
"Aku bakal suruh dia tinggal di tempat Cani dulu, biar terkontrol di mata aku. Kau diam aja, tak usah cerita ke mamah sama papah. Mereka pasti murka, kalau tau rumahnya dijadikan tempat zina, meski tadi belum kejadian juga. Tapi kan mereka udah berniat, udah saling buang pakaian masing-masing." Bang Givan berkata lirih.
"Kan mamah sama papah berhak tau juga gimana keponakannya. Biar mereka bisa arahkan Novi." Aku berpikir demikian.
"Biar aku yang ngomong, kau nanti lebih terkesan ngadu daripada ngomong. Benih Adi Riyana tak bisa diandalkan," gerutunya sangat berani.
"Memang agak lain juga kalau benih orang lain," sindirku yang malah mendapat lemparan sendal.
"Aku anak mamah, sedangkan kau anak papah. Tak ada kau beraninya jadi laki-laki, sunat aja kau nangis," ledeknya tak berhati.
Ia membawa kejadian sunat yang lama sudah tidak pernah kami bahas.
"Kau laser, aku setengah laser setengah gunting. Kau tak bayangkan, masanya mata gunting itu motong kulit aku." Aku memegangi tengah-tengah tubuhku. "Atit ali, BESTie." Aku sampai merasakan linunya kembali.
Alasan terbesarku menjaga keperjakaanku sejak dulun, yaitu karena sunat itu sakit. Aku tak mau asal perempuan saja yang mendapatkan first nyelupku, aku mau perempuan setimpal yang menjadi pengorbananku dari rasa sakitnya sunat dahulu. Untungnya, seumur hidup hanya sekali sunat.
"Tapi bagus, punya kau jadi bermotif di bagian atasnya." Ia terkekeh geli, dengan mencolek pipiku.
Aku mendelik tajam padanya. "Tak bermotif pun tak masalah, kalau sakitnya sedikit sih. Udahlah! Jangan dibahas, ngilu lagi aku. Untungnya, tak punya anak laki-laki yang harus bersunat." Bersyukurnya Nahda adalah perempuan.
"Kan belum tentu perempuan juga bayi yang Aca kandung." Ia terkekeh melihatku yang sudah linu-linu badai seperti ini.
Melihat tengah-tengah tubuh laki-laki ditendang, diinjak, disunat, adalah kegiatan linu yang seolah tertransfer.
"Jaman sekarang sih, sunat udah tak begitu sakit. Chandra sunat, tiga hari udah kering. Zio pun sama, tiga hari udah tak rewel. Udah pakai celana, udah mainan lagi, udah aktivitas biasa," ungkapnya kemudian.
"Ya tetap aja, bengkak sih pasti setelah sunat itu." Pembengkakan inilah yang membuatku trauma juga.
"Ya namanya juga kulit hidup dipotong, Far." Bang Givan bangkit dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Tak lama, ia keluar bersama Novi. Pintu rumah dikunci dari luar, kuncinya pun disimpan oleh bang Givan. Aku mengawal mereka, hingga pagar rumah mamah tergembok sempurna.
"Aku mau ke studio, Bang." Aku berjalan ke arah tempat usaha Ghava berada.
"Aku ikut." Novi langsung melangkah mengikutiku.
__ADS_1
Namun, tas jinjing Novi ditarik oleh bang Givan. "Pulang ke tempat Cani! Ayo, aku antar. Berapa kali aku bilang, kalau Ghifar sekarang udah beristri! Jangan memperkeruh keadaan, apalagi kau tak bisa bersikap baik ke istri Ghifar. Lain Canda, yang jelas bisa kau hormati dan aku tak punya masa lalu sama kau," jelas bang Givan dengan menarik Novi ke arah rumahnya.
Dasarnya memang galak, tegasnya terlampau ingin memarahi terus rupanya.
Ah, sudahlah. Biar kasus Novi, dibicarakan dengan baik nantinya.
"Cie, keluyuran," ledek Ghavi ketika aku baru memasuki bangunan yang pintunya selalu terbuka ini.
Entah berapa puluh pengamen yang sudah berhenti di depan pintu ini, tetapi hanya diberi dengan maaf saja.
"Kau pun sama!" Aku menghempaskan tubuhku di samping Ghava.
Ghavi duduk di dekat pintu, tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya. Apa kondisi perekonomiannya belum stabil juga? Apalagi sekarang istrinya memiliki anak bayi.
"Aku ngemong bocah, tuh." Ghavi menunjuk anak Athaya yang duduk di sebelah bang Dendi.
Bang Dendi diapit oleh Rere, anaknya sendiri dan juga Athaya. Mereka berdua pun seumuran dengan Ceysa.
"Kok masih pada main?" tanyaku pada dua anak tersebut.
"Tadi ibu jemput, Kakak tak mau pulang. Ayah belum selesai kerja, udah diajak pulang terus." Bang Dendi menggunakan nada imut ala anak-anak.
