
"Jangan dikasih merah-merah! Aku duda, Nih! Apa tanggapan orang-orang nanti? Gimana pikiran orang tua aku nanti?" aku menggerakkan leherku, saat h*sapan kecil aku rasakan.
Novi melepaskan bibirnya dari sana. Namun, benda kenyal itu berpindah ke pipiku.
Aku teringat Kinasya, jika ia seperti ini. Bukannya naluriku bangkit, tetapi malah aku merasa mengkhianati istriku.
"Udah, Nov!" aku menahan tangannya, karena ia mengunci pergerakan leherku.
Novi tetap melanjutkan kegiatannya. Bahkan, bibirnya sudah berada di pojok bibirku. Tanpa berpikir tentang hal yang ada di pikirannya, aku langsung menahan kepala Novi.
Kemudian, aku merangkulnya. Aku mengunci pergerakannya, agar ia tetap bersandar di dadaku saja.
"Jangan macem-macem, Nov! Aku bukan duda panas. Jangan segala cium-cium aku begini, biar aku jadi panas. Yang ada aku demam, bukannya nyerang kau." aku menahannya untuk tetap mendengar detak jantungku saja.
Tangannya mengukir sesuatu di dadaku. Entah apa yang ia tuliskan di sana.
"Aku cuma ngeklaim, bahwa kau milik aku aja." jawabnya enteng.
Milikku! Milikku! Endasmu!
Belum tahu saja dia, jika pusakaku sudah sehat. Rasanya, aku ingin mengancamnya saja.
"Aku milik ibuku, Nov."
Tiba-tiba punggungnya tegak sempurna. Kepalanya tidak lagi berada di dadaku. Ia memandangku begitu intens, dengan dahi yang mengkerut.
"Apa kau bisa adil bagi diri kau nanti, Far? Untuk ibumu, aku dan juga anak kau?"
Pertanyaan macam apa ini?
"Adil gimana? Masalah uang? Aku rutin ngasih mamah uang sekarang, karena mamah pun yang jajanin anak-anak aku. Anak aku minta uangnya sama mamah, kalau mereka pengen jajan. Setiap bulan Kin belanja sembako juga, kita selalu beli doble. Contoh beras dua puluh lima kilo, ya beli dua. Satu buat mamah, satu buat dapur kita. Daging frozen, gula, teh, kopi, penyedap rasa, garam, bihun dan mie instan sepuluh biji. Uang buat jajan mamah juga aku kasih, sepakat sama anak-anak laki-laki mamah yang lain. Sebulan dua setengah jutaan dari aku, bang Givan, Ghava sama Ghavi. Kalau sekarang, aku ngasih uang semua sekitar tujuh jutaan, karena kau tak pernah beli sembako bulanan." ucapku dengan memperhatikan wajahnya. Aku kini berpikiran jelek tentang Novi.
"Kalau kau halangin aku, atau ngelarang aku bagi rejeki aku ke mamah, mending kita tak jadi nikah aja. Itu belum seberapa yang aku ceritakan ke kau. Kemarin saat usaha travel aku ada di usaha tertingginya, aku bahkan rutin ngasih mamah barang mahal. Entah itu perhiasan, tas mahal yang Kin beli, aku juga beli untuk mamah. Biarin aja, meski papah mampu belikan. Aku anak mamah, ada tanggung jawab aku, untuk nyenengin hati mamah. Aku bahkan tak perhitungan, masa mamah minta beli mobil, atau minta sesuatu yang harganya tak masuk akal." aku membeberkan semuanya ke Novi.
__ADS_1
Biar saja, agar aku tahu bagaimana tanggapan Novi.
Aku paham, banyak perempuan yang jenis seperti ini. Di mana mereka tidak ridho berbagi rejeki, dengan orang tua suaminya.
"Apa kau tetep ngasih, misal tanpa seizin aku? Apa kau main langsung kasih, tanpa bilang apapun ke aku?"
"Aku bukan bang Givan. Apalagi, ditambah Kin galak. Jangankan pembelian yang mencurigakan. Aku debit bayar kopi di coffee shop aja, dia pasti nanya aku ngapain dan sama siapa, jajan apa aja di coffee shop." aku harap Novi mengerti akan sifatku.
Aku menarik nama bang Givan, karena bukan rahasia lagi tentang bang Givan yang mengatur keuangan keluarga. Ia menjatah istrinya sekian juta, untuk sebulan. Lalu ia bebas memberikan uangnya ke orang tuanya, atau untuk membeli properti lain.
