
"Oh ya??? Abang pun terlampau bodoh, karena mau aja dinaikin janda gatal itu."
Ya ampun, mulutnya.
Aku tidak pernah membela berlebihan pada siapapun, pada Novi juga. Karena orang-orang cenderung memujinya cantik dengan segala keindahannya. Baru kali-kali ini, aku mendengar seseorang menjelek-jelekkan pendampingku dengan begitu berani.
"Untuk masalah itu, kau tak perlu hakimi kami. Yang tak buat aku ngerti, kenapa kau ikut campur? Kau panas hati, lihat aku udah punya pasangan lagi? Sedangkan diri kau belum ada begitu?" Aku berpikir ia iri.
"Aku tak panas hati. Aku cuma ingin, Abang akui bahwa diri Abang salah dalam pernikahan kita kemarin!" Itu terdengar seperti keharusan.
"Ya, memang aku yang salah. Aku salah, karena tak bisa mendidik kau. Aku salah, karena tak bisa mempertahankan kau. Tidak ada kesalahan aku, dalam hal kesetiaan. Tidak ada perempuan lain, saat kita masih sama-sama. Waktu di Bali, aku ketemu Fira dan beberapa teman lama pun. Aku tak pernah tergiur dengan mereka, aku ingat bahwa aku suami kau dan aku coba jaga kepercayaan kau. Aku tak pernah coba cicipi perempuan lain, di samping karena masalah keadaan pusaka aku. Aku tak pernah bagi apapun dengan perempuan lain, karena dulu aku dan hartaku adalah hak kau." Aku paham, perceraian penyebabnya adalah karena laki-lakinya yang tidak bisa menjaga pernikahannya.
"Ohh, masih memungkiri juga? Canda, bagaimana? Aca pun, Abang kenalnya saat kita masih sama-sama." Mata indahnya sampai membulat melotot-melotot.
"Nov…." Aku menggeleng lemah. "Udah, terserah kau aja. Aku beneran capek hadapi kau." Sering aku katakan, bahwa aku bukanlah orang yang suka berdebat.
"Tuh kan? Selalu aja begini. Canda jelas-jelas orang ketiga di hubungan kita kemarin, Aca juga. Sendirinya ngerasa bersalah sih, jadi selalu menghindari perdebatan." Ia mendekat dan menyentuh leherku.
Aku melepaskan tangannya secara halus. "Orang ketiga tuh, kalau perempuannya juga mau. Aca mau, begitu aku menduda. Canda, jelas dia nolak aku dari awal. Dia tak mau ada perselingkuhan, tak mau ada skandal. Masalah kedekatan, Canda memang dekat dan akrab sama aku. Bahkan, kemarin dia nyuapin puding buatannya sendiri ke aku di depan Aca. Kita memang udah dekat, cuma benar tak ada hubungan rahasia. Suaminya pun tau, kalau kita memang akrab sebagai teman dan sebagai ipar." Aku tidak mengerti, kenapa Canda selalu dipermasalahkan oleh Novi.
"Tak, itu tuh pasti……"
Aku segera memangkas ucapannya. "Tak bagaimana? Aku yang ngerasain, ngejalanin dan lebih tau kejadiannya. Kau jangan maksa-maksa, untuk aku ngakuin kejadiannya sama persis yang ada di otak kau. Kalau kau tak percaya, ya udahlah! Terus tuh, stop ngerecokin aku! Aku udah bebas, kau pun bebas. Lebih baik, kau urus masa depan kau sendiri. Kau cari pendamping yang mampu didik dan imamin kau. Kau atur semuanya sendiri, kau perbaiki semuanya sendiri." Lebih baik ia mengurus hatinya dengan pria lain, daripada harus terus menghakimiku.
Setelah itu, ia langsung pergi tanpa pamit. Kejadian ia memintaku mengantarnya pulang pun, terjadi lagi. Bahkan, bukan hanya di hari Senin ini saja. Sampai datang Senin depannya pun, ia masih seperti ini.
Ditambah lagi, ia meminta untuk tinggal di rumah orang tuaku. Bertambah panasnya, karena orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang bertolak menuju ke Cirebon, sekalian ziarah ke orang tua katanya.
Sedangkan, di rumah orang tuaku juga. Ada Aca yang tinggal dengan dua gadis kecil, ia datang karena permintaan mamah. Aca diminta untuk mengurus anak-anakku, sementara dirinya pergi ke Cirebon. Aca diminta untuk bekerjasama dengan mamah. Terlihat dari raut wajahnya dan bahasa tubuhnya, istriku dengan senang hati menerima perintah tersebut.
