Istri Sambung

Istri Sambung
Ternyata istrinya Bos


__ADS_3

Pintu kamar hotel diketuk, "Maaf pak saya mau mengantarkan makanan Bapak." ucap Weni di luar pintu kamar saat di tanya.


"Pak, sepertinya diluar ada orang, saya harus sembunyi dulu pak."Sandra ingin bergegas sembunyi namun ditahan Brian.


"Mau kemana? Kamu tetap disini saja." Pinta Brian


"Tapi pak-" Belum sempat Sandra sembunyi pintu sudah di buka Brian membuat Sandra terpaksa lari ke kamar mandi untuk sembunyi.


Weni pun masuk dan meletakkan makanan sambil matanya berkeliaran mencari sosok istri Bosnya.


'Dimana istri pak Brian, kok gak kelihatan? apa dia ke kamar mandi ya? Eh tunggu sebentar ini kan seperti tasnya Sandra, terus dimana Sandra nya? apa dia ketinggalan tasnya? atau jangan-jangan?" Begitu banyak tanda tanya dalam otak Weni sampai tak menyadari bahwa Brian sedang memperhatikannya.


"Kalau sudah selesai silahkan keluar, saya mau istirahat." Brian mengagetkan lamunan Weni.


"Maaf pak, kalau begitu saya permisi dulu."


Weni pun pergi meninggalkan kamar Brian dengan membawa banyak tanda tanya. Sesampainya di dapur hotel Weni masih bertanya-tanya.


"Apa mungkin Sandra istrinya pak Brian? Ah tidak mungkin mereka kan kastanya berbeda jauh, tapi bagaimana dengan tas Sandra yang ada di sana, aku yakin itu tas Sandra." batin Weni berkecamuk.


"Apa aku sudah bisa keluar? " tanya Sandra. "Aroma makanannya sudah memanggilku pak." Ucap Sandra.


"Keluarlah, pelayan sudah pergi."


Tanpa hitungan waktu Sandra langsung keluar dan menghampiri makanan yang sudah melambai-lambai memanggilnya.


"Bolehkah aku makan sekarang?"


"Makanlah, semua itu buatmu." Brian duduk berhadapan dengan Sandra dan memperhatikan Sandra yang sedang menikmati makanan yang diinginkan


Dengan rakusnya Sandra melahap semua makanan seperti orang kelaparan.


"Bapak gak makan? nanti saya habiskan Lo."


"Habiskan saja kalau perutmu muat, biar anakku semakin sehat." ucap Brian sambil sesekali membersihkan pipi Sandra yang terdapat sisa makanan.


"Kalau makan jangan buru-buru sayang, aku takkan memintanya."


Tanpa rasa malu lagi Sandra pun menghabiskan semua makanannya tanpa ada yang tersisa, membuat Brian geleng-geleng kepala.


"Mau nambah lagi?" tanya Brian sambil memandangi Sandra yang menyelesaikan makanan nya.


"Sudah pak, perutku sudah tak mampu menampungnya."


"Jika bukan karena kamu sedang hamil, sudah ku pastikan kamu harus olahraga berat"


"Memangnya Kenapa, inikan makanan enak?"

__ADS_1


"Tapi itu makanan berat, sudahlah aku mau keluar dulu, melihat-melihat suasana menjelang malam hari, mau ikut gak?" ajak Brian.


"Tapi kan pak, saya gak bisa keluar sembarang, nanti ketahuan orang."


"Kamu nie jadi orang ribet banget sih, kalau ketahuan emangnya kenapa, kamu akan memang istri ku."


"Oohh tidak sekarang. Sebelum aku menikah lagi dengan bapak."


"Oh... jadi... mau menikah untuk yang kedua kali, oke kapan mau kita nikah lagi" sambil tersenyum Brian menggoda Sandra.


" Maksud bapak?"


"Tadi kamu yang bilang, mau ngajakin menikah lagi."


Sandra yang menyadari langsung menutup mulutnya.


"Ya sudah aku keluar duluan, nanti kalau sudah bisa keluar hubungi aku." ucap Brian sambil meninggalkan Sandra.


Sandra pun keluar dari kamar dan berjalan dari arah belakang.


"San..." panggil Weni yang melihat Sandra lewat.


"Ada apa Wen?" Sandra menoleh ke Weni.


"Sini sebentar ada yang mau aku tanyain ke kamu." Weni menghampiri Sandra dan langsung menarik lengan sandra dibawanya ke toilet wanita.


"Emangnya kenapa, apa aku harus laporan ke kamu buat keluar masuk hotel ini?"


"Bukan begitu, tadi aku ngantar makanan ke kamar pak Brian dan melihat tas kamu, ya tas yang kamu bawa sekarang" Weni menunjuk tas Sandra.


