
"Kau jangan buat aku sengsara dimarahi suami terus! Mas Givan lebih suka aku main HP, daripada harus ngobrol banyak cerita ke keluarganya. Aku cuma dibolehkan lancar ngomong sama dia aja, tidak dengan sama keluarganya. Katanya, aku ini malu-maluin." Canda menggeleng dengan memejamkan matanya.
Kok geli aku. Aku sampai tertawa renyah, mendengar penuturannya.
"Mending kau titip terasi, atau kerupuk udang gitu. Udah paling bener itu, kalau bepergian pulangnya bawa oleh-oleh. Jangan minta bujuk orang tua, untuk cepat nikahkan kau. Sulit-sulit sekali sih, Far. Bawa kabur aja ke tengah ladang, terus hiduplah dengan damai dengan binatang viral di ladang. Luwak, b***, ular kopi, mereka cukup ramah pada sesama spesiesnya."
Eh, tunggu dulu.
"Kau pikir aku bagaimana, Cendol???" Aku masih mempertahankan tutur lembutku.
Rasanya ingin sekali aku menyembur ibu dari banyak anak ini.
Tawanya begitu lepas dan puas. Kesenangan untuknya, jika berhasil membuatku kesal.
Bagaimana ya keseharian bang Givan? Orang yang emosian seperti bang Givan, bersanding dengan manusia yang sering membuat emosi dan mengurus kesabaran? Apa itu baru disebut saling melengkapi?
Aku tidak bisa membayangkan jika aku hidup bersama Canda. Aku menangis di bawah bantal, dengan Canda menangis di ketiakku. Akan jadi apa rumah tangga kami, jika setiap hari dihadiahkan tangis dan drama?
Mungkin, ini suatu keberuntungan untukku.
Ya setidaknya masih untung, karena Canda tidak menyarankanku untuk menghamili Aca lebih dulu. Ia tidak begitu gila seperti suaminya.
"Ya nanti di sana kau mintakan nomor Aca, kasih nomor aku ke dia. Aku udah coba kirim email ke dia, tapi belum ada balasan." Secuil harapanku selain mengikuti alur, yaitu bertukar kabar dengannya.
Aku khawatir ia melamuniku terus, lalu ia sakit. Memang aku terlalu percaya diri, tapi nyatanya pun aku di sini memikirkannya melulu. Kalau saja tadi tidak membujuk Ra untuk makan, aku pun sepertinya tidak akan makan. Minat makanku tiba-tiba hilang, perut rasanya selalu penuh dan semua makanan tidak menarik.
"Oke siap, kalau aku di sana aku pasti bakal banyak cerita ke Aca. Aku juga bakal bawa Ra, biar dia akhirnya ketarik sama Ra untuk pulang lagi ke Aceh."
Cara itu pun oke juga.
__ADS_1
"Pastinya, kau kapan ke sana?" Aku pasti lelah jika terus berharap.
"Nanti aku tanyakan ke mas Givan deh." Suaminya memang sumber informasi untuknya.
Aku hanya mengangguk, kemudian aku mengalihkan pandanganku pada Cani. Anak itu asyik sendiri, dengan mendorong sepeda roda tiganya. Anak-anak, selalu bisa menghidupkan dunianya sendiri. Meski tidak ada kawan, mereka tetap bisa tersenyum dan tertawa sendiri.
"Assalamualaikum…." Dua anakku berlarian ke arahku.
"Wa'alaikum salam." Mereka baru pulang mengaji sore.
Padat sekali jadwal kegiatan mereka. Pagi bersekolah sampai jam dua belas siang, lalu jam dua mereka madrasah. Jam empat pulang madrasah, lanjut jam lima sore mengaji di masjid. Setelah Maghrib, mereka mengaji pada Canda. Tapi mereka tetap memiliki waktu bermain. Bahkan, mereka tetap bisa tidur siang meski sebentar. Mereka sudah diajarkan disiplin sejak dini. Bahkan, Kal dan Kaf yang baru sekarang ikut asuhan Canda dan bang Givan meski tidak dua puluh empat jam pun. Jadwal mereka sistematis dan terstruktur. Mereka bisa bangun tepat waktu dan tidak begadang malam.
"Papa, aku ke kak Key ya?" Kal sudah meminta izin untuk bermain.
