Istri Sambung

Istri Sambung
IS163. Bakso dan Nahda


__ADS_3

"Nahda…," panggilku dengan memasuki ruko galon ini.


Hatiku terenyuh melihat kak Aca duduk di tangga dengan memangku tubuh Nahda. Matanya terpejam, dengan bersandar pada pegangan tangga.


"Papa…," rengeknya saat melihatku.


"Yuk sama Papa. Nahda minum obat belum?" Aku mengulurkan tanganku mencoba menariknya dari pangkuan ibunya.


Gerakan Nahda turun dari pangkuan ibunya tersebut tidak membuat kak Aca terbangun. Wah, tipe-tipe satu dua dengan Canda. Jika sudah tidur, rohnya meninggalkan tubuh mereka.


Bahkan, ketika Nahda sudah di pelukanku. Kak Aca masih mendengkur halus dengan teratur saja. Melihat caranya tertidur, aku jadi ingin terkekeh sendiri. Aku teringat Canda yang pulas di lengan Ghava, saat menjemput mamah di kota Lhokseumawe.


"Udaranya dingin, Far! Jangan dibawa keluar!" Peringatan bang Givan keluar, saat aku berdiri di ambang pintu.


"Mau aku bawa balik aja lah, biar sama Kal Kaf di sana." Aku masih bertahan di ambang pintu.


"Nih baksonya bawa!" Bang Givan mengulurkan kantong plastik berwarna putih, yang berisi bakso kuah yang dibungkus dengan plastik lagi.


"Masuk, Canda! Makan di dalam aja, kasih ke ibu sama kak Aca." Bang Givan menggiring istrinya.


Jika itu aku, aku akan menggunakan perintah yang halus disertai kata tolong ketika menyuruh. Tapi ya sudahlah, beda orang.


"Gih, katanya mau balik bawa Nahda?" Pengusiran rupanya.


"Ya ampun, main sebentar pun tak boleh." Aku melangkah keluar.


"Main apa ke istri orang? Baliklah sana! Udah malam!" ketus suami orang ini.


"Main-main lah, kan mumpung suaminya mau keluar." Bukan aku yang mengatakan, tetapi Canda.


Sungguh, atmosfernya langsung horor. Lihat saja, leher Canda langsung dikempit di ketiak suaminya. Sedangkan Canda, ia malah tertawa lepas.


"Orang sama adik sendiri tuh, udah macam kek ke siapa aja." Canda menepuk lengan suaminya, agar dirinya dilepaskan.


"Cemburuan, tapi pakai alasan udah malam," timpalku kemudian.


Bang Givan langsung memelototiku. "Mana ada cemburu!" Gengsinya kentara besar sekali. "Sana tuh pulang! Udah malam." Ia mengusirku sekali lagi.

__ADS_1


"Iya, iya." Aku beranjak turun dari teras, dengan seporsi bakso dan anak perempuan yang sholehah ini.


Meski ia tengah sumeng dan hari sudah malam juga, kerudungnya tetap tidak lepas.


"Bobo sama Kal dan Kaf ya?" Meski anak-anakku lebih tua, tapi kak Aca adalah anak dari kakaknya mamah. Status susunan dalam keluarga besar, Nahda adalah anak dari saudara tua.


"Kak Kal? Bang Kaf? Di mana?" Rasanya aku ingin memasukkan saja ke dalam kartu keluargaku.


"Di kamar luas, sama Papa juga." Aku sudah berjalan untuk masuk dari pintu samping kembali.


"Apa itu? Enak ya?" Nahda menunjuk kantong plastik yang aku bawa.


"Bakso, mau kah? Papa suapin ya?" Aku berbelok ke arah dapur.


Aku teringat saat aku pulang dari menunggu Canda di rumah sakit, lalu pulang dengan bekal nasi Padang dari bang Givan. Aku memberikan pada kak Aca, dengan Nahda yang memakannya.


"Mau. Pedas gak?"


Wah, selancar ini cara komunikasi anak ini. Aku semakin gemas saja.


"Tak, duduk ya? Papa buka dulu." Untungnya, bang Givan memisah sambalnya.


"Papa mam." Nahda menunjuk semangkuk bakso yang tengah aku suapkan padanya.


"Iya, buat Nahda aja." Bodohnya aku malah berpikir, bahwa Nahda pasti jarang makan enak. Padahal jelas, keluarga kak Aca pun tidak kekurangan.


Hanya pemikiranku saja, aku tidak tahu pasti apakah Nahda memang doyan makan atau memang jarang makan enak.


Mamah menjadi orang kaya tidak sendirian, ia membagi usahanya dengan saudara-saudaranya. Mendengar cerita dari papah, saudara mamah adalah kebanyakannya buruh dan upahnya hanya cukup untuk sehari-hari. Tapi setelah mamah memiliki usaha yang berhasil, saudara-saudaranya pun menikmati hasilnya dan diajarkan usaha juga. Bahkan mamah yang menyongsong modalnya, tanpa imbalan yang penting dijalankan sampai perekonomian saudara-saudaranya stabil semua.


