Istri Sambung

Istri Sambung
IS153. Secuil cerita Ghava


__ADS_3

"Kok bisa?" Papah seperti kebingungan, beliau menggaruk kepalanya sendiri.


"Ke mana perginya? Memang tak ada yang lihat?"


Apa anak-anakku hilang?


"Ya coba, Dek. Tanya-tanya orang di studio, barangkali ada yang lihat." Papah memasukkan tangannya ke saku.


"Iya, iya. Telpon Abang lagi nanti ya, Dek?"


Setelahnya, papah menaruh ponselnya di nakas.


"Ada apa, Pah?" tanyaku cepat.


Papah menoleh ke arahku. "Istri kau tak ada di rumah. Jendela, pintu dikunci semua. Jadi mamah kau khawatir, terus minta mangge congkel jendela belakang itu. Soalnya Ghavi belum bangun katanya, Ghava anter anaknya ke neneknya. Zuhdi lagi ambil barang di toko material abang kau, makanya nyuruh mangge."


Sebenarnya mudah saja mencongkel jendela rumahku, karena tidak dipasang dengan teralis besi juga. Tapi tetap, para wanita lebih memilih menyuruh kaum adam. Apalagi mamah yang jenis manusia enggan tindak, hanya pandai memberi perintah saja. Otak bos memang beda.


"Pas rumah ditelusuri, katanya tak ada istri kau di sana. Yang di ruang ganti itu, kosmetik punya Novi kan?"


Aku memilih menjawab cepat dengan anggukan berulang.


"Nah, kosmetiknya juga tak ada katanya. Bersih gitu tuh, ada body parfum punya kau aja sama pomade katanya. Terus cek lemari, katanya keknya baju Novi berkurang. Ya mamah kau tak tau pasti, mamah kau bilang keknya soalnya. Baju-baju Novi sih masih ada, mungkin tumpukannya tak tinggi kali," lanjut papah kemudian.


Benarkah?


"Kabur maksudnya, Pah?" Aku tidak ?mengerti dengan tindakan Novi.


Papah mengedikan bahunya. "Tak tau pasti sih, Far. May be yes, may be no."


"Tapi kabur ke mana? Untuk apa dia kabur?" Aku menjadi bingung sendiri.


"Khawatir digugat kali. Pasti paham lah, kenapa buku nikah dan KK diminta. Niat mamah sih, buat disimpan di mamah aja. Karena takutnya dibakar Novi. Kalau sampai diumpetin atau dibakar kan, bakal repot lagi misalkan mau proses cerai. Mamah minta Winda ambil buku nikah sama KK, memang bukan untuk langsung gugat cerai, karena mau nyimpan aja itulah."


Pantas saja Novi tidak ada kabar beritanya.


"Kenapa malah kabur?" Aku masih tidak paham.

__ADS_1


"Ya berarti, karena dia merasa bersalah. Kabur apa taknya, nanti tunggu satu kali dua puluh empat jam."


Begitukah?


"Pergi ke mena coba, Pah?" Jujur, aku khawatir padanya. Meski aku tahu, ia telah menyakitiku.


"Ke keluarga dari ibunya mungkin." Papah meninggikan bahunya. "Tak tau pasti juga Papah." Berakhir papah duduk kembali di kursi.


"Coba telpon nomor aku, Pah. Aku tak bawa HP, mungkin aja dibawa Novi. Tiket pesawat dan segala macam kan, biasanya harus online." Aku tidak akan mengecapnya sebagai pencuri ponsel, sekalipun ia membawanya. Karena statusnya, ia masih istriku. Ia membawa barang milikku, yang artinya miliknya juga.


"Coba ya?" Papah meraih ponselnya, lalu terdengar suara panggilan tersambung.


"Alo, Yayah ya?"


"Hei!!!" Papah langsung menjauhkan ponselnya.


Aku tertawa geli, mendengar suara anak yang hanya tahu ayahnya saja itu.


"Siapa, Ra?" Sepertinya, pemilik suara itu adalah kak Aca.


"Bukanlah! Ini Kakek. Mana nenek? Kok Ra main HP Papa?" Papah melirikku.


"La jam nenek, Kek. Oleh kok." Aku gemas sekali pada Ra. Aku ingin membawanya ke rumahku saja, agar suasana terasa hidup. Tapi, dengan catatan Ra bisa dikondisikan.


"Abis dari rumah Ghifar, Pak Cek. Biar Ra anteng, dikasih pinjam HP sama mak cek. Soalnya tadi aku tak bawa HP, HP mak cek pun dipakai nelponin orang-orang."


"Ohh. Ya udah tuh ya? Bantu Mak Cek kau jaga anak-anak Tika, sementara Mak Cek kau sibuk."


Jika papah tidak menyentuh speaker, aku pasti tidak bisa mendengar obrolan ini.


"Ya, Pak Cek."