"Bilang nenek dulu, biar nenek tak nyariin. Sekalian dibawa aja Juz Amma, kan mau sekalian ngaji." Ngaji pada Canda tidak ada liburnya, kecuali sedang liburan di luar kota. Tengah haid pun, Canda tetap mengajari mereka mengaji. Aku tak paham dalil, aturan dan ilmunya, tapi memang anak-anak tetap mengaji.
"Bilang ayah suruh ambilkan pakaian Ra. Ra ikut Papa gitu sementara."
Ia menoleh padaku dengan tersenyum lebar. "Nanti pagi hari tuker shift sama mas Givan. Kau kerja, biar dia yang libur."
Bagaimana aku bisa fokus kerja, kalah kurang istirahat?
"Terserah kau, Cendol!" Aku malas berdebat dengannya.
Lagi pun, ada mamah dan papah. Aku tidak akan benar-benar sendirian mengurus Ra, di samping aku mengurus anak-anakku. Jika aku berada di rumah, memang aku yang menghandle mengurus mereka. Tapi jika aku bekerja, anak-anak fokus dengan mamah. Untuk saat ini pun, aku di rumah mamah saja. Sampai Ra bisa dikondisikan, aku kasihan padanya. Jika harus dibawa ke rumahku, kediamanku belum cukup ramah untuk anak-anak. Teralis besi untuk tangga belum dipasang kembali, karena untuk sekarang anak-anakku sudah mulai mengerti untuk tidak bermain di tangga dan berhati-hati dalam naik turun tangga.
"Ayo Biyung ke ayah." Kaf mengajak Canda pulang.
Nah, iya. Itu bagus, Canda harus cepat kembali ke kandangnya.
__ADS_1
"Nanti, makan Cani belum habis. Dikit lagi, Dek." Canda menunjukkan mangkuk makanan untuk anaknya.
Hufttt…. Ada saja alasan manusia ini untuk tetap berada di dalam kandang.
Membahas tentang tumbuh kembang anak-anak, adalah hal paling tentram agar tidak naik pitam. Dari Jasmine sampai Cani kami bahas, hingga adzan Maghrib berkumandang dan ia kembali ke kandangnya.
Mamah memandangku, saat aku baru masuk ke dalam rumah. Sorot matanya tidak biasa, seolah aku bersalah padanya.
"Cendol kakak ipar kau, Fan."
Hufttt…. Harus berapa kali aku mengiyakan hal itu.
"Aku tak lupa, Mah." Aku menjawab dengan lembut. Lalu mengintip keadaan Ra, sebelum akhirnya aku duduk di samping mamah.
Ternyata, dari tempat mamah duduk begitu jelas bangku panjang di bawah pohon mangga itu terlihat. Dari sini, mamah memperhatikan aku yang mengobrol bersama Canda. Aku yakin, aku tidak berlebihan berbicara bersama Canda. Mamah pun mungkin hanya mengingatkan saja, karena posisiku adalah mantan pacar Canda.
"Mamah dari mana tadi?" Saat aku terlelap sebentar, aku tidak mendapati mamah di dalam rumah.
"Beli lauk, sama papah. Papah kau ke studio, belum pulang lagi. Main entah ke mana keknya." Mamah tengah memotong buah-buahan.
"Nih, dimakan."
Aku langsung mencicipi buah yang sudah siap makan tersebut. Buah jika tidak dipotong-potong seperti ini, maka akan tetap utuh di dalam kulkas. Untungnya, asupan buah tidak pernah ketinggalan karena mamah atau papah selalu memotongkan untuk anak atau cucunya.
"Satu dua hari, kau mungkin sulit tidur karena kepikiran terus. Sabar aja, Far. Kalau jodoh tak ke mana, jangan dipikirkan terus. Ra pun, cuma perlu terbiasa aja."
Aku hanya mengangguk. Aku tidak akan melupakan Aca, ia masih istriku. Tapi, aku akan tetap mengikuti alur saja. Aku tidak mampu melawan alur, karena akan memperkeruh keadaan.
Aku memilih untuk membahas hal lain. Karena jika terus membahas Aca, rasanya aku ingin bersembunyi di bawah bantal kembali. Egoku tetap ingin bersamanya, tapi keadaan tidak mengizinkan aku untuk tetap bersamanya. Aku tidak bisa memaksa kondisi saat ini agar seperti keinginanku.
__ADS_1
Aku tidak memiliki kehendak di luar itu. Aku tidak bisa melawan, untuk cara baik-baik.
...****************...