Istri Sambung

Istri Sambung
IS296. Peran orang tua


__ADS_3

"Ya aku pun paham, Pah. Aku rawat juga Aca di klinik kecantikan. Baru satu kali tuh, tak ada perubahan menurut aku. Samar sedikit lah, cenderung wanginya awet aja menurut aku." Aku paham dengan teori cacing itu.


"Nah, terus apalagi? Udah paham, udah ngerti juga. Jujur aja, Papah tak pernah tertarik atau nyimpan rasa ke perempuan lain sejak nikah tuh. Masalah Bilqis masa itu, itu murni keteledoran dan penasaran aja. Karena murninya sifat laki-laki ini, Far. Kami sayang untuk ninggalin daging yang udah disajikan dengan bumbu enak. Kalau keadaan kau, jatuh cinta kembali, atau udah terlanjur menjalin hubungan, ya penyelesaiannya harus ekstra. Bukan Aca yang dipermasalahkan, tapi kita sebagai laki-laki. Kau cinta sama perempuan lain itu? Kau udah jalin hubungan jauh? Atau, hubungan badan mungkin?"


Obrolan yang sensitif, untungnya Cani sudah terlelap pulas.


"Aku tak cinta, Pah. Tak ada hubungan sama Farida, apalagi sampai berhubungan badan. Cuma sekedar ketertarikan fisik, karena rupanya ini ayu sekali, Pah. Aku udah minta saran ke bang Givan, katanya suruh aku jangan ladeni dia, atau nanti putus kerjasama dengan pihak Farida, tapi tunggu bang Givan lihat dulu keadaan usaha aku. Aku tak ladenin juga, ini perempuan agresif datangi aku terus. Aku khawatir iman aku tipis, apalagi kalau perempuannya mempersilahkan." Aku jujur di sini.


"Sulit memang, apalagi kita punya batang. Bagaimana kejadiannya, kita loh yang disalahkan. Jadi Papah ingat waktu kau lahiran, malu betul pas bidan cek dan ternyata air ketuban mamah campur dengan air Papah. Nah, itu pun ada rasa bersalahnya karena kek dituduh secara halus." Papah terkekeh kecil.


"Aku pun pernah disalahkan karena kejadian yang sama kek cerita Papah."

__ADS_1


Eh, papah sampai tertawa lepas.


"Udahlah, menghindar aja dulu jalan terbaiknya. Kau pesan ke Dewi, sama ke resepsionis kau itu, suruh tahan Farida itu kalau maksa pengen nemuin kau. Kalau bisa, bisnis jangan disangkut pautkan dengan masalah pribadi, karena bisa tak profesional nanti. Libatkan juga istri, biar dia lebih percaya cerita kau ketimbang ucapan dari pihak luar. Tapi, kau perlu yakinkan Aca bahwa kau cinta betul sama dia, biar dia ini kek berjuang juga untuk mempertahankan kau gitu. Kalau kau minta pendapat mamah, pasti dia langsung nyaranin putus kerjasama aja. Papah yakin keputusan mamah itu, karena mamah kan satu kaum tuh sama Aca." Papah terlihat begitu yakin dengan tebakannya.


"Untuk kedepannya, aku harus gimana?" tanyaku kemudian.


"Fokus ke keluarga, jangan tengok-tengok perempuan lain. Kau maksa minta sama Aca, udah kesampaian, udah berhasil buat dia hamil juga, ya kan? Apa usaha kau sampai di sini aja? Kan tak begitu konsep kehidupan itu, Far." Papah terdengar lembut menasehatiku.


"Bekali iman kau kuat-kuat. Jangan sampai kejadian kau nidurin dia, jangan ulangi kesalahan Papah. Demi Allah, Far. Papah tak pengen main curang dalam rumah tangga, Papah tak pengen anak cucu ikutin jejak buruk Papah. Kau tau, kalau laki-laki ini panutan? Papah jadi panutan istri dan anak cucu, kau pun kelak nanti bakal jadi panutan mereka. Perjalanan hidup orang tua, selalu menjadi contoh yang benar dalam ceritanya. Jangan sampai, ada contoh yang salah dan malah diikuti. Amit-amit, jangan sampai kejadian." Papah sampai menggeleng berulang.


