Istri Sambung

Istri Sambung
IS35. Ngopi


__ADS_3

"Bang, kau punya uang tak?" Ghavi sejak tadi menanyakan hal ini terus.


"Ada, Vi. Mau apa memang? Makan tinggal makan." aku tengah menikmati kopi, di coffee shop modern yang berada di sekitar sini.


Penampilan Ghavi pun sudah rapi, rambutnya sudah dipangkas dengan model yang pas. Hanya saja, memang kulitnya menjadi sedikit hitam dengan tato yang membuatku pangling.


Ghavi terlihat paling alim, tetap tato berhias indah di bahu bagian belakang hingga leher bagian belakang. Jika melihat laki-laki bertato seperti ini, aku teringat mendiang Nalendra orang Makassar itu. Yang wafat di malam sebelum pernikahannya itu. Karena ia memiliki tato yang menghiasi lehernya juga.


"Merhatiin apa sih, Bang?" sepertinya ia menyadari, bahwa sejak tadi aku memperhatikannya.


Aku mengedikan bahuku, "Pangling aja, kau jadi jelek. Tato itu cukup kec*pan aja, tak harus berwarna begitu."


Aku tidak mengaku suci, bahkan aku dulu dengan Kinasya sering berzina. Meski tidak pernah melakukan hubungan suami istri. Isakanku pun belum hebat, tapi memang aku anti dengan tato.


"Temporer, Bang. Bisa hilang sendiri, Bang." ia menyeruput kopinya.


Untuk apa gunanya tato temporer ini? Apa hanya untuk gaya-gayaan saja? Tapi Ghavi di dalam sel, dia ingin bergaya bagaimana?


Aku terus memperhatikannya, Ghavi terlihat senyum-senyum sendiri dengan bermain ponsel.


Oh iya, ponsel. Kenapa ia bisa memiliki ponsel, setelah baru pulang dari penjara seperti ini?


"Kangen betul sama Ghofar Ghafur, kangen sama bang Aksa juga. Adek Atha lagi apa? Adek Runa lagi apa?" Ghavi berbicara pada layar ponselnya.


"Ngapain sih, Vi?" aku bersedekap tangan dengan bersandar pada kursi, sembari mengamati Ghavi sejak tadi.


Ia melirikku sekilas, "Voice note, Bang." ia menaruh ponselnya di atas meja lagi.


"Kau banyak berubah sih, Vi." aku merasa ia bukan Ghavi.


"Lebay." ia mencomot roti bakar cream kopi, sebagai cemilan kami mengopi.


"Terus kenapa kau dipenjara?"


Sebenarnya aku dari mana ya? Kenapa sampai aku tidak mengetahui semua kabar saudara-saudaraku? Benarkah aku terlalu menyelami kesedihan ditinggal Kinasya?

__ADS_1


"Terlalu semangat bekerja. Produk dari perusahaan kau, aku jual dengan brand aku tanpa izin pasar mamah dan tanpa izin kau. Jadinya, aku dipenjarakan ibu sendiri."


Hah?


Semoga novelku tidak banyak kalimat 'aku baru tahu' seperti novel Canda. Tapi, memang nyatanya aku baru tahu.


Ya, sekejam dan setega itulah ibuku.


"Enak dipenjara?" aku tertawa kecil, agar mencairkan suasana kaku ini.


Ghavi pun tertawa kecil, "Enak, Bang. Tapi kolaps keuangan, karena tak ada pemasukan.",


Hah?


Yang benar saja penjara enak?


"Enak gimana maksud kau? Memang kau tak tidur di dekat kloset jongkok?" yang aku ketahui tentang gambaran penjara ya seperti ini.


Namun, Ghavi malah tertawa geli.


"Papah ngajuin kamar rahasia, Bang. Kek kos-kosan satu petak, kamar mandi dalam lah. Minus tak bisa ketemu istri, anak, tak bisa kerja, tak bisa cari uang. Mana kebutuhan aku di sana lumayan tinggi, kebutuhan Tika, anak-anak juga. Jadi setelah ini, harus mikir tentang itu. Hukuman mamah tak main-main, bikin anaknya melarat seketika."


"Memang kau tak konfirmasi mamah, kalau kau ambil produk dari aku?"


Usahaku dikelola oleh keluarga sendiri saja. Papahku, sebagai founder utama. Kemudian aku yang mengolah hasil ladang itu, sampai siap untuk dipasarkan. Aku mengolah biji kopi dan aku juga mengolah bubuk kopinya juga. Lalu pemasaran produkku, dikendali dan dipegang oleh ibuku. Pasar terbesar ibuku, berada di kota Brasil, Brasilia tepatnya.


