
...Selamat Hari Raya Idul Adha 😁 Untuk yang belum bisa berkurban, semoga tahun depan kita bisa berkurban 🤲 Aamiin....
...----------------...
"Ish, tak paham ya? Dia itu, suka laki-laki. Makanya aku putuskan, meskipun udah pacaran lama." Novia menepuk-nepuk lututku.
Benarkah?
Atau hanya akal-akalannya saja?
"Ngarang!" Jujur aku tidak percaya, apalagi mantannya itu seorang security.
Security kan, terlihat begitu gentle, begitu laki.
"Serius. Aku pacaran dua tahun sama dia, di situ ayah aku tuh udah desak suruh nikah aja. Katanya tak apa, biarpun cuma buruh pabrik aja. Kan sebelumnya itu, dia itu ya jadi karyawan pabrik."
Yang membuatku heran, sekelas turunan Turki. Kenapa doyan dengan orang biasa? Maksudku, ya biasanya kelasnya kelas kakap. Bertitel dan berpangkat, atau memiliki usaha sukses.
Kalau denganku sih, dalam jaringan keluarga. Aku tidak membanggakan diri, karena bisa mendapatkannya.
"Kok bisa kenal? Terus ketahuannya gimana?" tanyaku cepat.
"Dulunya, dia itu yang ospek aku pas aku kuliah. Tapi, lepas itu dia cuti karena kekurangan biaya. Masa pas ketahuan itu aku ngasih kejutan buat dia, aku sembunyi di kamar mandi kos-kosan dia sambil bawa kue ulang tahun. Udah ada suara pintu terbuka dan orang masuk, tapi tak ada pergerakan buat ke kamar mandi. Jadi, aku muncul kan. Nah, di situ aku yang terkejut. Laki-lakiku yang gagah, tinggi, tegap lagi saling c*mbu di atas tempat tidur sama laki-laki lagi. Udah tuh, kejutan gagal total. Kue ulang tahun jatuh mubazir, aku putuskan dia hari itu juga. Terus aku pulang, dengan nangis bodoh sejalan-jalan. Pasangannya itu tuh, ya sahabatnya mantan aku ini. Aku kira, murni sahabat yang udah kek keluarga gitu. Tak taunya, ternyata dia begitu." Novi menutup wajahnya sendiri dengan tangannya.
"Memang tak ketahuan gerak-gerik mencurigakan? Melambai gitu tangannya? Memang tak begitu dia?" Aku teringat akan para benc*ng yang aku lihat di televisi dan sosial media.
"Tak." Novi menggeleng berulang. "Malah bawaan dia ini, lebih manly daripada Abang. Cowok sejati lah, tak ada melambai dan tak suka kosmetik juga. Kek laki-laki normal, ngopi dan ngerokok juga."
Ternyata lebih mengerikan ya? Bagaimana cara mendeteksi seseorang mengidap kelainan *****al begitu?
Eh, tapi tunggu dulu. Novi menarik cerita, dengan latar belakang kosan. Berarti, sudah sampai kamar dong gaya pacarannya?
"Nov." Aku menyerongkan tubuhku.
"Ya, kenapa?" Novi melakukan hal yang sama.
__ADS_1
"Kau sering berarti ke tempat kos mantan kau? Sampai-sampai, kau punya kunci kosnya."
Novi terlihat santai. Ia tidak gelagapan atau panik juga.
"Sering, kalau kunci kos aku pinjam ke ibu kos. Tapi memang sering main di kosnya. Aku pun utuh, tak pernah diapa-apakan dia. Heran kan? Pacaran dua tahun loh, Bang. Ciuman pun tak pernah. Mungkin karena dia tertariknya ke laki-laki ya keknya? Sampai aku dimubazirkan. Jadi pacaran sama aku itu, keknya untuk kamuflasenya di lingkungan sekitar. Jadi biar orang-orang tuh percaya, kalau dia normal dan doyan perempuan." Masuk akal juga ucapannya.
"Terus kau ceritakan ke bunda sama ayah kau?" tanyaku kembali.
Novi mengangguk. "Apa-apa aku ceritakan semua lah, Bang. Aku tak bisa nyimpen semuanya sendiri," jawabnya dengan menyatukan telapak tangan kami.
Oh, jadi seperti ini Novi?
Beginikah anak semata wayang? Dulunya Novi dua bersaudara, tapi adiknya meninggal saat usianya masih balita. Adiknya meninggal, karena sakit bawaan dari lahir.
"Tak usah beli HP ya? Aku pasang telepon kabel aja ya? Biar aku bisa nelpon langsung ke kau, tanpa lewat Winda atau ipar terdekat. Tapi kau pun, tak aku izinkan hubungi teman-teman kau ataupun mantan-mantan kau. Hanya untuk keperluan keluarga aja. Kalau mau belanja online, atau mau main HP, bisa pinjam HP aku, masa aku di rumah." Aku sudah memikirkan ini.