"Aku mau sama Ayah." Rere bergelayut di lengan ayahnya.
Cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Kal pun seperti itu, bahkan ke setiap pamannya juga. Entahlah, tidak mengerti juga aku jika anak-anakku. Karena mereka dekat ke semua saudaraku dan mendapatkan kasih sayang dari mereka semua, setelah Kin tiada.
"Ata tak bobo, Nak?" tanyaku pada anak Ghavi.
"Bangun bobo, Pa."
Lah? Hal seperti itu pun ada? Yang lain sudah pada terlelap, Athaya malah bangun segar.
"Aku dengar, katanya nikah siri nih?" Menyindir atau bertanya Ghavi ini? Kok nadanya seperti itu?
"Iyes, ngikutin jejak kau." Aku menjawab dengan meledeknya secara tidak langsung.
__ADS_1
Ia malah tertawa renyah, dengan melirik ke arah Ghava.
"Ah, kena sindir juga aku." Ghava menutupi wajahnya sendiri.
Eh, iya ya? Aku baru ngeh, ternyata kami semua memiliki cerita menikah siri. Ghava dengan Winda dulu, Ghavi dengan Fatma. Sekarang, aku dengan Aca.
"Tapi aku beda kasus lah." Aku merasa sedikit unggul, karena kasusku tidak seperti Ghavi. Aku tidak memiliki istri, ketika menikahi Aca.
"Kasus aku yang paling baik-baik malah. Siri ini, akhirnya dibuat cerai juga." Ghava geleng-geleng kepala.
"Betul, buat miskin lagi," tambah Ghavi dengan tawanya.
Tawanya seperti meledek semua orang.
"Aca tak buat miskin aku." Tentu aku membela apa yang aku rasakan.
"Winda pun tak buat miskin juga. Malahan, dia ada dari aku miskin sampai kaya. Mau kunikahi perempuan yang di Jakarta, dia belum tentu mau berjuang sama aku di kala aku susah. Jasa foto, dikasih dua puluh ribu. Jauh-jauh dibooking untuk foto wisata di Takengon, sepuluh jepretan cuma dikasih seratus ribu. Winda ikut ke sana, habis juga itu seratus ribu untuk makan kita berdua di Takengon. Pulang ke rumah, malah nombok bensin sendiri." Ghava geleng-geleng kepala dengan aku dan Ghavi yang tertawa renyah.
"Ujung-ujungnya sih, support orang tua lagi," timpalku yang membuat tawa kami meledak juga.
"Iya udah, makanya mau Winda malas nyuci kek gimana pun. Udahlah, aku sabarin aja. Karena perempuan lain, tak mungkin bisa selalu ada juga lepas kita pulang hanya bawa nasi bungkus satu dan keadaan perut dua orang yang lapar. Di situ, kita langsung lomba makan nasi bungkus barengan. Tinggal sesuap lagi, buat abang aja, buat adek aja. Karena pikir kami, pasangan kami belum kenyang."
Aku belum pernah merasakan di posisi Ghava. Semoga saja, tidak sampai mengalami juga. Karena anak kami begitu banyak.
"Kau mampu, tak pakai ART atau apa. Baju terus masalah rumah tangga kau," tukas Ghavi kemudian.
"Pernah ada, mereka kabur lepas tau tiga lemari isinya keluar semua. Alasannya sih, aku pamit dulu, anak nelpon katanya sakit. Eh, tak datang lagi. Didatangi ke rumahnya, tiba-tiba langsung bilang tak diizinkan suami. Padahal, dari awal dia mohon-mohon minta kerja." Ghava bercerita dengan gelengan berulang.
"Memang aktivitas rumah tangga, Winda mampu keluarin semua?" Maksudku, tidak hanya tentang mengurus pakaian.
Ghava mengangguk. "Dia mampu, pagi itu dia udah masak. Cuci piring, bagian aku. Lepas itu dia nyapu, berbenah. Aku bantu mandikan anak, karena Winda ada trauma mandikan Adib. Abis Adib mandi, langsung Winda lagi yang urus. Aku udah ambil alih Asya, nyuapin dia di teras rumah, kadang di bawa ke studio sambil kerja. Winda udah di sekolah tuh, nungguin Adib sampai pulang khawatir kejang mendadak. Asya ya bisa main sekitar sini, lepas aku sibuk kerja. Siang Winda pulang, urus anak-anak, urus makan siang aku. Abis makan siang, ya aku cuci piring. Dia sholat, terus tidur bareng dia sama anak-anak. Sorenya, aku antar mereka ngaji. Winda di rumah lagi ngepel sama beresin mainan. Udah begitu terus siklusnya, baju sih memang tak pernah tersentuh tiap hari sekalipun dipakai tiap hari juga."
Sistematis seperti Aca, bahkan di sini Ghava ikut andil dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak.
Aku ngapain?
__ADS_1
...****************...