Istri Sambung

Istri Sambung
IS278. Menerangkan secara jelas


__ADS_3

"Yang pertama, berusaha tetap tenang meski udah ketahuan anak. Aku langsung minta anak aku untuk keluar, terus aku dan Canda berpakaian…." Perkataan bang Givan terjeda, karena tawa Aca.


"Pasti nanggung betul itu, Van." Ia masih tergelak geli.


Ya, ampun. Dasar, Aca!


"Nanggung itu pasti, tapi otak anak aku yang lebih aku pikirkan. Aku itu betul-betul tak pengen pikiran anak aku tercemari hal-hal dewasa, karena aku merasakan sendiri bagaimana penasarannya jadi anak yang dihidangkan secuil adegan dewasa." Bang Givan terlihat menarik napasnya lebih banyak. "Aku langsung susulin anak aku, aku langsung dekati dan ajak ngobrol dia. Aku tanyakan, udah lihat apa aja. Dia bilang, lihat ayah pegang kaki biyung yang ada di kaki pundak ayah, terus pinggul ayah gerak-gerak. Udah tuh, langsung murung aku, frustasi aku, fatal nih yang dilihat anak aku. Aku coba redam-redam amarah aku, kek ke Canda. Aku mulai pilih kata dan tak coba nampakan kekesalan aku pada diri aku sendiri. Nanya lagi anak aku ini, memang ayah lagi ngapain itu, kenapa tak pakai baju, kenapa kaki biyung dinaikan, kenapa ayah gerak begitu, kenapa biyung megangin wajah ayah, kenapa biyung pegangan lengan ayah kuat sekali. Kompleks sudah, aku langsung tambah mumet. Langsung lah aku senyum, terus pandang wajahnya dengan raut gembira, padahal aslinya mau nangis aja. Gila betul rasanya aku ini, udah wanti-wanti sendiri, jaga mulut jaga gerakan, eh akhirnya anak sendiri menyaksikan." Bang Givan terkekeh ringan.


"Terus kau jelaskannya gimana?" tanyaku kemudian.


Bang Givan menoleh padaku. "Aku bilang, bahwa itu adalah hubungan suami istri. Hubungan kek gitu, hanya boleh dilakukan oleh suami dan istri yang udah menikah, kek ayah sama biyung. Udah terang begitu, anak aku munculkan pertanyaan lagi nih. Memang tak boleh ya kalau belum menikah, apa harus suami istri dan kaki istrinya di bahu suaminya. Mumang ule." Bang Givan menjepit kepalanya sendiri dengan kedua tangannya.


"Langsung pusing aku nih," lanjutnya kemudian.


Mumang ule, memang memiliki arti pusing kepala. Mumet gitu lah, bahasa sininya mumang. Sesa ule, adalah kepala.


Aku memikirkan tentang anaknya, siapa ya anaknya? Apa Key yang cerewet itu? Atau, Chandra yang memiliki otak cerdas itu. Ya menurutku dia cerdas, ditambah lagi dengan mainan mengasah otak balok susun koleksinya.

__ADS_1


"Aku tak mungkin bilang kalau banyak posisinya, nanti bisa-bisa dia minta diajarkan lagi. Jadi aku cuma bilang, iya harus suami istri dan udah menikah. Aku juga nasehati dia, bahwa kegiatan itu tak boleh dilakukan sebelum menikah. Kegiatan itu tak boleh dilakukan oleh pasangan yang belum menikah, nanti berdosa dan masuk neraka. Aku pun bawa cerita tentang hukuman seorang pezina di akhirat nanti, udah kek menasehati diri sendiri rasanya. Terus kata dia, ngeri yah. Aku lanjut kasih pesan ke dia, biar tak melakukan kegiatan itu sebelum menikah dan jadi suami istri. Kata dia, iya yah aku janji tak akan kek begitu. Barulah aku alihkan dia ke hal-hal yang lain, bahas banyak kegiatan dan tentang hal lucu. Aku pun bawa dia keluar, jalan-jalan dan sengaja untuk buat pikiran mereka teralihkan. Sukses deh, dia kembali ceria, tak nampak mikirin sesuatu dan tak berbuat yang aneh. Kan nampak tuh kalau anak lagi mikirin hal di luar kemampuan pengetahuan mereka itu, mereka bakal menyendiri, diam dan kek berbeda gitu. Anak aku tak begitu, dia biasa aja. Dia udah tak penasaran tentang hal kek gitu lagi, udah tak penasaran tentang hal sensitif ke arah dewasa lagi."


