
Aku menggantungkan kalimatku, karena bingung untuk mengungkapkannya. Pasti mereka tidak mengerti, lalu muncul pertanyaan baru.
"Apa, Pa?" Kaf menatapku dengan alis yang menyatu.
"Tante Cantik itu, dia jadi mamanya Kak Kal sama Adek Kaf. Mamanya jadi dua, mama Kin, sama mama tante Cantik ini. Mama Kin kan udah di surga, jadi mama Kin tak bisa nemenin kita di dunia. Jadilah, kita ditemani tante Cantik ini di dunia." aku pikir hanya ini yang mudah dimengerti dan diterima oleh mereka.
"Apa nanti aku bisa ketemu mama Kin lagi?" tanya Kal dengan memandang wajahku dengan mata yang persis seperti milik ibunya itu.
"Bisa dong, nanti di surga. Kalau Kak Kal bisa jadi anak baik." aku teringat akan cerita Canda ya mengatakan, bahwa Kal panjang tangan.
Pandangannya langsung tertunduk. Kemudian, Kal memeluk dadaku. Pasti ia teringat dengan ucapan biyungnya, ia pasti merasa bersalah.
"Tapi kenapa kok tante Cantik tak kek mama Kin?" pertanyaan polos itu keluar dari bungsuku.
"Kan rupanya orang beda-beda, Kaf. Adek Kaf aja, mukanya tak sama kek Kak Kal." aku kini memfokuskan perhatianku pada Kaf, karena Kal menyembunyikan wajahnya di ketiakku.
"Bukan mukanya, Pa. Bapa sama abi aja kembar, mukanya kan tak sama. Maksudnya tuh, ya pagi siang sorenya tak sama kek pagi siang sore mama Kin. Kan katanya sama-sama jadi mama aku?"
Serumit ini pertanyaan anak-anak. Tinggal bilang saja aktivitasnya. Segala pagi siang sore, aku jadi tergelitik sendiri.
"Iya, tante Cantik masih belajar. Mulai besok, Kaf nurut ya sama tante Cantik. Kalau waktunya makan, Kaf bilang mau makan. Waktunya mandi, minta tolong tante Cantik bantuin Kaf mandi. Tante Cantik kan tak tau Kaf jam segini harus ngapain aja. Jadi Kaf yang bilang ke tante Cantiknya ya?" mungkin ini akan mempermudah Novi mengerti tugasnya.
Kaf mengangguk, "Bilang tante Cantik nanti, harus bisa jadi mama aku. Kan kasian, aku di dunia udah tak punya mama lagi."
Terkadang ucapan anak-anak seperti ini, malah membuatku cengeng.
"Iya, Sayang. Nanti Papa sampaikan." aku mencium dahi anakku, "Tidur, Nak. Udah malam." aku memejamkan mataku, dengan memberinya usapan lembut.
~
Baiklah, aku akan merubah aktivitas Novi pagi ini. Aku akan mengajarinya untuk memulai pagi ini.
"Nov, bangun. Subuhan." aku menggoyangkan lengannya.
"Jam berapa ini?" Novi mengucek matanya.
__ADS_1
Bangun tidur saja, Novi terlihat cantik.
"Setengah lima. Bangun, sholat. Terus, tolong buatin sarapan ya? Aku udah kasih pengertian ke anak-anak tentang kau, jadi mohon kerjasamanya." aku membantunya, saat ia ingin bangkit dari tidurnya.
Novi terlihat bingung. Ia terdiam sesaat, kemudian mengangguk beberapa kali.
"Mandinya nanti lagi, kalau anak-anak udah berangkat sekolah. Sekarang cuci muka sama sikat gigi aja. Takut waktunya tak keburu."
Sedangkan aku sudah mandi dan sholat. Aku baru selesai peregangan otot di halaman belakang. Juga sudah berkeliling rumah, dengan membuka beberapa jendela rumah dan menyalakan lampu khusus siang hari.
Novi mengangguk, ia bergeser untuk turun dari tempat tidur.
"Mau sarapan apa?" ia mengikat rambutnya.
Asal ibu-ibu tahu saja. Perempuan yang mengangkat kedua tangannya seperti ini, contohnya seperti mengikat rambut seperti ini, mereka terlihat begitu seksi. Sering-seringlah memberikan live show seperti ini di depan suami.
"Terserah. Jangan mie, pokoknya jangan ada bahan makanan yang dari mie lagi untuk dua minggu ke depan." aku masih menyaksikannya yang menggulung rambutnya itu.
Ujian sekali satu rumah dengan perempuan yang sah untukku ini. Anda saja, ia pandai menerkam seperti Kinasya.
"Kalau bihun gimana, Bang?" Novi pun memakai bandana, yang berada di sofa panjang kamar ini.
