
"Dua puluh juta aja dulu, Bang. Transfer ke rekening aku." Ghavi mengeluarkan ponselnya.
"Tethering, Bang. WiFi mamah tak sampai."
Entah ya, aku gemas saja setiap ada orang yang meminta hotspot. Bukan pelit, hanya saja risihnya pasti ia menjadi dekat-dekat terus. Entah-entah jika perempuan, jika laki-laki seperti Ghavi begini? Beuh, risihnya.
Setelah jaringan ponsel Ghavi tersambung denganku, aku langsung menyalin nomor rekening yang Ghavi sebutkan. Dua puluh juta, langsung berpindah ke rekeningnya.
"Buat modal, jangan buat cerai." Aku menegaskan setiap katanya.
"Iya, iya. Biar Tika aku gantungkan dulu. Mana tau, dia berubah pikiran." Jika begitu, malah lebih panjang dosanya.
"Jangan digantung juga. Rujuk ya rujuk, cerai ya cerai. Gila ya kau?! Masa iya mau digantung, Tika pun pengen bahagia kali." Jika digantung, Tika yang akan merugi.
"Ya aku tak punya modal buat cerainya, Bang. Katanya uang kau, tak boleh dipakai untuk cerai." Ghavi terkekeh kecil.
"Ya, jual barang lain yang ada di rumah kau. Sofa itu bisa dijual kok." Aku menaruh ponselku, yang sudah digunakan untuk transaksi.
"Aku mau pinjam lagi ke bang Givan tuh, akunya udah pinjam. Nanti dia tanya-tanya, malah aku yang dimaki habis." Ghavi bangkit dari duduknya dan memakai sendalnya.
"Udah ya, Bang? Makasih. Aku ke ke ATM dulu, buat kasih pegangan ke Tika." Ia berjalan menuju ke rumah mamah.
Sudah dapat uang, pulang. Beginilah yang dimaksud Canda, ketika saudara dekat maupun jauh mendadak main. Ia langsung menebak, pasti akan meminjam uang.
Aku mengantongi ponselku dan membawa gelas yang isinya telah habis ini. Aku mengunci pintu, dan mencari keberadaan perempuan yang tengah ngambek itu.
Jujur saja, lebih mudah membujuk Kin. Jika Novi, ia malah membawa permasalahan lain. Ya, seperti mengungkit yang sudah-sudah. Kin tidak seperti itu. Kin hanya meminta, agar aku bertahan padanya, tidak mengungkit dan tidak mengulangi lagi. Permasalah selesai, kami kembali mesra.
"Novia, sayangku." Geli sekali mengucapkan hal ini.
Ia tengah tengkurap dengan memeluk guling.
"Kok nangis sih?" Aku menaiki ranjang dan mendekatinya.
"Novia…." Aku mengusap-usap lengannya.
Berarti, cukup lama sekali ia menangis. Padahal aku bukan sedang curhat pada Ghavi, hanya memberi gambaran saja. Tapi, Novi sudah separah ini menangis.
__ADS_1
"Itu kan dulu, Nov. Waktu sama Kin." Aku menopang kepalaku dengan tangan kiri.
Novi memunggungiku. "Kin aja, Abang gitukan. Apalagi aku?" Suaranya bercampur sesenggukan.
"Tak lah, Novia lebih spesial." Dosa tidak ya, berbohong demi kebaikan?
"Bohong! Aku tak bisa bahagiakan Abang." Novi mengubah posisinya, menjadi berhadapan denganku.
"Aku pun belum bisa bahagiakan kau. Kita benahi ya? Biar bisa sama-sama bahagia." Aku tersenyum, kemudian mengulurkan jemariku untuk mengusap pipinya.
"Jangan ingat-ingat Kin atau Canda lagi, aku tersinggung." Novi memeluk tubuhku, ia bersembunyi di dadaku.
Nah, begini kan lebih baik. Aku lebih mudah untuk menjinakkannya.
"Iya, maaf ya udah bikin tersinggung? Aku janji, tak ingat-ingat kenangan dulu lagi." Kalimat penenangku dulu, yang sering kali aku gunakan untuk menenangkan Kin.
"Aku kurang apa?" Novi mencengkeram bajuku di bagian dada.
Kurang apa ya? Ya banyak ya. Namanya juga manusia, aku pun banyak kurangnya.
"Tak perlu dibahas, Nov." Aku menghirup aroma rambutnya.
"Dibandingkan Kin? Canda? Aku bagaimana?" Novi menyelaraskan tinggi kepalanya, sehingga sejajar dengan kepalaku.