Jujur, aku khawatir rumah tanggaku tidak baik-baik saja. Jika Novi memiliki ponsel sendiri. Karena ada masalah denganku, dia akan mengadu pada seseorang yang ia percayakan.
"Abang tak percaya sama aku?" Novi sepertinya tersinggung.
"Kenapa sih Abang gitu? Dulu sama Kin tak gitu kan?" Mulai lagi, ia menyebut nama lain.
"Aku takut rumah tangga kita berantakan, karena orang ketiga yang datang dan bawa kau. Sifat kau kek gitu, kau terbiasa ngumbar masalah kau. Sedangkan Kin, dia tak begitu. HP pun, dia jarang pegang. Ada aku di rumah, kehidupannya isinya tentang aku aja. Aku kerja, kesibukannya tentang anak-anak aja. Kebahagiaannya, ada di aku. Dia paling senang, kalau perawatan kecantikan dengan aku temani. Sedangkan kau kan malah kebalikannya. Kau belum bisa jadikan aku sebagai kehidupan kau." Mungkin karena ini juga, yang membuat Kin tidak bisa melonggarkan kepercayaannya padaku.
"Kita ini, dua orang yang berbeda, meskipun rasa menyatukan kita. Abang punya kehidupan sendiri, begitupun aku. Kalau aku kek Kin begitu, apa Abang nyaman? Aku pun tak nyaman, kalau kehidupan aku kek gitu, Bang. Aku bisa merasakan sendiri, kalau terlalu begitu. Aku pernah punya pacar yang begitu, rasanya itu risih dan ilfeel setengah mati. Setengah hidup Abang itu, Abang gunakan untuk kerja. Sisanya baru keluarga, sosialisasi sama sekitar, istirahat, dengan aku yang sebagai pelengkapnya. Coba kalau setengah hidup Abang aja, Abang isi dengan aku terus. Pasti pekerjaan Abang terbengkalai, Abang pun tak ada waktu untuk keluarga, atau untuk keluar rumah ngobrol-ngobrol sama tetangga atau teman Abang. Gitu tak sih, Bang?"
Aku mencernanya.
"Kehidupan kita tuh, bukan tentang kita aja. Apalagi, ada anak-anak kita juga. Katakanlah, itu masuknya ke daftar waktu untuk keluarga," tambahnya kemudian.
Benar juga.
"Abang pengen aku kek Kin?" Tentu aku langsung menggeleng. Nanti, ia malah wafat lebih dulu daripada aku lagi.
Sudah cukup, sekali saja ditinggal mati.
__ADS_1
"Kan tadi kau nanya Kin lagi," ujarku tidak kehabisan akal.
"Intinya, Abang tak percaya sama aku punya HP kan?" Ia menarik lagi pembahasan awal.
Aku mengangguk, kemudian meliriknya. "Aku tak mau kau gitu-gitu lagi, aku tak mau ada mantan kau di antara kita. Aku tak betah, aku risih, aku tak suka dan aku tak mau kau masih berhubungan dengan mantan kau," terangku dengan memencet hidungnya.
"Oke, aku ikuti mau Abang. Aku tak apa, aku tak punya HP. Asalkan, lainnya sesuaikan. Abang bisa jadi teman curhat aku, Abang bisa jadi tempat hiburan aku, Abang pun harus bisa aku genggam juga."
Black Mamba maksudnya?
Aku menunjuk tengah-tengah tubuhku. "Ini maksudnya?"
Namun, ia malah tergelak lepas.
"Maksudnya, selalu bisa gitu kalau aku butuh." Masih cukup ambigu ucapannya.
"Butuh apa sih, Nov? Perasaan, begituan juga jadi lebih sering deh. Tak kek dulu, sulit betul. Tak kek kemarin juga, yang seminggu sekali pun tak pasti." Aku berpikir yang Novi maksudkan adalah ke arah *****al.
Entah tabib yang mujarab, atau aku yang sudah bisa memanage diriku sendiri.
Novi tertawa geli, kemudian menunduk memeluk lututku.
"Misalnya gini, Bang ke pasar. Ya ayo, gitu."
Oh, iya iya. Aku paham.
"Bang rindu, gas Oyo. Kan gitu ya?" tambahku kemudian.
"Gas ayo, lah. Masa iya gas Oyo." Novi menarik pipiku.
Tawa kami begitu bahagia, di teras rumah kami.
...****************...
Beberapa hari gak gantung nih 😅 tapi biasanya 🤭
__ADS_1
Eh, apa ada yang ikut bapernya gak? 🤭