
"Istirahat, Ma. Udah malam." Aku menepuk pelan tempat di sebelah Nahda, yang baru aku rebahkan dari gendonganku.
Kami memilih untuk mengambil sebuah kamar hotel, untuk tempat inap kami sebelum melanjutkan perjalanan ke Cirebon kembali. Aca sudah terlihat mengantuk, ia harus tidur dengan nyaman, agar keadaannya selalu fit. Dengan Nahda yang sudah tidak berdaya, sejak kami turun dari pesawat tadi. Nahda yang sekarang, bukanlah Nahda yang suka begadang lagi.
"Pengen dekat Papa." Ia memanyunkan bibirnya dengan manja.
"Bentar ya? Mau bersih-bersih dulu." Aku beranjak ke kamar mandi hotel.
Badan sudah lelah, nyatanya berdekatan seperti ini bukanlah jalan terbaik untuk segera beristirahat. Yang ada, tenaga kami makin dikuras habis dengan otot-otot yang menegang. Dengan serakahnya, kami bahkan mengulanginya lagi, sampai benih-benihku masuk ke dalam kerongkongannya lagi.
Kami tidak tahu waktu dan tidak mengerti lelah juga. Awalnya memang hanya ingin beristirahat saja, tapi nyatanya kami malah melakukan adegan dewasa lagi dan lagi.
Hufttt…. Hawa pengantin baru memang.
"Rileks aja, santai aja. Jangan buru-buru ngomong, Pa. Pura-pura ngunjungin biasa aja. Papa juga istirahat dulu, tak perlu buru-buru ngomong." Wejangan diberikannya ketika travel kami sudah masuk ke kampung halaman ibuku.
"Oh, oke." Aku yakin, aku bisa melakukannya.
Sebelumnya, aku mana pernah berhadapan dengan calon mertua dan meminta restu secara langsung. Bolehlah, aku dikatakan dengan anak mami. Namun, keadaan lah yang tak pernah membuatku harus meminta restu.
"Assalamualaikum…."
Kami sudah sampai di rumah minimalis, yang awalnya adalah milik mamah. Rumah ini sudah banyak perubahan, meskipun kecil tapi terlihat begitu mewah.
"Wa'alaikum salam." Budhe keluar dari rumah. Raut bahagianya begitu kentara sekali. "Hei, cucu Bunda. Kangen banget Bunda sama Nahda." Budhe langsung menerjang cucunya saja.
Aku jadi kikuk padanya, karena ia malah lebih fokus pada Nahda. Ia tidak menyambutku, yang setahun sekali pun tidak tentu untuk merayakan lebaran di sini.
Mamah benar-benar hampir tidak pernah pulang kampung. Beliau sudah nyaman, betah dan menetap di Aceh selama itu.
"Bun, ada Ghifar." Kak Aca menyentuh lengan ibunya.
Beliau baru melirikku. Sepertinya, beliau pun baru menyadari keberadaanku.
"Hei, Far…." Budhe langsung menepuk lenganku dan aku langsung mencium tangannya.
"Sehat, Budhe?" tanyaku ramah.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sehat. Gimana mamahmu di sana? Sehat-sehat dia? Sehat-sehat keluargamu di sana?" Beliau mempersilahkan aku untuk masuk.
"Alhamdulillah, sehat semua, Budhe." Aku tersenyum amat ramah.
Apa beliau tidak tahu, tentang aku yang memiliki kedekatan khusus dengan anaknya? Apa pakdhe Arif tidak bercerita, tentang mamah yang meminta Aca dari mereka.
"Sini istirahat dulu. Mau makan apa, Far? Budhe gofoodin ya?"
Baru juga aku menghempaskan alas dudukku di kursi ruang tamu.
"Nanti aja, Budhe." Kami sudah singgah untuk makan.
"Suruh istirahat aja dulu, Bun. Ayah mana?" Kak Aca menyusun koper milik kami.
"Oh, iya-iya. Gin anterin ke kamar kamu aja, nanti biar Nahda sama kamu di kamar bunda."
Ada dua anak perempuan juga di ini, Tapi aku tidak paham, siapa mereka. Pernah dengar kak Aca punya adik pun, aku lupa dengan wujud adiknya.
"Oke, Bunda." Kak Aca membawa dia koper kami.
Memang cukup melelahkan, aku langsung tidur saja, setelah Aca menutup pintu kamar ini. Aku masih mengantuk, karena semalam begadang dengannya terus dengannya hingga hari semakin pagi.