Mamah bagaikan Dewi Fortuna, bagi mereka yang dekat dengan mamah. Tapi mamah bisa menjadi sebaliknya, ketika ada yang bermain-main dengannya. Termasuk papahku juga merasakan permainan mamah. Tulang rusuknya sampai patah, karena permainan dari mamah. Tulang rusuk dalam artian sebenarnya, bukan kiasan.


Nahda bersin beberapa kali, sampai air hidungnya keluar. Dengan cepat, aku membersihkannya dan memberinya minum.


"Mau sembuh, Papa." Ia merengek kembali.


Aku teringat akan ucapan mamah. Anak yang sakit akan cepat sembuh, jika banyak makan makanan sehat dan tidur yang cukup. Tapi perlu obat juga, untuk meringankan flu yang dialami.

__ADS_1


"Nahda minum obat belum?" tanyaku dengan menaruh gelas di atas meja.


"Udah, mau disuntik aja biar sembuh." Nahda menggosok hidungnya sendiri.


Kata siapa flu diobati dengan suntikan bisa sembuh?


"Makan yang banyak, terus bobo, biar cepat sembuh. Jangan begadang aja." Aku teringat akan anak ini yang doyan begadang.


Seperti Chandra kecil, yang suka begadang semalaman. Namun, kebiasan buruk itu hilang setelah ia diambil alih oleh ayahnya yang galak itu. Saat itu pun, Chandra sudah memasuki usia taman kanak-kanak. Di situ juga, Chandra diajarkan mandiri dan berani.


Awalnya aku melihat anak itu seperti tertekan. Tapi ayahnya selalu memarahiku, ketika aku campur tangan untuk mendidik Chandra. Hingga akhirnya, Chandra tumbuh menjadi seorang mafia kecil yang selalu meledek ayahnya dengan julukan bos tambang.


Chandra menjadi anak yang pemberani dan sangat menjaga adik-adiknya. Tapi ia selalu bentrok dengan Jasmine, lantaran Jasmine tidak mau memanggilnya abang. Sepele memang, tapi membuat anak itu naik pitam ketika namanya disebut tanpa embel-embel 'bang'.


"Aku gak apa sendirian, mama bobo. Gak apa-apa, yang penting jangan keluyuran di luar kamar, nanti ganggu orang lain." Bisa-bisanya ia membela kebiasaan begadangnya dengan pembelaan seperti itu.


"Ya bobo, jangan begadang berarti. Kan gak enak, nanti ganggu orang." Aku mencoba mengecoh ucapannya sendiri.


Matanya berkedip polos. Ia manggut-manggut tanpa suara. Apa ya yang anak ini pikirkan?


"Bobo, nanti besok ikut Papa antar bang Kaf sekolah. Di sana ada perosotan, ayunan, jungkat-jungkit." Umumnya gambaran taman kanak-kanak.


Aku mencoba mengikutinya yang menyebut Kaf dengan tambahan abang. Entah apa alasannya, entah juga siapa yang mengajarkannya. Padahal mamah pasti mengajarkan semua anak-anak memanggil dengan tambahan kakak atau abang, pada saudara tua.


"Mau bobo, nanti ikut antar sekolah." Ia kegirangan.


"Oke, mamnya habiskan dulu." Aku menyuapinya lagi.


Tidak kurang-kurangnya aku mengurus anak sendiri, tapi tetap tertarik untuk mengurus anak orang. Chandra salah satu contoh kecilnya, karena anak-anak yang lain dilarang ibunya dengan alasan takut dimasak oleh Kin. Informasi ini, aku dapatkan dari mulut Canda sendiri.


Setelah semua saudara tahu, bahwa Kin mengidap sindrom othello. Mereka seperti mengurangi bahkan membatasi anak-anak untuk main ke rumahku. Padahal, rumahku terbuka lebar untuk tempat bermain para anak-anak. Aku sampai membuatkan ruangan khusus, agar anak-anak betah bermain di rumahku. Tapi mendadak sepi seketika dan aku merehab ruangan tersebut, karena anak-anakku pun beranjak besar. Aktivitas mereka, tidak hanya di ruang bermain saja.


"Papa, aku mau ikut antar sekolah ya?" Sepertinya anak ini kini mendambakan taman bermain yang aman. Sayangnya, aku sudah tidak memilikinya lagi.


"Iya, nanti Papa ajak Nahda cobain perosotan sama ayunan." Karena Kaf biasanya minta ditemani sampai bel berbunyi. Dengan demikian, aku bisa mengajak Nahda untuk menjajal perosotan dan wahana bermain anak-anak lainnya.


Ah, semoga dengan ini. Aku bisa sedikit membahagiakan hati anak yatim ini. Bukan aku fokus pada Nahda saja, tapi tentu aku pun tidak melalaikan kebahagiaan anak-anakku.

__ADS_1


Namun, aku tiba-tiba teringat akan perlengkapan sekolah anak-anak. Haduh, aku lupa mereka tengah libur panjang. Aku terlanjur berucap, akan aku bawa ke mana anak yang menginginkan perosotan dan wahana lain ini besok?


...****************...


__ADS_2