
"Terus kita mau gimana, Nov? Kita udah selesai, tapi kau bahas terus. Jadi, mestinya kita ini gimana? Haruskah kita bahas yang dulu-dulu di sini?" tanyaku dengan memperhatikannya yang membuang wajah ke arah lain tersebut.
Novi terlihat tidak sopan. Aku mengajaknya berbicara, tapi ia terus memandang ke arah lain.
Key sudah teralihkan dengan ponselku di bangku belakang. Ia sudah tidak berpikir, bahwa aku akan membuangnya ke tengah sawah. Setengah mati aku memberi pemahaman si kecil cerewet itu, tentang mobil ini menepi di dekat sawah luas ini.
"Cuma perlu Abang akui, kalau perceraian kita memang asal mulanya karena Abang yang merasa salah pilih. Abang terlanjur ucap janji ke aku, meski sadar udah tertarik ke Aca. Abang nikahin aku, karena janji Abang, bukan karena niat baik Abang. Karena Aca yang pada dasarnya, yang jadi tujuan Abang untuk menduda."
Apalagi ini?
"Kau pun mau nikah sama aku, karena pengen jadi janda. Aku paham dan aku usahakan di awal untuk memuliakan kau, bukan untuk menjandakan kau."
Aku khawatir Key merekam di otaknya pertengkaran kami ini.
"Nyatanya apa? Giliran punya posisi agak longgar, langsung pepet Aca dengan segala yang kau miliki. Aku, dengan dua anak kau diberi jatah tiga juta per bulan." Novi menunjukkan tiga jarinya. Dia sudah tidak menyebutku abang lagi, dengan biji matanya yang hampir keluar itu.
"Aku pikir kau ngerti, kalau keadaan keuangan aku lagi tak baik masa itu. Lepas dari tiga juta sebulan, beras, detergen dan bumbu dapur sekomplitnya kan kau tak tau-tau, Nov! Seratus ribu, untuk kebutuhan sayur dan pegangan hari itu aja." Rasanya aku ingin memberitahunya, jika jatah Aca pun tidak lebih baik darinya. Aku bahkan tidak memberinya sembako, karena ia menolak. sembakonya sudah dipenuhi oleh Canda, ia merasa itu lebih dari cukup untuknya dan dua gadis kecilnya.
Bukan aku pelit, atau memberi ketika diminta saja. Aku berpikir, ia memang tidak membutuhkannya.
Mungkin ini adalah otak papahku. Aku diam, tapi aku memperhatikan kebutuhannya dan keinginannya ketika melihat suatu barang. Otakku pun berpikir, dua anakku pun tidak meminta uang jajan padanya. Meski aku tahu, Aca sering memberi pada anak-anak.
Bukan aku begitu rinci, perhitungan atau terserah apa menyebutnya. Tapi setahuku, itu cukup dan ia malah bisa menyisihkan. Terlepas dari biaya skincare dan Tupperware yang ia minta. Toh, dulu Novi kuajak perawat berjuta-juta juga. Kalkulasi biaya untuk menjaminnya sampai hari ini pun, aku tidak menghitungnya. Segala uang tabungan yang ia keluarkan untuk biaya hidup kami, kala aku kesulitan ekonomi pun, aku menggantinya juga.
__ADS_1
Aku pun tidak ingin, dalam keadaan kekurangan ekonomi. Aku pun tidak ingin, dalam keadaan keuangan yang tidak stabil. Tapi apa boleh buat, aku tidak mengerti jika ada permainan saham ataupun yang lainnya. Aku tidak mengerti, jika itu adalah pancingan untukku agar aku mau keluar rumah dan bekerja kembali.
Yang jelas kan, aku tidak membuatnya rugi perihal ekonomi. Aku mengganti semua uangnya yang pernah ia keluarkan, tapi memang tidak untuk waktunya dan keperawanan.
Aku pikir, itu wajarnya suami istri. Asal kalian tahu juga, aku tidak pernah ingin bercerai sekalipun jika ia tidak mengumbar aibku entah pada beberapa orang.
Awalnya pada Canda, dengan Canda yang menegurku. Aku berpikir itu wajar, karena Novi ingin bercerita pada seseorang yang ia anggap teman dan kebetulan juga ia adalah anggota keluarga besar kami. Tapi aku tidak habis pikir, ia mengeluhkan itu pada Nando. Bahkan, tentang ke*a*t*nanku yang tidak mampu membobol keperawanannya dalam waktu satu bulan.