"Kek yang pernah kau bilang. Kau bukan Kin, kau punya cara sendiri. Kau pun bukan Canda, kau punya sifat asli diri kau sendiri." Aku menahan senyumku cukup lama, agar ia yakin.
Sejujurnya, paling malas rasanya membujuk perempuan yang tengah ngambek seperti ini. Karena, setiap kalimat yang ia pertanyakan itu. Seolah jebakan untuk kita, agar perkelahian kita lebih heboh.
"Kalau Kin masih ada, apa Kin jauh lebih utama dibandingkan aku?" Novi menelusuri rahangku dengan jemarinya.
Asal ia tahu saja. Jika Kin masih ada, aku tidak akan menikah lagi. Kenapa, pertanyaannya makin tidak masuk akal? Jika aku menjawab pertanyaannya, seperti ini yang aku sebutkan tadi. Pasti, ia akan lebih baper. Jika aku menanyakan kembali, kenapa ia menanyakan hal itu. Pasti, ia menjawab hanya ingin tahu saja.
Lama-lama, aku cekik dirinya secara vertikal.
"Udah, jangan dibahas." Aku menariknya, untuk aku peluk.
Bad mood sendiri aku gara-gara pertanyaan anehnya. Heran saja aku dengan kaum wanita.
__ADS_1
"Aku pengen disayangi, dicintai, dikasihi." Tangisnya lebih pecah lagi.
Hmm, memang aku bagaimana ke dirinya?
"Pastilah, Nov. Kau istri aku, pasti aku sayangi, cintai, kasihi."
Eh, tiba-tiba aku curiga. Aku teringat akan Canda yang konyol, ketika mengandung Ra. Ya, seperti otaknya tidak terisi penuh. Novi pun aku rasa demikian, ia banyak berceloteh dengan pertanyaan konyol.
"Nov, kau hamil kah?"
Novi langsung melepaskan dirinya dari pelukanku. "Masa iya langsung hamil? Hubungan badan di masa subur kan, baru semalam aja. Malam ini belum, mana mungkin langsung positif."
Aku mencium bau-bau kode.
Aku memamerkan gigiku yang memiliki gigi palsu ini. Jika kalian membaca novel Canda Pagi Dinanti, pasti tahu tentang kisah gigi palsuku ini. Bukan gigi seperti tok Dalang juga, hanya satu gigi palsuku yang berwarna sedikit lebih putih dari gigi asliku.
"Jadi malam ini dicoba lagi kah?" Aku memutar bola mataku seperti tengah berpikir keras.
"Abang pengen aku hamil anak Abang?"
Aku tak mungkin jujur, tentang aku yang belum ingin memiliki anak lagi. Karena anak-anakku, belum sepenuhnya bisa menerima Novi. Dengan kehadiran adik lain ibu bagi mereka, pasti menambah persoalan individu untuk anak-anakku.
Namun, jika diberi kepercayaan oleh Yang Kuasa. Kenapa tidak? Aku akan menerima titipan-Nya, dengan hati gembira.
"Pengen dong." Aku berbohong kembali.
Novi mungkin belum berpikir, di mana anak-anakku menatap cemburu pada anakku dengannya. Mungkin Novi pun berpikir, ia ingin melahirkan sebelum usia tiga puluh enam tahun. Novi pun mungkin berharap, aku bisa menerima dan begitu mencintainya, kala ia bisa memberikan keturunan untukku. Padahal, memberi seorang anak tak menjamin bahwa laki-laki tak meninggalkannya.
Aku masih teringat, tatapan marah bang Givan ketika mamah sedikit menolongku. Namun, membiarkannya mandiri. Aku masih bentakan bang Givan, ketika aku mengganggu mainan kesukaannya. Aku adalah anak pertama dari lain ayah, membuat bang Givan yang notabene adalah anak pertama dari ibuku mengalami cemburu yang dominan padaku. Meski ia tidak mengatakan atau mengungkapkannya pada siapapun, tapi aku mengerti.
"Ayo kita buat lagi, mumpung aku di masa subur."
Ajakan yang nyata.
"Boleh, aku mulai duluan ya?" ucapku, dengan mulai beraksi di atasnya.
Biarlah malam ini terjadi, bagaimana dengan semestinya. Biarlah malam ini habis, dengan usahaku untuk memenuhi nafkah batin untuk istriku. Biarlah esok pagi, aku tertidur lagi setelah subuh karena begadang dengan tanpa pakaian.
__ADS_1
...****************...