
"Udah kebaca." Papah turun dari bangku panjang ini.
"Nyari yang kek Canda, tak mungkin ada duplikatnya! Sekalipun mirip, masih sanak saudara juga. Jangan terlalu mematok hati kau, kau akan menyakiti diri sendiri. Beruntung loh kau ini, Far. Meskipun hati kau udah mati rasa begini, Kin mampu mencintai kau sampai akhir hayatnya. Novi yang belum lama kau persunting pun, memasrahkan hidupnya dengan kau. Terus dengan tidak tahu dirinya, kau masih cinta sama mantan pacar kau? Udah sebelas tahun berlalu loh, Far! Kau kembangkan perasaan kau bagai deposito berjangka. Dengan terus-menerus kek gini, seumur hidup kau tak pernah ngerasain bahagia. Dua anak yang Kin kasih, nyatanya tak mampu geser posisi Canda di hati kau. Kecantikan dan ketelatenan yang Novi kasih, tak mampu buat kau sadar akan siapa yang ngurus dan ngebakti sama kau. Kau adalah laki-laki yang paling merugi, karena tak pernah mau mencoba mencintai yang halal untuk kau. Masanya Novi ninggalin kau, kau baru sadar apa itu artinya menyesal karena menyia-nyiakan dirinya. Meninggalnya Kin nyatanya tak buat kau sadar, bahwa seorang istri itu butuh rasa cinta dari suaminya! Apa tak pernah berpikir, kalau semua ini teguran nyata untuk kau? Jika dilirik dari takdir, memang Yang Kuasa sudah menggariskan semuanya. Tapi berpikirlah kenapa Yang Kuasa merenggut nyawa perempuan yang amat cinta sama kau itu? Karena kau tak pantas, untuk mendapatkan rasa yang suci itu dari perempuan yang terbaik kek Kin. Terus dalam kesempatan kedua, kau mau ulangi lagi begitu? Kau bukan laki-laki baik, Far! Kau tak tau diri! Kau tak tau caranya bersyukur! Kau pun tak tau cara sederhana untuk berterima kasih!" Papah berlalu pergi setelah mengatakan hal itu.
Benarkah seperti ini kenyataannya? Aku kehilangan Kin, karena tak menghargai rasa cintanya?
"Kek…. Au nana?" seruan lepas itu, dari anak kecil yang baru masuk ke halaman rumah.
"Mau naruh gelas." Papah menoleh ke belakang, dengan menunjukkan gelas yang dibawanya.
"Ain yuk? La pian nih." Ra berjalan sombong dengan menyeret boneka berbulu lembut.
Aduh, jika Kal pasti menangis ketika bonekanya diseret oleh adiknya.
"Waduh, Ra kesepian? Kata siapa tau kesepian?" Papah berjalan kembali menghampiri Ra, kemudian menggandeng tangan gadis kecil itu.
"Tuh, Yayah. Yayah ma iyung aja, Ra pian." Ra menurut ketika digandeng masuk ke dalam rumah oleh kakeknya.
Celotehan Ra, membuat senyumku sedikit terukir.
Aku pun tidak pernah berharap bisa kembali dengan Canda. Kesempatanku sudah habis, kala Canda menolak untuk menjadi istri keduaku dulu. Aku tak menginginkan penolakan lagi darinya, aku cukup tahu diri dengan keadaanku. Aku tidak berharap lagi, untuk bisa kembali dan bahagia bersamanya.
Aku sadar, bahwa ia iparku. Aku sadar, bahwa kami sudah memiliki jalannya sendiri-sendiri. Aku mengerti, bahwa memang ia sudah bahagia dengan kakakku. Tapi aku pun tak mengerti, kenapa aku masih memiliki perasaan yang satu dekade lebih kusimpan seorang diri.
Aku pun sebenarnya lelah, miris dan frustasi dengan diriku sendiri. Beribu kalimat aku nyatakan, bahwa aku amat mencintai Kin. Nyatanya tak mampu menutupi alam bawa sadarku, bahwa nama unik itu masih tetap bersemayam.
Seburuk kemarin, saat aku ditinggal Kin. Enam bulan aku lalui untuk menyendiri, lalu membiasakan diri tanpa Kin. Tapi lebih dari sepuluh tahun, aku masih mengusahakan untuk menghapus nama Canda di hatiku.
Tiga tahun penuh perjuangan di awal perpisahan kami, agar membuatku sadar bahwa Canda memang sudah milik kakakku dan menjadi iparku. Sepenuh hati, sesadarnya pikiran dan segenap rasa yang aku korbankan, untuk kembali dengan alasan rindu dengan orang tua.
