
"Bukti kalau kami udah nikah." Aku mengatakannya dengan berhati-hati.
Diam, tidak ada suara ataupun pertanyaan. Kami hanya saling memandang, dengan background anak-anak yang tertawa dan berbicara.
"Kau serius, Far???" Papah menyenggol lenganku.
Aku hanya mampu mengangguk, aku takut ada yang shock di sini. Lebih-lebih pada orang tuaku, mereka pingsan aku yang bisa-bisa dirawat.
"Coba mana buktinya?" Mamah masih belum percaya padaku rupanya.
Aku beranjak, membuka koper dan mengambil kamera digital. Kamera dengan baterai yang cukup, aku langsung menunjukkan video dalam kamera tersebut. Lalu, aku mengeluarkan sebuah surat dari dalam dompetku ketika mereka tengah fokus menonton video tersebut.
Budhe mengambil alih selembar surat, yang aku geletakan di atas meja tersebut.
Hanya helaan napas panjang, ketiga video tersebut selesai diputar dengan selembar surat yang berputar ke tiga orang tua tersebut. Mereka terlihat pasrah, kemudian murung dengan wajah pusing.
"Sialan kau, Far! Far! Buat orang tua dosa aja kau!" Papah menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Kan dari awal aku udah bilang, Pak Cek. Pak Cek tak percaya, ayah pun sama. Ya mau gimana lagi?" Aca mengedikan bahunya.
"Gimana cara putarnya, Far? Nanti Budhe bilang baik-baik ke pakdhe kamu. Kalian istirahat aja dulu." Budhe mengambil kamera digital milikku dan menunjukkannya.
"Aku boleh sekamar sama Ghifar, Bunda?"
Pengantin baru saja, tidak terang-terangan meminta sekamar. Aku kan jadi malu. Ia mengatakan seperti itu, di depan orang tua.
"Nanti aja, Ca. Kalau ayah kau udah tau, biar tak jadi salah paham lagi," sahut mamah kemudian.
Aca memanyunkan bibirnya.
"Begini, Budhe." Aku mengajarinya cara memutar video dalam kamera digital ini.
"Anak-anak mana ya, Ca?" Papah terlihat sudah mengantuk.
"Iya ya, sepi." Aca mengedarkan pandangannya. "Aku cari dulu deh, Pak Cek." Aca bangkit dan berjalan menuju ke salah satu kamar.
Aku ingin mengejeknya, tapi kan tidak boleh body shaming. Begitu juga, karena ia mengandung anakku.
"Lah, mereka udah tidur. Bareng sama Ranty." Aca kembali berjalan ke arah kami.
"Muat tempat tidurnya?" tanya budhe dengan beranjak dari sofa. Mungkin beliau ingin menengok keadaan anak-anak juga.
__ADS_1
"Muat, Bunda." Pandangan Aca tersorot ke kamar yang anak-anak tempati.
"Cucunya a Afan, udah tak sama bunda kau lagi, Ca?" Mamah bertanya dalam suara rendah.
Aca menggeleng. "Udah sembuh istri a Giyatnya."
Oh, ini pasti yang katanya istrinya terkena sindrom baby blues.
"Bunda jadinya urus Nahda." Ia terkekeh.
Rupanya ia senang, jika anaknya ada yang membantu mengurus.
"Pantas kau betah, tak kabur ke Aceh lagi," sindir papah, membuat Aca tertawa lepas.
"Ya udah, Mak Cek ke wa Afan kau dulu ya? Nanti besok ke sana aja sama ayah kau." Mamah bangkit dari duduknya.
"Anak-anak sama Ghifar tinggal di sini aja, Mak Cek."
Ya ampun, Aca.
"Bisa-bisa nanti Ghifar tak bangun-bangun lagi, karena digorok ayah kau," celetuk papah yang membuatnya tertawa geli.
"Nitip anak-anak ya?" Aku berbicara pada istriku.
Aku segera berjalan ke arah barang bawaanku. Tadi sempat mampir ke minimarket terdekat, karena setiap pagi hari anak-anak selalu minum susu pertumbuhan. Angan-angan mereka adalah ingin tumbuh setinggi langit, jadi susu tiga huruf menjadi konsumsi wajib mereka.
"Ini punya Nahda. Ini untuk ibu dan bayinya." Aku menunjukkan empat kotak susu berbeda jenis ini. Dua milik Kal dan Kaf, dua lagi milik Nahda dan Aca.
