
"Bukan, Pah. Aku tak hitung, aku kurang tau pasti karena udah lupa. Tapi aku yakin dia ngandung anak aku, karena dia istri aku."
Apa yang aku dapatkan? Mamah langsung meraup wajahku. Beliau benar-benar tidak percaya padaku.
"Ya udah, ayo ke Cirebon aja lah." Biar akan aku keluarkan bukti pernikahan kami di sana. Sekalian agar pakdhe Arif tahu, bahwa kami sudah menikah.
"Carikan penerbangan tercepat." Mamah memerintahkanku.
"Ya, Mah." Aku keluar dari kamar, lalu berjalan ke lantai atas. Aku mengambil ponselku dan mencari tiket pesawat online.
Anak-anak diajak tidak ya?"
Lebih baik aku tanyakan pada mamah, aku turun kembali dengan membawa ponselku. Benar, ada puluhan panggilan dari nomor telepon budhe dan pakdhe Arif.
"Mah, ajak Kal sama Kaf tak?" Aku berdiri di ambang pintu kamar mamah.
Entah mereka tengah membahas apa, dengan posisi yang sama sebelum aku pergi. Suaranya pelan, aku tidak bisa mendengar jelas obrolan mereka.
"Ajak aja, Far. Kalau kau mesti lama di sana, nanti mereka pulang sama Papah." Papah yang menjawab, mamah yang diam saja. Apa mamah masih begitu marahnya padaku? Padahal, kesalahanku hanya menikah dan tidak memberitahu mereka.
Aku dan Aca adalah pasangan sah, bayi kami ada di dalam akad pernikahan. Mungkin, kami hanya perlu melakukan isbat pernikahan saja. Tidak perlu melakukan akad ulang, karena setahuku kami hanya perlu melakukan sidang pengesahan pernikahan siri yang kami lakukan untuk mendapat buku nikah negara dengan tanggal kami menikah siri dulu.
Mamah dan papah segera prepare, aku memberitahu berniat memberitahu bang Givan dan akan menjemput anak-anak di sekolah. Aku akan izin pada gurunya, sekitar satu minggu mungkin mereka akan izin tidak bersekolah.
"Bang, mau keluar kah?" Aku menghampirinya yang tengah menggendong Ra dengan mesin mobil yang menyala.
"Mau ke Pintu Rime Gayo, Far. Kenapa?" Bang Givan mematikan mesin mobilnya.
"Nitip rumah aku sama rumah mamah, Bang. Kalau habis token, belikan dulu." Aku bersandar pada kap mobilnya.
"Memang kau mau ke mana?" Bang Givan menghampiriku.
__ADS_1
Ra kembali nemplok saja pada ayahnya. Yayah adalah harga mati untuknya.
"Mau ke Cirebon, Bang. Aca hamil."
Lihatlah, ia malah tertawa lepas.
"Udah nebak aku tuh. Gila, Far. Dadanya besar betul, badannya udah kek pegulat sumo." Bang Givan mengisi pipinya dengan udara.
"Iya kah? Kenapa kau tak pernah bilang? Dua udah jalan enam bulan sekarang, makanya aku sampai habis-habisan dimarahi mamah." Aku geleng-geleng frustasi.
"Berarti sejak dia pulang itu udah ngandung ya?"
Aku segera mengangguk.
"Ya udah, ati-ati. Nanti aku isi tokennya kalau habis." Bang Givan sudah berjalan memutar, karena anaknya merengek lagi.
"Canda…. Ambilkan bekal tadi," seru bang Givan dengan menghadap pintu utama rumahnya.
"Oh, iya. Ati-ati, Far." Bang Givan menoleh sekilas padaku. Tidak enak mengobrol berlama-lama bersamanya, ia tengah sibuk.
Aku langsung membawa motorku, mengarah ke sekolah dasar tempat anak-anakku belajar. Kantor guru, langsung menjadi tempat tujuanku. Aku berbicara sopan, mengenai izin untuk menjemput kedu anakku dan juga mereka tidak bersekolah selama satu minggu.
Guru tersebut mengizinkan, dengan catatan bulan depan mereka harus sudah kembali karena akan menjalani ulangan semester ganjil. Aku pun menarik kesimpulan, bahwa mereka tidak bisa pindah sekolah karena waktunya mepet. Mungkin boleh pindah, setelah melakukan ulangan semester ganjil.