Tidurku cukup terganggu, mendengar kehebohan di rumah ini. Suara anak-anak, sama seperti Kal dan saudara-saudaranya.
Rupanya, pakdhe pun belum kembali juga dari pekerjaannya. Aku segera mandi dan merapikan diri, sebelum pakdhe datang dan mengajakku berbincang.
Sampai akhirnya, kami benar-benar memiliki waktu yang pas. "Anak-anak sekolah, Pakdhe. Barulah minggu kemarin, Kaf naik ke kelas dua, Kal naik ke kelas empat." Aku ditanya tentang anak-anakku.
"Ohh, baru dua kah anak-anak kamu?" tanyanya kembali, kami duduk di teras rumah dan mengobrol santai.
"Iya, Pak Cek. Baru dua." Tiga dengan Nahda.
"Dari yang baru berarti tak sempat punya anak kah?"
Apa yang dia maksud itu Novi?
"Belum sempat, Pakdhe," sahutku kemudian.
__ADS_1
"Berapa bulan nikah berarti terus cerai, Far?" Aku malah khawatir ia malah menanyakan bercerai karena apa. Bukannya apa-apa, masa aku harus mengumbar aib yang sudah ditutupi sesempurna mungkin.
"Ada sih setahun." Ini tidak termasuk kasus perceraianku yang memakan waktu setahun lebih sendiri.
"Masih baru ya? Kok cerai, Far? Karena apa itu?"
Kan?
"Tak cocok aja mungkin, Pakdhe. Soalnya sebelum nikah tak ada pengenalan lebih baik dulu. Niatnya juga, yang mungkin salah. Mantan istri aku ini umurnya di atas Kak Aca, tapi masih perawan. Dia diolok-olok perawan tua lah, segala macam. Jadi itu, ya ngomongnya sembarang aja. Tak apa nikah, meski jadi janda nantinya. Gitu kata dia. Posisi aku pun saat itu, anak aku yang kecil abis kecelakaan di rumah sendiri. Ambil makan, mangkuk panas jatuh kena kakinya. Jadi pikir aku, nikah biar anak di rumah ada temannya." Aku sengaja tidak mencerminkan pokok inti perceraian kami.
"Sekarang anak-anak sama siapa? Memangnya gak ambil jasa pengasuh?"
"Sama mamah lagi. Sebelum nikah itu, pernah punya pengasuh dan ART. Tapi rupanya dia garong. Perhiasan Kin, barang-barang Kin itu diambil. Mana itu, punya pengasuh, tapi anak-anak itu main sampai aku balik kerja. Pas balik, si pengasuh sama ART lagi ongkang-ongkang kaki di rumah. Ya udah itu, langsung aku balikin ke yayasan. Eh, tak taunya mereka pergi ini bawa bekel." Aku menggeleng samar, merasa kesal sendiri karena teringat kejadian itu.
"Ya ampun, ada ya ternyata yang kaya gitu?" Obrolannya memang santai, tapi begitu menelisik.
Aku mengangguk. "Ada, Pakdhe. Dari nikah sama Novi kemarin pun, anak-anak malah mau sama neneknya." Ini ketika Novi mulai menjadi pengatur yang tegas, anak-anak sampai takut dengannya.
"Kenapa memang itu?"
"Terlalu militer tuh, padahal sih ya memang bagus. Tapi bukannya anak-anak segan, mereka jadi berani memberontak. Jadi kabur mereka, minta sama neneknya terus." Aku mungkin menjawab apa adanya, tapi pasti terdengar aneh di mata mereka.
"Yang besar pernah cerita tuh, Yah. Katanya, pulang sekolah itu malah takut pulang ke rumah. Langsung main dia, jadi lebih-lebih kena marah," tambah kak Aca.
"Oh, berarti kamu udah di sana?" Pakdhe Arif bertanya pada anaknya.
Kak Aca mengangguk. "Aku baru di sana itu, Ghifar nikah sama Novi."
"Berarti kalian belum dekat ya? Apa jangan-jangan cerai itu, karena kamu, Ca?" Pakdhe malah menuduh anaknya segala.
"Tak lah, Yah. Setelah ada anak abi Haris, yang pernah ke sini antar aku sama Ghifar itu, Yah." Kak Aca benar membantuku menjawab pertanyaan ayahnya.
Pakdhe Arif manggut-manggut. "Nanti kamu malah dipakai jadi baby sitternya lagi. Mending-mending sama Givan kamu dibayar."
Loh? Kok seperti itu ucapannya?
...****************...
__ADS_1