Kini kenyataan-kenyataan itu, seperti dikuak dan menamparku dari tidur panjangku kembali. Siapa saja, harusnya tolong jangan ingatkan hal itu.
__ADS_1
Aku masih teringat jelas bagaimana isak tangisnya, letak lukanya dan darah mengalirnya dari tubuh Canda. Sekarang, seharian ini berbagai pihak mengungkit rasa cintaku itu yang aku kubur dalam-dalam.
Jika aku boleh meminta pada Canda. Canda…. Tolong bawa kenangan kita, dengan kebahagiaan yang pernah kau bagi denganku dulu. Jangan pernah ingatkan tentang rasa masakanmu, jangan pernah ingatkan tentang milkshake itu, jangan pernah ingatkan tentang rumah subsidi itu, jangan pernah ingatkan juga bagaimana kau patuh denganku.
Tidak lama menjalin kedekatan dengan kau, hanya dua bulan, Canda. Tapi lebih dari sepuluh tahun, aku masih tetap jalan di tempat.
Apa ini karma, karena dulu pernah menolak cintamu? Tapi aku rasa, aku sudah membalasnya dan memberikan rasa yang sama.
Sekarang bagaimana denganku?
Dua kali berganti istri, mereka memiliki tempat lain tanpa menggeser posisimu.
Kau tidaklah spesial, tidak juga terbaik, tidak pula menarik. Tapi, aku adalah orang yang membuatmu dalam keadaan ini.
Andai saja, aku tidak mengenalmu. Andai saja, kita tidak pernah bertemu. Andai saja, kau tak datang ke rumah subsidi itu.
Maaf, Canda. Aku lalai memberitahumu, bahwa aku tidak di rumah itu.
Lalu bagaimana aku sekarang?
Sedangkan kau, kau telah berdamai dengan traumamu itu? Kau telah berdamai dengan masa lalumu dan si pelaku.
"Papa…. Ninih ain." Lambaian tangan kecil itu, bukti nyata atas kebahagiaan kau dengan pelaku yang membuatmu hancur di awal cerita.
Aku menyungging senyum dan mengangguk, "Papa mau jemput Kaf dulu ya? Nanti kita main bareng." Aku bangkit dan memasukkan tanganku ke saku celanaku.
Dari jauh, terlihat kepala kecil itu mengangguk.
"La ma Kakek, Pa. Nati ninih ya?" Suaranya begitu lepas dan ceria.
Bahkan, anak-anakmu pun aku perhatikan dan besarkan dengan segenap kemampuanku. Kau tak akan tahu, bagaimana perjuanganku agar Kin mau mengurus anak kau dengan kakakku. Anak laki-laki hebat, yang aku sebut sebagai anak kita. Chandra, besar nanti kau harus tahu bagaimana laki-laki ini amat mencintai ibumu. Namun, tak pernah sampai di titik kebahagiaan.
__ADS_1
Aku mengangguk, kemudian melangkah meninggalkan halaman. Teriknya matahari, aku rasakan begitu membakar kepalaku.
Aku masih ingat, saat kau harus pergi dengan rasa kecewamu. Aku masih ingat, pertengkaran yang terjadi setiap aku menyebut namamu. Aku masih ingat, bagaimana bodohnya aku menyerahkan jerih payahku untuk dijadikan sebagai alat pelacak keberadaan kau.
Aku tak pernah ingin kau lenyap dari pandangan, lalu hal serupa membuatmu trauma kembali. Aku ingin tetap menjagamu, meski dengan caraku sendiri.
"Sakit kali, Mas."
Pergerakanmu, terlihat jelas di depan mataku. Ditambah dengan seorang pelaku yang kini mendapat karmanya, karena harus selelah itu membuatmu nyaman dan membesarkan anak-anakmu.
"Duduk coba! Diusap-usap kah? Atau dikipas-kipas?" Bang Givan masih mengekori Canda, yang bolak-balik di teras rumah dengan menahan pinggangnya.
Tangan kokoh itu, terus mengayunkan kipas pipih tradisional yang terbuat dari anyaman.
Pancaran kasih sayang dan kekhawatiran, begitu tersirat di mata pelaku pemerkosaanmu, Canda. Lihatlah dia sekarang, ia malah bahagia denganmu.
Lalu, bagaimana aku sekarang?
Di mana kebahagiaanku?
Kenapa semesta tak pernah mengizinkan aku bahagia, meski tidak denganmu?
Kenapa kebahagiaanku terbatas dan berkadar rendah?
Bagaimana denganku, Canda?
Apakah kau pernah berpikir, tentang bagaimana aku?
...****************...
Untuk yang baru baca, mungkin bingung ya? Scene yang disebutkan itu, ada di Belenggu Delapan Saudara dan Canda Pagi Dinanti. 😉
__ADS_1