Anak-anak sudah aku antarkan ke rumah mamah. Aku mengarahkan mereka untuk berganti baju dan berkemas. Hanya anggukan kepala saja, lalu mereka segera berlari ke dalam rumah.
Setelah itu, aku menuju ke kantorku. Perdebatan dimulai, karena aku pun ketinggalan rapat. Ria tidak suka, jika aku tak ada kabar tanpa berita.
"Bisa bantu Abang tak, Dek? Urus usaha Abang, selama Abang pergi. Kak Aca hamil karena Abang, Abang diminta untuk tanggung jawab." Aku mencoba mengambil iba dari seorang Ria.
"Ya Allah." Ria melongo saja dengan ekspresi bodoh.
__ADS_1
"Kau diam-diam bisa hamili sih, Bang?" Pertanyaannya begitu di luar nalar.
Meski pendiam, aku tetap laki-laki. Dalam hal hamil menghamili, tentu itu kebiasaan kami.
"Iya, Abang mohon bantu Abang dulu." Aku berharap ia mau membantuku.
"Eummm…." Ia berjalan ke arah kursinya dan duduk berputar di sana.
Ria tetaplah adik kecil kami.
"Gini aja deh, Abang tetap kerja tapi online. Kek bang Givan pokoknya gitu. Nanti, laporannya aku kirim ke email. Kan bisa tuh dibubuhkan tanda tangan atau gimana, aku kasih cara dan contohnya." Ria melambaikan tangannya.
Aku mendekat, kemudian memperhatikannya yang tengah mencontohkan caranya bertukar dokumen dan membubuhkan tanda tangan. Printer dan kertas pun, ternyata nanti harus aku miliki. Kemungkinan juga, untuk dokumen bermaterai harus dicetak dan ditempel materai secara manual. Barulah dibubuhkan tanda tanganku, lalu dikirim lewat ekspedisi kilat khusus dokumen.
Aku pun diajarkan caranya membubuhkan stempel warna, tanpa aku harus melakukannya secara manual. Ria pun nanti aku membantu perihal dokumen, yang penting aku mau diajak bekerja sama dan tidak lepas tanggung jawab katanya.
Baiklah, aku mengerti cara mainnya. Aku paham, karena Ria mencontohkannya juga. Maklum, aku adalah bos abal-abal. Aku hanya ahli waris, bukan pemilik sebenarnya yang mendirikan perusahaan ini. Kakek buyutku lah, pemilik sebenarnya perusahaan ini. Aku hanya beruntung saja.
Aku langsung bergegas ke rumah. Prepare beberapa pakaian dan kemeja putihku, barangkali dilakukan akad atau isbat di sana. Hanya dua stel pakaian sehari-hari yang aku kemas di dalam koper, lalu tiga stel lainnya adalah pakaian formal. Sarung dan alat sholat pun tidak ketinggalan, laptop dan juga kamera digital yang terdapat bukti pernikahan kami pun, masuk ke dalam koper kemasku ini.
Sudah siap, aku langsung membawa koperku ke rumah mamah. Ternyata, mereka semua belum siap. Papah sudah rapi, tapi katanya tengah mencuci pakaian anakku. Memang menggunakan mesin cuci, hanya saja kan memerlukan waktu.
"Nanti coba, Far. Jadwal pesawat masih lama ini."
Iya juga sih, tapi aku sudah siap dan sudah tidak sabar. Aku ingin segera bertemu istriku, kemudian mengusap-usap perut besarnya. Entah benar atau tidaknya, perihal perubahan fisik istriku. Aku akan memastikan sendiri, bahwa istriku tetap Aca dan tetap sehat-sehat saja. Perubahan fisik, bukanlah hal yang penting untukku. Yang penting ia sehat, bayi kami sehat, Nahda pun juga sehat.
Nahda, setelah ini kau akan memiliki dua kakak secara resmi dan juga ditambahkan satu orang adik. Kami akan menjadi keluarga besar yang saling menyayangi. Semoga harapanku terkabul.
Beberapa waktu kemudian, kami langsung berangkat setelah papah menitipkan rumah dan kuncinya pada Ghava. Aku memperhatikan keheranannya, ketika papah buru-buru pergi. Tidak ada yang mengantar kami ke bandara, kami menggunakan jasa kendaraan online, agar mobil tidak tertinggal di bandara.
Bismillah, menuju ke Cirebon.
__ADS_1
...****************...