Istri Sambung

Istri Sambung
IS195. Kesadaran pulih


__ADS_3

"Far, Far! Jangan shock gini dong, aku takut." Kak Aca menepuk-nepuk pipiku.


Aku mendadak lemas, tapi pendengaranku masih merekam semuanya. Tetapi, mataku mulai terasa berat.


"Ghifar kenapa, Ca?" Aku pun mendengar suara panik di dalam ponsel tersebut.


"Tak tau, Mak Cek. Ghifar keknya traumanya kambuh."


Bibirku ditempelkan mulut botol. Aku menyesap sedikit air, yang membuat tenggorokanku sedikit basah.


"Aduh, Far. Gimana ini?" Kak Aca masih menepuk-nepuk pelan pipiku.


Aku mengatur napasku perlahan. Isakan Canda, Novi yang berdarah masih terbayang-bayang tanpa disengaja.


Dalam ponsel pun ribut saja, sepertinya mamah panik di sana.


"Papa…. Papa Ghifar."


Telapak tangan yang lebih halus menyentuh pipiku.


"Mama minum." Rengek Nahda dengan suara manjanya.


Tiba-tiba, keriangan Nahda yang berlarian bersama Kal dan Kaf menggeser kenangan menyeramkan itu. Klise Ra yang terjatuh dan Chandra yang datang menolong, bercampur menjadi suasana yang merubah mood di hatiku.


"Bangaunin Papa, Dek. Pa, bangun. Minum gitu."


Aku merasakan telapak tanganku dipijat perlahan oleh kak Aca.


"Papa, aku lapar." Tangan mungil nan halus tersebut menepuk-nepuk pipiku kembali.


"Jangan lapar, bilang bangun. Papa sayang, bangun gitu." Kak Aca mengajari anaknya, dengan membuka sabuk pengamanku.


Eh, anak kita. Anaknya lagi.


"Gimana, Ca? Mak Cek ke sana kah? Share lokasi aja." Suara mamah dalam telepon pun, masih nyerocos saja.


"Aku tunggu Ghifar bangun aja deh, Mak Cek. Ada gerakan di jarinya, dia tak pingsan keknya. Cuma lemes aja keknya, matanya pun setengah terbuka." Kak Aca masih mencoba meregangkan otot tanganku.


Kering di kerongkongan tiba-tiba menjalar. Rasanya, aku ingin minum sebanyak mungkin.


"Minum, Ma," ucapku lirih.

__ADS_1


Kak Aca sepertinya tidak mendengar, ia tengah berbicara dengan mamah di dalam telepon.


"Ma, Papa minta minum." Nahda meninggikan suaranya.


"Kau udah tak apa, Far? Nih, minum nih." Kak Aca menempelkan kembali mulut botol itu ke mulutku.


Aku selalu merasa tiba-tiba haus, jika tengah seperti ini. Entah ini keadaan apa namanya, aku pun tidak mengetahuinya pasti.


"Ca, kasih Ghifar makanan dulu. Entah roti, atau nasi. Nanti mak cek telpon pak cek kau dulu, barangkali di Novi udah beres, pak cek kau bisa jemput kalian." Suara dari telpon masih terdengar.


"Iya, Mak Cek. Nanti aku kabarin lagi."


Setelah itu, aku merasakan tangan kak Aca aktif bergerak memijat tangan kiriku. Kemudian, ia pun membasahi wajahku dengan sedikit air.


"Papa lapar."


Ya ampun, tanggung jawabku sudah kelaparan begini.


"Papa…. Lapar…. Mama…. Lapar…." Nahda sampai berteriak-teriak.


"Iya, sabar. Papa lagi sakit, Nak." Aku merasakan tubuhku tergoyang karena anak perempuan ini tidak mau diam.


Aku mencoba melebarkan mataku, kemudian aku mengusap kepala Nahda yang terlapisi hijab. "Mau makan apa?" Bahkan suaraku menjadi serak.


"Kuah apa? Pagi belum makan kah?" Aku merapikan rambut yang keluar dari kerudung Nahda.


"Kuah bakso, tak apa. Kuah soto, tak apa. Kuah empal, tak apa. Aku makan bubur ayam pagi tadi, makan bubur cepat lapar." Nahda mengusap-usap perutnya.


Ia tidak gemuk, ideal dan padat seperti Ra. Sudah tidak begitu imut seperti Ceysa.


"Bentar ya?" Aku mengusap-usap pipi Nahda yang sedikit merah muda. Yang sepertinya diberi pewarna oleh ibunya, karena pipi Nahda tidak semerah ini sebelumnya.


"Papa udah tak apa kah?" Tanpa canggung, kak Aca mencium pipiku di depan anaknya ini.