"Jujur san, apa kamu ada hubungannya dengan pak Brian, soalnya aku mencari sosok istri pak Brian tidak ada didalam hanya tas kamu yang menunjukkan sesuatu, jujur padaku San, aku janji gak akan cerita dengan siapapun." desak Weni membuat Sandra bingung.


"Aduh, bagaimana ya Wen, aku bingung mau mulai dari mana?"


"Ayolah San, masa kamu gak percaya sama aku sahabat mu."


"Sebenarnya aku... aku..." Sandra tak melanjutkan ucapannya dan hanya mengusap perutnya membuat Weni menebak-nebak sendiri.


"San, jangan katakan tebakanku benar, kamu hamil anak pak Brian" namun sayangnya Sandra mengangguk membuat Weni menutup mulutnya sendiri syok sahabatnya hamil.


"Kamu sudah gila San, bagaimana itu bisa terjadi, pak Brian kan jarang ke hotel ini, kapan kamu melakukannya, dan apa pak Brian mau tanggung jawab?" Weni kembali mendesak Sandra.


"Maafin aku Wen, aku gak cerita sama kamu dari awal, aku bingung dan takut jika yang lain tahu."


Sandra pun akhirnya menceritakan semuanya pada Weni, membuat sahabatnya geleng kepala dengan semua keputusannya.


"Sandra kamu nie benar-benar bodoh, minta segera dinikahi pak Brian dong suruh dia tanggung jawab kasian sama anak mu dan kalau gak segera menikah nanti jadinya kamu kumpul kebo dong"

__ADS_1


"Tapi aku takut, nanti kalau istrinya kembali, apa yang harus aku lakukan, nanti aku dikira penipu."


"Sudah gak usah dipikirin yang belum terjadi, sekarang pikirkan dengan masa depanmu dan calon bayimu"


"Terimakasih Wen, kamu memang sahabat terbaikku" mereka pun saling berpelukan dan tiba-tiba ponsel Sandra pun berdering.


"Bentar Wen, pak Brian nelpon."


Brian pun mengatakan sesuatu pada Sandra dan akhirnya menutup panggilannya.


"Wen, aku harus nemuin pak Brian, dia sudah menungguku."


"Baiklah, jika waktunya sudah tepat kamu harus mengatakan padanya."


Akhirnya mereka pun pergi dari toilet, dan Sandra berjalan keluar hotel dan menuju taman yang tak jauh dari hotel yang bisa ditempuh dengan jalan kaki.


Saat di perjalanan tanpa sengaja Sandra bertabrakan dengan seorang pria yang memiliki postur tinggi, gagah, dan tampan.


"Maaf mas, saya gak sengaja." Sandra meminta maaf terlebih dahulu. Namun pria itu hanya diam mematung tak mengatakan apa-apa.


"Mas... mas..."panggil Sandra sambil melambaikan tangan menyadarkan lamunan pria itu.


"Saya yang seharusnya minta maaf, saya buru-buru harus pergi, sekali lagi minta maaf." pria itu pun langsung pergi. Sandra pun melanjutkan langkahnya menghampiri Brian yang sedang duduk menunggu di taman.


Sandra mencari-cari keberadaan Brian yang belum terlihat dan sampai akhirnya lambaian tangan terlihat Sandra, dengan segera Sandra pun menghampiri.


"Maaf pak saya terlambat soalnya tadi saya gak sengaja menabrak orang."


"Kamu gak papa-papa sayang, ada yang terluka." Brian memutar tubuh Sandra.


"Saya gak kenapa- kenapa pak, saya baik-baik saja."


"Ya sudah ayo duduk." mereka pun akhirnya duduk dan menikmati rembulan dan bintang-bintang di taman ditemani udara dingin, yang membuat Sandra kedinginan.


Melihat Sandra yang sebentar-sebentar mengusap lengannya membuat Brian melepas jaketnya dan menyelimuti Sandra.


"Kenapa tadi gak pakai jaket, tahu kan udara malam itu dingin."


"Maaf pak tadi kelupaan, la bapak sendiri gak kedinginan."


"Aku bisa memelukmu, itu sudah menghangatkan ku." Brian pun memeluk tubuh Sandra dan Sandra sendiri menyandarkan kepalanya di dada Brian.


"Sangat indah sekali ya pak, baru kali ini aku bisa menikmati keindahan bulan bersama seorang pria dengan penuh kehangatan."


"Jika ada waktu nanti kita akan mengulanginya lagi."


mereka pun berbincang-bincang sampai tak terasa Sandra tertidur di dada Brian.

__ADS_1


To Be Continued ☺️☺️☺️


__ADS_2