"Oke, oke." Ternyata ia berdiri di belakangku.
"Ayo, Far." Papah sudah bersiap menarik kopernya.
"Aku ke pak wa Afan dulu." Aku langsung meraih koperku.
"Cium dulu."
Ini gila.
Aku hanya bisa pasrah, ketika seluruh wajahku diberi kecupan manis olehnya. Papah sampai istighfar terus, seperti melihat setan.
"Udah! Bisa abis, Ca!" Mamah menarik lenganku.
__ADS_1
Aku terkekeh geli, melihat istriku cemberut saja.
"Ayo cepat, Far. Udah malam ini." Papah membangunkan koper milikku.
"Ini punya anak-anak nih. Gladi resik urus dua anak, tapi kasih tau ayah kau, bukan maksud kau dijadikan pengasuh. Minggu depan, satu baby sitter yang bakal urus Mak Cek urus Kal dan Kaf datang. Karena Mak Cek kadang repot masak, tak ada yang jaga mereka kalau mereka tak ke pondok biyung." Mamah berbicara sambil berjalan ke arah pintu utama.
"Iya, Mak Cek. Tenang aja." Aku mendengar sahutan dari Aca.
Tidak terasa, pagi ini aku kedatangan tamu yang begitu marah padaku. Padahal mataku masih sepat, tapi sudah dipaksa bangun.
Pukul setengah tujuh pagi, pakdhe Arif datang bersama budhe. Aca dan anak-anak tidak ikut datang bersama pakdhe Arif dan budhe May.
"Kalau memang Aca istri kamu, harusnya kamu datang dan jemput dia."
Tuh, kan? Aku lagi yang disalahin.
"Lah, Mamah ngelarang. Pakdhe tak ridho. Kok aku yang salah?" Bukan maksud hati, aku berani pada orang tua.
"Ya kau tak bilang, Mamah mana tau, Far."
Sudah seperti ini, aku yang disalahkan.
"Lagian, kenapa sih nikah siri?" Pertanyaan macam apa itu. Pakdhe Arif sepertinya tidak mengetahui bagaimana sifat anaknya sendiri.
"Kalau Aa tak ngelarang, ya tak nikah siri." Itu adalah penjelasan dari papah.
"Udah lah, Di. Kamu gak usah membela anak kamu! Kamu aja gitu kan? Ngelakuin hal yang sama kan?"
Loh, kenapa malah orang tua dengan orang tua?
"Eh, A. Kita sama-sama laki-laki, kita pasti paham gimana kita. Orang Acanya juga sama, dia tak siap ditinggal suami dalam arti luas." Papah mengontrol nada bicaranya, meski mereka seumuran. Mungkin karena pakdhe Arif adalah kakaknya mamah, papah mencoba menghormatinya semampunya.
"Aku pun sama, Di. Terhalang restu, ada jalan keluarnya, tanpa ambil siri." Sedangkan beliau, sudah membentak-bentak saja.
"Memang jalan apa yang bakal Ghifar ambil? Udah banyak perjuangannya, perjuangan Aca juga. Sabar mereka udah, ikutin mau Aa pun udah. Namanya anak, aku pun tau bagaimana dia, aku yakin Ghifar tak bakal berani, kalau tak ada yang dorong dia di belakangnya." Secara tidak langsung, papah pun menyudutkan anaknya pakdhe.
"N**** aja yang digedein, aku tau Ghifar cuma butuh penyaluran aja!"
Bagaimana caranya menyikapi orang tua seperti ini.
"A, bukan bermaksud bikin Aa shock. Tapi Aca bilang sendiri juga, bagaimana dia ke anak aku. Kok Aa kesannya kek nyalahin Ghifar aja? Toh, ini pun udah terjadi. Masa, mau dipermasalahkan? Masalah kita sekarang, hanya tentang anak-anak yang buat kita dosa karena pisahkan mereka. Mereka pun sama salahnya, karena menyembunyikan dari kita." Mamah bertutur lembut dalam amarahnya. Mamah bisa seperti ini, hanya ketika dengan keluarganya saja. Mungkin, itu sebagai bentuk rasa sopan santunnya.
__ADS_1
"Ya harusnya kamu kontrol juga dong, Din! Kamu bibinya, Aca ikut kamu. Eh, gak taunya keponakan sendiri dirusak anak kamu."
...****************...