Istri Sambung

Istri Sambung
IS143. Menenangkan Novi


__ADS_3

"Jelasin apa, Hah?!" Aku mencoba maju selangkah.


Sayangnya, hal itu membuat leherku tercekik dan aku kesulitan bernapas.


"Pulanglah dulu, Ken!" pinta papah, yang membuatku tak habis pikir.


"Papah sadar tak?! Papah lepasin pelaku itu!" Aku mencoba bersuara.


"Pelaku apa sih, Far?! Kau butuh nenangin diri kau sendiri." Papah menyeretku masuk ke kamar tamu.


Kini aku terjebak di dalam kamar, dengan pelaku yang bebas di luar sana. Papah melepaskanku, dengan dirinya yang langsung memasang diri di depan pintu agar aku tidak lari ke luar.


Aku meregangkan leherku, yang hampir patah karena papahku sendiri. Lalu, aku beralih menatap Novi yang tengah mengatakan sesuatu pada mamah dan kak Aca.


"Nov." Aku berjalan cepat ke arahnya.


"Novia, kau tak apa?" Aku langsung memeluknya.


Mamah terlihat begitu heran padaku. Apa beliau marah, karena tempatnya aku geser?


"Bang…." Novi hanya membalas pelukanku.


"Gimana keadaan kau? Coba ceritakan." Aku mengusap-usap rambutnya.


Istriku dilecehkan kakak angkatku sendiri.


Aku menciumi wajahnya. Kemudian aku menghapus air matanya yang berlinang.


"Keknya, kita pulang aja, Ca."


Aku lupa, jika di ranjang ini kami tidak sendiri.


"Iya, Mak Cek. Tak mungkin aku dadakan minta kawin sama ayah di rumah."


Mamah malah tertawa geli, kemudian beranjak pergi dengan diikuti dengan kak Aca. Papah pun sudah keluar dari kamar, menyisahkan aku yang berdua bersama Novi.


"Kau diapakan, Nov?" Aku kembali menanyakan hal yang sudah bang Ken lakukan.


Namun, Novi malah menggeleng halus.


"Cerita sama aku, Nov. Aku suami kau, aku pasti bela kau." Aku berpikir, Novi khawatir jika aku tidak mempercayainya.


Apalagi ia tahu, tentang bang Ken yang sudah seperti anak untuk mamah dan papah. Ia pun pasti mendengar cerita, tentang aku yang di Bali selama tiga tahun dengan bang Ken juga.


Novi tetap menggeleng.

__ADS_1


"Sini istirahat siang temenin aku." Suaranya bergetar miris.


Aku merasa, Novi belum siap menceritakannya. Sepertinya, ia ingin menenangkan dirinya lebih dulu.


Aku meluruskan kakiku, kemudian merebahkan kepalaku di bantal yang sama dengannya. Bau amis darah, masih terasa menyengat. Biar sore nanti, aku akan membilasnya.


"Yuk tidur." Aku memeluknya, mencoba menciptakan rasa nyaman untuknya.


Jujur, aku tidak bisa tidur. Tapi aku tidak bisa juga meninggalkannya, untuk mencecar bang Ken. Novi membutuhkanku, Novi membutuhkan suaminya untuk menjaganya saat ini.


Rumah tanpa pagar, tanpa teralis besi, karena aku merasa aman di lingkungan yang seluruhnya adalah saudaraku sendiri. Tapi ternyata, tidak aman untuk istriku yang begitu cantik ini.


Aku tidak akan pernah tenang, sebelum tahu cerita asli dari Novi dan bang Ken. Aku merasa, pasti di satu sisi akan ada yang berbohong.


Meski aku merasa janggal, dengan bang Ken yang mengatakan Novi gila. Setelah hantaman pada kaca itu terdengar.


Aku tidak tahu pasti bagaimana kejadiannya. Karena aku hanya mendengar suara, bukan kejadian asli di depan mataku.


Tapi, dengan bang Ken mengatakan hal tersebut. Berarti, bang Ken tidak mendorong Novi hingga Novi terbentur.


Aku ingin bertanya pada Novi. Tapi selama apa menunggu Novi tenang, kemudian bisa diajak bercerita?


Aku membelai wajah cantiknya. Sisa darah mengering, sampai menempel di alis matanya. Kasihan sekali Novi. Aku jadi tidak tega meninggalkannya di rumah sendirian.


Apa harus aku kembali ke rumah orang tua, dengan aku dan anak istriku yang tinggal dan merepotkan mereka?