Sekarang aku tanya. Memang siapa laki-lakinya yang tak ingin merasakan kebutuhan biologisnya terpenuhi? Jika keadaanku tidak seperti ini, aku pun akan membabadnya habis-habisan seperti pada Kin dulu.
Kenapa Kin? Karena memang dengannya, aku melakukan hubungan intim dengan berkah dan dengan restu orang tua. Tidak sembunyi-sembunyi seperti dengan Aca.
Belum lagi dengan tidak tahu malunya, ia merendahkan marwahnya sendiri sebagai istriku, di depan kakak angkatku. Jika ditilik dari kasusnya, bisa saja Novi terkena jariyat di sini. Hanya saja, aku tak ingin dia malu. Aku tak mau aibnya diketahui orang luar, apalagi ia mendapat hukuman yang dipertontonkan orang banyak.
Atau, karena ucapanku yang mengatakan kembali padanya dan satu rumah dengannya tapi tidak sekamar? Dengan kami masih satu rumah, itu sudah perkembangan yang bagus. Seiring berjalannya waktu, pikirku pun kami akan mulai membaik. Memang terdengar menyeramkan. Namun, jika kalian saja. Rasanya begitu sulit menerima kembali seseorang, yang bayangan buruknya tengah berc*m*u dengan laki-laki yang kita kenal terlintas saat aku memandangnya.
Mungkin ini karma dari tingkahku dulu di belakang Kin?
Entahlah, hanya Yang Kuasa yang tahu tentang alur kehidupanku dan segalanya yang sudah terencana.
Saat kejadian khilafku dengan Canda dulu. Aku akui, aku bersalah dan beruntungnya aku karena istriku masih menerimaku. Memang alasan apapun, tidak akan membenarkan kesalahan perselingkuhan. Tapi aku sudah amat kebingungan, untuk bisa membawa Canda pulang dan tidak akan pergi lagi dari jangkauan mataku? Menurutku, menghamilinya adalah hal yang pantas daripada ditolak beberapa kali untuk mempersuntingnya dengan keadaanku beristri. Aku tahu, alasan itu pun tidak dibenarkan. Aku hanya masih beruntung saja, karena Kin masih doyan denganku ini.
"Sangat tidak pantas, seorang suami ngasih uang ke janda dan membelikan jandanya rumah."
__ADS_1
Oh, begitukah? Berarti sekarang pun aku sebaiknya jangan memberinya apapun, karena aku suami orang.
"Uang yang pernah aku transfer ke rekening Aca itu?" Aku menunggunya merespon pertanyaanku, tapi ia tidak kunjung mengiyakan atau mengangguk.
"Hei, Nov! Dia hutang itu, dia ijab hutang dan dia bayar. Aku tak pernah belikan dia rumah juga, dia beli dari uang hasil hutang ke aku. Sampai aku cukup dekat dengannya pun, dia tetap bayar hutangnya." Bahkan, sampai ia berstatus sebagai istri siriku. Karena menurut Aca, hutang adalah hutang terlepas pada siapapun ia berhutang.
Ia memandangku dengan terkejut. Aku pun yakin, ia masih kurang percaya dengan pengakuan itu.
"Apa?" Aku menunggu suaranya keluar lagi, tapi ia hanya diam saja.
Heran aku, emosi terus yang ia buat ketika mulai berhadapan denganku. Manis-manis di awal seperti semalam, malah aku curiga dia butuh pelampiasan malam kesepiannya. Karena ia lebih suka berdebat, daripada berbicara dengan mendayu-dayu seperti semalam.
Aku bukan lelaki gatalan dan gampang, jika perempuan bukan Canda yang lugu dan selalu membuat gemas itu. Pada Aca pun, aku tak mungkin membuat kami berzina kalau ia tidak mengiyakan ajakanku untuk ke kamar Oyo itu.
Mau kusebut Aca gatal juga, masalahnya aku doyan dan meresponnya. Aku menyebut Novi gagal juga, karena ia memang aslinya seperti ini, lebih suka berdebat, daripada mendayu-dayu seperti semalam. Aku curiga, jika ia berubah seperti itu.
Aku berpikiran seperti ini, karena aku adalah manusia dan aku adalah laki-laki.
"Sok mau ngomong apalagi? Aca lagi, Aca lagi. Rumah tangga pecah itu, dari permasalahan yang aslinya kau tau sendiri, bukan karena Aca." Aku memukul stir mobil karena kesal sendiri.
"Loh……
...****************...
__ADS_1