"Udah bilang aku. Mah, aku minta sedikit jatah produk ya. Rencananya, mau aku kasih rasa dan bungkusnya diperkecil. Kalau mamah kan, kek jual kiloan gitu kan? Kemasan seperempat, setengah, sama satu kilo dan sepuluh kilo. Nah, kalau aku cuma pengemasan sembilan gram aja. Oke tuh, mulai jalan. Waktu itu setelah Kin baru wafat deh. Eh tak taunya ada permintaan pasar aku sendiri, minta yang perkilo karena buat coffee shop. Eh, tak taunya mamah langsung action aja."


Itulah ketegasan ibuku. Ternyata, bukan cuma kakakku saja yang dipenjarakan oleh ibunya sendiri. Karena, si Ghavi pun mengalami nasib yang sama.


Aku jadi teringat, sengketa SDA di lahan kakakku. Benar-benar tidak kenal ampun, sampai pelaku dibuat memohon dengan kompensasi yang tinggi.


"Bang…. Ngemall dulu ya? Aku pengen belikan apa gitu buat Aksa, Ghofar, Ghafur, sama buat cewek-cewek di rumah. Anak-anak terutama, mereka tau kalau bapaknya kerja ke luar negeri." ujarnya dengan senyum yang amat lebar.


Beginilah manusia jika ada maunya.

__ADS_1


"Ya, atur aja lah." aku kembali menikmati kopi khop favoritku.


"Sampai ketar-ketir aku, Bang. Khawatir Fatma ke rumah aja, bisa mati aku dibunuh mamah."


Fatma siapa lagi? Banyak tokoh baru kah di novel author ini?


"Fatma siapa?"


Ghavi menepuk jidatnya, "Duk keceplosan. Yang tau kan bang Givan, bukan kau." aku malah dibuat penasaran karena ucapannya.


"Fatma siapa, Vi?" aku menuntut jawaban atas pertanyaanku.


Ia menghela nafasnya, "Istri kedua aku, Bang."


Pantaslah, ia takut dibunuh ibunya.


Aku geleng-geleng kepala tidak percaya, "Segala kau beristri dua. Anak kau banyak, Bodoh!" aku tidak tahan ingin memakinya.


Ia tertawa kecil dengan menunjukku, "Kau pun pengen beristri dua ya, Bang! Waktu jamannya Canda menjanda dulu. Jangan sok suci kau!" ia tergelak sembari berbicara.


Ya seperti inilah, jika mencoba menasehati dan mengomentari orang. Masalahnya, mereka pasti melempar ucapanku kembali.


Sebetulnya, aku tidak benar-benar ingin menduakan Kin atau menikahi Canda juga. Karena permasalahanku satu. Aku tidak bisa bereaksi ke perempuan lain. Meskipun saat itu aku benar menikahi Canda, aku tak akan pernah bisa membuatnya hamil.


Aku hanya khawatir tentangnya di luar sana, aku tidak bisa tak melihatnya di depan mataku. Cukup melihat dan memastikan keadaannya saja, membuatku mengerti bahwa ia aman dan terkendali. Sesederhana itu aku menyayangi dan mencintainya, meski sekarang Canda telah menjadi iparku.


Aku tak menuntut banyak darinya, karena aku pun kemarin beristri. Menduakan mereka, rasanya tidak mungkin, meski masa itu Kinasya mengizinkan.


Meski kebenarannya seperti ini. Hanya Kinasya seorang, ibu dari anak-anakku, wanita yang terbaik untuk hidupku dan keturunanku. Setangguh itu ia mengurus anak-anak, sehebat itu caranya mendidik dan menjaganya. Belum lagi, seridho dan tak pernah mengeluh ia saat mengurusku dan memenuhi kebutuhanku.


Kinasya sanggup kurang tidur. Kinasya sanggup telat makan. Kinasya sanggup menghandle anak Canda, yang aku klaim menjadi anakku saat itu juga. Kinasya mampu mengurus rumah dan kebutuhan dapur. Yang paling terpenting, ia selalu menurut ketika diperintahkan untuk segera sholat. Ia menurut padaku, ketika tengah jinak saja.


Ah sudahlah, makin membahasnya. Makin tidak bisa aku mengistirahatkan pikiranku akan dirinya. Wanita terbaik selain ibuku, hanya Kinasya seorang. Aku mencintainya, hingga setiap selesai ibadah sholat isya, aku selalu mengirimkan doa untuknya.


"Nih, Bang. kau kenal tak?"

__ADS_1


Aku menajamkan penglihatanku, pada layar ponsel Ghavi tersebut.


...****************...


__ADS_2