Rumah yang aku bangun, dengan biaya miliaran rupiah. Uang yang ditabung, hingga mampu untuk mewujudkan impian memiliki rumah sendiri.


Aku harus mencari solusinya dengan mendengar pendapat Novi. Karena bang Ken tidak bisa kembali ke kota Cirebon, karena dirinya kini telah bekerja dan memiliki tanggung jawab di salah satu rumah sakit di sini.


Jika bang Ken terus di sini, otomatis Novi akan terancam kembali. Dari awal bang Ken sudah lain, ketika menatap Novi. Bahkan sebelum tahu bahwa Novi adalah istriku, bang Ken meminta untuk aku kenalkan pada Novi.


Aku kembali mengagumi wajah Turki ini. Bagaimana lagi aku harus menjaganya? Aku kalang kabut sendiri hari ini. Aku merasa kecolongan kembali, aku merasa lemah kembali, aku pun merasa tak berguna kembali.


"Maaf ya, Nov?" ucapku lirih.


Harusnya, aku tidak pergi bekerja ketika tahu bang Ken akan datang kembali. Tapi, benakku yakin bahwa bang Ken tidak tega mungkin melakukan hal itu. Aku berpendapat, ia pun paham akan traumaku. Aku yakin, ia tidak ingin membuat traumaku bertambah berat.


Aku mencium dahinya begitu lama. Setetes rasa penyesalan, meleleh dari mataku kembali.


Aku adalah laki-laki cengeng.


Tok, tok, tok….


"Papa…."

__ADS_1


"Papa Ipal…."


Si Tuyul ini.


Aku melepaskan tubuh Novi, lalu mengganti posisiku dengan guling. Aku langsung merindik-rindik untuk keluar dari kamar, sebelum Ra berteriak lebih keras.


Ceklek….


"Apa?" tanyaku lirih.


"Inan La igalan." Ia nyelonong masuk.


"Mainan apa, Ra?" Aku sedikit mengerti bahasa anak-anak, karena seluruh cucu Adi's Bird berbicara cedal.


"Itu tu, oktel-oktelan." Ra menunjukkan koper kecil berwarna pink, yang berada di atas karpet ruang penghubung tadi.


"Gih ambil." Aku berdiri dan memperhatikannya yang berlari mengambil koper bergambar dokter kecil.


Aku ingin memiliki anak perempuan lagi, tapi jangan terlampau besar saat janin seperti Ra. Itu akan membahayakan Novi.


Gagahnya tubuh anak dua tahun lebih ini. Pasti makannya banyak, pasti susunya bukan main.


Aku mengekori Ra, sampai akhirnya anak itu keluar lagi dari rumahku. Aku memperhatikannya yang berjalan sendirian, di bawahnya terik matahari yang panas ini. Sampai akhirnya, ia kembali pada seorang perempuan dengan menggendong anak kecil.


Ada kak Aca yang menunggu Ra di depan pagar rumah mamah. Aku kira, si Tuyul ini tidak diawasi. Ternyata aku salah, ia diawasi oleh pengasuhnya di ujung sana.


Ya seperti ini pengasuh diarahkan oleh bang Givan. Mereka diminta untuk tetap membuat anak-anaknya mandiri, dengan membiasakan anak-anak untuk berani.


Sampai akhirnya, sosok yang tadi berada di ruang dokumen tersebut, datang dari dalam rumah mamah dan berjalan beriringan dengan kak Aca. Aku harus memperingati kak Aca, agar ia lebih hati-hati dengan duda satu itu.


Bang Ken pandai berkamuflase. Bang Ken pandai menyembunyikan sifat jahatnya, dalam titel dokter spesialis bedah.


Apa aku harus mengadukan pada ayahnya, yaitu abi Haris?


Tapi, apa nanti aku disebut kekanak-kanakan?


Aku dilema di sini, antara ingin melabrak bang Ken. Atau, tetap menemani Novi untuk tidur siang.


Aku tidak tenang, membiarkan Novi tidur sendiri begini. Novi harus ada yang menjaga, ketika aku tidak berada di sisinya. Aku harus lebih over protektif pada Novi, agar aku tidak kecolongan wanita yang aku cintai dan sayangi lagi.


Eh, tunggu dulu.


Apa yang aku katakan tadi?


Aku mencintai Novi?

__ADS_1


Aku menyayangi Novi?


...****************...


__ADS_2