Istri Sambung

Istri Sambung
IS272. Malam di rumah sakit


__ADS_3

Harusnya aku memiliki pikiran, bahwa ukuran milikku ini ya memang cukup besar dan panjang juga. Dengan resiko Aca dan penyelundupan barang sebesar itu, kini Aca harus dirujuk ke rumah sakit.


Bodoh memang aku ini. Sudah begini, rasanya aku ingin menyalahkan diriku sendiri.


"Harapan hidup bayi hanya tujuh belas persen sampai lima puluh persen, kalau sampai dilahirkan di usia kandungan dua puluh enam dan dua puluh tujuh minggu. Jadi lain kali hati-hati ya, Pak? Usia kandungannya masih belum cukup untuk dilahirkan. Kalau usia kandungannya udah delapan bulan, kita mungkin ambil resiko sesar biar dua-duanya selamat."


Aku semakin bertambah bersalah, mendengar penjelasan dokter yang menangani Aca.


"Apalagi ini beratnya cuma enam ratus delapan puluh gram," tambah dokter tersebut.


Ada tidak dokter yang tidak menakut-nakuti?


"Sekarang udah diberi obat penguat, karena ada pendarahan ringan juga," lanjut dokter dengan menuliskan sesuatu pada buku besar miliknya.


"Kita lihat perkembangan besok pagi, Pak. Udah diberi beberapa obat dan suntikan lewat infus juga. Semoga pendarahannya berhenti, kontraksinya berhenti."


Aku mengangguk. "Aamiin, Saya permisi dulu." Aku pamit dari ruangan dokter ini.


Aku pergi terburu-buru dalam keadaan junub, begitupun dengan Aca. Setelah selesai berhubungan badan, beberapa menit kemudian Aca mengatakan ingin buang air besar. Saat itu juga, ia menunjukkan noda merah pada segitiganya. Setelah itu, kami langsung siap-siap berangkat ke rumah sakit. Dengan anak-anak dijaga oleh ART kami, yang bernama bu Tami.


Aku sudah menitipkan anak dan rumah juga pada Ghavi, yang masih berada di Riyana Studio. Ia masih di sana, dengan menjaga Athaya. Anak itu suka begadang juga, meski esok pagi sekolah. Athaya seperti Chandra kecil, ia suka begadang dan tidur saat sore hari.


"Kenapa katanya, Pa?"


Aku kembali ke kamar rawat inap istriku.


"Ya observasi dulu sampai besok. Berhenti tak pendarahan dan kontraksinya." Aku tidak menceritakan hal-hal buruk yang dokter sampaikan tadi, aku tidak mau Aca menjadi memiliki dan stress.


"Duh, maafin Mama ya, Nak?" Ia mengusap-usap perutnya sendiri.


Maafin papa juga, Nak. Papah tidak tahan godaan dari mama kau itu.


"Tapi pas USG dadakan tadi, kita jadi tau kalau anak kita perempuan. Sebelumnya, belum terbaca jenis k****** anak kita." Ia tersenyum dan menarik tanganku.

__ADS_1


Aku duduk di tepian brankarnya. Aku mencoba menarik senyum untuknya, meski dengan beban pikiran yang rumit ini.


Aku mungkin bisa menahan gejolakku, sampai anakku lahir dan Aca bersih dari nifasnya. Tapi bagaimana dengan Aca? Apa ia tahan juga? Aku tidak mau kehilangan salah satu dari mereka, aku tidak mau membahayakan mereka.


Aku paham, yang namanya n**** kadang sulit untuk ditahan. Tidak seperti ego, atau amarah yang bisa dikendalikan. Tapi mau tidak mau, Aca pun harus bisa mengendalikan rasa inginnya itu. Aku sebagai seorang laki-laki saja, mampu menahan meski akhirnya uring-uringan. Tapi aku tidak yakin, jika Aca mampu.


Hal itu adalah kebutuhan terbesarnya. Jika tidak terpenuhi, ia berubah sangat sensitif dan pemarah. Apa ia aku harus membiasakan diri dengan kesensitifannya dan amarahnya, jika Aca tengah mencoba menahan rasa inginnya?


Ya namanya, aku harus siap-siap stress jika melihatnya selalu ingin ribut denganku. Aku tidak bisa selalu berdebat, aku tidak suka perdebatan dan lontaran perkataan menyindir.


