Istri Sambung

Istri Sambung
IS67. Waktu maghrib


__ADS_3

Namun, Novi menyahutiku.


"Aku lagi haid, Bang."


Aku hanya mengangguk, kemudian melanjutkan tujuanku untuk mandi. Sesegera mungkin aku menyelesaikan acara mandiku, setelahnya aku melaksanakan ibadahku.


Jujur, aku was-was. Karena anak-anak lama tidak kembali. Bahkan, sampai adzan isya berkumandang.


Ke mana perginya mereka?


"Nov…. Coba jemput anak-anak suruh pulang." aku menghampirinya, yang tengah mengurus kukunya.


Aku adalah orang yang jijikan, ketika melihat kuku panjang. Bagaimana caranya ia cebok? Lalu tangannya itu digunakan untuk memasak.


Huft, hanya membayangkan saja aku jadi bergidikan.


Ya memang semua orang pasti cuci tangan setelah cebok. Hanya saja, dengan kuku mereka yang panjang. Kotoran otomatis akan menyelinap di sana.

__ADS_1


"Mau ke mana, Bang?" tanyanya, tanpa berpaling dari kukunya.


"Jemput anak-anak." sahutku dengan memperhatikannya sejenak.


"Tak makan dulu ya? Udah makan di luar ya?" nada suaranya seperti menyindir.


Ah iya, aku melupakan hal itu. Pantas saja, aku merasa ada yang mengganjal sejak pagi sebelum memutuskan untuk pergi bekerja bersama Ria.


"Duh, maaf ya? Aku lupa. Nanti agak malem, aku makan deh. Tadi pas sebelum pulang juga, udah makan di luar sama….." ucapanku terpenggal.


"Sama bu dokter ya? Iya, aku tau bukan dokter. Selera Abang, pasti sekelas dokter kek Kin atau Rauzha. Aku tau diri kok, Bang. Tapi, bukannya Abang yang sepakat untuk kita nikah?" Novi hanya sekilas menatapku, kemudian beralih kembali fokus pada kukunya.


Aku berjalan mendekatimu, lalu aku duduk di sampingnya.


"Aku kerja sama Ria, makan siang dan sore sama Ria. Sama Roza tadi pagi, kami cuma tegur sapa aja. Jangan bikin aku curiga, kalau kau kena sindrom Othello juga kek Kin." aku tidak mengerti pada kedua istriku yang memiliki kecemburuan akut.


Hanya mengobrol saja. Ia mengatakan bahwa aku pergi dan makan siang dengan Roza. Ia sering menuduh seperti Kin.

__ADS_1


"Jadi Abang kira aku gila?" matanya sampai mekar sempurna.


"Ya ampun, Novia." aku mengatur nafasku, "Kin tak gila ya! Jangan bikin aku terus-terusan ingat yang udah tak ada. Bukannya berbenah, cari identitas kau di depan anak-anak. Aku tak pernah berpikir untuk jalan sama perempuan lain, Nov! Kau harus paham itu."


Gara-gara masakan, ucapannya merambat ke mana-mana.


Isakan kecil terdengar. Novi hanya paham menangis dan melawanku. Bukannya berpikir ke depan, untuk membenahi posisinya sebagai ibu sambung. Tapi malah terus mencari kesalahanku.


"Tak ada nuduh-nuduh kek gini lagi! Tak ada kau ketiduran, terus anak-anak hilang di waktu maghrib ini. Kau tidur, kunci lah rumah! Biar anak-anak, tak bisa kabur tanpa izin kau. Terus apa ini!" aku menunjuk kukunya, "Potong kuku kau! Aku tak suka kau pelihara kuku! Nampak betul kek orang malas! Kuku kau panjangkan! Dikiranya tak kotor kah?! Asal kau tau aja, jin itu pada sembunyi di dalam kuku kau. Rasanya gemas betul aku, rasanya mau aku getok pakai pisau dapur, setiap kali dengar suara kuku beradu. Risihnya itu loh, Nov! Tak aman juga, masanya kau urus anak-anak."


"Kau cuma perlu ngomong, Bang. Tak perlu sampai ngotot-ngotot gitu. Kenapa setelah kita nikah, aku merasa asing dengan diri Abang? Abang kek bukan Abang. Tukang marah, tukang ngamuk. Lebih dari lima kali sehari, pasti buang nafas tiap kali liat aku."


Apakah aku demikian?


"Aku tak pernah ngamuk setiap hari begini, kalau kau bisa urus anak. Setidaknya, anak-anak Nov. Aku nikah sama kau, untuk kepentingan anak-anak juga. Bukan untuk diri aku sendiri. Kau ini punya kewajiban, untuk didik anak piatu itu. Ganjaran kau besar, kalau kau mampu didik mereka sebaik mungkin. Bukannya mereka tetap lari ke rumah Canda atau mamah, setiap kali mereka butuh sosok ibu. Sebenarnya apa yang ada di kepala kau, tentang dua anak aku itu? Apa kau mau cuma dengan ayahnya, tidak dengan anaknya? Resikonya begini kau nikah sama duda, Nov. Kau cuma tau jawab aja! Balikin kesalahan ke aku, padahal kau yang tak becus jadi ibu sambung. Kemarin sama Kin, aku ngerasa kek tak punya istri, karena dia fokus betul ke anak-anak. Kadang mau ngobrol bercanda berdua, mood Kin lagi tak bagus. Nah sekarang kau malah begini? Udah tak becus jadi ibu sambung, cuma paham nyalahin suami lagi. Kau mau diperlakukan baik, kau pun harus kasih timbal balik yang bagus ke anak-anak aku. Aku tak buta, aku pasti perhatian interaksi kau. Malah gosok kuku lagi! Bukannya cepat cari anak-anak." aku meninggalkannya yang tertunduk sendiri.


Kesabaranku seolah-olah diuji terus menerus.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2