Istri Sambung

Istri Sambung
IS190. Datang pagi-pagi


__ADS_3

Aku tertunduk malu. "Aku belum punya tujuan kek gitu, Kak." Aku bahkan baru mendengarnya darinya.


"Ya udah tak apa, ciumnya aja dulu." Hembusan napas perempuan ini, bahkan begitu menerpa leherku.


Aku meliriknya tipis, karena jarak begitu dekat. Khawatir malam terjadi pertempelan antara bibirnya dan bibirku, aku takut dilihat yang lain.


"Nanti aja di rumah, aku nanti ke sana." Setelah aku mengatakan ini, barulah ia mau memberi jarak denganku.


Ingin dekat dengan laki-laki, makanya ia menjadi gatal karena laki-laki suka ke hal ranjang. Rasanya itu karena ia pandai berucap saja. Kak Aca memang orangnya suka dengan hal-hal tersebut, seperti mamah pada suaminya. Ya katakanlah, itu adalah hormon genetik. Turunannya memang seperti itu, memiliki minat ke laki-laki yang lebih tinggi.


Dapat yang cupu, aku bingung. Dapat yang suhu, aku lebih-lebih bingung. Bingungnya karena kami belum menikah, tapi ia bahkan sering meminta hal tersebut.


Sejak kejadian malam Minggu sampai tengah malam itu, memang kami tidak pernah tidur bersama lagi. Tapi dalam chat, ia mesumnya setengah mati. Sering menanyakan apa aku mendapat serangan fajar, memintaku untuk memfoto milikku, bahkan ia berucap bahwa ia rindu dengan sensasi penuhnya.


Jika tidak dituruti, senjatanya adalah ngambek. Kak Aca kadang tak segan untuk tidak merespon chat dan telepon dariku. Hal itu tentu membuatku merasa amat kehilangan dirinya.


Seperti contohnya malam Senin ini. Ia ngambek dan tidak meresponku sama sekali, bahkan ia membaca pesanku tanpa membalasnya. Terlihat dari ceklis biru itu, kak Aca benar-benar tak mau membalasnya.


Karena kesulitan untuk tidur, aku malah memilih untuk keluar dari kamar. Ada masalah sedikit saja dengannya, efeknya aku bahkan sulit untuk tertidur.


Kak Aca telah sukses mengendalikanku dan menarik perhatianku. Lewat obrolan kami dan usahanya yang selalu ada untukku, membuatku benar-benar menjadikannya teman yang bisa mengerti akan diriku.


Ia sering menguras informasi tentang aku dan Canda, tanpa ia membandingkannya dengan dirinya sendiri. Ia pun bisa diandalkan, ketika aku menarik obrolan yang membutuhkan saran.


Aku tahu sifatnya yang cemburuan, bahkan ia pernah mengatakannya sendiri. Tapi aku melihat, ia begitu datar dan bahkan biasa saja ketika aku menarik nama perempuan lain.


"Lah, Bang." Aku heran melihat bang Ken yang berada di depan Riyana Studio, ia tengah duduk dan merokok di sana.


"Mau ke mana kau, Far?" tanyanya, saat aku berjalan ke arahnya.


"Susah tidur, Bang. Mau nyari sedikit udara segar aja."


Aku belum kembali ke rumah orang tuaku. Alasannya satu, aku kesepian di rumahku sendiri. Perasaan, begitu sunyi dan sepi. Aku tidak memiliki teman di sana.


"Eh kau sama Aca kah?" Pertanyaan yang random.


Aku mengangguk tipis. "Iya, kenapa memang?" Aku sengaja tidak mengatakan niat baikku untuk menikahinya. Khawatir gagal, lalu aku yang malu sendiri.


"Pantaslah sering betul kau bawa-bawa dia pergi."

__ADS_1


Mungkin yang bang Ken maksud adalah Minggu pagi itu. Aku sering membawanya setiap Minggu pagi untuk ke car free day.


"Iya, Bang. Sesekali aja, cuma hari Minggu itu pun tak tentu." Seperti kemarin hari, karena aku merasa sedikit tidak enak badan.


"Novi udah selesai memang?"


Kebetulan sekali tuh, sepertinya ia ingin mendekati Novi.


"Udah selesai sih, ulangan masa iddah karena kemarin terganggu. Jadi sekarang tuh, dia udah satu bulan dalam masa iddah." Masa iddah yang awal dianggap batal, karena Novi menuntut hak lain gara-gara aku meminumkan uang pada kak Aca.


Untuk uang itu sendiri, kak Aca masih sering mencicilnya. Akad dalam hal itu adalah hutang, jadi ia tetap ingin membayarnya.


Bang Ken manggut-manggut. "Kalau mau nikah lagi sih, kau udah boleh kali tuh, Far."


Aku kira ia meminta izin untuk menikahi Novi, atau hanya sekedar pendekatan dengan Novi.


"Iya, Bang. Nanti diobrolkan lagi." Aku tetap merahasiakan, bahwa aku memberi kak Aca janji untuk menikahinya tidak lama lagi.


"Daripada jadi omongan orang, tak enak sama saudara masa sedekat itu. Tapi kalau dipikir, kau doyannya yang lebih tua gitu ya?"