"Pa, dengar tak aku ngomong apa?" Ia menggoyangkan lenganku.


Aku meliriknya. "Bayi kita perempuan itu? Iya, aku dengar. Alhamdulillah, sehat dan normal juga. Aku dari Cani lahir, udah pengen punya bayi perempuan. Tapi karena keadaan tak memungkinkan, sampai baru dikasih di rahim orang yang sekarang jadi istriku." Aku merapikan rambutnya yang keluar dari hijab.


"Alhamdulillah, aku pun ikut senang bisa kasih anak perempuan yang Papa mau." Ia mengusap-usap perutnya dengan senyum yang terlihat bangga.


"Perempuan atau laki-laki sama aja, tapi memang pengen punya perempuan lagi gitu."


"Terus, rencana kita setelah ini gimana? Siapa yang mau urus sidang ke pengadilan agama? Pak RT itu uruskan atau gimana?"


"Tadi ke pak RT cuma kasih bukti nikah. Nanti aku tanya ulang ke papah atau pak RT, soalnya papah ada bilang nanti dibantu uruskan sama pak RT. Tapi kemarin kan, pak RT tak bilang apapun."


Membingungkan jika orang tua mengatakan untuk membantu mengurus, tapi beliau sedang tidak ada di sini.


"Ya udah, sini tidur." Aca menggeser posisi tidurnya.


"Aku di ranjang seberang aja, tak enak kalau dilihat perawat yang ganti kantong infus. Mereka pasti malu sendiri, aku pun begitu kalau ketemu perawatnya nanti." Aku memberikan alasan logis.


Aca menghela napasnya. "Ya udah deh." Ia melepaskanku.


Aku beranjak pergi dari brankarnya, kemudian merebahkan tubuhku di single bed yang berada di dekatnya. Ini adalah tempat tidur untuk mereka yang menunggu pasien.


Aku berbaring miring, dengan memperhatikan Aca yang berusaha memejamkan matanya tersebut.

__ADS_1


Pikiranku bercabang ke mana-mana. Di mana tentang sidang pengesahan, keadaan Aca dan bayi kami dan juga anak-anak yang berada di rumah. Aku khawatir Ra mengamuk, Kal mencariku dan anak-anak yang tidak terkondisikan.


Drrtttttttttttttttttttt…..


Siapa pula ini yang menelpon malam-malam?


Hah? Farida?


Aku mereject panggilan telepon tersebut, kemudian mematikan getarnya. Aku khawatir suara getarnya terdengar oleh telinga Aca.


[Gimana, Pak? Saya sudah tertidur tadi, ada yang bisa Saya bantu?] Notifikasi tersebut langsung masuk ke notifikasi layar kunci.


[Bapak punya kepentingan di luar pekerjaan? Saya bisa membantu Bapak. Bagaimana, Pak?] Pesan selanjutnya yang berada di barisan kedua notifikasi layar kunciku.


Terus saja mengirimiku pesan, sampai istriku salah paham lagi.


[Tidak ada apa-apa.] Aku masuk ke dalam kontak chattingnya dan mengirimnya pesan seperti itu.


Beban pikiranku sudah banyak, jangan ditambah lagi dengan perempuan penggoda yang menggoyahkan imanku. Sekalipun aku menolaknya seperti apapun, tapi aku khawatir malah terpikat sendiri olehnya.


Sialan! Ia malah menelponku kembali. Aku akan mematikan ponselku untuk sementara, agar ia tidak terus menelponku. Dari mana sebenarnya ia mendapatkan nomor kontakku? Aku sedikit curiga pada Ria sekarang. Mungkinkah Ria memberikan nomor kontakku pada perempuan tersebut.


"Katanya mau tidur, Pa? Katanya ngantuk, Pa? Kok masih main HP aja."


Hah! Far, Far! Kau tak cukup beruntung ternyata.


Aku menoleh ke belakang, dari brankarnya istriku tengah memperhatikanku dengan mata sipitnya yang terbuka lebar. Ia belum tertidur ternyata.


Aku baru mengetahui sekarang, bahwa single bed ini lebih rendah posisinya dari brankar tersebut. Pantas saja Aca bisa melihat kegiatanku dengan jelas, meski aku memunggunginya.


"Eh, Ma. Belum tidur kah?" Aku tersenyum padanya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2