Setelah itu, panggilan langsung terputus. Papah memandangku kembali. "Gimana? HP kau ditinggal. Nanti kita tunggu kabar selanjutnya aja, barangkali Novi cuma ke warung." Papah pasti mengerti, bahwa di balik ini semua, ada aku yang sedikit mengkhawatirkan keberadaan Novi.


"Ya, Pah."


Nyatanya, Novi tidak kembali sampai satu minggu kemudian. Aku tiap hari bolak-balik ke rumah mamah, karena aku pun tidak ada yang mengurus.

__ADS_1


Rasa kehilangan itu pasti ada, apalagi aku terbiasa hidup bersama Novi. Meski, ya memang belum lama.


Aku tidak tahu pergi ke mana dirinya, nomor kontak keluarga dari ibunya pun tidak kumiliki. Apa aku ke Jakarta saja? Barangkali, Novi kembali ke rumah omah. Tapi, seingatku rumah omah sudah dijual dan dibagi waris. Ya memang, dijual ke keluarga sendiri. Om Edo yang membeli, tapi entah rumah itu ditempati oleh siapa. Karena setahuku, om Edo menetap di Kalimantan Barat.


"Bang…."


Aku menoleh ke samping tempatku duduk, ada Ghava yang tidak tiba-tiba berada di sebelahku. Aku tengah duduk di teras rumah mangge, ayah kandung almarhum bang Lendra. Aku tengah mengawasi Kal, Jasmine dan Key bermain engklek di jalanan yang sepi di sore hari ini.


Para pengasuh Jasmine, Ceysa dan Key tengah bergantian mandi dan sholat. Sedangkan salah satu geng anak perempuan itu, Ceysa. Ia tengah diajak oleh datonya itu, untuk berjalan-jalan menggunakan motor mengelilingi kampung.


"Apa, Va?" sahutku kemudian.


"Kau tak nyariin istri kau kah, Bang?" tanyanya yang mengusikku.


"Entah, Va. Nyari di mana? Aku tak tau dia ke mana." Bukan aku tak khawatir, nyatanya sampai hari ini aku memikirkan terus keberadaannya.


Namun, aku tidak tahu ingin pergi ke mana untuk mencarinya. Aku pun sudah melihat laporan di kantor polisi, tentang Novi yang pergi dari rumah tanpa kabar.


"Kata Nando sih, coba ke Bengkulu katanya. Soalnya aku ada nanya sih ke dia, aku kepo aja gitu."


Aku segera menoleh ke arah Ghava, dengan mengerutkan keningku. "Kau nanya gimana? Memang hobi Novi kabur-kaburan kah? Nando bisa tau, kalau Novi lari ke Bengkulu. Atau, Novi sempat hubungi Nando?" tanyaku beruntun.


"Yaaaa…. Bukan gitu juga sih." Ghava menggaruk tengkuknya.


"Terus?" Aku penasaran menunggu cerita dari Ghava.


"Nando nanya kan, itu kok dua anak Ghifar di neneknya terus sih. Aku jawab kan, memang udah lama diambil mamah. Aku tak cerita tuh, kalau kau ada problem atau gimana, karena aku pun tak tau kan?" Bisa-bisanya ia menarik humor kecil.


Aku terkekeh. "Terus, gimana lagi?" ujarku dengan sesekali melihat ketiga gadis kecil itu.


"Terus katanya, jadi Novi betul merasa jadi baby sitter ya rupanya. Sambil ketawa garing gitu lah, Bang. Aku sahutin kan, memang Novi ada bilang begitu. Di situ Nando cerita tuh, kalau Novi sering chat sama dia pas baru nikah sama kau juga. Ya Nando juga ada bilang bahwa dia ngeledek Novi kena sawan lah, terus tak menarik di mata Ghifar selain almarhumah lah, karena kan kak Kin meninggal di pangkuan Novi. Pas kejadian itu kan Novi udah sama Nando katanya," ungkap Ghava yang tidak langsung bercerita panjang.


Aku simpulkan di sini, di awal memang Novi sibuk dengan ponselnya adalah karena ia masih berkomunikasi dengan Nando. Aku kira, ia seperti Canda yang doyan scroll Tiktok.


"Nah, terus…. Aku bilang begini, kau pacaran lama sama Novi tuh sering cekcok tak. Dia langsung ngangguk-ngangguk tuh. Katanya kalau Novi bukan saudaranya bang Givan, udah dia tinggalkan dari awal. Cuma tak enaknya, kalau ada cekcok sama Novi, bang Givan negur katanya. Jadi, Nandonya tak enak hati sendiri sama bang Givan. Udah ngaduan, ungkit-ungkit, terus kalau sendirinya salah itu, tiba-tiba nomornya tak aktif, dia pun susah ditemui. Aku tanya kan, memang kalau susah ditemui itu ke mana, kan Novi tinggal sama mamahku di sini. Aku tanya begitu, Nando jawab……


...****************...

__ADS_1


__ADS_2