Saat sang suami mencari nafkah, maka ialah yang berkewajiban memenuhi nafkah bagi istri dan anak. Namun, tidak berarti seluruh penghasilan suami merupakan milik istri. Istri memanglah berhak atas penghasilan dari suami, tetapi perlu digaris bawahi, ambillah secukupnya. Tidak dibenarkan untuk mengambil melebihi dari apa yang dibutuhkan. Itu adalah ilmu yang bang Givan genggam, untuk keuangannya. Tetapi, ia pun cukup bijak menggunakan uangnya.
Bedanya, bang Givan tidak akan meminta izin istrinya lagi untuk memberi uangnya pada orang tuanya. Berbeda dengan pola pikirku, yang mencoba transparan untuk segala hal.
Aku selalu menjelaskan dan meminta pertimbangan Kin. Karena rejekiku pun seret, jika tidak mendapat ridho dari istriku. Ditambah lagi, perang antara aku dan istriku, jika terjadi diskomunikasi.
"Dalam artian?" Novi menatapku serius.
"Aku transparan. Tapi aku maksa, jika untuk kepentingan mamah." jawabku kemudian.
Novi mengangguk, "Aku yakin kau pandai memuliakan istrimu, Far."
Apa ia meragukanku?
"Aku pasti nganggap kau istri aku nanti, Nov. Jangan khawatir tak aku kenalkan ke saudara, atau relasi kerja. Tapi tetap, aku ingin kau di rumah aja kek Kin." aku sudah berpikir ke arah ini.
Novi menghela nafasnya, "Apa jadinya, kalau perusahaan kau tanpa aku?"
Sesombong itu mulutnya.
"Ada aku yang bisa fokus ke perusahaan. Kalau kau di rumah, aku bisa fokus kerja. Pikiran aku tak mungkin ke anak-anak melulu, aku tak mungkin selalu khawatir sama anak-anak yang sama ibunya." ini adalah aku, saat Kinasya tidak melakukan hal yang membuat kami berpisah itu.
Novi menghela nafasnya, "Ya, semoga kau bisa ngemban tanggung jawab perusahaan kau sendiri." ia melirikku sekilas, "Aku akan fokus jadi ibu rumah tangga juga." lanjutnya kemudian.
__ADS_1
"Aku pengen, kita secepatnya."
Dengan dia seperti ini. Aku selalu berprasangka, apa ia hamil anak kekasihnya?
"Nov…. Jujur sama aku, kau perawan atau tak? Aku tak menuntut keperawanan kau, tapi aku butuh kejujuran kau." aku cukup tahu diri, bahwa aku pun bekas mendiang Istriku.
Duduknya lebih dekat denganku. Kemudian, ia membelai wajahku dan menghadapkannya ke wajahnya.
"Kau tak percaya sama aku, Far? Kau butuh apa dari aku? Apa kau butuh pembuktian lebih awal?"
Aku mencoba memundurkan kepalaku. Apa maksudnya?
Namun, aku teringat akan kontrakan yang Kin tempati dulu. Di mana, aku mencoba menerobosnya lebih awal. Di mana, Kin pasrah dengan alasan aku akan menikahinya. Meski itu gagal terjadi sekalipun, tetapi tetap membuat cerita yang abadi di ingatanku.
Sebodoh itu perempuan, dalam alasan atas nama cinta. Sepasrah itu perempuan, pada laki-laki yang mereka cintai.
"Far…." Novi menyentuh kelopak mataku, karena aku sejak tadi hanya tertunduk.
Aku berniat menikahinya, bukan untuk kebutuhan se*sual. Apa pantas, ia menanyakan hal itu padaku? Apa pantas juga, aku menuntut pembuktian darinya?
"Aku cuma pengen kau jujur." aku berbicara dalam nada rendah.
"Aku udah jujur, tapi nampaknya kau tak percaya. Jadi aku mesti gimana nyikapin kau, Far? Apa kau mau buktiin sekarang? Biar kau percaya sama ucapan aku."
Apa ia menawariku? Novi terkesan mengobral dirinya sendiri.
"Nov, aku tak sekaya yang kau pikir. Kalau kau beranggapan ingin hidup enak sama aku, kau salah besar." pikiranku malah memiliki kecurigaan lain.
"Aku bahkan pernah minta kau jandakan aku setelah kau resmi jadi suami kau kan? Aku cuma minta status sebagai istri, Far. Bukan aku pengen jadi nyonya, karena nikah sama yang punya perusahaan." Novi meninggikan suaranya.
"Udah daripada banyak lagi tuduhan kau ke akun. Lebih baik kau buktikan sekarang. Toh, kita pasti menikah juga kan? Sekarang atau nanti, kita tetap jadi suami istri." ucap Novi, dengan menggenggam tanganku dengan kedua tangannya.
...****************...
__ADS_1