Aku jadi teringat kisah zinaku dengan Aca. Aku pernah mendengar, tentang dosa zina yang akan diturunkan ke anak-anak mereka. Benar tidak sebenarnya, tentang hal itu? Aku sudah melakukan sholat taubat juga, aku pun sudah memohon ampun. Tapi sungguh, aku tidak ingin anak-anakku sampai berani berzina seperti ayahnya ini. Aku tak pernah ingin mereka berbuat salah. Aku tak mau, mereka terjerumus ke dalam dosa besar.

__ADS_1


"Jadilah suami yang baik, orang tua yang baik. Kau tau, Far? Kalau kakak kau amat menyesal menjadikan masa mudanya sebagai masa berpetualang mencicipi banyak perempuan. Ada kagetnya, masa dia cerita bahwa dia hampir setiap hari melakukan hubungan terlarang dengan wanita-wanita yang menjual harga dirinya untuk pertama kalinya. Apa yang abang kau takutkan sekarang? Yap, betul kalau kau menebak abang kau takut anak-anaknya mendapat karma dari tindakannya dahulu. Akidah, akhlak, ilmu agama dan keimanan anak-anaknya, sedang abang kau usahakan didik dan perdalam yang ia dan Canda tau. Biar anak-anak mereka punya pikiran takut, kalau mau terjerumus dalam lingkungan yang salah. Papah bukan lepas tangan ke anak, tapi Papah itu percaya sama anak tuh, Far. Papah percaya penuh, kalau anak-anak Papah itu bertindak sesuai ilmu pengetahuan dan pengajaran yang mereka dapat dari rumah. Bukan cuma tentang basic hidup, tapi dari kecil pun Papah bekali agama kalian. Papah percaya, karena ya udah merasa jadi orang tua yang memberikan pemahaman dan ilmu yang baik. Ada rasa kecewanya, ada rasa menyalahkan dirinya, ada rasa takut dengan hukuman di akhirat nanti. Cuma, bagaimana gitu? Kek semua ini tuh, terjadi begitu aja. Kontrol udah, tapi anak-anak Papah pada pintar-pintar ngilangin jejak. Ngobrol dan jadi rumah untuk mereka pun, ya Papah tetap nasehati mereka dengan hal yang menurut Papah benar dan baik. Sulitnya luar biasa, masa kalian mulai dewasa ini. Waktu kecil, keteteran karena anak-anak ini ribut aja, berantem aja, nangis aja. Besar dan mulai dewasa, anak-anak ini cenderung pendiam. Sulit diajak komunikasi, mesti aja jadi yang terasyik sepanjang masa untuk teman ngobrol dan ngopi anak-anak. Pubertas pada anak perempuan, jelas kentara karena mereka mulai bersolek. Nah, pada anak laki-laki. Mereka ini egonya besar, gengsinya besar, mainnya rapi. Udah kau, dadakan jadi detektif dan intel." Papah menampilkan wajah frustasi.


Benarkah sesulit itu menjadi orang tua? Aku pun harus bekerjasama dengan Aca, seperti papah dengan mamah. Dobel juga tugas kami para laki-laki, karena kami harus bekerja dan mencari nafkah untuk istri dan anak-anak. Waktuku dan anak-anak lebih sedikit, karena setengah hidupku akan digunakan untuk mencari nafkah. Usaha memang ada, tapi jika tidak bisa menata dan mengembangkannya, sudah pasti tinggal cerita dan bangunan yang disita Bank.


"Perjuangan kau jadi orang tua, akan benar-benar dimulai setelah anak-anak kau dewasa. Sialnya lagi untuk kau, karena Papah dan mamah udah tak ada lagi untuk support kau di masa itu. Jatah umur kami udah dekat, Far. Kami tak mungkin sampai ketemu ke anak-anak kau dewasa, atau ke cicit-cicit kami. Kau harus gotong royong sama saudara-saudara kau, untuk urus cucu-cucu dan keturunan kita selanjutnya untuk jadi manusia yang baik bertetangga dan hidup sesuai pedoman agama."


Aku merasa sedih dan ingin menangis, jika membayangkan akan kehilangan orang tua. Aku ingin mereka kekal abadi, untuk menuntun kami di dunia ini. Aku ingin tiada lebih dulu, sebelum mereka meninggalkan dunia. Aku tidak sanggup untuk kehilangan, aku khawatir kehidupanku selanjutnya tidak baik-baik saja tanpa mereka.


Sekalipun aku sudah menjadi orang tua. Aku tetap membutuhkan peran orang tua, untuk peganganku di dunia ini. Semoga orang tua kita sehat selalu dan panjang umur, agar tetap mensupport mental kami menjadi orang tua amatiran.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2