Aku takut ia latah, ketika kami berada di lingkungan keluarga. Bisa-bisa, semuanya akan terbongkar percuma.


"Masih sedikit lemas aja, bentar lagi keknya mendingan." Aku fokus memandang Nahda saja.


Karena ia melongo saja, saat ibunya menciumku. Mungkin karena itu adalah hal yang pertama kalinya ibunya lakukan di depan matanya.


"Papa aku, Ma." Nahda duduk di pangkuanku dan memeluk leherku.

__ADS_1


Aku kira ia kenapa. Tak tahunya Nahda tidak suka, jika ibunya menciumku.


"Punya Mama kok." Kak Aca pun melendotiku.


Tidak butuh waktu lama, tangis Nahda langsung pecah. Ia tidak secerewet Key, ketika berdebat. Ia pun tidak secengeng Cani juga, yang disapa orang tak dikenal langsung menangis.


"Tak kok, iya punya Nahda. Memang Nahda sayang kah sama Papa Ghifar?" Kak Aca bersandar pada lenganku, dengan jemarinya yang menghapus air mata anaknya.


Nahda mengangguk. "Aku sayang Papa Ghifar, soalnya banyak uangnya sih. Aku dibantu hafalan juga." Anak cengeng ini langsung ceria lagi.


Nahda ikut mengaji pada Canda. Setiap hafalan, Nahda selalu kuulas kembali bersama Kal, Kaf dan juga Ra. Anak yang mirip Canda, tapi sifatnya mirip ayahnya itu, kini sudah lebih jauh dari ayahnya. Ra terbiasa jauh dengan ayahnya karena keadaan. Namun, tetap saja yayahnya tak tergantikan ketika ia melihatnya.


"Sama papa Izal sayang tak?"


Pasti itu adalah ayah kandung Nahda.


"Sayang juga dong. Aku kan kirim doa terus buat papa Izal setiap aku mau bobo, biar papa Izal selamat sampai akhirat." Pasti anak ini diberi banyak pengertian.


"Mama Kin doakan juga dong, mamanya kak Kal dan bang Kaf." Entah kenapa mulutku malah mengatakan hal ini.


"Siap, Papa. Nanti kita jenguk ke kuburannya. Biasanya, kak Ceysa pun datang terus ke makan manggenya. Kan sebelahan aja itu kan?" Kak Aca memperhatikanku dari dekat.


Hembusan napasnya sampai mengenai leherku. Merindingnya desiran ini.


"Iya sebelahan. Tanah kuburan yang di tanah atas itu kan milik keluarga, yang di bawah baru diwaqafkan untuk umum. Dari kakek buyut, abusyik Papa, sampai ke kakek Akbar itu, si ayahnya pak pak cek Safar, ya kumpul di tanah atas semua. Tanahnya kakek buyut itu tuh, dari atas, sampai ke tanah bawah yang biasa dipakai untuk jemur padi itu. Kakek buyut ini, berarti kakeknya kakek Adi, ayahnya abusyik Ali." Abusyik Ali adalah ayah papahku.


"Nanti kita datangi satu persatu deh kuburannya, biar tau. Kalau begini, malah bingung." Kak Aca kembali duduk tegak di bangkunya.


"He'em, aku pun bingung." Nahda masih duduk di pangkuanku dengan bersandar pada stir mobil.


"Ya udah, nanti ya kita ke sana?" Aku merasa keadaanku cukup membaik.


"Oke. Nanti Papa pun aku bawa pulang, buat liat kuburan papa Izal." Nahda menepuk-nepuk pipinya sendiri.


"Oke sip." Aku menunjukkan jempol tanganku. "Nama papanya siapa tadi, Dek?" lanjutku kemudian.


"Afrizal Dewangsa, wafat ketika mencari nafkah. Jaminan surga." Kak Aca mengatakan dengan bersemangat.


Begini ya rasanya membahas tentang seseorang di masa lalu? Bagaimana dengan kak Aca, yang sering mendengarkanku bercerita tentang Canda? Pasti ini tak mudah, apalagi ia pernah mengatakan bahwa ia tidak suka dengan yang namanya mantan dari seseorang di hatinya. Ia juga tipe pencemburu, meski pada sepupu sekalipun.


"Aamiin." Nahda pun menimpali dengan penuh semangat dan ceria.

__ADS_1


Bang Izal, kini anak istrimu tidak kesulitan lagi untuk perihal ekonomi. Namun, apakah ia sanggup menerimaku dengan masa laluku dan traumaku? Aku takut jika sampai aku mengembalikannya pada orang tuanya lagi, seperti istriku yang sebelumnya aku bebaskan lagi dirinya tanpa ikatan denganku.


...****************...


__ADS_2