
"Jangan setengah-setengah ya, kalau mau ngajak khilaf! Jangan buat salah paham, mending buat salah aja sekalian. Macam-macam kau! Segala ngajak ke toko emas, buat minta pendapat. Sekalian aja ngajak ke Oyo, untuk buat anak!" Aku gemas sendiri, sampai memukul-mukul setir mobilku.
Kocaknya lagi, Canda malah terbahak-bahak begitu puas. Coba di mana, teman mengobrol yang seperti ini? Bagaimana tidak aku susah move on, jika perempuannya random dan lawak begini. Kepolosannya, kadang membuatnya tidak paham bahwa suaminya bisa cemburu. Aku malah jadi semakin ragu, jika Canda punya otak.
"Kan kita ipar, Far. Kau sih terlalu lebay betul tuh, masa iya kita mau selingkuh ini sih." Sepositif itu pikiran Canda.
"Kita kan mantan, Bodoh! Kau buat aku emosi aja." Sepuluh senti lagi, jemariku bisa mampu untuk mencubit pipinya.
Namun, jelas tidak sampai untuk berani menyentuhnya.
"Ah, lebay aja dasar. Aku dulu mantanan sama mas Givan sebelum rujuk, santai aja tuh ngobrol di kamar berdua. Tak ada begini begitu, tak sampai ada perselingkuhan juga meski aku janda dia duda."
"Kalau duda sama janda itu bebas ya, Canda. Sama halnya kek bujang sama perawan. Mereka ada hubungan, namanya bukan selingkuh. Duda sama janda ini loh, di rumah mereka tak ada istri maupun suami. Jadi, bagaimana bisa dikatakan selingkuh?" Kak Aca sampai menimpali.
Tawa Canda sampai begitu membahana. Ia sedang mentertawakan kekosletan otaknya sendiri.
Sepertinya, polos-polos agak saiko begini adalah daya pikat seorang Canda untuk lawan jenisnya. Tapi percayalah, semua orang tak mungkin sabar jika tengah serius lalu Canda memberikan asumsi polosnya itu.
"Mamak kau agak-agak, Ra. Pantas dia mau aja dihamili berkali-kali juga," ledek kak Aca yang membuat tawa Canda sirna.
Canda menoleh ke belakang. "Awas aja ya, kalau Kakak nanti dihamili berkali-kali terus mau aja. Aku bakal balas ledekan Kakak!" ancam Canda tengah mata yang disipit-sipitkan.
"Ya, silahkan. Rasanya aneh aja, masa iya janda hamil? Tadi janda sama duda, dibilang selingkuhan. Sekarang, tinggal janda hamil. Van, Van, model begini rupanya yang buat kau berani pasrahkan harta benda kau." Kak Aca seperti menggerutu, ia seolah tengah berbicara sendiri.
__ADS_1
Tawa geliku sudah terdengar dari tadi. Si polos Canda dan si pengkuak kepolosan Canda sedang adu mekanik, timbulnya mengocok perut. Sebaiknya kak Aca dan Canda jangan sering dibarengkan, bisa-bisa nanti orang-orang di lingkungannya akan awet muda terus.
Aku memutar spion tengah untuk mengarah ke kak Aca. "Soalnya model perempuan begini, keknya bakal terus terang kalau dia main serong sama laki-laki lain."
Kak Aca melirikku dari pantulan di spion tengah juga. "Aku malah ragu dia punya pikiran untuk main serong. Sepositif itu loh pikirannya sama mantan, tak tau apa di sana suaminya ketar-ketir," balas kak Aca yang membuat tawa Canda tak kunjung mereda.
Canda sepertinya geli sendiri, karena kepolosannya dikuliti seperti ini. Ia pasti merasa lucu, kenapa otaknya bisa sampai selurus itu.
"Pikiran perempuan normal tuh, Canda. Suami jalan sama sepupu perempuan aja, itu dia udah cemburu. Terus pikiran laki-laki itu, istri ketemu mantan pacar pasti arahnya ke ranjang. Ini valid loh, Canda. Coba kau tanya-tanya ke narasumber yang ada."
Eh, tetapi kok benar ya ucapan kak Aca? Aku bertemu Canda di depan hotel Oyo, berakhir di ranjang Oyo.