Aku pikir, malah jika memberitahu yang sebenarnya mereka akan melakukan sesuai yang ia lihat. Ternyata perlu pemahaman agama, contoh hukuman juga sebagai pelengkap keterangan tersebut. Agar seperti itu, agar mereka memahami dan mengerti tentang kegiatan tersebut dan pandangan secara agama.


"Canda berperan jadi apa pas kau jelaskan hal itu?" Pertanyaan Aca cukup konyol menurutku.


Aku sudah terkekeh saja, karena aku sudah menebak pasti Canda akan tertidur di masa suaminya repot menjelaskan hal sensitif itu.


"Jadi pendamping setia aja udah. Dia tidur lepas aku tinggal keluar, soalnya waktu tidur siang juga."


Cocok. Tawaku lebih lepas.


Gelak tawa bercampuran.


Sepertinya bukan hanya bang Givan dan Canda saja. Karena ketika aku libur bekerja, lalu aku menemani anak istriku tidur siang, malah terjadi hal yang seperti itu juga. Aku malah menaiki istriku, lalu membolak-balikan seperti inginku. Namun, kejadian tersebut terakhir dilakukan ketika bersama Kin. Dengan Novi maupun Aca, aku belum pernah meniduri mereka saat jam anak-anak tidur siang. Mungkin nanti, the next episode aku perlu mencobanya.


Alhamdulillah, hanya sehari saja Aca dirawat di rumah sakit. Sore harinya Aca diperbolehkan pulang, tapi Aca mengajakku untuk mampir ke swalayan besar dulu. Alhasil, malah kami belanja besar untuk kebutuhan satu bulan. Aku tidak melepaskan anak-anak begitu saja, aku menitipkan mereka pada orang terpercaya seperti Canda dan bang Givan. Meski mereka tetap banyak dijaga oleh pengasuh, tapi bang Givan dan Canda pasti memperhatikan anak-anakku yang berada di lingkungan mereka.

__ADS_1


Ketika aku sampai di rumah mamah, untuk membongkar beberapa sembako yang aku jatahkan untuk keperluan dapur mamah selama sebulan. Bertepatan sekali, dengan mamah dan papah yang sudah sampai dan tengah bersantai di teras rumah. Padahal hari sudah malam, sudah melewati jam sembilan malam. Entahlah, selalu lupa waktu ketika berbelanja di swalayan. Aku merasa baru sebentar, tapi ternyata sudah lewat beberapa jam.


"Heh, kau dari mana?" Mamah menatap Aca agak lain.


"Dari belanja, Mak Cek." Aca menghampiri mamah dan duduk di sebelahnya. Aku tengah mengeluarkan beberapa plastik besar berisi perlengkapan dapur.


"Kok tangan kau ada perbannya."


Aduh, aku lupa. Perban bekas infus Aca belum dilepas.


"Eummm…. Itu, Mak Cek." Aca menggaruk kepalanya. Aku berbaur dengan mereka, dengan duduk di dan bersandar di tiang beton. Aku berada di hadapan mereka bertiga.


Aku langsung berbelok ke sini, karena aku pikir rumahnya masih kosong. Aku tidak tahu, jika mamah dan papah sudah berada di rumah.


"Kemarin malam aku habis hubungan badan sama Ghifar. Baru selesai, eh langsung ngeflek. Jadi langsung panik, aku dirawat di rumah sakit sehari semalam."


Kadang-kadang Aca seperti Canda. Jujurnya, terus terangnya, polosnya, konyolnya. Harusnya, ia tidak perlu bercerita sudah berhubungan badan lalu ngeflek. Tinggal langsung berkata, bahwa dia ngeflek saja. Itu sudah cukup, tanpa menerangkan kejadian yang kami lakukan.

__ADS_1


Papah dan mamah langsung menatapku tajam. Aku sudah berkata, jika kejadian suami istri begini, yang bersalah adalah yang memiliki batang. Aku tertunduk, aku siap dimarahi dan diceramahi.


...****************...


__ADS_2