Sepertinya itu miliknya sendiri.
"Bihun, pasta, mie, pokoknya jenis seperti itu masaknya minimal dua minggu sekali. Kan ada yang lain juga, ayam lebih gampang diolah. Bayam, atau kangkung. Kau tinggal jalan ke depan gang sana, buat beli sayuran." aku menunjuk ke arah timur.
Novi mengangguk, "Ya, aku cuci muka dulu Bang." ia berjalan ke arah kamar mandi.
Aku mengangguk, kemudian memilih untuk mengecek tas anak-anak. Sejak teguran Canda semalam, aku jadi merasa Kal perlu ditindaklanjuti.
Tapi, aku pun tidak percaya sendiri. Apa aku perlu mencoba menjebaknya? Ya menaruh uang asal saja begitu? Karena sebelumnya, aku tidak pernah teledor ketika menyimpan uang atau dompet.
Mungkin itu bisa menjadi cara, agar aku mengetahui sendiri.
Tugas anak-anak aman. Bukunya pun sudah disiapkan. Tinggal buku tabungan saja yang belum diisi. Namun, nominal uang tabungan milik Kal di luar pemberianku.
__ADS_1
Apa ini? Sepuluh ribu, dua puluh ribu, bahkan ada yang seratus ribu juga. Kal mencuri untuk memperbanyak isi tabungannya? Tapi untuk apa ia punya uang banyak? Apa ia memiliki angan-angan membeli mainan mahal?
Tapi, ia bisa meminta padaku.
Bahkan, di tabungan itu banyak yang bernominal acak. Seperti tiga belas ribu, dua puluh tujuh ribu. Ada juga yang bernominal tubuh puluh lima ribu. Baru akan semester dua, uang tabungan ini sudah menyentuh empat jutaan.
Apa ini uang hasil mencurinya?
Apa ini adalah uang, yang orang berikan untuk menyantuni dirinya?
Karena setahuku, anak yatim atau piatu mendapat santunan dari sekolah setiap bulannya. Itu berlaku untuk semua anak, yang kehilangan salah satu orang tuanya. Entah itu keturunan kaya, atau keturunan orang yang tak punya.
Beralih ke tabungan milik Kaf.
Tidak ada yang mencurigakan. Pemasukan uang tabungan itu konsisten, sebesar lima ribu rupiah dari hari Senin sampai Sabtu. Total uang tabungan milik Kaf, sekitar tujuh ratus ribuan.
Berbeda sekali dengan tabungan milik Kal.
Apa yang Kal inginkan dengan uang banyak? Apa anak itu paham fungsi alat tukar pembayaran itu? Maksudku, ia mengambil milik orang lain, untuk memenuhi egonya dengan banyak barang yang ia inginkan. Otaknya kan jadi berpikir, bahwa ia harus memiliki uang banyak untuk membelinya.
Ini permasalahan kompleks. Aku harus tegas pada Kal, setelah aku mendapat buktinya sendiri. Karena jika ia jadi dipesantrenkan nanti, sifat jeleknya ini semakin berkembang tanpa pengawasan khusus.
Pencuri dan kaum yang memiliki permasalahan orientasi seksual, seperti penyuka sesama jenis. Mereka tidak boleh dipesantrenkan bebas dengan santri lainnya. Karena mereka semakin berkembang dan matang.
Misalkan pencuri, mereka akan selalu mengambil barang teman satu kamarnya. Mereka akan terus berlaku seperti ini, sekalipun ilmu agama menggebleng dengan begitu kuat.
Lalu kaum sesama jenis pun sama. Yang laki-laki atau perempuan, mereka bahkan bisa menularkan hal itu pada teman satu kamarnya. Sehingga membuat skandal yang tidak pantas, di tempat mencari ilmu yang suci itu. Mereka akan semakin matang, jika dibiarkan tanpa pengawasan orang tua atau pengawasan khusus.
"Aku udah selesai sholat, Bang. Aku ke dapur ya?" Novi menegurku yang tengah mengacak-acak tas anak-anak ini.
Aku mengangguk, "Pakai uang yang aku kasih itu. Masih ada kan? Atau, udah habis kau pakai beli barang di tempat liburan kemarin?
Novi menunduk, "Masih ada. Tapi aku punya pa……
...****************...
__ADS_1
Pusing banget jadi Ghifar. Usaha di Bali kolaps, dia butuh biaya untuk ikhtiar. Dia juga harus pikirin jalan keluar masalah Kal, belum lagi konflik dengan Novi. Tapi gimana ya, kalau Ghifar tahu bahwa sahamnya hanya dikamuflase aja. Masih ingat gak sih scene itu? di mana hal itu dilakukan, untuk memancing Ghifar keluar rumah dan bekerja.