Ehh….


"Apa tak merasa kau disetirin, Far?"


Lengkap sudah, kini aku memikirkan pertanyaan ringan itu. Disetirin, membuatku terpikirkan semalam suntuk. Ditambah lagi, dengan kak Aca yang minim respon.


Aku memilih untuk ke rumahnya, setelah sholat subuh di masjid. Terlihat, kak Aca tengah menjemur pakaiannya. Ia sudah bangun dan tengah beraktivitas layaknya ibu-ibu pada umumnya. Entah ia bangun jam berapa.


Aku mengirimkan ciuman jarak jauh, kemudian aku masuk begitu saja dari pintu belakang rumahnya yang sedikit terbuka. Menurutku, suasana cukup sepi. Saat aku ke sini pun, jamaah masjid tidak ada yang pulang searah dengan rumah kak Aca.


Aku ingin memberitahunya, agar jangan diam begini ketika marah. Aku yang tersiksa sendiri masalahnya. Ditambah lagi, aku ingin memberinya sedikit wejangan agar ia tidak dominan memimpinku seperti Kin.


Begitu pulasnya anak-anak yang tertidur dengan kipas angin yang tidak mengarah langsung pada tubuhnya. Mereka tidak di satu kamar yang sama, tapi berbeda ranjang.


Kemudian aku melirik ke kamar milik kak Aca. Spreinya begitu kusut, dengan selimut yang belum dirapikan.


"Ngapain ke sini-sini?" Pertanyaan itu sangat tidak ramah.


Aku berbalik badan, kemudian berhadapan dengannya yang baru masuk dari pintu yang aku lalui tadi. Urat wajahnya begitu masam, bahkan ia tidak tersenyum sedikitpun.

__ADS_1


"Jangan marah-marah terus dong. Aku jadi kepikiran, terus sulit tidur." Ada saja cekcok ketika hubungan tengah romantis-romantisnya.


"Marahin pak cek, kalau ketahuan ke sini."


Ia tidak tahu saja, jika di kamar tengah ada tubrukan kulit. Aktivitas orang tuaku begitu intim ketika pagi menjelang, aku pun menjadi malu sendiri mendengar suara yang keluar dari dalam kamar.


Aku berjalan mendekatinya yang tengah berdiri dan mengatur timer mesin cuci dua tabung tersebut. Ternyata, ia tengah mencuci kembali. Cuciannya cukup banyak, karena sepertinya ia menumpuk baju kotornya seperti Winda.


"Biarin!"


Menggemaskannya lekuk badan ini. Aku reflek memukul part belakangnya, lalu memeluknya dari belakang.


"Nanti aku nikahin lebih cepat, tapi tolong kasih aku kesempatan untuk lebih dominan di rumah tangga kita." Aku ingin dihargai sebagai kepala keluarga, tidak seperti saat bersama Kin yang malah aku harus patuh padanya.


"Kenapa harus ada yang lebih dominan. Kau tak bisa ambil keputusan sendiri, tanpa pendapat dari aku. Rumah tangga itu, dua-duanya yang memikul tanggung jawab bersama. Kenapa harus ada yang lebih dominan dan harus pasif? Kita bareng-bareng ajalah."


Beginikah? Aku merasa begitu bodoh, jika dihadapkan dengan karakter kak Aca. Dua kali berumah tangga, nyatanya tidak mampu mendewasakan diriku sendiri.


"Aku pengen dihormati sebagai suami, meski di umur kau lebih tua." Setidaknya, salah satu bentuknya adalah patuh padaku.


Aku memeluknya dari belakang. Part belakangnya itu terlalu menukik, hingga begitu mentok menempel pada Black Mamba yang masih pulas.


"Jelas lah, Far. Aku paham cara bersikap ke suami."


Iseng sekali perempuan ini. Ia malah menempatkan tanganku yang melingkar di perutnya, untuk berpindah ke dadanya. Padahal, aku tidak ada untuk niat mesum.


"Pengen coba adat kek Ahya ya? Abis lamaran, terus kita siri dulu. Pengen ikut pernikahan adat sini, kan prosesinya panjang." Aku mengusap permukaan yang mencuat ini, sebelum akhirnya aku gemas sekali pada benda kenyal ini.


Aduh, inong. Padahal aku tidak berniat mesum. Aku datang sengaja untuk membicarakan hubungan kami. Karena aku termakan ucapan bang Ken, yang mengatakan jika aku menikah dalam kondisi Novi yang menuntaskan masa iddahnya pun tak apa.


"Yakin? Nanti kalau aku keburu hamil gimana?" Kak Aca memutar tubuhnya. Sialnya lagi tanganku begitu nakal, aku malah berpindah ke part belakangnya.


Ia mengalungkan kedua tangannya di leherku. "Nanti kita resmi dan resepsi, malah kesannya kek aku hamil duluan."


Harusnya aku tidak datang pagi ini. Karena wanitaku mesum, tidak absurd seperti Canda. Jika Canda, mungkin ia tidak akan begini-begini.


Nakalnya, padahal ia tengah dalam kondisi ngambek padaku. Wajahnya sudah terbenam di ceruk leherku saja.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2