Suami jalan dengan sepupu perempuan, istri cemburu. Apa Novi cemburu? Tapi tadi aku ajak, ia tak mau. Saat aku mengeluarkan mobil dari rumah, aku sudah mengajaknya. Namun, ia menolak dengan alasan cucian belum selesai dan ia pun tengah masak. Aku tidak setega itu, tanpa mengajak Novi. Ibuku saja kuajak, meski menolak. Apalagi istriku, meski tengah ada masalah dengannya.
Helaan napas kak Aca sampai terdengar ke telingaku. "Suamiku pulang kerja telat, aku udah ngamuk tak jelas padahal dia tak pernah punya mantan. Sampai akhirnya, dia pulang kerja gak ada kabar, aku marah-marah di chat, tak taunya malah dapat kabar dari rumah sakit. Besok-besok nanti, rasanya aku trauma marahin suami di chat. Takut yang balasnya nanti pihak rumah sakit yang ngasih kabar, kalau dia kecelakaan di jalan raya yang biasa dia lewat untuk pulang ke rumah aku."
Apa ini yang dinamakan curhat colongan?
"Mas Givan dimarahin, ya ngemarahin balik. Mesti aja nangis dulu, baru ngerasa bersalah." Canda pun malah curhat.
"Aku dong." Aku menunjuk diriku sendiri dengan ibu jariku.
"Berantem, mecahin barang, terus nangis?"
__ADS_1
Sungguh, Canda sampai begitu renyah mentertawakanku saat kak Aca meloloskan kalimat itu. Maksudku, aku tidak pernah dimarahi dalam chat atau memarahi balik pasanganku ketika pasanganku marah. Kenapa, kak Aca malah membeberkan step by step caraku menumpahkan emosi?
Eh, aku ingat. Saat aku marah pada Novi sampai memecahkan jendela kamar, kak Aca masih tinggal di rumah mamah.
"Waktu aku kenapa-kenapa juga, Ghifar pernah nangisin aku. Kalau tak banyak orang, rasanya mau aku puk-puk punggungnya. Sayangnya itu, aku malah nangis juga."
Lawakan macam apa ini? Sampai gema suara tawa membuat kaca mobilku bergetar.
"Jadi siapa yang dipuk-puk kalau sama-sama nangis?" tanya kak Aca dengan tawa yang masih begitu renyah.
"Akhirnya Ghifar pingsan, aku dimarahin keluarga aku karena nangis aja. Kocak memang, lagi nangis malah tambah dimarahin," jawab Canda kemudian.
"Aku pernahnya begini, lagi makan terus mertua marahin. Detik itu juga, makanan langsung pahit rasanya. Kelak nanti aku punya mertua yang anggap aku anak, aku diminta tinggal sama beliau tak pulang-pulang pun tak apa. Yang penting, aku tetap dikasih kemudahan untuk berbakti ke orang tua."
Catat, ini ucapan kak Aca.
"Kalau mertuanya kek aku gimana? Aku sakit, ayah mertua sampai gendong-gendong aku, nganterin ke kamar mandi, terus beliau nunggu depan kamar mandi. Ibu mertua juga sayang tiada dua, sampai aku lebih dekat beliau ketimbang ibu sendiri. Tak pernah perhitungan, tapi sekalinya marah sampai kek macam nyumpahin. Tak pernah ada kata mamah sayang, makanya begini. Tapi doyan marahin juga, nada tinggi pun sering. Kalau nyuruh, udah macam nyuruh anak sendiri. Tapi tak ada itungan soal uang, jaminan hidup pun dikasih juga. Sejahtera lah kalau nurut, tapi kalau tak manut udah macam dimusuhin satu desa."
Kak Aca malah terkekeh geli, mendengar Canda menceritakan tentang orang tuaku.
Yang sekarang, aku malah punya istri tapi tak punya mertua dan kerabat dari pihak istri. Bahkan, aku tidak tahu nama-nama saudara istriku.
Sepertinya karena kurang pengenalan, membuat aku dan Novi seperti ini. Aku selalu dilema, jika membandingkan keadaan rumah tanggaku sendiri.
__ADS_1
...****************...