Bahkan, ia datang lebih dini. Tepatnya, saat Sabtu pagi. Meski, dirinya diminta datang Sabtu sore. Karena, penerbangan untuk orang tuaku pukul sepuluh malam.
Aku menempati rumahku sendiri, meski pagi dan pulang kerja aku tetap ke sana untuk menengok keadaan mereka.
Yang menyedihkan adalah, aku tidak dikeluar-keluarkan. Yang pertama, karena takut pada mamah. Yang kedua, karena kami perlu menjaga jarak agar tidak menimbulkan kecurigaan.
__ADS_1
"Tak apa kan?" tanyaku, dengan melirik Novi yang baru saja melewati kami.
"Ya mau gimana lagi?" Aca mengedikan bahunya dengan menghela napasnya.
"Semalam tak dapat jatah, kangen nih." Aku mengusap-usap kedua lengannya dengan posisiku berada di belakang tubuhnya.
Uhh, begini saja sudah merinding.
"Mandi dulu gih. Anak-anak masih pada aktif main, Pa." Aca mengusap air hidung Ra, dengan selembar tisu.
"Tapi malam ini jadi ya, Ma?" Aku tersenyum penuh harapan besar padanya.
"Jadi atau tak ya?" Aca terlihat seperti tengah menimbang-nimbang.
"Udah lama, Ma. Kasihlah servis." Aku sampai merengek seperti ini.
Jika Kin orangnya, dicolek saja jadi.
"Oke deh, nanti anak-anak aku minta tidur bareng di kamar luas. Nanti kalau mereka udah lelap, aku masuk ke kamar Papa. Papa jangan kunci pintu kamarnya segala, biar aku bisa langsung masuk."
"Ada ayah." Aku meraup wajahku sendiri.
Aku baru ingat, jika aku tidak bisa menginap sembarangan.
"Yah…."
Gila memang.
Ia malah memanggil orang bersangkutan, yang duduk di bangku bawah pohon mangga dengan mengobrol bersama Chandra. Entah mereka tengah curhat apa.
"Apa?"
Aca berjalan menghampiri ayah Jefri. Ia membiarkan anak-anaknya untuk berlarian di sore hari ini.
"Yah, malam nanti aku ke kamar Ghifar ya?"
__ADS_1
Ya ampun! Tepok jidat.
"Iya."
Hei!!!
Apa lagi ini? Aku malah heran, ayah langsung mengiyakan tanpa bertanya banyak.
"Sampoerna mild kah, Yah?"
Aku langsung tertawa lepas. Ya ampun, ternyata ada sogokannya juga. Aku kira, iya tanpa tuntutan apapun.
"Boleh."
Yang tuanya juga, ya Allah. Aku ngakak terus di sini.
"Biasa aja kali!" Respon beliau begitu santai.
"Nanti aku nginep ya, Yah?" Aku pun berjalan ke arah beliau.
"Iya. Ayah pun mau ada kerjaan dulu, tengah malam baru pulang keknya." Ia pun dirinya kembali mengobrol dengan Chandra.
Aku mendengar Chandra bercerita, tentang temannya yang meminta paksa uang sakunya.
"Terus Bang Chandra kasih uangnya?" Aku menimpali obrolan tersebut.
Istriku sudah melarikan diri ke warung. Ia rupanya segera untuk membelikan rokok, agar ayah Jefri tidak berubah pikiran. Ya meski, tidak pernah beliau berubah pikiran.
"Aku kasih dua kali, aku sedekahkan. Terus aku lapor ke bu Inah, pas di kelas ibunya nanya langsung si Noval itu betul tak mintai uang. Terus temen-temen yang lain pada bilang, iya aku juga dipalaki." Caranya bercerita sudah seperti orang dewasa.
"Kenapa dikasih? Kan jadi Bang Chandra tak punya uang jajan jadinya?" ujarku dengan mengusap punggungnya.
"Karena, kata biyung tak semua orang itu kaya. Mungkin Noval tak dikasih uang jajan sama orang tuanya, karena orang tuanya tak punya uang. Makanya aku kasih aja. Tapi, caranya tak baik. Makanya, aku bilang ke ibu guru."
Aku melongo saja mendengar anak ini menjelaskan. Dermawannya anak kecil ini.
__ADS_1
...****************...