yang membantunya mengawasi anak-anak.


Aku jadi memikirkan bagaimana kedua anakku, jika aku pergi ke Cirebon.


"Mah, carikan ART sih. Yang bisa merangkap jagain anak juga gitu, yang tinggal di sini. Tapi kan jelas bayarannya beda, karena kerjaannya dua." Aku mengatakan hal ini setelah kak Aca pergi.


"Buat apa sih? Belum mau beristri kan?" Mamah membuka bungkus makanan ringan milik cucunya.


Mamah manggut-manggut. "Papah tuh risih kalau ada orang lain di rumah tuh, Far. Kan ada juga yang bantu-bantu berbenah rumah tiap minggunya itu."


Karena aku tahu, aktivitas malam mereka tidak hanya di kamar. Mereka terbelenggu di dalam kamarnya.


"Ya nanti kalau mau tidur kan, ART bisa suruh pulang ke rumah aku. Jangan yang muda, nanti timbul fitnah. Seumuran ma Nilam, atau bu Ummu tuh, Mah. Soalnya kan, nanti aku balik di rumah. Biar rumah tak serem betul gitu, jadi aku tempati. Pulang kerja kan, aku langsung ke kamar. Kalau ART nanti kan, kamarnya di lantai bawah itu, dekat tangga." Aku dulu pernah memiliki jasa ART di rumah. Namun, yaitu masalahnya sama dengan papah. Aktivitas malamku dengan Kin malah terganggu dan kurang memiliki variasi.


"Oh, oke. Nanti hari Rabu deh, papah minta ditemenin ke Pintu Rime. Barangkali kerabatnya Hala, atau atau orang sana yang bisa dipercaya dan mau kerja jadi ART."


Berarti hari Rabu, aku harus pulang kerja cepat. Atau, bekerja dari rumah saja. Karena mamah akan ikut dengan papah, otomatis anak-anak tidak ada yang menemani di rumah.


"Oke, Mah. Aku mau cek kerjaan dulu ya, Mah? Aku kan ada rencana nih Sabtu depan nanti, aku ke Cirebon. Aku harus bereskan semuanya dulu, biar tak keteteran." Padahal, aku ingin mandi besar. Rasanya tidak enak, karena tubuh belum benar-benar bersih.


Mamah mengangguk. "Panggilkan Winda atau siapa dulu, lama betul Aca nyuruh Key sama pengasuhnya ke sini."

__ADS_1


Aku segera menunaikan perintah beliau. Winda pun, dengan cepat berjalan mengikutiku ke rumah dengan dua anaknya. Penampilannya sudah mengenakan sarung sholat milik Ghava, tandanya bajunya sudah habis.


"Ya Allah, Winda…."


Aku hanya mendengar suara mamah yang berseru saja, mungkin karena mamah paham Winda kehabisan pakaian. Sedangkan aku, aku langsung masuk ke kamarku di lantai atas.


Setelah selesai junub, aku terus mengeringkan rambutku dengan handuk. Sampai-sampai, aku duduk di dekat jendela dengan mengecek map-map yang membingungkan ini.


Dari tempatku di atas ini, aku bisa melihat kak Aca yang berjalan kembali ke rumah. Aku bersiul, lalu mengirimkan ciuman jarak jauh ketika ia mendongak melihatku.


Kak Aca hanya terkekeh, dengan menggelengkan kepalanya berulang dan masuk ke dalam rumah.


Eh, rasanya tidak pantas saja aku masih memanggilnya kak. Apa ya? Masa mama? Rasanya lidahku belum terbiasa, aku pun hanya ikut-ikutan saja dengan anak-anak.


Aca saja deh, karena kedudukanku adalah kepala keluarga sekarang, meski kami belum memiliki kartu keluarga bersama. Dalam hukum, dia masih berstatus janda, sedangkan aku duda.


Tiga hari setelahnya, aku libur bekerja kembali dengan alasan menjaga anak-anak. Aku pun, sudah ke kantor untuk mengambil pekerjaanku saat anak-anak berada di sekolahnya.


Kini, aku tengah menghubungi istriku untuk datang ke rumah. Karena rumah begitu sepi, di jam sepuluh pagi ini.


[Ke sini, Ma. Mamah ke Pintu Rime sama papah, rumah sepi. Naik taksi online aja ya? Nanti aku yang bayar pas sampai di sini, apa uang elektroniknya mau ditransfer dulu?] Aku langsung mengirimkan pesan dengan komplit.


[OTW.]


Wow, fast respon. Aku jadi bersemangat untuk memeriksa map-map yang aku ambil dari kantor ini. Agar ketika ia sampai, aku langsung bisa mencuri waktu untuk bermesraan dengannya sembari menjaga anak-anak. Ataupun, aku bisa untuk…..


Hmmm, kalian pasti paham lah.


Sudah tidak sabar rasanya, aku sampai ngebut untuk membaca tiga map lagi ini. Tinggal tiga pekerjaanku, tapi rasanya begitu lama.


"Assalamualaikum…."


Loh?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2